PERPUSTAKAAN ONLINE INDONESIA BLOG’S

Agustus 31, 2008

Kisah Anto, Kadal, Dan Si Burung Betina

Filed under: Ekologi Hewan — perpusonline @ 11:38 pm

Di Sebuah Desa di pinggiran Hutan, terdapat beberapa rumah kecil yang terletak berjauhan, didalam hutan kecil itulah anak-anak biasanya bermain, salah satu diantaranya, Anto dan Anti. Anti dan anto adalah kakak beradik, orang tua mereka adalah petani, saat orang tua mereka sibuk bekerja dikebun, biasanya mereka bermain di hutan, mereka memiliki sebuah rumah pohon, yang umurnya sudah 10 tahun, rumah pohon itu dulunya milik paman mereka, yang kini sudah pindah ke Kota untuk meneruskan Sekolah. Paman mereka bernama heriyanto, pergi sangat jauh dari kampung halaman mereka untuk kuliah, paman mereka sangat mencintai hutan ini, sebelum pergi paman mereka berpesan agar mereka tidak merusak hutan ini.

Pada suatu hari yang cerah Anto pergi lebih dahulu ke dalam hutan untuk bermain, saat itu Anto dalam keadaan sangat marah, ia merasa sangat kecewa pada orang tuanya Anto merasa orang tuanya tidak adil, karena hari ini anti kakaknya mulai masuk sekolah, sehingga Anto hanya bermain sendiri dirumah, menurut Oarng tuanya Anto belum waktunya Masuk sekolah.

KArena marah dan kecewa Tidak seperti biasanya, anto tidak langsung pergi kerumah pohon, tetapi anto bermain dulu di sungai kecil yang ada di dalam hutan, Anto berenang, sendiri, tidak lama kemudian anto merasa sangat lapar, karena memang sejak pagi ia tidak makan sedikit pun. Setelah selesai berenang Anto pun mengambil Katapel yang ada dikantong Celananya, sejenak Anto teringat Paman Heryanto, yang sangat marah ketika melihat anak-anak bermain katapel, tetapi Anto mengabaikannya. Anto berjalan menyusuri sungai yang sudah mulai keruh, tetapi disungai itu sudah tidak banyak ikan, anto hanya mendapat satu ekor ikan, setelah itu Anto menyalakan Api, ketika anto hendak membakar ikan, tiba-tiba Anto berpikir bahwa ikan tersebut didak akan membuatnya kenyang, lalu anto berjalan meninggalkan api yang telah dibuatnya, tidak jauh dari situ ternyata ada seekor burung betina sedang memberi makan anak-anaknya disebuah sarang,…..”eemmm mungkin burung ini sangat lezat untuk Dimakan” pikir anto….lalu ia berusaha menembak burung itu dengan katapel…

Tepat siang hari Anti baru saja Pulang Sekolah, ia sangat rindu kepada Anto, adiknya karena baru pertama kali Anti dan Anto berpisah, tetapi ia sangat kecewa ketika ia sampai dirumah ternyata Anto tidak ada. Anti tahu kalau saat itu Anto Pasti berada di Hutan, Ia merasa sangat khawatir…karena Anto belum pernah bermain dihutan sendirian…Antipun bergegas menyusul Anto dengan membawa rantang berisi makanan, ia tahu pasti Anto sangat lapar. Ia tidak ingin terjadi Apa-apa pada Anto. Ketika Sampai dirumah pohon anti bertambah khawatir karena anto tidak berada disitu….tak lama kemudian Anti melihat ada asap tebal, disekitar dekat sungai, anti berpikir mungkin saja Anto ada disitu. Anti meletakkan Rantang berisi makanan di bawah Pohon dan berlari sekencang-kencangnya karena khawatir terjadi Apa-apa pada Anto…ketika sampai ditepi sungai Anti tidak menemukan Anto, ia hanya melihat seekor ikan yang ditaruh di batok kelapa yang terletak dipinggir kobaran api yang mulai membakar sebatang pohon…lalu dengan sekuat tenaga anti berusaha memadamkan api…untung saja kejadian ini terletak di tepi sungai, anti mengembalikan Ikan Kesungai dan menggunakan Batok kelapa tersebut untuk memadamkan api sehingga api dapat padam dengan segera. Anti adalah anak yang pemberani, ia berani memadamkan api yang berbahaya demi hutan yang ia cintai.

Tidak lama kemudian Anto berhasil menembak burung menggunakana katapel, dan Tack anto berhasil membuat burung betina itu terluka dan jatuh. Anto merasa puas..dibawanya burung betina itu kepinggir sungai tempat ia membuat api, tetapi betapa terkejutnya Anto ketika melihat Api yang ia buat sudah padam…Anto pun tidak melihat ikan yang ia tangkap…ternyata tidak lama kemudian ia melihat Anti dengan membawa Batok kelapa ditangan, Anto sangat marah karena ia menganggap Anti sengaja membuang ikan yang ia tangkap….sedangkan dalam waktu yang bersamaan Anti paham juga bahwa Anto yang membuat Api, Anti bertambah marah ketika melihat burung yang terluka di genggaman tangan anto…Anti berusaha menasehati Anto, Ia Mengingatkan anto tentang nasehat dari Paman Hery… tetapi ternyata anto sangat marah…sehingga tidak mau mendengar perkataan Anti…Anto kecewa dan berlari sekencang-kencangnya sambil menangis. Ketika Sampai dirumah Pohon…dihempaskanya burung yang ada ditangannya ke tanah, dan ia bergegas masuk kedalam rumah pohon. Karena berpikir kakaknya tidak sayang lagi padanya ia menendang-nendang sekuat tenaga dinding-dinding rumah pohon, ia ingin rumah pohon milik mereka berdua rusak…setelah kelelahan ia duduk sejenak…tapi ia sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya, ternyata ada seekor kadal terperangkap dibalik diding itu, kakinya melekat pada sebuah paku. Anto merasa kasihan sekaligus penasaran. Ternyata ketika Anto mengingat-ingat Rumah pohon ini tidak pernah diperbaiki selama sepuluh tahun, karena bahan rumah pohon ini terbuat dari kayu ulin…berarti Kadal ini juga terjebak dipaku ini selama sepuluh tahun?????

Apa yang terjadi????bagaimana kadal ini dapat bertahan hidup???? Bagaimana kadal ini mendapatkan makanan?????dalam keadaan terperangkap, tanpa makanan, dan tidak bisa bergerak serta dalam kondisi gelap???itu adalah suatu keadaan yang sangat menyedihkan pikir Anto.

Anto lalu berpikir bagaimana kadal itu dapat bertahan hidup selama 10 tahun tanpa berpindah dari tempatnya sejak kakinya melekat dipaku itu!!Anto tetap duduk ditempat itu tanpa bergerak sedikit pun…lalu tidak lama kemudian entah dari mana datangnya datanglah seekor kadal lain dengan membawa makanan di mulutnya..dan dengan menjulurkan lidahnya, diberikan makanan itu kepada kadal yang terjebak dipaku. Anto merasa sangat terharu..ternyata ada seekor kadal lain yang memperhatikan kadal itu selama 10 tahun, sungguh ini adalah sebuah ungkapan cinta dan kasih sayang yang indah…. anto merasa sangat iri dengan kadal itu,…ia berpikir “kalau hewan saja bisa saling menyayangi sepertoi itu kenapa Aku dan Anti kakakku tidak???”. Ia lalu teringat betapa jahatnya dirinya, hanya karena lapar sebentar ia menangkap ikan dan melukai burung, serta hampir saja membakar hutan yang sangat berharga bagi mereka, hutan ini bukan hanya penuh kenangan bagi Anti dan Anto, tetapi bagi banyak anak lain di Desa itu, serta seluruh warga desa, karena hutan sungai jernih yang mengalir dihutan inilah yang digunakan seluruh penduduk desa, seketika itu Anto tersadar, setelah membantu melepaskan Kadal tersebut dari paku, Anto segera turun dari rumah pohon…Alangkah terkejutnya Anto melihat ada rantang berisi makanan dibawah rumah pohon….hal tersebut membuatnya semakin menyesal dengan kekasaranya pada Anti kakaknya…Anto Tahu bahwa hanya Anti yang mau membawa makanan untuknya, “Ternyata anti Sangat Menyayangi Aku, Aku Tidak pantas Untuk Iri padanya, Mungkin Memang Belum saatnya Aku Sekolah” Pikir Anto…Lalu dicarinya Burung betina Yng tadi Dihempaskannya…

Anto Merasa sangat kebingungan ketika dilihatnya burung itu sudah lemah tak berdaya….ia bingung dan lari sekuat-kuatnya menuju tepi sungai….ternyata ditepi sungai itu ia melihat Anti Kakaknya sedang menyuapi anak-anak burung betina tadi. Dengan tertuduk malu anto mendatangi Anti dan meminta maaf atas semua perbuatannya. Lalu Ia menyerahkan seekor burung betina yang sudah sangat lemah kepada Anti… Anti memeriksa burung Betina tersebut. “Ehmmm tubuh burung betina ini masih hangat, semoga bisa diselamatkan” kata Anti. Akhirnya Anto Dan Anti Sepakat membawa Burung betina yang terluka dan anak-anaknya pulang kerumah, mereka meletakkan sarang burung tersebut dipohon di halaman rumah mereka agar mereka bisa merawat dan menjaga sepanjang waktu. Sebagai hukuman untuk Anto ia tidak lagi bisa bermain di Hutan sampai burung betina sembuh, ia harus menjaga dan memberikan makan untuk anak-anak burung itu, untuk menebus Kesalahannya Anto menjalankan Tugas itu dengan tulus…Ia tidak lagi merasa kesepian karena setiap Anti pergi sekolah Anto Akan bermain dengan Burung Betina dan anak-anaknya. Sampai Suatu hari ketika Sang Betina Sehat, Anto dan Anti mengantarkan kembali Burung Betina dan Anak-anaknya Kembali kedalam hutan, Anto merasa sedih, agar merasa tidak kesepian lagi, anto dating sering dating ke hutan untuk melihat Burung Betina dan anak-anaknya, Anto sangat senang ketika melihat burung Betina mulai mengajarkan anak-anaknya terbang. “Aha…. Kalian hebat, kalian harus berjanji untuk datang kerumahku jika sudah bisa terbang” Kata Anto.

Pada suatu hari Anto Jatuh Sakit… ia sangat sedih saat itu karena tidak bisa bermain dihutan dan mengunjungi si Burung betina dan anak-anaknya. Tetapi alngkah terkejutnya Anto ketika Melihat Si Burung Betina Bersama Anak-anaknya bersiul-siul sangat merdu dihalaman rumahnya,

“ternyata kalian sudah bisa terbang” kata anto lemah…..lalu burung-burung itu bertengger di tubuh anto dan bersiul dengan merdu seolah-olah menghibur dan mengucapkan terimakasih pada anto, Anto merasa sangat bahagia.

Keesokan paginya ketika Anto merasa mulai sehat, Ia duduk dihalaman Rumahnya,dan alangkah terkejutnya Ia melihat beberapa sarang burung dihalaman rumahnya… Ternyata anak-anak burung betina tadi sudah mulai membuat sarangnya sendiri, dan mereka memilih membuat sarang didekat rumah Anto. Anto merasa terharu dan sangat menyesal jika mengingat perbuatanya dulu. Anto Berjanji tidak akan mengulangi perbuataannya lagi. Sekarang setiap pagi, Anto, Anti, dan seluruh keluarganya, akan terhibur dengan kicau burung yang sangat merdu.

Comments
Tanaman Hias

15 Maret, 2007 pada 2:32 am (Uncategorized)

Lidah Mertua
SI BANDEL YANG BERDAUN CANTIK

Termasuk tanaman favorit para pencinta tanaman hias, tanaman satu ini lumayan bandel. Jenisnya ada bermacam-macam.

Entah sejak kapan tanaman sansevieria ini mendapat sebutan “lidah mertua.” Entah pula apa alasannya sehingga tanaman hias yang daunnya berdiri tegak ini diberi nama lidah mertua. Diduga, karena bentuk fisik daunnya yang panjang, sehingga dimaknai sebagai apa yang dikatakan mertua (dengan lidahnya) punya tujuan panjang ke depan. Pesan mertua agar diingat sampai hari esok.

Sansevieria juga dikenal sebagai “tanaman ular.” Wah, kok menakutkan, ya? Ini hanya gara-gara tekstur daunnya yang memang mirip kulit ular. Warna daun ada yang hijau muda bercampur dengan alur menyerupai pita dan bersisik seperti kulit ular. Ada pula yang menyebut sansevieria ini sebagai “tanaman pedang-pedangan,” karena besaran
daunnya ada yang memanjang sampai 75 cm dengan ujung runcing.

TAHAN LAMA
Sebagai tanaman hias, sansevieria termasuk tanaman yang cukup mampu bertahan lama. Dari dulu hingga sekarang, para pencinta tanaman hias masih mencintai kehadirannya. Jujur diakui, warna daun dan tampilannya memang cantik. Daunnya berwarna-warni, mulai dari hijau tua, hijau muda, hijau abu-abu, perak, bahkan ada pula kombinasi putih-kuning dan hijau-kuning. Begitu pula dengan alur atau garis-garis yang terdapat pada helai daun, yang memiliki beragam model. Ada yang zig-zag, ada yang mengikuti arah serat daun, meski ada pula yang semrawut tidak beraturan.

Daun-daun sansevieria tumbuh langsung dari batang yang tebal di dalam tanah. Daun-daun juga muncul dari rimpang akar yang menjalar di bawah tanah. Sayangnya, jika pucuk daun yang runcing itu patah, maka seluruh kegiatan pertumbuhan daun
pun terhenti.

Tanaman ini termasuk bandel dan mampu bertahan di banyak kondisi, sehingga kita tak perlu cepat-cepat mengganti pot. Bahkan, pot bisa bertahan setahun lebih. Pasalnya, sansevieria masih bisa hidup pada media yang berkurang kesuburannya. Ia tahan terhadap kekeringan. Dan untuk bertahan, ia memiliki daun yang banyak mengandung air (sukulen). Jadi, tanaman ini memang bandel!

BERAGAM JENIS
Tanaman ini memiliki beberapa jenis dan varietas. Beberapa di antaranya adalah:
1. Sansevieria trifasciata
Jenis ini yang sering disebut sebagai tanaman ular. Daunnya yang masih muda tumbuh tepat di tengah-tengah roset yang menyeruak ke atas. Awalnya, pertumbuhan tampak seperti lidi. Jenis “trifasciata” yang telah disilang menghasilkan varietas baru, antara lain:

* S.trifasciata “Hahnii”
Warna daunnya hijau tua dengan garis-garis melintang abu-abu putih. Panjang daun hanya 10 cm dan pangkalnya melebar. Daun tumbuh tidak tegak lurus, melainkan menyebar ke samping dan tersusun beraturan. Jadi, sepintas tampak seperti pohon nenas atau sarang burung (bird’s nest). Tak heran jika varietas ini disebut sansevieria bird’s nest.

* S.trifasciata “Golden Hahnii”
Penampilan fisiknya hampir sama dengan Hahnii, bedanya ada pada warna daun yang hijau muda dengan kombinasi warna kuning emas, dan berbentuk pita pada bagian tepi daun.

* S.trifasciata “Silver Hahnii”
Kondisi fisiknya memang lebih panjang dibandingkan hahnii lainnya, namun tetap lebih pendek ketimbang sansevieria biasa. Yang menarik adalah warna daunnya yang hijau keperakan, dengan garis-garis horizontal hijau kelam yang tersebar.

2. Sansevieria liberica
Boleh dibilang, jenis ini memiliki daun yang paling besar dan panjang. Tumbuh kokoh ke atas dan agak tebal. Jika diperhatikan warna daunnya, tampak kombinasi hijau-putih, namun warna putih lebih menonjol.

3. Sansevieria cylindrica
Sesuai dengan namanya, ia memiliki daun yang tumbuh memanjang ke atas dan berbentuk silinder. Daunnya kaku dan sangat tebal dengan warna hijau tua dengan alur-alur hitam keabu-abuan bercampur hijau muda.

Comments

Prinsip-Prinsip Ekologi

Filed under: Ekologi Hewan — perpusonline @ 11:37 pm

Pembahasan ekologi tidak lepas dari pembahasan ekosistem dengan berbagai komponen penyusunnya, yaitu faktor abiotik dan biotik. Faktora biotik antara lain suhu, air, kelembapan, cahaya, dan topografi, sedangkan faktor biotik adalah makhluk hidup yang terdiri dari manusia, hewan, tumbuhan, dan mikroba. Ekologi juga berhubungan erat dengan tingkatan-tingkatan organisasi makhluk hidup, yaitu populasi, komunitas, dan ekosistem yang saling mempengaruhi dan merupakan suatu sistem yang menunjukkan kesatuan.

Faktor Biotik

Faktor biotik adalah faktor hidup yang meliputi semua makhluk hidup di bumi, baik tumbuhan maupun hewan. Dalam ekosistem, tumbuhan berperan sebagai produsen, hewan berperan sebagai konsumen, dan mikroorganisme berperan sebagai dekomposer. Faktor biotik juga meliputi tingkatan-tingkatan organisme yang meliputi individu, populasi, komunitas, ekosistem, dan biosfer. Tingkatan-tingkatan organisme makhluk hidup tersebut dalam ekosistem akan saling berinteraksi, saling mempengaruhi membentuk suatu sistemyang menunjukkan kesatuan. Secara lebih terperinci, tingkatan organisasi makhluk hidup adalah sebagai berikut. Perhatikan Gambar.

Gbr. Tingkatan Organisasi Makhluk Hidup

A. Individu
Individu merupakan organisme tunggal seperti : seekor tikus, seekor kucing, sebatang pohon jambu, sebatang pohon kelapa, dan seorang manusia. Dalam mempertahankan hidup, seti jenis dihadapkan pada masalah-masalah hidup yang kritis. Misalnya, seekor hewan harus mendapatkan makanan, mempertahankan diri terhadap musuh alaminya, serta memelihara anaknya. Untuk mengatasi masalah tersebut, organisme harus memiliki struktur khusus seperti : duri, sayap, kantung, atau tanduk. Hewan juga memperlihatkan tingkah laku tertentu, seperti membuat sarang atau melakukan migrasi yang jauh untuk mencari makanan. Struktur dan tingkah laku demikian disebut adaptasi. Perhatikan Gambar 6.4.

Ada bermacam-macam adaptasi makhluk hidup terhadap lingkungannya, yaitu: adaptasi morfologi, adaptasi fisiologi, dan adaptasi tingkah laku.

1. Adaptasi morfologi
Adaptasi morfologi merupakan penyesuaian bentuk tubuh untuk kelangsungan hidupnya. Contoh adaptasi morfologi, antara lain sebagai berikut.
a. Gigi-gigi khusus
Gigi hewan karnivora atau pemakan daging beradaptasi menjadi empat gigi taring besar dan runcing untuk menangkap mangsa, serta gigi geraham dengan ujung pemotong yang tajam untuk mencabik-cabik mangsanya. Lihat Gambar 6.5.

b. Moncong
Trenggiling besar adalah hewan menyusui yang hidup di hutan rimba Amerika Tengah dan Selatan. Makanan trenggiling adalah semut, rayap, dan serangga lain yang merayap. Hewan ini mempunyai moncong panjang dengan ujung mulut kecil tak bergigi dengan lubang berbentuk celah kecil untuk mengisap semut dari sarangnya. Hewan ini mempunyai lidah panjang dan bergetah yangdapat dijulurkan jauh keluar mulut untuk menangkap serangga. Lihat Gambar 6.6.

c. Paruh
Elang memiliki paruh yang kuat dengan rahang atas yang melengkung dan ujungnya tajam. Fungsi paruh untuk mencengkeram korbannya. Perhatikan Gambar 6.7

d. Daun
Tumbuhan insektivora (tumbuhan pemakan serangga), misalnya kantong semar, memiliki daun yang berbentuk piala dengan permukaan dalam yang licin sehingga dapat menggelincirkan serangga yang hinggap. Dengan enzim yang dimiliki tumbuhan insektivora, serangga tersebut akan dilumatkan, sehingga tumbuhan ini memperoleh unsur yang diperlukan.

e. Akar
Akar tumbuhan gurun kuat dan panjang,berfungsi untuk menyerap air yang terdapat jauh di dalam tanah. Sedangkan akar hawa pada tumbuhan bakau untuk bernapas. (LihatGambar 6.9).
2. Adaptasi fsiologi
Adaptasi fisiologi merupakan penyesuaian fungsi fisiologi tubuh untuk mempertahankan hidupnya. Contohnya adalah sebagai berikut.

a. Kelenjar bau
Musang dapat mensekresikan bau busukdengan cara menyemprotkan cairan melalui sisi lubang dubur. Sekret tersebut berfungsi untuk menghindarkan diri dari musuhnya.

b. Kantong tinta
Cumi-cumi dan gurita memiliki kantong tinta yang berisi cairan hitam. Bila musuh datang, tinta disemprotkan ke dalam air sekitarnya sehingga musuh tidak dapat melihat kedudukan cumi-cumi dan gurita. (LihatGambar 6.1 0).

c. Mimikri pada kadal
Kulit kadal dapat berubah warna karena pigmen yang dikandungnya. Perubahan warna ini dipengaruhi oleh faktor dalam berupa hormon dan faktor luar berupa suhu serta keadaan sekitarnya. Lihat Gambar 6.11.

3. Adaptasi tingkah laku
Adaptasi tingkah laku merupakan adaptasi yang didasarkan pada tingkah laku. Contohnya sebagai berikut :

a. Pura-pura tidur atau mati
Beberapa hewan berpura-pura tidur atau mati, misalnya tupai Virginia. Hewan ini sering berbaring tidak berdaya dengan mata tertutup bila didekati seekor anjing.

b. Migrasi
Ikan salem raja di Amerika Utara melakukan migrasi untuk mencari tempat yang sesuai untuk bertelur. Ikan ini hidup di laut. Setiap tahun, ikan salem dewasa yang berumur empat sampai tujuh tahun berkumpul di teluk disepanjang Pantai Barat Amerika Utara untuk menuju ke sungai. Saat di sungai, ikan salem jantan mengeluarkan sperma di atas telur-telur ikan betinanya. Setelah itu ikan dewasa biasanya mati. Telur yang telah menetas untuk sementara tinggal di air tawar. Setelah menjadi lebih besar mereka bergerak ke bagian hilir dan akhirnya ke laut. Perhatikan Gambar 6.12.

B. Populasi
Kumpulan individu sejenis yang hidup padasuatu daerah dan waktu tertentu disebut populasi Misalnya, populasi pohon kelapa dikelurahan Tegakan pada tahun 1989 berjumlah 2552 batang.

Ukuran populasi berubah sepanjang waktu. Perubahan ukuran dalam populasi ini disebut dinamika populasi. Perubahan ini dapat dihitung dengan menggunakan rumus perubahan jumlah dibagi waktu. Hasilnya adalah kecepatan perubahan dalam populasi. Misalnya, tahun 1980 populasi Pinus di Tawangmangu ada 700 batang. Kemudian pada tahun 1990 dihitung lagi ada 500 batang pohon Pinus. Dari fakta tersebut kita lihat bahwa selama 10 tahun terjadi pengurangan pohon pinus sebanyak 200 batang pohon. Untuk mengetahui kecepatan perubahan maka kita membagi jumlah batang pohon yangberkurang dengan lamanya waktu perubahan terjadi :
700 – 500 = 200batang
1990-1980 10 tahun

= 20 batang/tahun

Dari rumus hitungan di atas kita dapatkan kesimpulan bahwa rata-rata berkurangnya pohon tiap tahun adalah 20 batang. Akan tetapi, perlu diingat bahwa penyebab kecepatan rata-rata dinamika populasi ada berbagai hal. Dari alam mungkin disebabkan oleh bencana alam, kebakaran, serangan penyakit, sedangkan dari manusia misalnya karena tebang pilih. Namun, pada dasarnya populasi mempunyai karakteristik yang khas untuk kelompoknya yang tidak dimiliki oleh masing-masing individu anggotanya. Karakteristik iniantara lain : kepadatan (densitas), laju kelahiran (natalitas), laju kematian (mortalitas), potensi biotik, penyebaran umur, dan bentuk pertumbuhan. Natalitas danmortalitas merupakan penentu utama pertumbuhan populasi.

Dinamika populasi dapat juga disebabkan imigrasi dan emigrasi. Hal ini khusus untuk organisme yang dapat bergerak, misalnyahewan dan manusia. Imigrasi adalahperpindahan satu atau lebih organisme kedaerah lain atau peristiwa didatanginya suatu daerah oleh satu atau lebih organisme; didaerah yang didatangi sudah terdapat kelompok dari jenisnya. Imigrasi ini akan meningkatkan populasi.

Emigrasi adalah peristiwa ditinggalkannya suatu daerah oleh satu atau lebih organisme, sehingga populasi akan menurun. Secara garis besar, imigrasi dan natalitas akan meningkatkan jumlah populasi, sedangkan mortalitas dan emigrasi akan menurunkan jumlah populasi. Populasi hewan atau tumbuhan dapat berubah, namun perubahan tidak selalu menyolok. Pertambahan atau penurunan populasi dapat menyolok bila ada gangguan drastis dari lingkungannya, misalnya adanya penyakit, bencana alam, dan wabah hama.

C. Komunitas
Komunitas ialah kumpulan dari berbagai populasi yang hidup pada suatu waktu dan daerah tertentu yang saling berinteraksi dan mempengaruhi satu sama lain. Komunitas memiliki derajat keterpaduan yang lebih kompleks bila dibandingkan dengan individu dan populasi.

Dalam komunitas, semua organisme merupakan bagian dari komunitas dan antara komponennya saling berhubungan melalui keragaman interaksinya.
D. Ekosistem
Antara komunitas dan lingkungannya selalu terjadi interaksi. Interaksi ini menciptakan kesatuan ekologi yang disebut ekosistem. Komponen penyusun ekosistem adalah produsen (tumbuhan hijau), konsumen (herbivora, karnivora, dan omnivora), dan dekomposer/pengurai (mikroorganisme).

Faktor Abiotik
Faktor abiotik adalah faktor tak hidup yang meliputi faktor fisik dan kimia. Faktor fisik utama yang mempengaruhi ekosistem adalah sebagai berikut.

a. Suhu
Suhu berpengaruh terhadap ekosistem karena suhu merupakan syarat yang diperlukan organisme untuk hidup. Ada jenis-jenis organisme yang hanya dapat hidup pada kisaran suhu tertentu.

b. Sinar matahari
Sinar matahari mempengaruhi ekosistem secara global karena matahari menentukan suhu. Sinar matahari juga merupakan unsur vital yang dibutuhkan oleh tumbuhan sebagai produsen untuk berfotosintesis.

c. Air
Air berpengaruh terhadap ekosistem karena air dibutuhkan untuk kelangsungan hidup organisme. Bagi tumbuhan, air diperlukan dalam pertumbuhan, perkecambahan, dan penyebaran biji; bagi hewan dan manusia, air diperlukan sebagai air minum dan sarana hidup lain, misalnya transportasi bagi manusia, dan tempat hidup bagi ikan. Bagi unsur abiotik lain, misalnya tanah dan batuan, air diperlukan sebagai pelarut dan pelapuk.

d. Tanah
Tanah merupakan tempat hidup bagi organisme. Jenis tanah yang berbeda menyebabkan organisme yang hidup didalamnya juga berbeda. Tanah juga menyediakan unsur-unsur penting bagi pertumbuhan organisme, terutama tumbuhan.

e. Ketinggian
Ketinggian tempat menentukan jenis organisme yang hidup di tempat tersebut, karena ketinggian yang berbeda akan menghasilkan kondisi fisik dan kimia yang berbeda.

f. Angin
Angin selain berperan dalam menentukan kelembapan juga berperan dalam penyebaran biji tumbuhan tertentu.

g. Garis lintang
Garis lintang yang berbeda menunjukkan kondisi lingkungan yang berbeda pula. Garis lintang secara tak langsung menyebabkan perbedaan distribusi organisme di permukaan bumi. Ada organisme yang mampu hidup pada garis lintang tertentu saja.

PENGATURAN SUHU TUBUH

Filed under: Ekologi Hewan — perpusonline @ 11:36 pm

Tujuan : Mempelajari kemampuan organisme endoterm (homioterm) dalam mempertahankan panas tubuhnya.

PENDAHULUAN

Pengaturan suhu tubuh (termoregulasi), pengaturan cairan tubuh, dan ekskresi adalah elemen-elemen dari homeostasis. Dalam termoregulasi dikenal adanya hewan berdarah dingin (cold-blood animals) dan hewan berdarah panas (warm-blood animals). Namun, ahli-ahli Biologi lebih suka menggunakan istilah ektoterm dan endoterm yang berhubungan dengan sumber panas utama tubuh hewan. Ektoterm adalah hewan yang panas tubuhnya berasal dari lingkungan (menyerap panas lingkungan). Suhu tubuh hewan ektoterm cenderung berfluktuasi, tergantung pada suhu lingkungan. Hewan dalam kelompok ini adalah anggota invertebrata, ikan, amphibia, dan reptilia. Sedangkan endoterm adalah hewan yang panas tubuhnya berasal dari hasil metabolisme. Suhu tubuh hewan ini lebih konstan. Endoterm umum dijumpai pada kelompok burung (Aves), dan mamalia.

Dalam pengaturan suhu tubuh, hewan harus mengatur panas yang diterima atau yang hilang ke lingkungan. Mekanisme perubahan panas tubuh hewan dapat terjadi dengan 4 proses, yaitu konduksi, konveksi, radiasi, dan evaporasi. Konduksi adalah perubahan panas tubuh hewan karena kontak dengan suatu benda. Konveksi adalah transfer panas akibat adanya gerakan udara atau cairan melalui permukaan tubuh. Radiasi adalah emisi dari energi elektromagnet. Radiasi dapat mentransfer panas antar obyek yang tidak kontak langsung. Sebagai contoh, radiasi sinar matahari. Evaporasi proses kehilangan panas dari permukaan cairan yang ditranformasikan dalam bentuk gas.

Hewan mempunyai kemampuan adaptasi terhadap perubahan suhu lingkungan. Sebagai contoh, pada suhu dingin, mamalia dan burung akan meningkatkan laju metabolisme dengan perubahan hormon-hormon yang terlibat di dalamnya, sehingga meningkatkan produksi panas. Pada ektoterm (misal pada lebah madu), adaptasi terhadap suhu dingin dengan cara berkelompok dalam sarangnya. Hasil metabolisme lebah secara kelompok mampu menghasilkan panas di dalam sarangnya.

Beberapa adaptasi hewan untuk mengurangi kehilangan panas, misalnya adanya bulu dan rambut pada burung dan mamalia, otot, dan modifikasi sistim sirkulasi di bagian kulit. Kontriksi pembuluh darah di bagian kulit dan countercurrent heat exchange adalah salah satu cara untuk mengurangi kehilangan panas tubuh. Perilaku adalah hal yang penting dalam hubungannya dengan termoregulasi. Migrasi, relokasi, dan sembunyi ditemukan pada beberapa hewan untuk menurunkan atau menaikkan suhu tubuh. Gajah di daerah tropis untuk menurunkan suhu tubuh dengan cara mandi atau mengipaskan daun telinga ke tubuh. Manusia menggunakan pakaian adalah salah satu perilaku unik dalam termoregulasi.

ALAT DAN BAHAN

Alat dan Bahan :

1. Themometer pengukur suhu tubuh

2. Kapas

3. Alkohol

CARA KERJA

1. Sebelum anda mengukur suhu tubuh, catatlah suhu lingkungan dan waktu pengukuran.

2. Ukurlah suhu tubuh anda dengan menempatkan termometer ke ketiak anda.

3. Sebelum digunakan, termometer dikibas-kibaskan sampai air raksanya mencapai garis terendah yaitu sekitar 350C. Selain itu bersihkan ujung termometer dengan kapas yang dibasahi alkohol.

4. Letakkan termometer itu di ketiak anda dan diamkan selama 5 menit.

5. Setelah itu, baca skala termometer yang menunjukkan suhu badan anda dan catat di lembar data yang telah disediakan (Tabel Pengamatan). Setelah digunakan bersihkan kembali ujung termometer dengan kapas yang dibasahi alkohol.

6. Ukur pula beberapa suhu tubuh anda setelah melakukan berbagai kegiatan seperti berikut:

a. Ketika bangun tengah malam untuk belajar atau tahajjud atau bangun pagi

b. Ketika akan berangkat tidur

c. Setelah mandi pagi dengan air dingin

d. Setelah anda berolah raga

e. Saat disela anda kuliah di siang hari yang panas

f. Setelah mandi dengan air hangat di malam hari

7. Buatlah grafik dengan suhu tubuh pada sumbu y dan suhu lingkungan pada sumbu x.

PERTANYAAN

1. Dari manakah tubuh kita memperoleh panas untuk mempertahankan suhu tubuh agar tetap konstan pada saat udara sangat dingin?

2. Bagaimanakah tubuh anda membuang panas yang berlebihan dari tubuh anda pada saat cuaca yang terik?

3. Sebut dan jelaskan empat proses fisika yang terlibat saat tubuh memperoleh dan kehilangan panas.

4. Apa perbedaan antara ektoderm dengan endoderm?.

5. Apa sebenarnya yang terjadi ketika tubuh anda demam?

The Silver is the New Black Theme. Blog di WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 39 pengikut lainnya.