PERPUSTAKAAN ONLINE INDONESIA BLOG’S

Agustus 31, 2008

DNA MITOKONDRIA LORONG MENUJU PENGUNGKAPAN ASAL-USUL MANUSIA

Filed under: DNA — perpusonline @ 11:27 pm

Penelusuran asal-usul manusia seperti mendapatkan darah baru, setelah selama puluhan tahun para ilmuwan berkutat menghubung-hubungkan riwayat fosil yang didapatkan di berbagai belahan bumi. Darah baru itu adalah penerapan teknologi genetika dengan menggunakan DNA mitokondria (mtDNA) untuk mencari tahu hubungan kekerabatan antarpopulasi. Terobosan itu membuka pintu gerbang menuju pengungkapan cikal-bakal manusia modern atas dasar persamaan genetik.

Wuryantari di Lab. Eijkman. Penelitian mtDNA pada akhirnya bisa dipakai sebagai dasar konseling genetik. (Yan)

Wuryantari di Lab. Eijkman. Penelitian mtDNA pada akhirnya bisa dipakai sebagai dasar konseling genetik. (Yan)

Roots adalah buku yang sangat terkenal di Amerika. Buku ini mengisahkan perjuangan seorang keturunan budak asal Afrika yang berhasil mendapatkan jejak nenek moyangnya di tanah kelahirannya. Dari kisahnya kita tahu, manusia punya naluri dasar untuk menelusuri asal-usulnya.

Dalam skala yang lebih luas pencarian asal-usul manusia modern dalam konteks evolusi, masih belum tuntas hingga kini. Para ahli arkeologi dan paleontologi tak kenal lelah menelusuri jejak nenek moyang manusia dengan memelototi jejak, alat-alat, dan fosil-fosil yang ditemukan. Demikian pula para pakar kebudayaan berusaha menyisir pertalian antara satu kebudayaan dengan kebudayaan lain. Namun, bukti-bukti yang didapat umumnya masih kurang memuaskan, karena sebagian masih berdasarkan dugaan.

Homo dan Australopithecus

Kendati begitu para pakar paleoantropologi sudah selangkah maju pada tahap penggambaran global asal-usul manusia dalam suatu pohon keturunan. Itu pun dengan satu catatan, penyederhanaan dan asumsi-asumsi yang tidak disepakati semua ilmuwan. Satu hal yang mereka akur adalah adanya dua kelompok besar (genera) yang diperkirakan muncul pada sekitar 4 juta tahun silam.

Salah satu dari dua kelompok itu adalah genus Homo atau manusia. Genus ini muncul dalam kurun waktu 2 juta – 0,5 juta tahun lalu. Anggota dari genus ini paling kurang terdiri atas tiga spesies: Homo habilis, Homo erectus, dan Homo sapiens.

Sampai titik ini para pakar yang bergelut dengan fosil kembali berbeda pemikiran ihwal bagaimana genus Homo menggantikan genus Australopithecus. Genus yang muncul lebih awal mendiami sebagian besar kawasan Afrika pada sekitar 4 juta tahun lalu. Berbeda dengan Homo yang lebih modern, secara fisik Australopithecines, salah satu anggota dari genus ini, mempunyai bentuk badan seperti kera dengan volume otak yang lebih kecil dibandingkan dengan Homo. Tetapi mereka sudah amat piawai menggunakan dua kaki, ciri khas yang persis sama dengan manusia.

Pada tahun 1925, ahli anatomi Raymond Dart adalah orang pertama yang menggambarkan fosil Australopithecines. Fosil itu ditemukan di gua batu kapur Taung, Afrika Selatan. Salah satunya berupa tengkorak berumur sekitar 2,5 juta tahun yang diduga dari kepala seorang bocah. Dart mencatat bahwa lubang tempat sumsum tulang belakang keluar dari otak berada di dasar tengkorak. Bagi Dart ini menunjukkan, bocah itu berdiri tegak dan berjalan dengan menggunakan dua kaki. Dart memberi nama spesies baru ini Australopithecus africanus, yang berarti kera asal selatan

Serpihan tulang yang menjadi objek penelitian Wuryantari. Atas: Plawangan, Bawah: Gilimanuk (Dok. Wuryantari)

Afrika.

Serpihan tulang yang menjadi objek penelitian Wuryantari. Atas: Plawangan, Bawah: Gilimanuk (Dok. Wuryantari)

Australopithecines yang berumur lebih tua juga ditemukan, sementara tujuh spesies lain berhasil diidentifikasi. Beberapa spesies ini dinamai Robust australopithecines, lantaran menunjukkan roman muka dan rahang yang berat. Lucy merupakan salah satu spesies yang paling pas untuk menggambarkan spesies ini. Ia berumur 3,18 juta tahun dan merupakan bagian dari Australopithecus afarensis.

Lucy ditemukan oleh ahli paleoantropologi asal Amerika Donald Johanson tahun 1974 di Ethiopia. Fosilnya dianggap bisa menggambarkan manusia paling tua dan lengkap. Bahkan para ilmuwan ketika itu sudah menganggapnya sebagai ibu dari umat manusia.

Namun, bukti ilmiah mengindikasikan, Lucy bukanlah nenek moyang manusia modern. Secara genetis, ia berbeda dengan manusia masa kini. Para ahli paleoantropologi punya hipotesis, asal muasal manusia modern adalah “Hawa”. Ia bukanlah manusia pertama yang diceritakan dalam kisah penciptaan di kitab suci. Hawa dalam pandangan para paleoantropolog adalah wanita yang hidup di Afrika antara 100.000 – 300.000 tahun lalu.

Ia membawa salah satu tipe DNA mitokondria (Deoxyribonucleic acid di dalam mitokondria – “pabrik energi” di dalam sel yang memasok sekitar 90% energi agar sel, jaringan, organ, dan sistem tubuh dapat berfungsi), bagian dari sejumlah kromosom yang berfungsi meneruskan faktor keturunan dari sel induk kepada sel turunan. Dalam hal ini, mtDNA hanya diturunkan kepada wanita. Setelah mengkaji variasi genetik di dalam mtDNA dalam berbagai populasi, para ilmuwan menyimpulkan, kita semua merupakan turunan dari satu nenek moyang, wanita “Hawa” di atas.

Kesimpulan itu membuka cakrawala baru bahwa manusia modern kemungkinan bukanlah keturunan dari manusia purba semacam Homo sapiens yang hidup 500.000 tahun lalu. Atau bahkan, spesies yang lebih tua seperti Homo habilis (2,5 – 1,6 juta tahun lalu), Homo ergaster (1,8 – 1,4 juta tahun lalu), dan Homo erectus (1,5 juta tahun lalu). Soalnya secara fisik Homo sapiens tampak sangat berbeda dengan manusia modern. Lebih tegap dengan wajah lebih lebar, dan kening mata menonjol.

Max Ingman, doktor genetik asal Amerika Serikat dalam tulisan bertajuk Mitochondrial DNA Clarifies Human Evolution mengungkapkan hal senada dengan pendapat para paleoantropolog bahwa manusia modern berevolusi dari salah satu tempat di Afrika antara kurun waktu 100 – 200 ribu tahun lalu. Dari situ moyang manusia masa kini itu lantas menyebar dan mendiami tempat-tempat di luar Afrika. Gen manusia modern ini tidak bercampur dengan gen spesies manusia kuno. Teori penyebaran manusia ini dikenal dengan hipotesis Out of Africa dan disokong oleh bukti-bukti genetik yang telah ditemukan.

Nenek moyang Jawa-Bali

Di Indonesia mtDNA dipakai untuk melacak jejak gen manusia purba. Hal itulah yang dikerjakan oleh Wuryantari, lulusan Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) tahun 1990. Ia melakukan penelitian untuk menjawab pertanyaan apakah manusia dari situs Plawangan (Jawa Tengah) yang hidup sekitar 2.400 – 3.500 tahun lalu dan Gilimanuk (Bali) sekitar 2.320 – 1.215 tahun lalu merupakan nenek moyang populasi orang Jawa dan Bali masa kini.

Setelah bergelut selama 22 bulan di Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Jakarta, Juni 2001 Wuryantari dalam disertasi berjudul Haplotipe DNA Mitokondria Manusia Prasejarah Jawa dan Bali: Sejarah Populasi dan Kekerabatannya menyimpulkan, manusia purba yang hidup di Plawangan dan Gilimanuk mempunyai kekerabatan dekat dan mirip dengan manusia Jawa dan Bali yang sekarang ada. Juga, ternyata, manusia prasejarah dari dua situs itu merupakan keturunan ras Asia atau Mongoloid dengan ciri

Fosil manusia Plawangan. (Dok. Wuryantari)

Polinesia.

Fosil manusia Plawangan. (Dok. Wuryantari)

Menurut Prof. dr. Sangkot Marzuki, MSc., PhD., Direktur Lembaga Eijkman, penelitian terhadap DNA mitokondria sebenarnya sudah cukup lama dilakukan di luar negeri. Di Indonesia, penelitian serupa mulai dikerjakan di Eijkman, Jakarta, tahun 1993, mengenai keanekaragaman genom manusia di Indonesia. “Sasarannya untuk melihat kedekatan kekerabatan di antara sejumlah etnik di Indonesia,” jelas Prof. Sangkot.

Menurut Wuryantari, sebagai negara kepulauan, Indonesia didiami oleh lebih dari 438 kelompok etnik (populasi) yang tersebar di 17.500 pulau. Masing-masing populasi itu memiliki ciri khas, baik morfologi, bahasa (dialek), maupun budaya. Berdasarkan ciri-ciri tersebut, populasi Indonesia dibedakan menjadi dua kelompok besar, yaitu kelompok yang mendiami Indonesia bagian barat yang mendapatkan pengaruh kuat gen mongoloid (Austronesia), dan kelompok yang mendiami Indonesia bagian timur yang mendapat pengaruh kuat dari gen melanesid (Austroloid).

Bagi Tari, panggilan akrab Wuryantari, penggunaan mtDNA sebagai sampel bukanlah tanpa sebab. “Rangkaian informasi genetik yang terkandung dalam DNA mitokondria dapat menggambarkan karakteristik suatu populasi dan sangat mungkin merekonstruksi sejarah evolusi,” jelasnya.

Tari yang dibimbing oleh dr. Herawati Sudoyo, PhD., Dr. H. Truman Simanjuntak, dan Prof. Sangkot disokong oleh sejumlah peneliti yang percaya bahwa mtDNA sangat berperan dalam penelusuran asal-usul manusia dari sisi ibu (maternal), karena mtDNA hanya didapat dari dan diturunkan oleh ibu kepada anak perempuannya. Pewarisan sepihak (ayah tidak ikut campur) ini membuat rekombinasi tidak dijumpai pada mtDNA. Demikian juga, dalam penelusuran gen yang membawa berbagai penyakit yang diturunkan, mtDNA telah terbukti terlibat dalam sejumlah pewarisan penyakit tersebut.

Kendati begitu, pewarisan sifat genetik tidak selamanya berakibat suatu penyakit. Sejumlah mutasi dan variasi lain di dalam gen ternyata juga dapat terjadi secara alamiah dan tidak membawa akibat buruk kepada si pemilik, kecuali menyebarkan variasi individu yang khas. Sifat ini dikenal sebagai polimorfisme genetik. Dalam penelusuran asal-usul manusia dan pencarian hubungan kekerabatan antarberbagai ras dan suku, sifat polimorfisme inilah yang dipakai untuk menentukan atau membedakan ras yang satu dengan yang lain.

Lantaran mtDNA dapat berubah oleh adanya proses mutasi sehingga menghasilkan suatu variasi, dan karena variasi tersebut diwariskan, jauh-dekatnya kekerabatan kelompok etnik dapat dilihat dari persamaan variasi yang dimiliki suatu populasi. Variasi mtDNA di dalam populasi dapat berupa penggantian (substitusi), penyisipan (insersi), atau penghapusan (delesi) basa pada satu atau beberapa nukleotida tanpa menyebabkan suatu kelainan atau penyakit.

DNA mitokondria tersusun atas 16.569 unit pasangan basa (nukleotida) dalam setiap lingkarannya. Setiap unit merupakan kombinasi dari basa-basa adenin (A), guanin (G), sitosin (C), dan timin (T). Dengan kecepatan mutasi 5 – 10 kali lebih cepat daripada DNA inti, molekul mtDNA sangat polimorfik alias beragam.

Dalam penelitiannya, Wuryantari yang menyelesaikan S1-nya dengan predikat cum laude itu menggunakan beberapa penanda genetik yang lazim digunakan dalam mempelajari populasi. Tujuannya, untuk menentukan karakteristik genetik yang menandai suatu populasi berdasarkan variasi susunan basa di daerah mtDNA dan polimorfisme di bagian lain mtDNA dari sampel fosil-fosil itu.

Selain itu, penelitian juga untuk menjawab apakah ada hubungan antara manusia prasejarah dari kedua situs itu dengan manusia Jawa dan Bali sekarang. Indikatornya adalah dengan mencari adanya delesi 9-pb pada daerah tertentu dan motif Polinesia pada DNA mitokondria. Sementara untuk membuktikan bahwa fosil tersebut berjenis kelamin wanita, Tari menggunakan penanda gen amilogenin.

Adanya variasi susunan basa di daerah HVR-I pada D-Loop mtDNA pada pasangan basa di urutan ke-16189, 16217, 16261, dan 16519 memberikan gambaran bahwa manusia yang ditemukan di Plawangan dan Gilimanuk tersebut sama-sama merupakan keturunan ras Asia dengan ciri Polinesia. Manusia Plawangan dan Gilimanuk tersebut memiliki haplotipe mtDNA kelompok M-a dan B*. Hal ini menunjukkan, keduanya mendapat pengaruh kuat gen Mongoloid (berbahasa Austronesia).

Kode-kode dan istilah-istilah genetika di atas yang dipakai Wuryantari dalam kesimpulannya memang tidak gampang dipahami oleh masyarakat awam. Tetapi deretan kode dan istilah-istilah itu mengungkapkan bahwa jumlah mutasi pada mtDNA merupakan cermin kekerabatan dua kelompok. Semakin besar jumlah variasi yang memisahkan dua kelompok etnik, semakin jauh jarak kekerabatan antara kedua kelompok tersebut. Bahkan kalau ada dua orang yang mtDNA-nya persis sama, kekerabatan di antara keduanya sangatlah dekat. Mungkin satu ibu, satu nenek, atau satu nenek moyang.

Sementara kalau Joko yang orang Jawa asli dibandingkan dengan Jack yang orang Inggris, kemungkinan perbedaan antara basa-basa mitokondria bisa ada beberapa buah. Tidak mungkin persis sama. Paling tidak, Jack punya polimorfisme atau variasi yang khas bagi orang Inggris. Sementara Joko punya delesi 9-pb yang khas buat orang Asia dan Polinesia. Kemungkinan Jack punya delesi 9-pb sangat kecil, kecuali kalau ia tanpa disadari ternyata punya nenek moyang orang Asia. Atau ia punya mutasi baru yang mirip polimorfisme khas Asia.

Gunakan tulang padat

Agaknya kesulitan menerjemahkan hasil penelitian bungsu dari sepuluh bersaudara ini bukan hanya monopoli masyarakat awam. Wuryantari sendiri mengaku menemui kesulitan pada tahap mengisolasi DNA yang berukuran mikron itu dan memastikan tidak adanya zat lain atau kontaminasi pada sampel yang diteliti.

“Studi ini sangat dimungkinkan mengingat adanya sumber genetik yang dapat bertahan dalam waktu lama, yaitu tulang-belulang yang merupakan salah satu temuan purbakala dari aspek arkeologi,” kata wanita kelahiran Kudus ini. Hanya saja, ia mengingatkan, untuk penyempurnaan dan pengembangan penelitian DNA prasejarah penggunaan sampel tulang bukan dari jenis tulang pipih, tetapi tulang padat.

Meski begitu langkah Tari merupakan terobosan penelitian manusia purba di Indonesia. Ia merencanakan penelitian lanjutan pada sampel tulang purba yang berumur lebih tua lagi. Di samping itu, akan diteliti fosil manusia purba yang ditemukan di pulau-pulau lain di Indonesia untuk tujuan yang sana, yaitu mengetahui kaitan kekerabatan dan pola migrasinya. (Beatricia Iswari/G. Sujayanto)

Identifikasi DNA

Filed under: DNA — perpusonline @ 11:26 pm

Ketika seseorang dengan alasan yang sangat beragam dan pribadi ingin tahu akan identitasnya, maka salah satu cara yang dapat dilakukan untuk menyelesaikan masalah tersebut adalah identifikasi DNA (Deoxyribo Nucleic Acid). Identifikasi DNA dapat dimanfaatkan untuk mengetahui hubungan biologis antar individu dalam sebuah keluarga dengan cara membandingkan pola DNA individu-individu tersebut. Lembaga Biologi Molekul Eijkman melalui Yayasan GenNeka menawarkan pelayanan identifikasi DNA, berupa tes paternitas dan tes maternitas.
Apakah DNA itu?

Setiap orang memiliki DNA yang unik. DNA adalah materi genetik yang membawa informasi yang dapat diturunkan. Di dalam sel manusia DNA dapat ditemukan di dalam inti sel dan di dalam mitokondria. Di dalam inti sel, DNA membentuk satu kesatuan untaian yang disebut kromosom. Setiap sel manusia yang normal memiliki 46 kromosom yang terdiri dari 22 pasang kromosom somatik dan 1 pasang kromosom sex (XX atau XY).
DNA Mitokondria → Tes mtDNA penurunan maternal

Pola penurunan matrilineal
DNA Inti → Tes Paternitas/Maternitas

Pola penurunan patrilineal dan matrilineal

Setiap anak akan menerima setengah pasang kromosom dari ayah dan setengah pasang kromosom lainnya dari ibu sehingga setiap individu membawa sifat yang diturunkan baik dari ibu maupun ayah. Sedangkan DNA yang berada pada mitokondria hanya diturunkan dari ibu kepada anak-anaknya. Keunikan pola pewarisan DNA mitokondria menyebabkan DNA mitokondria dapat digunakan sebagai marka untuk mengidentifikasi hubungan kekerabatan secara maternal. Kedua pola penurunan materi genetik dapat diilustrasi seperti gambar sebelumnya. Dengan perkembangan teknologi, pemeriksaan DNA dapat digunakan untuk mengidentifikasi dan membedakan individu yang satu dengan individu yang lain.
Untuk apa saja tes DNA dilakukan?

Tes DNA dilakukan dengan berbagai alasan seperti persoalan pribadi dan hukum antara lain: tunjangan anak, perwalian anak, adopsi, imigrasi, warisan dan masalah forensik.
Sampel apakah yang akan diambil untuk tes DNA?

Hampir semua sampel biologis dapat dipakai untuk tes DNA, seperti buccal swab (usapan mulut pada pipi sebelah dalam), darah, rambut beserta akarnya, walaupun lebih dipilih penggunaan darah dalam tabung (sebanyak 2ml) sebagai sumber DNA.

Cara pengambilan sampel: Sampel darah diambil sebanyak 2 ml dengan menggunakan tabung EDTA kemudian diberi label yang jelas, dan tanggal pengambilan sampel. Sampel disimpan pada suhu 4°C.
Apakah tes paternitas?

Tes paternitas adalah tes DNA untuk menentukan apakah seorang pria adalah ayah biologis dari seorang anak. Kita semua mewarisi DNA (materi genetik) dari orang tua biologis kita. Tes paternitas membandingkan pola DNA anak dengan terduga ayah untuk memeriksa bukti pewarisan DNA yang menunjukkan kepastian adanya hubungan biologis.
Apakah tes maternitas?

Tes maternitas adalah tes DNA untuk menentukan apakah seorang wanita adalah ibu biologis dari seorang anak. Seperti pada tes paternitas, tes ini membandingkan pola DNA anak dengan terduga ibu untuk menentukan kecocokan DNA anak yang diwariskan dari terduga ibu. Umumnya tes maternitas dilakukan untuk kasus, seperti kasus dugaan tertukarnya bayi, kasus bayi tabung, kasus anak angkat dan lain-lain.
Metoda identifikasi DNA apakah yang digunakan
dalam tes paternitas dan tes maternitas?

Identifikasi DNA untuk tes paternitas dilakukan dengan menganalisa pola DNA menggunakan marka STR (short tandem repeat). STR adalah lokus DNA yang tersusun atas pengulangan 2-6 basa. Dalam genom manusia dapat ditemukan pengulangan basa yang bervariasi jumlah dan jenisnya. Identifikasi DNA dengan penanda STR merupakan salah satu prosedur tes DNA yang sangat sensitif karena penanda STR memiliki tingkat variasi yang tinggi baik antar lokus STR maupun antar individu.
Siapa saja yang perlu di periksa untuk tes paternitas?

Ibu, anak dan terduga ayah
Dapatkah tes paternitas dilakukan bila hanya terduga ayah dan anak saja yang diperiksa?

Dapat, tetapi hanya bila ibu biologis tidak bersedia di tes. Partisipasi ibu pada tes paternitas dapat membantu menyingkirkan separuh DNA anak, sehingga separuhnya lagi dapat dibandingkan dengan DNA terduga ayah. Akan tetapi kami dapat melakukan tes paternitas tanpa partisipasi ibu, dengan menggunakan analisis tambahan (penambahan penanda) memberikan hasil yang sama akuratnya, tanpa dipungut biaya tambahan. Apabila anak belum dewasa maka di perlukan fotokopi surat kelahiran dan atau surat perwalian anak yang menyatakan terduga ayah atau wali anak memiliki hak untuk membawa anak tersebut untuk melakukan tes paternitas.

Apakah perlu surat dokter untuk melakukan tes DNA?

Tidak, walaupun kami sering bekerjasama dengan dokter dan banyak kasus kami berhubungan dengan mereka, tetapi untuk tes DNA ini tidak perlu surat pengantar dokter. Pengguna jasa dapat meminta dan menjadwal tes paternitas dan/atau tes maternitas secara langsung sesuai dengan keinginannya.
Apakah harus ada persiapan sebelum tes DNA?

Tidak, alkohol, obat2an, makanan, umur atau gaya hidup tidak akan mengubah pola DNA seseorang.
Apakah tes paternitas dapat dilakukan sebelum anak lahir?

Dapat, dengan analisis DNA, tes paternitas dapat dilakukan sebelum anak dilahirkan (prenatal). Tes DNA dapat dilakukan dengan sampel dari jaringan janin (Chorionic Villi Sample, CVS) umumnya pada umur kehamilan 10-13 minggu, atau dengan cara amniosentesis pada umur kehamilan 14-24 minggu. Untuk pengambilan jaringan janin ini harus dilakukan oleh ahli kebidanan/kandungan. Ibu yang ingin melakukan tes DNA prenatal harus berkonsultasi dengan ahli kebidanan/kandungan.

Bagaimana kalau terduga ayah berada di kota lain?

Dengan surat pengantar dari dokter, terduga ayah dapat diambil darahnya di kota domisili dan mengisi formulir surat pernyataan persetujuan untuk melakukan tes paternitas serta menandatanganinya di atas materai.
Berapa akurasi hasil tes paternitas dan tes maternitas?

Tes DNA adalah 100% akurat bila dikerjakan dengan benar. Tes DNA ini memberikan hasil lebih dari 99.99% probabilitas paternitas bila DNA terduga ayah dan DNA anak cocok (matched). Apabila DNA terduga ayah dan anak tidak cocok (mismatched) maka terduga ayah yang di tes 100% bukanlah merupakan ayah biologis anak tersebut. Konfirmasi dilakukan dengan mengulang tes terhadap terduga ayah.
Berapa lamakah hasilnya dapat diperoleh?

Hasil tes DNA akan selesai dalam 12 hari kerja terhitung dari tanggal diterimanya sampel.
Apakah hasil ini dapat digunakan sebagai bukti hukum?

Hasil tes ini hanya dapat digunakan sebagai referensi pribadi, kecuali jika sampel yang diperiksa diambil melalui prosedur hukum (surat dan polisi atau jaksa), maka sampel tersebut memiliki kekuatan hukum.
Apakah kerahasiaan hasilnya terjamin?

Tentu, karena pertanyaan mengenai paternitas sangat sensitif, seluruh informasi pasien, mengenai tes dan hasil tes akan dijamin kerahasiaannya. Hasil tes DNA hanya akan diberikan kepada individu yang melakukan tes.
Apakah sampel yang akan diperiksa harus diambil
pada waktu yang bersamaan?

Tidak, sampel dapat diambil dan disimpan sampai seluruh individu yang akan diperiksa telah terkumpul, dan pada saat itu tes baru dapat dilakukan.
Apakah ada batasan umur untuk melakukan tes DNA?

Tidak, tes DNA tidak dipengaruhi oleh umur. Tes dapat dilakukan pada janin dan bahkan pada orang yang sudah meninggal.
Apakah tes mtDNA penurunan maternal (mtDNA maternal lineage test)?

Tes mtDNA penurunan maternal digunakan untuk menentukan apakah dua atau lebih individu mempunyai hubungan keluarga melalui ibu mereka (secara maternal/garis ibu). Tes ini sering digunakan untuk memberikan bukti tambahan pada kasus maternitas yang sulit dimana terduga ibu tidak dapat di tes. Hasil dari tes ini juga dapat digunakan untuk konfirmasi hubungan biologis dari anak angkat.
Metode identifikasi DNA apakah yang digunakan dalam tes mtDNA penurunan maternal?

Dalam tes mtDNA yang diturunkan secara maternal, identifikasi DNA dilakukan dengan membandingkan mtDNA ibu dengan mtDNA anak. Pada tes ini, karena DNA mitokondria hanya diwariskan secara maternal pada anaknya, bila pola mtDNA seorang ibu sama dengan pola mtDNA anak maka dikatakan bahwa kedua individu tersebut memiliki garis keturunan maternal yang sama. Jika pola mtDNA nya tidak cocok, maka kedua individu tersebut dinyatakan 100% bukan berasal dari satu garis keturunan ibu.
Apakah tes Y-STR penurunan paternal (Y-STR paternal lineage test)?

Tes Y-STR penurunan paternal digunakan untuk menentukan apakah dua atau lebih laki-laki mempunyai hubungan keluarga melalui ayah mereka (secara paternal/garis ayah). Tes ini sering digunakan untuk memberikan bukti tambahan pada kasus paternitas yang sulit dimana terduga ayah tidak dapat di tes. Hasil tes ini juga dapat digunakan untuk konfirmasi hubungan biologis dari anak laki-laki angkat.
Kapan tes Y-STR harus digunakan?

Apabila sampel DNA yang diperiksa merupakan campuran DNA wanita dan laki-laki, dengan komponen DNA laki-laki pada sampel lebih sedikit dari komponen DNA wanita, maka tes Y-STR akan memberikan pola DNA laki-laki. Pada sampel yang diperiksa apabila terjadi kontribusi DNA laki-laki lebih dari satu, maka tes Y-STR dapat membantu membedakan kontributor.
Persyaratan yang diperlukan dalam melakukan identifikasi DNA

Pengguna jasa harus menyerahkan fotokopi kartu identitas diri (KTP/ paspor), akte atau surat keterangan lahir anak dan foto-foto dari individu yang diperiksa. Pengguna jasa juga harus menandatangani surat pernyataan persetujuan tes DNA di atas materai.
Biaya pemeriksaan

Biaya tes paternitas yang dilakukan oleh seorang anak dan seorang terduga ayah, dengan atau tanpa kehadiran ibu adalah Rp.7.500.000,-/per paket *, biaya ini sudah termasuk biaya konsultasi pemeriksaan identifikasi DNA seharga Rp. 350.000,-. Jika anda akan memeriksakan lebih banyak orang (lebih dari satu tersangka ayah, saudara, dll), mereka dapat dilibatkan dalam proses pemeriksaan dengan biaya tambahan Rp. 2.500.000,-/per orang *.

Biaya tes mtDNA penurunan maternal untuk dua individu adalah Rp. 4.000.000,- per paket *.

Biaya tes Y-STR penurunan paternal untuk dua individu adalah Rp. 5.000.000,- per paket *.

* harga sewaktu-waktu dapat berubah tanpa pemberitahuan lebih dahulu.
Bagaimana cara mendapatkan pelayanan identifikasi DNA?

Untuk melakukan identifikasi DNA tersebut, pengguna jasa diharapkan dapat membuat perjanjian sebelumnya dengan menghubungi:

Dr. Herawati Sudoyo, PhD. atau
Dr. L. Helena Suryadi, MS.
Yayasan GenNeka
Lembaga Biologi Molekul Eijkman
Jl. Diponegoro 69, Jakarta 10430
Telp : 62-21-3917131-3; 3148695
Fax : 62-21-3147982
Hari Senin s/d Jumat – Jam 09.00 s/d 15.00 WIB

Metode Analisis Kejahatan pada Forensik

Filed under: DNA — perpusonline @ 11:25 pm

Mungkin banyak mahasiswa kimia, sekarang ini yang bercita-cita untuk menjadi seorang ahli forensik. Bekerja membuktikan suatu kejahatan dengan cara-cara ilmiah dan khas seorang kimiawan (terdapat sampel, peralatan laboratorium dan metode analisis) tentunya adalah suatu pekerjaan yang menarik dan tak lupa pula gaji yang lumayan besar. Tetapi sebelum sampai ke benar-benar bekerja di forensik, penulis akan menginformasikan salah satu metode analisis kejahatan di forensik yakni DNA fingerprint.

Di Indonesia, DNA fingerprint mencuat namanya sebagai cara identifikasi kejahatan dan korban yang telah hancur setelah terjadi peristiwa peledakan bom di tanah air seperti kasus bom Bali, bom Marriot, peledakan bom di depan Kedubes Australia dan lain-lain. Pengunaan informasi DNA fingerprint di Indonesia boleh dibilang masih sangat baru sedangkan di negara-negara maju, hal ini telah biasa dilakukan.

DNA fingerprint
Asam deoksiribonukleat (DNA) adalah salah satu jenis asam nukleat. Asam nukleat merupakan senyawa-senyawa polimer yang menyimpan semua informasi tentang genetika. Penemuan tehnik Polymerase Chain Reaction (PCR) menyebabkan perubahan yang cukup revolusioner di berbagai bidang. Hasil aplikasi dari tehnik PCR ini disebut dengan DNA fingerprint yang merupakan gambaran pola potongan DNA dari setiap individu. Karena setiap individu mempunyai DNA fingerprint yang berbeda maka dalam kasus forensik, informasi ini bisa digunakan sebagai bukti kuat kejahatan di pengadilan.

DNA yang biasa digunakan dalam tes adalah DNA mitokondria dan DNA inti sel. DNA yang paling akurat untuk tes adalah DNA inti sel karena inti sel tidak bisa berubah sedangkan DNA dalam mitokondria dapat berubah karena berasal dari garis keturunan ibu, yang dapat berubah seiring dengan perkawinan keturunannya. Dalam kasus-kasus kriminal, penggunaan kedua tes DNA diatas, bergantung pada barang bukti apa yang ditemukan di Tempat Kejadian Perkara (TKP). Seperti jika ditemukan puntung rokok, maka yang diperiksa adalah DNA inti sel yang terdapat dalam epitel bibir karena ketika rokok dihisap dalam mulut, epitel dalam bibir ada yang tertinggal di puntung rokok. Epitel ini masih menggandung unsur DNA yang dapat dilacak.

Untuk kasus pemerkosaan diperiksa spermanya tetapi yang lebih utama adalah kepala spermatozoanya yang terdapat DNA inti sel didalamnya. Sedangkan jika di TKP ditemukan satu helai rambut maka sampel ini dapat diperiksa asal ada akarnya. Namun untuk DNA mitokondria tidak harus ada akar, cukup potongan rambut karena diketahui bahwa pada ujung rambut terdapat DNA mitokondria sedangkan akar rambut terdapat DNA inti sel. Bagian-bagian tubuh lainnya yang dapat diperiksa selain epitel bibir, sperma dan rambut adalah darah, daging, tulang dan kuku.

Metode analisis DNA fingerprint
Sistematika analisis DNA fingerprint sama dengan metode analisis ilmiah yang biasa dilakukan di laboratorium kimia. Sistematika ini dimulai dari proses pengambilan sampel sampai ke analisis dengan PCR. Pada pengambilan sampel dibutuhkan kehati-hatian dan kesterilan peralatan yang digunakan. Setelah didapat sampel dari bagian tubuh tertentu, maka dilakukan isolasi untuk mendapatkan sampel DNA. Bahan kimia yang digunakan untuk isolasi adalah Phenolchloroform dan Chilex. Phenolchloroform biasa digunakan untuk isolasi darah yang berbentuk cairan sedangkan Chilex digunakan untuk mengisolasi barang bukti berupa rambut. Lama waktu proses tergantung dari kemudahan suatu sampel di isolasi, bisa saja hanya beberapa hari atau bahkan bisa berbulan-bulan.

Tahapan selanjutnya adalah sampel DNA dimasukkan kedalam mesin PCR. Langkah dasar penyusunan DNA fingerprint dengan PCR yaitu dengan amplifikasi (pembesaran) sebuah set potongan DNA yang urutannya belum diketahui. Prosedur ini dimulai dengan mencampur sebuah primer amplifikasi dengan sampel genomik DNA. Satu nanogram DNA sudah cukup untuk membuat plate reaksi. Jumlah sebesar itu dapat diperoleh dari isolasi satu tetes darah kering, dari sel-sel yang melekat pada pangkal rambut atau dari sampel jaringan apa saja yang ditemukan di TKP. Kemudian primer amplifikasi tersebut digunakan untuk penjiplakan pada sampel DNA yang mempunyai urutan basa yang cocok. Hasil akhirnya berupa kopi urutan DNA lengkap hasil amplifikasi dari DNA Sampel.

Selanjutnya kopi urutan DNA akan dikarakterisasi dengan elektroforesis untuk melihat pola pitanya. Karena urutan DNA setiap orang berbeda maka jumlah dan lokasi pita DNA (pola elektroforesis) setiap individu juga berbeda. Pola pita inilah yang dimaksud DNA fingerprint. Adanya kesalahan bahwa kemiripan pola pita bisa terjadi secara random (kebetulan) sangat kecil kemungkinannya, mungkin satu diantara satu juta. Finishing dari metode ini adalah mencocokkan tipe-tipe DNA fingerprint dengan pemilik sampel jaringan (tersangka pelaku kejahatan).

Penutup
Kemampuan ahli forensik dalam mengendus jejak kejahatan melalui metode analisis DNA fingerprint merupakan suatu langkah maju dalam proses pengungkapan kejahatan di Indonesia. Keakuratan hasil yang hampir mencapai 100% menjadikan metode DNA fingerprint selangkah lebih maju dibandingkan proses biometri (identifikasi menggunakan sidik jari, retina mata, susunan gigi, bentuk tengkorak kepala serta bagian tubuh lainnya) yang telah lama digunakan kepolisian untuk identifikasi. Terlepas dari keuntungannya itu, penerapan DNA fingerprint masih terbatas di Indonesia dikarenakan dana yang dibutuhkan sangat mahal dan SDM forensik yang kurang, sehingga kepolisian RI biasanya menerapkan standar prioritas untuk analisis ini, prioritas utama analisis biasanya menyangkut kasus-kasus nasional seperti peristiwa peledakan bom atau untuk potongan tubuh korban yang telah hancur, yang tidak dapat diidentifikasi lagi dengan proses biometri.

TES DNA

Filed under: DNA — perpusonline @ 11:24 pm
BAB I

PENGERTIAN TES DNA

Tes DNA adalah sebuah metode identifikasi fragmen dari asam deoksiribonukleat, atau DNA itu sendiri. DNA merupakan materi genetik yang bisa kita temukan dalam inti sel mahluk hidup (nukleus). Pada mamalia, rantai DNA berbentuk struktur kelompok yang disebut kromosom. Dengan pengecualian orang yang kembar, DNA setiap orang pasti berbeda. Unik, tepatnya.

Nah, pelacakan DNA ini biasanya akan diawali dengan ekstraksi sampel DNA dari cairan atau lapisan tubuh seperti rambut, darah, dan saliva. Sampel ini kemudian disegmentasikan menggunakan enzim, dan disusun menggunakan proses yang disebut elektroforesis. Sampel kemudian ditandai dengan film X-Ray, dimana kemudian sampel DNA yang sedang diuji akan menunjukkan pola garis-garis hitam—jejak DNA, seperti gambar dibawah ini :

Jika jejak DNA yang dihasilkan dari 2 orang bersamaan, maka kemungkinan sampel ini berasal dari orang yang sama.

Pada kasus Bambang-Mayang Sari ini, tentu saja sampel akan diambil dari Bambang dan anaknya. Jika hasil tes DNA mereka sama, kemungkinan si anak adalah anaknya Bambang.

Apakah DNA itu?

Setiap orang memiliki DNA yang unik. DNA adalah materi genetik yang membawa informasi yang dapat diturunkan. Di dalam sel manusia DNA dapat ditemukan di dalam inti sel dan di dalam mitokondria. Di dalam inti sel, DNA membentuk satu kesatuan untaian yang disebut kromosom. Setiap sel manusia yang normal memiliki 46 kromosom yang terdiri dari 22 pasang kromosom somatik dan 1 pasang kromosom sex (XX atau XY).

DNA Mitokondria → Tes mtDNA penurunan maternal

Pola penurunan matrilineal

Apakah tes maternitas?

Tes maternitas adalah tes DNA untuk menentukan apakah seorang wanita adalah ibu biologis dari seorang anak. Seperti pada tes paternitas, tes ini membandingkan pola DNA anak dengan terduga ibu untuk menentukan kecocokan DNA anak yang diwariskan dari terduga ibu. Umumnya tes maternitas dilakukan untuk kasus, seperti kasus dugaan tertukarnya bayi, kasus bayi tabung, kasus anak angkat dan lain-lain.

Apakah tes mtDNA penurunan maternal (mtDNA maternal lineage test)?

Tes mtDNA penurunan maternal digunakan untuk menentukan apakah dua atau lebih individu mempunyai hubungan keluarga melalui ibu mereka (secara maternal/garis ibu). Tes ini sering digunakan untuk memberikan bukti tambahan pada kasus maternitas yang sulit dimana terduga ibu tidak dapat di tes. Hasil dari tes ini juga dapat digunakan untuk konfirmasi hubungan biologis dari anak angkat.

Metode identifikasi DNA apakah yang digunakan dalam tes mtDNA penurunan maternal?

Dalam tes mtDNA yang diturunkan secara maternal, identifikasi DNA dilakukan dengan membandingkan mtDNA ibu dengan mtDNA anak. Pada tes ini, karena DNA mitokondria hanya diwariskan secara maternal pada anaknya, bila pola mtDNA seorang ibu sama dengan pola mtDNA anak maka dikatakan bahwa kedua individu tersebut memiliki garis keturunan maternal yang sama. Jika pola mtDNA nya tidak cocok, maka kedua individu tersebut dinyatakan 100% bukan berasal dari satu garis keturunan ibu.

DNA Inti → Tes Paternitas/Maternitas



Pola penurunan patrilineal dan matrilineal

Apakah tes paternitas?

Tes paternitas adalah tes DNA untuk menentukan apakah seorang pria adalah ayah biologis dari seorang anak. Kita semua mewarisi DNA (materi genetik) dari orang tua biologis kita. Tes paternitas membandingkan pola DNA anak dengan terduga ayah untuk memeriksa bukti pewarisan DNA yang menunjukkan kepastian adanya hubungan biologis.

Apakah tes Y-STR penurunan paternal (Y-STR paternal lineage test)?

Tes Y-STR penurunan paternal digunakan untuk menentukan apakah dua atau lebih laki-laki mempunyai hubungan keluarga melalui ayah mereka (secara paternal/garis ayah). Tes ini sering digunakan untuk memberikan bukti tambahan pada kasus paternitas yang sulit dimana terduga ayah tidak dapat di tes. Hasil tes ini juga dapat digunakan untuk konfirmasi hubungan biologis dari anak laki-laki angkat.

Siapa saja yang perlu di periksa untuk tes paternitas?

Ibu, anak dan terduga ayah

Dapatkah tes paternitas dilakukan bila hanya terduga ayah dan anak saja yang diperiksa?

Dapat, tetapi hanya bila ibu biologis tidak bersedia di tes. Partisipasi ibu pada tes paternitas dapat membantu menyingkirkan separuh DNA anak, sehingga separuhnya lagi dapat dibandingkan dengan DNA terduga ayah. Akan tetapi kami dapat melakukan tes paternitas tanpa partisipasi ibu, dengan menggunakan analisis tambahan (penambahan penanda) memberikan hasil yang sama akuratnya, tanpa dipungut biaya tambahan. Apabila anak belum dewasa maka di perlukan fotokopi surat kelahiran dan atau surat perwalian anak yang menyatakan terduga ayah atau wali anak memiliki hak untuk membawa anak tersebut untuk melakukan tes paternitas

Metoda identifikasi DNA apakah yang digunakan
dalam tes paternitas dan tes maternitas?

Identifikasi DNA untuk tes paternitas dilakukan dengan menganalisa pola DNA menggunakan marka STR (short tandem repeat). STR adalah lokus DNA yang tersusun atas pengulangan 2-6 basa. Dalam genom manusia dapat ditemukan pengulangan basa yang bervariasi jumlah dan jenisnya. Identifikasi DNA dengan penanda STR merupakan salah satu prosedur tes DNA yang sangat sensitif karena penanda STR memiliki tingkat variasi yang tinggi baik antar lokus STR maupun antar individu.

Setiap anak akan menerima setengah pasang kromosom dari ayah dan setengah pasang kromosom lainnya dari ibu sehingga setiap individu membawa sifat yang diturunkan baik dari ibu maupun ayah. Sedangkan DNA yang berada pada mitokondria hanya diturunkan dari ibu kepada anak-anaknya. Keunikan pola pewarisan DNA mitokondria menyebabkan DNA mitokondria dapat digunakan sebagai marka untuk mengidentifikasi hubungan kekerabatan secara maternal. Kedua pola penurunan materi genetik dapat diilustrasi seperti gambar sebelumnya. Dengan perkembangan teknologi, pemeriksaan DNA dapat digunakan untuk mengidentifikasi dan membedakan individu yang satu dengan individu yang lain.


Apakah tes paternitas dapat dilakukan sebelum anak lahir?

Dapat, dengan analisis DNA, tes paternitas dapat dilakukan sebelum anak dilahirkan (prenatal). Tes DNA dapat dilakukan dengan sampel dari jaringan janin (Chorionic Villi Sample, CVS) umumnya pada umur kehamilan 10-13 minggu, atau dengan cara amniosentesis pada umur kehamilan 14-24 minggu. Untuk pengambilan jaringan janin ini harus dilakukan oleh ahli kebidanan/kandungan. Ibu yang ingin melakukan tes DNA prenatal harus berkonsultasi dengan ahli kebidanan/kandungan.

Bagaimana kalau terduga ayah berada di kota lain?

Dengan surat pengantar dari dokter, terduga ayah dapat diambil darahnya di kota domisili dan mengisi formulir surat pernyataan persetujuan untuk melakukan tes paternitas serta menandatanganinya di atas materai.

Apakah kerahasiaan hasilnya terjamin?

Tentu, karena pertanyaan mengenai paternitas sangat sensitif, seluruh informasi pasien, mengenai tes dan hasil tes akan dijamin kerahasiaannya. Hasil tes DNA hanya akan diberikan kepada individu yang melakukan tes.

Apakah sampel yang akan diperiksa harus diambil
pada waktu yang bersamaan?

Tidak, sampel dapat diambil dan disimpan sampai seluruh individu yang akan diperiksa telah terkumpul, dan pada saat itu tes baru dapat dilakukan.

Apakah ada batasan umur untuk melakukan tes DNA?

Tidak, tes DNA tidak dipengaruhi oleh umur. Tes dapat dilakukan pada janin dan bahkan pada orang yang sudah meninggal.

Kapan tes Y-STR harus digunakan?

Apabila sampel DNA yang diperiksa merupakan campuran DNA wanita dan laki-laki, dengan komponen DNA laki-laki pada sampel lebih sedikit dari komponen DNA wanita, maka tes Y-STR akan memberikan pola DNA laki-laki. Pada sampel yang diperiksa apabila terjadi kontribusi DNA laki-laki lebih dari satu, maka tes Y-STR dapat membantu membedakan kontributor.

Persyaratan yang diperlukan dalam melakukan identifikasi DNA

Pengguna jasa harus menyerahkan fotokopi kartu identitas diri (KTP/ paspor), akte atau surat keterangan lahir anak dan foto-foto dari individu yang diperiksa. Pengguna jasa juga harus menandatangani surat pernyataan persetujuan tes DNA di atas materai.

Biaya pemeriksaan

Biaya tes paternitas yang dilakukan oleh seorang anak dan seorang terduga ayah, dengan atau tanpa kehadiran ibu adalah Rp.7.500.000,-/per paket *, biaya ini sudah termasuk biaya konsultasi pemeriksaan identifikasi DNA seharga Rp. 350.000,-. Jika anda akan memeriksakan lebih banyak orang (lebih dari satu tersangka ayah, saudara, dll), mereka dapat dilibatkan dalam proses pemeriksaan dengan biaya tambahan Rp. 2.500.000,-/per orang *.

Biaya tes mtDNA penurunan maternal untuk dua individu adalah Rp. 4.000.000,- per paket *.

Biaya tes Y-STR penurunan paternal untuk dua individu adalah Rp. 5.000.000,- per paket *.

  • harga sewaktu-waktu dapat berubah

Bagaimana cara mendapatkan pelayanan identifikasi DNA?

Untuk melakukan identifikasi DNA tersebut, pengguna jasa diharapkan dapat membuat perjanjian sebelumnya dengan menghubungi:

Dr. Herawati Sudoyo, PhD. atau
Dr. L. Helena Suryadi, MS.
Yayasan GenNeka
Lembaga Biologi Molekul Eijkman

Jl. Diponegoro 69, Jakarta 10430
Telp : 62-21-3917131-3; 3148695
Fax : 62-21-3147982
Hari Senin s/d Jumat – Jam 09.00 s/d 15.00 WIB

BAB II

PROSEDUR TES DNA

Alat tes dna sebesar kopor berlibur anda

Ketika seseorang dengan alasan yang sangat beragam dan pribadi ingin tahu akan identitasnya, maka salah satu cara yang dapat dilakukan untuk menyelesaikan masalah tersebut adalah identifikasi DNA (Deoxyribo Nucleic Acid). Identifikasi DNA dapat dimanfaatkan untuk mengetahui hubungan biologis antar individu dalam sebuah keluarga dengan cara membandingkan pola DNA individu-individu tersebut. Lembaga Biologi Molekul Eijkman melalui Yayasan GenNeka menawarkan pelayanan identifikasi DNA, berupa tes paternitas dan tes maternitas.

Sampel apakah yang akan diambil untuk tes DNA?

Hampir semua sampel biologis dapat dipakai untuk tes DNA, seperti buccal swab (usapan mulut pada pipi sebelah dalam), darah, rambut beserta akarnya, walaupun lebih dipilih penggunaan darah dalam tabung (sebanyak 2ml) sebagai sumber DNA.

Bisa juga anda tinggal menyeka tubuh atau keringat, memasukkannya ke sebuah tempat khusus. Kemudian dilakukan TES DNA.

Dalam kasus-kasus kriminal, penggunaan kedua tes DNA diatas, bergantung pada barang bukti apa yang ditemukan di Tempat Kejadian Perkara (TKP). Seperti jika ditemukan puntung rokok, maka yang diperiksa adalah DNA inti sel yang terdapat dalam epitel bibir karena ketika rokok dihisap dalam mulut, epitel dalam bibir ada yang tertinggal di puntung rokok. Epitel ini masih menggandung unsur DNA yang dapat dilacak.

Untuk kasus pemerkosaan diperiksa spermanya tetapi yang lebih utama adalah kepala spermatozoanya yang terdapat DNA inti sel didalamnya. Sedangkan jika di TKP ditemukan satu helai rambut maka sampel ini dapat diperiksa asal ada akarnya. Namun untuk DNA mitokondria tidak harus ada akar, cukup potongan rambut karena diketahui bahwa pada ujung rambut terdapat DNA mitokondria sedangkan akar rambut terdapat DNA inti sel. Bagian-bagian tubuh lainnya yang dapat diperiksa selain epitel bibir, sperma dan rambut adalah darah, daging, tulang dan kuku.

Cara pengambilan sampel: Sampel darah diambil sebanyak 2 ml dengan menggunakan tabung EDTA kemudian diberi label yang jelas, dan tanggal pengambilan sampel. Sampel disimpan pada suhu 4°C.

Apakah perlu surat dokter untuk melakukan tes DNA?

Tidak, walaupun kami sering bekerjasama dengan dokter dan banyak kasus kami berhubungan dengan mereka, tetapi untuk tes DNA ini tidak perlu surat pengantar dokter. Pengguna jasa dapat meminta dan menjadwal tes paternitas dan/atau tes maternitas secara langsung sesuai dengan keinginannya.

Apakah harus ada persiapan sebelum tes DNA?

Tidak, alkohol, obat2an, makanan, umur atau gaya hidup tidak akan mengubah pola DNA seseorang

Berapa lamakah hasilnya dapat diperoleh?

Hasil tes DNA akan selesai dalam 12 hari kerja terhitung dari tanggal diterimanya sampel.

DNA fingerprint


Asam deoksiribonukleat (DNA) adalah salah satu jenis asam nukleat. Asam nukleat merupakan senyawa-senyawa polimer yang menyimpan semua informasi tentang genetika. Penemuan tehnik
Polymerase Chain Reaction (PCR) menyebabkan perubahan yang cukup revolusioner di berbagai bidang. Hasil aplikasi dari tehnik PCR ini disebut dengan DNA fingerprint yang merupakan gambaran pola potongan DNA dari setiap individu. Karena setiap individu mempunyai DNA fingerprint yang berbeda maka dalam kasus forensik, informasi ini bisa digunakan sebagai bukti kuat kejahatan di pengadilan.

DNA yang biasa digunakan dalam tes adalah DNA mitokondria dan DNA inti sel. DNA yang paling akurat untuk tes adalah DNA inti sel karena inti sel tidak bisa berubah sedangkan DNA dalam mitokondria dapat berubah karena berasal dari garis keturunan ibu, yang dapat berubah seiring dengan perkawinan keturunannya. Metode analisis DNA fingerprint
Sistematika analisis DNA
fingerprint sama dengan metode analisis ilmiah yang biasa dilakukan di laboratorium kimia. Sistematika ini dimulai dari proses pengambilan sampel sampai ke analisis dengan PCR. Pada pengambilan sampel dibutuhkan kehati-hatian dan kesterilan peralatan yang digunakan. Setelah didapat sampel dari bagian tubuh tertentu, maka dilakukan isolasi untuk mendapatkan sampel DNA. Bahan kimia yang digunakan untuk isolasi adalah Phenolchloroform dan Chilex. Phenolchloroform biasa digunakan untuk isolasi darah yang berbentuk cairan sedangkan Chilex digunakan untuk mengisolasi barang bukti berupa rambut. Lama waktu proses tergantung dari kemudahan suatu sampel di isolasi, bisa saja hanya beberapa hari atau bahkan bisa berbulan-bulan.

Tahapan selanjutnya adalah sampel DNA dimasukkan kedalam mesin PCR. Langkah dasar penyusunan DNA fingerprint dengan PCR yaitu dengan amplifikasi (pembesaran) sebuah set potongan DNA yang urutannya belum diketahui. Prosedur ini dimulai dengan mencampur sebuah primer amplifikasi dengan sampel genomik DNA. Satu nanogram DNA sudah cukup untuk membuat plate reaksi. Jumlah sebesar itu dapat diperoleh dari isolasi satu tetes darah kering, dari sel-sel yang melekat pada pangkal rambut atau dari sampel jaringan apa saja yang ditemukan di TKP. Kemudian primer amplifikasi tersebut digunakan untuk penjiplakan pada sampel DNA yang mempunyai urutan basa yang cocok. Hasil akhirnya berupa kopi urutan DNA lengkap hasil amplifikasi dari DNA Sampel.

Selanjutnya kopi urutan DNA akan dikarakterisasi dengan elektroforesis untuk melihat pola pitanya. Karena urutan DNA setiap orang berbeda maka jumlah dan lokasi pita DNA (pola elektroforesis) setiap individu juga berbeda. Pola pita inilah yang dimaksud DNA fingerprint. Adanya kesalahan bahwa kemiripan pola pita bisa terjadi secara random (kebetulan) sangat kecil kemungkinannya, mungkin satu diantara satu juta. Finishing dari metode ini adalah mencocokkan tipe-tipe DNA fingerprint dengan pemilik sampel jaringan (tersangka pelaku kejahatan).

BAB III

AKURASI TES DNA

Akurasi Tes DNA?

Tes DNA ini menuai tantangan dari beberapa aspek, termasuk akurasi hasil dan biaya tes nya yang tergolong sangat mahal.

Akurasi tes DNA telah ditantang untuk beberapa alasan. Pertama, karena sampel yang diambil hanya berupa segmen DNA, bukan DNA lengkap, kemungkinan jejak DNA yang dihasilkan tidak unik. Sebagai tambahan, jejak DNA biasa dihasilkan oleh laboratorium yang mungkin tidak memiliki standar pengujian dan pengendalian kualitas yang sama. Kemudian, karena interpretasi atas tes DNA ini dilakukan oleh manusia, ada faktor human error yang bisa mendukung terjadinya kesalahan pengujian, berujung pada hasil yang salah.

Berapa akurasi hasil tes paternitas dan tes maternitas?

Tes DNA adalah 100% akurat bila dikerjakan dengan benar. Tes DNA ini memberikan hasil lebih dari 99.99% probabilitas paternitas bila DNA terduga ayah dan DNA anak cocok (matched). Apabila DNA terduga ayah dan anak tidak cocok (mismatched) maka terduga ayah yang di tes 100% bukanlah merupakan ayah biologis anak tersebut. Konfirmasi dilakukan dengan mengulang tes terhadap terduga ayah.

Kesimpulannya?

Tes DNA sudah pasti 100 % akurat? Tidak. Tes DNA yang dilakukan oleh penguji yang benar-benar ahli dan berpengalaman dalam bidang ini selama bertahun-tahun mungkin akan meminimalisir human error saat pembacaan hasil. Tapi saya yakin, selama tes dilakukan sesuai Standard Of Procedur yang ada dan melalui Quality Control yang baku, tingkat akurasi tes akan lebih baik dan merepresentasikan keadaan yang sebenarnya.

BAB IV

MANFAAT TES DNA

Tes DNA dilakukan dengan berbagai alasan seperti persoalan pribadi dan hukum antara lain: tunjangan anak, perwalian anak, adopsi, imigrasi, warisan dan masalah forensik

Apakah hasil ini dapat digunakan sebagai bukti hukum?

Hasil tes ini hanya dapat digunakan sebagai referensi pribadi, kecuali jika sampel yang diperiksa diambil melalui prosedur hukum (surat dan polisi atau jaksa), maka sampel ter­sebut memiliki kekuatan hukum.

Di Indonesia, DNA fingerprint mencuat namanya sebagai cara identifikasi kejahatan dan korban yang telah hancur setelah terjadi peristiwa peledakan bom di tanah air seperti kasus bom Bali, bom Marriot, peledakan bom di depan Kedubes Australia dan lain-lain. Pengunaan informasi DNA fingerprint di Indonesia boleh dibilang masih sangat baru sedangkan di negara-negara maju, hal ini telah biasa dilakukan.


Daftar Pustaka


http://www.republika.co.id

http://www.halohalo.co.id

http://www.eijman.go.id

http://www.otakku.com

http://che-mis-try.org
Irawan, Bambang. 2003.
DNA fingerprinting pada Forensik, Biologi sebagai Bukti Kejahatan. Majalah Natural Ed. 7/Thn. V/April 2003. Bandar Lampung
Rizal, M. Wahyu. 2005.
Tes DNA : Mengendus Jejak Kejahatan. Majalah Natural Ed. 11/Thn. VII/Agustus 2005. Bandar Lampung
Fessenden dan Fessenden. 1986.
Kimia Organik Jilid 2 Edisi Ketiga. Diterjemahkan oleh Aloysius Hadyana Pudjaatmaka. Penerbit Erlangga. Jakarta

Mendeterminasi Tumbuhan

Filed under: Taksonomi — perpusonline @ 10:48 pm

KATA PENGANTAR
KATA PENGANTAR
Puji syukur yang setinggi-tingginya kehadirat Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang, atas
limpahan rahmat dan karuniaNya sehingga penyusunan buku ajar Taksonomi Tumbuhan ini
dapat diselesaikan. Buku ajar ini merupakan hasil pelaksanaan Hibah Kompetisi Konten Mata
Kuliah E-Learning INHERENT-USU 2006. Buku ajar ini ditujukan bagi mahasiswa biologi
FMIPA USU semester empat (4) yang mengambil mata kuliah Taksonomi Tumbuhan dengan
beban kredit 4 sks, berisikan materi perkuliahan selama satu semester.
Terima kasih yang tulus kami sampaikan kepada Program INHERENT-USU 2006 yang telah
membiayai seluruh penyusunan buku ajar ini. Tanpa bantuan dana, penyusunan buku ajar ini
tidak dapat berjalan dengan baik. Terima kasih juga kami sampaikan kepada semua pihak yang
telah banyak membantu baik langsung maupun tidak langsung. Program Hibah Kompetisi
Konten Mata Kuliah E-Learning ini sangat terasa manfaatnya karena proses pembelajaran
mahasiswa atau transfer of knowledge dapat berjalan lebih efektif dan efisien. Semoga program
ini dapat terus dilanjutkan di tahun-tahun mendatang.
Kritik dan saran sangat diharapkan demi penyempurnaan buku ajar ini. Semoga buah karya ini
ada juga manfaatnya.
Wassalam,
Medan, 20 Desember 2006
Tim Penyusun
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/KATA%20PENGANTAR.htm5/8/2007 3:36:59 PM
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR …………………………………………………………………………….. i
DAFTAR ISI ………………………………………………………………………………………….. ii
BAB I PENDAHULUAN ………………………………………………………………………. 1
1.1. Defenisi dan Ruang Lingkup ………………………………………………………………. 1
1.2. Tujuan ……………………………………………………………………………………………… 1
1.3. Hubungan dengan Ilmu Botani lain ……………………………………………………… 2
1.4. Tahap Perkembangan ………………………………………………………………………….. 2
BAB II DETERMINASI ………………………………………………………………………… 4
2.1. Cara Mendeterminasi Tumbuhan ………………………………………………………….. 4
2.2. Aturan Pembuatan Kunci Determinasi ………………………………………………….. 5
2.3. Menggunakan Kunci Determinasi …………………………………………………………… 6
2.4. Jenis-jenis Junci Determinasi Tumbuhan ………………………………………………… 6
2.5. Membuat Contoh Kunci Determinasi Sederhana …………………………………….. 7
BAB III TATA NAMA (NOMENKLATUR) ……………………………………………. 8
3.1. Sejarah Tatanama Tumbuhan ………………………………………………………………. 9
3.2. Nama Umum ……………………………………………………………………………………….. 9
3.3. Nama Ilmiah ………………………………………………………………………………………… 10
3.4. Prinsip dan Peraturan Tatanama Tumbuhan ……………………………………………… 10
3.5. Komposisi Nama Ilmiah ………………………………………………………………………… 11
3.6. Tingkat KesatuanTaksonomi ………………………………………………………………….. 12
3.7. Tipe Tatanama Tumbuhan ……………………………………………………………………… 13
3.8. Satu Takson Satu Nama ………………………………………………………………………… 14
BAB IV KELAS CHAROPHYCEAE (CHARACEAE) (Ganggang Karang) …. 15
BAB V KELAS PHAEOPHYCEAE (Ganggang Pirang) …………………………… 17
5.1. Bangsa Phaeosporales …………………………………………………………………………. 17
5.2. Bangsa Laminariles ……………………………………………………………………………… 18
5.3. Bangsa Dictyotales ……………………………………………………………………………… 20
5.4. Bangsa Fucales …………………………………………………………………………………… 20
BAB VI KELAS RHODOPHYCEAE (Ganggang Merah) ………………………… 22
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/DAFTAR%20ISI.htm (1 of 4)5/8/2007 3:37:00 PM
DAFTAR ISI
6.1. Anak kelas BANGIEAEA (PROTOFLORIDEAE) …………………………………… 22
6.2. Anak kelas FLORIDEAE ………………………………………………………………………. 22
BAB VII LICHENES (Lumut Kerak) ……………………………………………………… 25
7.1. Kelas ASCOLICHENES ……………………………………………………………………. 26
7.2. Kelas BASIDIOLICHENES (HYMENOLICHENES) ……………………………. 26
BAB VIII DIVISI BRYOPHYTE(Tumbuhan Lumut) ……………………………… 27
8.1. KELAS HEPATICAE (LUMUT HATI) ………………………………………………. 28
8.1.1. Bangsa Anthocerotales (Lumut Tanduk) ……………………………………………. 28
8.1.2. Bangsa Marchantiales ………………………………………………………………………. 29
8.1.3. Bangsa jungermaniales ……………………………………………………………………… 29
8.2. KELAS MUSCI (LUMUT DAUN) ……………………………………………………… 30
8.2.1. Bangsa Andreaeales ………………………………………………………………………….. 32
8.2.2. Bangsa Sphagnales ( Lumut Gambut ) ……………………………………………….. 32
8.2.3. Bangsa Bryales ……………………………………………………………………………….. 33
BAB IX PTERIDOPHYTA (Tumbuhan Paku) ……………………………………….. 37
BAB X KELAS PSILOPHYTINAE (Paku Purba) ……………………………………. 42
10.1. Bangsa Psilophytales (Paku Telanjang) ……………………………………………….. 42
10.2. Bangsa Psilotales ………………………………………………………………………………. 43
BAB XI KELAS LYCOPODINAE ( Paku Rambat atau Paku Kawat ) ……….. 45
11.1. Bangsa Lycopodiales ………………………………………………………………………… 45
11.2. Bangsa Selaginellales (Paku Rane, Paku Lumut) …………………………………… 47
11.3. Bangsa Lepidodendrales ……………………………………………………………………. 48
11.4. Bangsa Isoetales ………………………………………………………………………………. 49
BAB XII KELAS EQUISETINAE (Paku Ekor Kuda) ……………………………… 51
12.1. Bangsa Equisetales ……………………………………………………………………………. 51
12.2. Bangsa Sphenophyllales ……………………………………………………………………. 54
12.3. Bangsa Protoarticulatales ………………………………………………….. 55
BAB XIII KELAS FILICINAE (Paku Sejati) ………………………………………….. 56
13.1. Leptosporangiate (Filices) …………………………………………………. 56
13.2. Anak Kelas Hydropterides (Paku Air) …………………………………….. 63
BAB XIV PRIMOFILICES …………………………………………………… 67
BAB XV FITOGRAFI ……………………………………………………………………………. 68
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/DAFTAR%20ISI.htm (2 of 4)5/8/2007 3:37:00 PM
DAFTAR ISI
15.1. Kormus dan Bagian-bagiannya …………………………………………………………… 68
15.2. Akar (radix) …………………………………………………………………………………….. 69
15.3. Batang (caulis) ………………………………………………………………………………… 73
15.4. Daun (folium) ……………………………………………………………………………………. 78
15.5. Bagian-bagian lain pada tumbuhan, metamorfosis akar, batang, dan daun …. 100
15.6. Alat Perkembangbiakan (Organum Reproductivum) ……………………………… 103
15.6.1. Bunga (flos) ………………………………………………………………………………… 103
15.6.2. Bagian-bagian Bunga ……………………………………………………………………. 109
15.7. Buah (Fructus) ……………………………………………………………………………… 114
15.8. Biji (Semen) …………………………………………………………………………………… 117
15.9. Lembaga (Embryo) …………………………………………………………………………. 120
BAB XVI DESKRIPSI …………………………………………………………………………. 122
16.1. Defenisi dan Kepentingan ………………………………………………………………… 122
16.2. Bentuk dan Isi Deskripsi ………………………………………………………………….. 122
BAB XVII PENCIRIAN ……………………………………………………………………….. 123
17.1. Defenisi ………………………………………………………………………………………….. 123
17.2. Macam Sifat Taksonomi ………………………………………………………………….. 123
BAB XVIII SUMBER BUKTI TAKSONOMI ……………………………………….. 124
18.1. Peranan Sumber Bukti Taksonomi …………………………………………………….. 124
18.2. Beberapa Sumber Bukti Taksonomi …………………………………………………… 124
BAB XIX KLASIFIKASI ……………………………………………………………………… 127
19.1. Defenisi dan Tujuan …………………………………………………………………………. 127
19.2. Sejarah dan Macam-macam Klasifikasi ………………………………………………. 127
BAB XX TEKNIK PEMBUATAN HERBARIUM …………………………………. 131
20.1. Defenisi dan Fungsi Herbarium ………………………………………………………… 131
20.2. Cara Mengkoleksi Tumbuhan …………………………………………………………… 131
BAB XXI SPERMATOPHYTA ………………………………………………………….. 134
21.1. Subdivisi Gymnospermae ……………………………………………………………… 134
21.2. Subdivisi Angiospermae ……………………………………………….. 135
1) Bangsa Rhoeadales (Brassicales) …………………………………………. 136
2) Bangsa Guttiferales atau Clusiales ………………………………………… 140
3) Bangsa Malvales atau Columniferae ……………………………………….. 143
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/DAFTAR%20ISI.htm (3 of 4)5/8/2007 3:37:00 PM
DAFTAR ISI
4) Bangsa Cucurbitales ………………………………………………………………………….. 147
5. Bangsa Rosidae ………………………………………………………………………………… 148
7. Bangsa Ranales (Ranunculales) …………………………………………………………… 159
8. Bangsa Liliiflorae (Liliales) ………………………………………………………………… 167
9. Bangsa Zingiberales …………………………………………………………………………… 173
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/DAFTAR%20ISI.htm (4 of 4)5/8/2007 3:37:00 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. DEFENISI DAN RUANG LINGKUP
Istilah taksonomi diciptakan oleh A.P. de Candolle, seorang ahli tumbuhan bangsa Swiss di
herbarium Genewa, yang artinya teori tentang klasifikasi tumbuhan (Rideng, 1989). Secara
etimologi taksonomi berasal dari bahasa Yunani: takson artinya unit atau kelompok, dan nomos
artinya hukum; jadi hukum atau aturan yang digunakan untuk menempatkan suatu makhluk hidup
pada takson tertentu. Kegiatan pokok taksonomi tumbuhan ada tiga yaitu penamaan, pertelaan ciriciri
dan penggolongan. Taksonomi merupakan bagian dari sistematika (Rifai,1976). Sistematika
cakupannya lebih luas yaitu meliputi taksonomi, studi evolusi dan filogeni (Stuessy,1989).
1.2. TUJUAN
Tujuan taksonomi tumbuhan adalah:
1. Untuk penemuan flora-flora di dunia
2. Memberikan sebuah metode identifikasi dan komunikasi yang tepat
3. Menghasilkan sistem klasifikasi yang terkait dan menyeluruh
4. Memberikan nama ilmiah yang benar pada setiap takson tumbuhan sesuai dengan aturan tata
nama tumbuhan.
5. Membuat keteraturan dan keharmonian ilmu pengetahuan mengenai organisme sehingga
tercipta suatu sistim yang sederhana dan dapat digunakan orang lain.
Ahli taksonomi tumbuhan mempunyai peranan dan tanggung jawab dalam membantu usaha
konservasi jenis, membuat cagar alam dan mencegah punahnya jenis-jenis tumbuhan tertentu.
Taksonomi tumbuhan juga mempunyai peranan dalam program-progam pembangunan menuju ke
swasembada pangan mencakup: a. Intensifikasi; yaitu dengan memberikan saran dalam memilih
tumbuhan antar varietas atau antar jenis yang hendak disilangkan untuk memperoleh bibit unggul. b.
Diversifikasi (pembudidayaan berbagai jenis tanaman); taksonomi tumbuhan dapat membantu
memilih jenis-jenis tumbuhan yang cocok untuk tujuan tersebut. c. Ekstensifikasi (perluasan areal);
taksonomi dapat memilih jenis tumbuhan yang dapat digunakan sebagai indikator tanah.
Di samping itu taksonomi juga berperan dalam pengembangan obat-obat tradisional. Dalam industri
tempe misalnya, taksonomi dapat berperan dalam memilih jenis-jenis lain yang semarga dengan
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (1 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
kedelai (bahan baku tempe) yang mempunyai kadar lemak dan protein yang lebih tinggi, sehingga
secara teoritis dapat juga dipakai sebagai bahan baku tempe di samping kedele yang sudah umum
dikenal (Rideng, 1989).
1.3. HUBUNGAN DENGAN ILMU BOTANI LAIN
Seorang ahli taksonomi harus mempunyai pengetahuan tentang morfologi, embriologi,
anatomi, sitogenetik dan ilmu sejenis lainnya. Cabang ilmu ini merupakan dasar dari botani, tapi di
lain pihak perkembangannya sangat tergantung pada kemajuan cabang-cabang botani lainnya. Datadata
yang diungkapkan sebagai hasil penelitian sitologi, genetika, anatomi, ekologi, morfologi,
palinologi, palaentologi, fitogeografi, fitokimia dan cabang-cabang botani lain sangat berguna bagi
botani sistematika. Akan tetapi ilmu-ilmu itu sendiri tidaklah akan berjalan pesat secara efisien tanpa
bantuan botani sistematika. Percobaan-percobaan yang dilakukan dalam cabang-cabang botani yang
banyak tersebut tidak mungkin dapat diulangi dan kebenaran kesimpulannya dikukuhkan kalau
identitas atau nama tumbuhan objeknya meragukan. Kekurangcermatan dalam penamaan objek
percobaan akan menyebabkan nilai suatu penelitian merosot atau bahkan tidak ada harganya sama
sekali (Rifai, 1989).
1.4. TAHAP PERKEMBANGAN
Menurut Davis and Heywood (1963), ada 4 tahapan perkembangan taksonomi yaitu: 1. Fase
eksplorasi; 2. Fase konsolidasi; 3. Fase biosistematik; 4. Fase ensiklopedik. Turril (1935) membagi
tahap ini dengan cara yang berbeda, lebih menunjukkan kesinambungan antara satu fase ke fase yang
lain, yaitu: taksonomi alfa yang ekuivalen dengan fase eksplorasi dan konsolidasi, dan taksonomi
omega ekuivalen dengan fase ensiklopedik. Taksonomi alfa lebih kurang sepenuhnya tergantung
pada ciri morfologi luar, sedangkan taksonomi omega menekankan pada semua ciri taksonomi yang
ada.
Ø Fase Eksplorasi
Fase eksplorasi disebut juga fase pioneer, sesuai dengan salah satu tujuan taksonomi yaitu
inventarisasi semua tumbuhan yang ada di muka bumi. Pada fase ini yang lebih ditekankan adalah
identifikasi yang didasarkan pada herbarium yang jumlahnya terbatas. Acuan utama adalah
morfologi dan distribusi tumbuhan tersebut.
Ø Fase Konsolidasi
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (2 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
Fase ini disebut juga fase sistematika. Pada fase ini studi lapangan dilakukan secara intensif
dan bahan herbarium sudah lebih lengkap. Banyak tumbuhan yang dinyatakan sebagai jenis pada
fase eksplorasi ternyata merupakan varian dari jenis lainnya dan banyak menemukan jenis-jenis baru.
Pada fase ini flora dan dasar-dasar monografi mulai diterbitkan.
Ø Fase Biosistematika
Fase ini disebut juga fase eksperimental. Pengetahuan terhadap tumbuhan bukan hanya pada
distribusi geografis tetapi juga informasi pada tingkat yang lebih luas misalnya jumlah dan morfologi
kromosom. Pada fase ini kegiatan yang menonjol adalah: analisis sistem kawin silang, pola variasi
dan penelitian yang menyangkut aspek-aspek taksonomi di bidang kimia (kemotaksonomi),
taksonomi kuantitatif (numerical taxonomy), sitologi, anatomi, embriologi, palinologi.
Ø Fase Ensiklopedik
Fase ini merupakan koordinasi dari ketiga fase sebelumnya. Semua data (ciri taksonomi)
yang ada dianalisis dan disintesis untuk membuat satu atau lebih sistem klasifikasi yang
mencerminkan hubungan kekerabatan secara filogenetis.
BAB II
DETERMINASI
Determinasi yaitu membandingkan suatu tumbuhan dengan satu tumbuhan lain yang sudah
dikenal sebelumnya (dicocokkan atau dipersamakan). Karena di dunia ini tidak ada dua benda yang
identik atau persis sama, maka istilah determinasi (Inggris to determine = menentukan, memastikan)
dianggap lebih tepat daripada istilah identifikasi (Inggeris to identify = mempersamakan (Rifai,1976).
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (3 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
2.1. CARA MENDETERMINASI TUMBUHAN
Untuk mendeterminasi tumbuhan pertama sekali adalah mempelajari sifat morfologi tumbuhan
tersebut (seperti posisi, bentuk, ukuran dan jumlah bagian-bagian daun, bunga, buah dan lainlainnya).
Langkah berikut adalah membandingkan atau mempersamakan ciri-ciri tumbuhan tadi
dengan tumbuhan lainnya yang sudah dikenal identitasnya, dengan menggunakan salah satu cara di
bawah ini:
1. Ingatan
Pendeterminasian ini dilakukan berdasarkan pengalaman atau ingatan kita. Kita mengenal suatu
tumbuhan secara langsung karena identitas jenis tumbuhan yang sama sudah kita ketahui
sebelumnya, misalnya didapatkan di kelas, atau pernah mempelajarinya, pernah diberitahukan orang
lain dan lain-lain.
2. Bantuan orang
Pendeterminasian dilakukan dengan meminta bantuan ahli-ahli botani sistematika yang bekerja di
pusat-pusat penelitian botani sistematika, atau siapa saja yang bisa memberikan pertolongan.
Seorang ahli umumnya dapat cepat melakukan pendeterminasian karena pengalamannya, dan kalau
menemui kesulitan maka dia akan menggunakan kedua cara berikutnya.
3. Spesimen acuan
Pendeterminasian tumbuhan dapat juga dilakukan dengan membandingkan secara langsung dengan
specimen acuan yang biasanya diberi label nama. Spesimen tersebut bisa berupa tumbuhan hidup,
misalnya koleksi hidup di kebun raya. Akan tetapi specimen acuan yang umum dipakai adalah
koleksi kering atau herbarium.
4. Pustaka
Cara lain untuk mendeterminasi tumbuhan adalah dengan membandingkan atau mencocokkan ciriciri
tumbuhan yang akan dideterminasi dengan pertelaan-pertelaan serta gambar-gambar yang ada
dalam pustaka. Pertelaan-pertelaan tersebut dapat dijumpai dalam hasil penelitian botani sistematika
yang disajikan dalam bentuk monografi, revisi, flora, buku-buku pegangan ataupun bentuk lainnya.
5. Komputer
Berkat pesatnya kemajuan teknologi dan biometrika akan ada mesin elektronika modern yang
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (4 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
diprogramkan untuk menyimpan, mengolah dan memberikan kembali keterangan-keterangan tentang
tumbuh-tumbuhan. Dengan demikian pendeterminasian tumbuh-tumbuhan nantinya akan dapat
dilakukan dengan bantuan komputer.
2.2. ATURAN PEMBUATAN KUNCI DETERMINASI
Kunci determinasi merupakan suatu alat yang diciptakan khusus untuk memperlancar pelaksanaan
pendeterminasian tumbuh-tumbuhan. Kunci determinasi dibuat secara bertahap, sampai bangsa saja,
suku, marga atau jenis dan seterusnya. Ciri-ciri tumbuhan disusun sedemikian rupa sehingga
selangkah demi selangkah si pemakai kunci dipaksa memilih satu di antara dua atau beberapa sifat
yang bertentangan,begitu seterusnya hingga akhirnya diperoleh suatu jawaban berupa identitas
tumbuhan yang diinginkan.
Beberapa syarat kunci determinasi yang baik menurut Vogel (1989) antara lain:
1. Ciri yang dimasukkan mudah diobservasi, karakter internal dimasukkan bila sangat
penting.
2. Menggunakan karakter positif dan mencakup seluruh variasi dalam grupnya.
Contoh : 1. Leaves opposites
2. Leaves either in whorls, or spirally arranged, or distichous
Bukan 1. Leaves opposites
2. Leaves not opposites
3. Deskripsi karakter dengan istilah umum yang dimengerti orang
4. Menggunakan kalimat sesingkat mungkin, hindari deskripsi dalam kunci
5. Mencantumkan nomor couplet
6. Mulai dari ciri umum ke khusus, bawah ke atas
2.3. MENGGUNAKAN KUNCI DETERMINASI
Saran-saran dalam penggunaan kunci determinasi:
1. Kumpulkan informasi sebanyak mungkin tentang ciri tumbuhan yang akan dideterminasi
(kalau ada lengkap vegetatif dan generatif)
2. Pilih kunci yang sesuai dengan materi tumbuhan dan daerah geografi di mana tumbuhan
tersebut diperoleh
3. Baca pengantar kunci tersebut dan semua singkatan atau hal-hal lain yang lebih rinci
4. Perhatikan pilihan yang ada secara hati-hati
5. Hendaknya semua istilah yang ada dipahami artinya. Gunakan glossary atau kamus
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (5 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
6. Bila spesimen tersebut tidak cocok dengan semua kunci dan semua pilihan layaknya tidak
kena, mungkin terjadi kesalahan, ulangi ke belakang.
7. Apabila kedua pilihannya mugkin, coba ikuti keduanya
8. Konfirmasikan pilihan tersebut dengan membaca deskripsinya
9. Spesimen yang berhasil dideterminasi sebaiknya diverifikasi dengan ilustrasi atau specimen
herbarium yang ada.
2.4. JENIS-JENIS KUNCI DETERMINASI TUMBUHAN
Menurut Rifai (1976), berdasarkan cara penyusunan sifat-sifat yang harus dipilih maka dikenal tiga
macam kunci determinasi, yaitu kunci perbandingan, kunci analisis dan sinopsis. Yang akan dibahas
di sini adalah kunci analisis.
Kunci analisis merupakan kunci yang paling umum digunakan dalam pustaka. Kunci ini sering juga
disebut kunci dikotomi sebab terdiri atas sederetan bait atau kuplet. Setiap bait terdiri atas dua (atau
adakalanya beberapa) baris yang disebut penuntun dan berisi ciri-ciri yang bertentangan satu sama
lain. Untuk memudahkan pemakaian dan pengacuan, maka setiap bait diberi bernomor, sedangkan
penuntunnya ditandai dengan huruf. Pemakai kunci analisis harus mengikuti bait-bait secara bertahap
sesuai dengan yang ditentukan oleh penuntun. Dengan mempertentangkan ciri-ciri yang tercantum
dalam penuntun-penuntun itu akhirnya hanya akan tinggal satu kemungkinan dan kita dituntun
langsung pada nama takson yang dicari. Kunci analisis dibedakan menjadi dua macam berdasarkan
cara penempatan bait-baitnya yaitu kunci bertakik (kunci indent) dan kunci paralel.
Pada kunci bertakik maka penuntun-penuntun yang sebait ditakikkan pada tempat tertentu dari
pinggir (menjarak pada jarak tertentu dari pinggir), tapi letaknya berjauhan. Di antara kedua
penuntun itu ditempatkan bait-bait takson tumbuhan, dengan ditakikkan lebih ke tengah lagi dari
pinggir yang memenuhi ciri penuntun pertama, juga dengan penuntun-penuntun yang dipisah
berjauhan. Dengan demikian maka unsure-unsur takson yang mempunyai ciri yang sama jadi bersatu
sehingga bisa terlihat sekaligus.
Penuntun-penuntun kunci paralel yang sebait ditempatkan secara berurutan dan semua baitnya
disusun seperti gurindam atau sajak. Pada akhir setiap penuntun diberikan nomor bait yang harus
diikuti, dan demikian seterusnya sehingga akhirnya diperoleh nama takson tumbuhan yang dicari.
Kunci paralel lebih menghemat tempat, terutama kalau takson tumbuhan yang dicakupnya besar
sekali. Buku Flora of Java yang ditulis oleh Backer dan Backuizen van den Brink semuanya ditulis
dalam bentuk kunci paralel.
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (6 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
2.5. MEMBUAT CONTOH KUNCI DETERMINASI SEDERHANA
Contoh kunci indent :
A. Pohon tegak atau semak
B. Petal bagian dalam sangat berbeda dengan bagian luar
C. Bentuk petal deltoid, ovul tunggal pada masing-masing carpel………Annona
C. Bentuk petal linier, ovul banyak pada masing-masing karpel………..Xylopia
B. Petal bagian dalam mirip dengan bagian luar
C. Petal panjang bentuk lanseolatus, ovul banyak………………….…..Cananga
C. Petal bentuk ovatus atau elongates, ovul dua…………………….…Polyalthia
A. Berupa semak
B. Petal menggembung di bagian dasar dan menutupi anther……………Artabotrys
B. Petal lebar dan pipih, tidak menutupi anther…………………………….. Uvaria
Contoh kunci paralel
1.a. Pohon tegak atau semak……………………………………………………………2
b. Berupa semak………………………………………………………………………5
2.a. Petal bagian dalam sangat berbeda dengan bagian luar……………………………3
b. Petal bagian dalam mirip dengan bagian luar………………………………………4
3.a. Bentuk petal deltoid, ovul tunggal pada masing-masing karpel……….…1. Annona
b.Bentuk petal linier, ovul banyak pada masing-masing karpel…………… 6. Xylopia
4.a. Petal panjang bentuk lanseolatus, ovul banyak………………………….3.Cananga
b. Petal bentuk ovatus atau elongates, ovul dua…………………………..4.Polyalthia
5.a. Petal menggembung di bagian dasar dan menutupi anther……………2. Artabotrys
b. Petal lebar dan pipih, tidak menutupi anther…………………………….. 5. Uvaria
BAB III
TATA NAMA (NOMENKLATUR)
Sudah menjadi naluri manusia untuk memberi nama kepada apa saja yang ada di sekitarnya. Nama
itu merupakan sesuatu yang mutlak perlu dalam kehidupan sehari-hari, sebab tanpa nama untuk
mengacu benda-benda konkrit seperti tumbuh-tumbuhan maupun hal-hal yang abstrak tidak mungkin
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (7 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
kita lakukan.
Radford (1986) mengutip pendapat Macself seperti yang ditulis oleh Johnson (1971): “Betapa aneh
dan kacaunya kehidupan ini seandainya kita mengabaikan penggunaan nama yang kita pakai untuk
mengidentifikasi segala sesuatu yang kita lihat, buat atau pakai. Perolehan dan penyebaran
pengetahuan tentulah tidak mungkin lagi dan aktivitas kehidupan akan terhenti”. Sulit dibayangkan
bagaimana kita harus berkomunikasi satu dengan yang lain tanpa menyebut suatu nama.
Pemberian nama pada tumbuhan disebut nomenklatur atau tatanama. Cara pemberian nama
itu melibatkan asas-asas yang diatur oleh peraturan-peraturan yang dibuat dan disahkan Kongres
Botani sedunia. Peraturan-peraturan tersebut secara formal dimuat pada Kode Internasional
Tatanama Tumbuhan (International Code of Botanical Nomenclature). Tujuan utama sistem ini
adalah menciptakan satu nama untuk setiap takson (Rideng, 1989). Selanjutnya Rifai (1973)
menyatakan bahwa kode tatanama ini bertujuan untuk menyediakan cara yang mantap dalam
pemberian nama bagi kesatuan-kesatuan taksonomi, menjauhi atau menolak pemakaian nama-nama
yang mungkin menyebabkan kesalahan atau keragu-raguan atau yang menyebabkan timbulnya
kesimpangsiuran dalam ilmu pengetahuan. Tatanama ini juga bertujuan menghindarkan terciptanya
nama-nama yang tidak perlu.
Maksud pemberian nama pada setiap kesatuan taksonomi tumbuh-tumbuhan bukanlah untuk
menunjukkan ciri-ciri atau sejarahnya, tetapi untuk memberikan jalan guna pengacuan dan sekaligus
menunjukkan tingkat kedudukan taksonominya.
3.1. SEJARAH TATANAMA TUMBUHAN
Dulu nama-nama ilmiah tumbuhan itu merupakan sebuah pertelaan sehingga sering disebut
nama pertelaan, yaitu terdiri atas tiga atau lebih kata (disebut juga polinomial). Sebagai contoh:
Sambucus caule arboreo ramoso floribus umbellatis, artinya Sambucus dengan batang berkayu dan
bercabang-cabang serta bunga bentuk payung. Bisa dibayangkan betapa rumitnya untuk
berkomunikasi dengan nama yang panjang seperti ini. Berdasarkan hal ini para ahli botani berusaha
untuk memperbaiki dan menyempurnakan sistim penamaan tersebut untuk mempermudah
komunikasi.
Sejak tahun 1753 sistim polynomial digantikan dengan binomial sejak publikasi “systema
plantarum” oleh Carolus Linnaeus dan berlaku secara internasional. Sistim binomial yaitu sistim
penamaan dimana nama jenis terdiri dari dua kata, kata pertama adalah nama marga dan kata kedua
merupakan penunjuk jenis atau spesies epithet. Contoh: Hibiscus tiliaceus
3.2. NAMA UMUM
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (8 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
Dalam botani, pemberian nama yang dimaksud bukanlah nama daerah atau nama umum yang biasa
sehari-hari diberikan orang yang hidup di sekitar tempat tumbuhan itu tumbuh. Hal ini disebabkan
karena untuk keperluan komunikasi ilmiah nama-nama daerah tersebut sama sekali tidak memenuhi
syarat. Nama daerah atau nama umum memiliki beberapa kelemahan yaitu:
1. Tidak bersifat menyeluruh atau hanya terbatas pengertiannya pada orang-orang sebahasa
saja. Misalnya “gedang” dalam bahasa Madura berarti pisang, sedangkan dalam bahasa Sunda
pepayalah yang dimaksud.
2. Nama-nama umum biasanya tidak memberikan informasi yang menunjukkan hubungan
kekerabatan, tidak bisa digunakan untuk membedakan bangsa, suku, atau taksa lainnya.
3. Jika suatu tanaman terkenal, kemungkinan mempunyai banyak nama umum.
4. Kadang-kadang dua atau lebih tanaman yang berbeda mempunyai nama umum yang
sama atau sebaliknya
5. Banyak jenis khususnya yang langka tidak mempunyai nama umum
Pemakaian nama umum ini akan menimbulkan kericuhan yang tiada henti-hentinya.
Jika dalam satu negara saja sudah tidak ada keseragaman dan dapat terjadi salah pengertian, apalagi
dalam taraf internasional kesimpang-siuran yang sudah pasti timbul akan lebih hebat lagi. Karena itu
dalam dua abad terakhir ini pemakaian nama ilmiah dalam botani sudah menjadi kebiasaan yang
umum di seluruh dunia.
3.3. NAMA ILMIAH
Nama ilmiah adalah ”nama-nama dalam bahasa yang diperlakukan sebagai bahasa
Latin, tanpa memperhatikan dari bahasa mana asalnya kata yang digunakan untuk nama tadi”. Salah
satu keuntungan nama ilmiah ialah bahwa penentuan, pemberian atau cara pemakaiannya untuk
setiap golongan tumbuhan dapat dilakukan berdasarkan suatu aturan atau sistim tatanama (Rifai,
1973). Nama ilmiah juga merupakan suatu kunci pembuka khazanah ilmu pengetahuan tentang suatu
jenis, karena dengan menggunakan nama ilmiah maka segala perbendaharaan pengetahuan manusia
yang terkumpul dalam pustaka-pustaka akan terbuka bagi kita untuk ditelusuri, dipelajari, ditelaah,
diolah dan dimanfaatkan.
3.4. PRINSIP DAN PERATURAN TATANAMA TUMBUHAN
a. Tatanama botani tidak berhubungan dengan tatanama zoologi. Nama yang sama yang
diberikan pada tumbuhan bisa juga digunakan ahli zoologi pada hewan
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (9 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
b. Pelaksanaan penamaan di dalam kelompok taksonomi ditentukan dengan menggunakan tipe
tatanama. Tipe untuk famili adalah genus, tipe untuk genus adalah jenis, tipe untuk jenis adalah
spesimen dan seterusnya.
c. Tatanama dari kelompok taksonomi haruslah berdasar pada prioritas publikasi, dan nama
yang benar adalah nama yang telah dipublikasi terlebih dahulu dan mengacu pada aturan-aturan.
Tatanama yang telah dipublikasikan lebih dulu harus dipakai sebagai dasar pada publikasi
berikutnya.
d. Setiap kelompok taksonomi, batasannya, posisinya dan urutannya bisa membuat satu nama
yang benar.
e. Nama ilmiah kelompok taksonomi disajikan dalam bahasa Latin tanpa menghiraukan asalnya.
Aturan untuk penamaan genus dan penunjuk jenis sama juga dengan yang lain harus dalam
bahasa Latin
f. Aturan tatanama adalah berlaku surut kecuali hal-hal yang kecil.
g. Suatu nama yang sah tidak boleh ditolak karena alas an tidak disukai atau karena kehilangan
arti aslinya. Contoh: Hibiscus rosa-sinensis, aslinya bukan di Cina. Perubahan nama hanya boleh
dilakukan biala sudah betul-betul diteliti taksonominya.
3.5. KOMPOSISI NAMA ILMIAH
Nama ilmiah suatu jenis merupakan penggabungan 3 hal :
1. Genus
2. Spesies epithet (penunjuk jenis)
3. Author
Contoh : Daucus carota L.
Nicotiana tabacum L
Nama-nama genera
- Kata benda tunggal dalam bahasa Latin atau dilatinkan dengan inisial huruf besar
- Setelah penulisan pertama pada genus yang sama boleh disingkat, contoh: Quercus alba Õ
Q. alba, Q. rubra
- Tidak boleh terlalu panjang
- Tidak boleh menggunakan nama yang sama dengan jenisnya
Contoh: Salacca zalaccaÕ tidak dianjurkan
Penunjuk Jenis
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (10 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
- Biasanya berupa kata sifat, akhirannya disesuaikan dengan nama marga.
Contoh: Syzygium aromaticum
- Dalam bahasa Latin atau dilatinkan
- Bisa berasal dari berbagai bentuk (nama orang, nama tempat, nama umum, dll.)
- Tidak boleh terlalu panjang
- Tidak boleh mengulang nama marga
- Ditulis dengan huruf kecil dan apabila terdiri dari 2 suku kata harus diberi tanda sambung.
Contoh: Hibiscus rosa-sinensis
Ipomea pes-capre
Author
Author adalah nama pengarang yang menerbitkan nama sah takson itu untuk pertama kali.
Tujuan pencantuman nama author adalah supaya penunjukan nama suatu takson tepat dan lengkap
serta memudahkan penelitian tentang keabsahan nama.
Contoh : Daucus carota L. (L.Õ Linnaeus)
Vernonia acaulis (Walter) Gleason
Penamaan cultivar dan varietas
Nama cultivar biasa disingkat dengan c.v. tidak dalam bahasa Latin atau dilatinkan. Contoh :
Mangifera indica c.v. harum manis
Citrullus lanatus c.v. Crimson sweet
Nama varietas biasa disingkat var. ditulis dalam bahasa Latin atau dilatinkan. Contoh :
Licuala gracilis var. gracilis
Oryza sativa var. javanica
3.6. TINGKAT KESATUAN TAKSONOMI
Untuk memudahkan penentuan hubungan kekerabatan dan memperlancar pelaksanaan
penggolongan tumbuhan, maka diadakan kesatuan-kesatuan taksonomi yang berbeda-beda
tingkatnya. Sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang dicantumkan dalam Kode Tatanama, maka
suatu individu tumbuhan dapat dimasukkan dalam tingkat-tingkat kesatuan taksonomi sebagai
berikut (dalam urutan menurun, beserta akhiran-akhiran nama ilmiahnya):
- Dunia tumbuh-tumbuhan (Regnum Vegetabile)
- Divisi (divisio -phyta)
- Anak divisi (sub divisio -phytina)
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (11 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
- Kelas (classis -opsida, khusus untuk Alga –phyceae)
- Anak kelas (subclassis –idea)
- Bangsa (ordo –ales)
- Anak bangsa (subordo –ineae)
- Suku (familia –aceae)
- Anak suku (subfamilia –oideae)
- Puak (tribus –eae)
- Anak puak (subtribus –inae)
- Marga (genus; nama ilmiah marga dan semua tingkat di bawahnya tidak diseragamkan
akhirannya)
- Anak marga (subgenus)
- Seksi (sectio)
- Anak seksi (subsectio)
- Deret (series)
- Anak deret (subseries)
- Jenis (species)
- Anak jenis (sub species)
- Varietas (varietas)
- Anak varietas (subvarietas)
- Forma (forma)
- Anak forma (subforma)
Urutan tingkat-tingkat kesatuan taksonomi itu tidak boleh diubah atau dipertukarkan. Dengan tidak
memperhatikan tingkatnya maka setiap kesatuan taksonomi tersebut (misalnya suku, jenis, varietas)
masing-masing disebut takson.
3.7. TIPE TATANAMA TUMBUHAN
Untuk menghindari kekacauan dalam pemakaian nama ilmiah maka Kode Internasional Tatanama
Tumbuhan (KITT) menetapkan bahwa penerapan nama-nama takson dari tingkat suku ke bawah
ditentukan berdasarkan tipe tatanama. Suatu tipe tatanama adalah salah satu unsur penyusun takson
yang selalu dikaitkan dengan nama takson yang bersangkutan untuk selama-lamanya. Tipe tatanama
tidak perlu merupakan unsur atau spesimen atau contoh yang paling khas daripada takson; tipe
hanyalah suatu unsur yang selamanya dikaitkan dengan nama.
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (12 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
Tipe yang digunakan dalam tatanama secara umum adalah:
1. Holotipe (= holotypus), ialah suatu spesimen atau unsur lain yang dipakai oleh seorang
pengarang atau ditunjuk olehnya sebagai dasar waktu pertama kali mengusulkan nama jenis baru.
Selama holotipe masih ada, penerapan nama yang bersangkutan dengannya dapat dipastikan
secara otomatis. Kalau pengarang yang mempertelakan suatu takson tidak menentukan holotipe,
atau kalau holotipe hilang maka tipe pengganti atau tipe baru dapat ditunjuk untuk
menggantikannya.
2. Tipe pengganti (= Lectotype), ialah suatu spesimen atau unsur lain dari spesimen-spesimen
asli (isotope atau sintipe) yang dipilih untuk menjadi tipe tatanama, kalau holotipe tidak
ditentukan atau holotipe hilang atau hancur.
3. Isotipe (= Isotype), ialah duplikat (bagian dari suatu nomor koleksi yang dikumpulkan dalam
waktu yang sama) dari holotipe.
4. Sintipe (= Syntypus), ialah salah satu daripada beberapa spesimen atau contoh yang
disebutkan pengarang kalau holotipe tidak ditentukan, atau sslah satu daripada beberapa spesimen
yang bersama-sama ditunjuk sebagai tipe.
5. Tipe baru (= Neotypus), ialah spesimen yang dipilih untuk menjadi tipe tatanama, kalau
holotipe hilang atau rusak dan tidak mungkin untuk menunjuk tipe pengganti karena tidak adanya
isotope atau sintipe.
Nama-nama baru yang diusulkan untuk mengganti nama-nama lain, ataupun nama-nama kombinasi
baru yang berasal dari nama-nama sebelumnya, haruslah memakai tipe-tipe tatanama dari namanama
yang lebih tua atau yang digantinya.
3.8. SATU TAKSON SATU NAMA
Salah satu asas penting dalam Kode Tatanama yaitu kesatuan taksonomi hanya boleh mempunyai
satu nama ilmiah yang tepat, yaitu nama tertua yang sesuai dengan peraturan-peraturan. Hal ini
diadakan untuk mengatasi kemungkinan dipakainya beberapa nama ilmiah yang berlainan untuk
suatu takson yang sama (sinonim). Sebaliknya peraturan yang sama juga perlu untuk menghindari
pemakaian satu nama ilmiah yang sama untuk beberapa taksa yang berbeda (homonim).
Untuk menghindari penggonta-gantian nama marga dan suku yang timbul sebagai akibat penerapan
peraturan-peraturan (terutama asas prioritas) secara konsekuen, maka beberapa nama diawetkan
untuk terus dipertahankan pemakaiannya, misalnya:
Palmae = Arecacea, Graminae = Poaceae, Cruciferae = Brassicaceae,
Leguminosae = Fabaceae, Guttiferae = Clusiaceae, Umbelliferae = Apiaceae,
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (13 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
Labiatae = Lamiaceae, Compositae = Asteraceae
BAB IV
KELAS CHAROPHYCEAE (CHARACEAE)
(Ganggang karang)
Sel-selnya mempunyai dinding selulosa, klorofil a dan b, dan zat tepung sebagai hasil asimilasi, dan
merupakan makanan cadangan. Hidupnya di kolam-kolam atau selokan sebagai bentos. Talus
berbuku-buku. Pembiakan seksual dengan oogami. Oogonium diselubungi benang-benang yang
melingkar seperti spiral. Dari ketiak cabang-cabang pendek itu seringkali tumbuh cabang-cabang
yang panjang yang susunannya sama dengan sumbu pokoknya. Sumbu itu melekat pada substrat
yang keras. Beberapa jenis characeae pada bagian bawah sumbunya membentuk semacam umbi
yang penuh terisi dengan tepung dan merupakan alat untuk mengatasi kala yang buruk.
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (14 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
Pada Nitella tiap-tiap sumbu hanya tediri atas satu sel ruas saja, tetapi pada characeae umumnya, sel
ruas itu dikelilingi oleh selapis sel-sel yang tersusun sejajar menurut poros bujur. Sel-selnya
mengandung sebuah inti dan kloroplas berbentuk bulat. Pembelahan amitosis, sehingga dalam sel-sel
ruas terdapat beberapa inti. Alat-alat pembiakan seksual berupa anteridium bulat berwarna kekuningkuningan,
dan oogonium berbentuk seperti telur berwarna hijau dan terdapat dalam ketiak cabang.
Anteridium berasal dari satu sel induk yang kemudian membelah menjadi 8 sel, yang dinamakan
oktan. Tiap-tiap oktan membentuk 2 dinding tangensial menjadi 3 sel sehingga dengan ini
terbentuklah 24 sel. Delapan sel paling luar dinamakan sel-sel dinding (pelindung), 8 sel ditengah
dinamakan sel pemegang (manubrium), 8 lagi yang paling dalam dinamakan sel-sel pokok.
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (15 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
Karena sifatnya sebagai pembentuk kapur, maka characeae penting peranannya dalam
pembentukan tanah-tanah kapur. Dalam keadaan fosil, characeae ditemukan pada lapisan-lapisan
tanah dari zaman jura. Semua warga kelas ini hanya dimasukkan dalam satu bangsa saja, yaitu
charales yang terbagi dalam beberapa suku antara lain :
- Chara fragilis
- Chara intermedia
- Nitellagracilis
- Tolypella prolifera
BAB V
KELAS PHAEOPHYCEAE
(Ganggang pirang)
Phaeophyceae adalah ganggang yang berwarna pirang. Dalam kromatofornya terkandung
klorofil-a, karotin, dan santofil, tetapi terutama fikosantin yang menutupi warna lainnya dan yang
menyebabkan ganggang itu kelihatan berwarna pirang. Sampai 50 % dari berat keringnya terdiri atas
laminarin, sejenis karbohidrat yang menyerupai dekstrin dan lebih dekat dengan selulosa daripada
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (16 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
dengan tepung. Selain laminarin juga ditemukan manit, minyak, dan zat-zat lain. Dinding selnya
terdiri dari pektin, selulosa, algin. Pada Phaeophyceae tingkat perkembangan yang dapat bergerak
berupa zoospora dan gamet, mempunyai 2 buluh cambuk yang heterokon dan terdapat di bagian
samping badannya yang berbentuk buah per atau sekoci.
Kebanyakan Phaeophyceae hidup dalam air laut, hanya beberapa jenis saja yang hidup dalam
air tawar. Gangganng ini termasuk bentos, melekat pada batu-batuan, kayu, epifit pada talus lain
ganggang, bahkan ada yang hidup sebagai endofit.
5.1. Bangsa Phaeosporales
Bangsa ini merupakan sebagian besar ganggang pirang. Kebanyakan mempunyai perawakan seperti
Cladophora, tetapi ada pula yang mempunyai talus yang lebih tinggi tingkatannya.
Pembiakan terjadi secara :
a. Aseksual dengan zoospora, yang terjadi karena adanya reeduksi. Dari zoospora itu tumbuh
gametofit haploid dengan gamatangium yang berwarna berkotak-kotak.
b. Seksual dengan isogami. Gametangium bersel banyak.
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (17 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
Gambar 67
Zoospora ganggang pirang
A. Zoospora chorda filum
B. Idem dari Ectocarpus globiffer
C. Zoospora yang telah menarik ke
dalam flagelnya
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (18 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
Pada golongan ini terdapat satu pergiliran keturunan. Pada Ectocarpus siliculosus, gametofit dan
sporofit mempunyai habitus yang sama. Perkecualian terdapat pada Cutleria yang gametofitnya lebih
besar dari sporofit. Gametofit mempunyai talus yang tegak, bercabang-cabang menggarpu, berbentuk
pita, sedang sporofit mempunyai talus yang pipih, kecil seperti cakram, tipis, tepinya berlekuk-lekuk,
dan dinamakan Aglaozonia. Pada Ectocarpus dan Pleurocladia terdapat jenis-jenis yang hidup
sebagai epifit pada lain ganggang.
Pada beberapa jenis suku Cutleriaceae gametangium dan gamet betina lebih besar daripada
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
yang jantan, jadi di sini terdapat anisogami. Pada Phaeosporales tidak ada oogami.
Phaeosporales antara lain mencakup :
- Suku Ectocarpaceae. Contoh ; Ectocarpus siliculosus, Pleurocladia lacustris
- Suku Cutleriaceae. Contoh ; Cutleria multifida, Heterochordia abietina.
5.2. Bangsa Laminariles
Dalam bangsa ini termasuk suku Laminariaceae, yang antara lain meliputi
- Macrocystis pyrifera, hidup di daerah kutub selatan, talusnya mencapai panjang 60 m
dengan berat sampai 100 kg. Mempunyai cabang-cabang talus berbentuk lembaran yang
bergantungan, talus dapat terapung-apung pada permukaan air laut.
- Lessonia sp. Mempunyai talus yang bentuknya seperti pohon palma.
- Laminaria clustoni, pangkal talus setebal lengan dan umurnya tahunan, bagian atas
menyerupai daunatau mempunyai lembaran-lembaran menjari yang setiap tahun diperbarui.
Pada Laminaria terdapat pergiliran keturunan yang beraturan. Gametofit itu berasal dari zoospora,
pada ujungnya terdapat anteridim yang hanya terdiri atas satu sel, masing-masing mengeluarkan dua
spermatozoid yang mempunyai dua bulu cambuk.
Zigot hasil perkawinan tumbuh menjadi sporofit. Pada permukaan sporofit terdapat sel-sel mandul
berbentuk buluh (parafisis). Masing sporangium menghasilkan banyak zoospora dengan dua bulu
cambuk.
Nerecystis leutkeana, talus mempunyai bagian seperti batang yang panjangnya 70 m dan pada
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (19 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
ujungnya trdapat gelembung pengapung berbentuk lembaran.
5.3. Bangsa Dictyotales
Pada ganggang ini spora tidak mempunyai bulu cambuk. Sporangium beruang satu dan
mengeluarkan 4 tetraspora. Pembiakan seksual dengan oogami. Gamet jantan mempunyai satu bulu
cambuk yang terdapat pada sisinya. Sporofit dan gametofit bergiliran dan beraturan, dan keduanya
mempuynyai talus berbentuk pita yang bercabang-cabang menggarpu, misalnya Dictyota dichotoma.
Bangsa Dictyotales terdiri atas satu suku saja, yaitu Dictyotaceae, yang meliputi beberapa jenis,
antara lain :
- Dictyotaceae dichotoma
- Dictyopteris polypoides
- Padina pavonia
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (20 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
5.4. Bangsa Fucales
Bersama-sama dengan Laminariales ganggang ini merupakan penyusun utama vegetasi lautan di
daerah dingin. Pembiakan generatif dengan oogami. Fucales hanya terdiri atas satu suku yaitu
Fucaceae, meliputi antara lain Fucus srratus. Fucus yang sudah berumur beberapa tahun mempunyai
talus yang berbentuk pita yang ditengah-tengahnya diperkuat oleh rusuk tengah, kaku seperti kulit,
bercabang-cabang menggarpu dan melekat pada batu dengan suatu alat perekat berbentuk cakram.
Ujung cabang-cabang talus ini agak membesar dan mempunyai lekukan-lekukan yang disebit
konseptakel. Didalamnya terdapat benang-benang mandul (parafisis), oogonium, anteridium. Tiap
anteridium menghasilkan 64 spermatozoid. Oogonium berupa suatu badan yang duduk di atas
tangkai terdiri atas satu sel saja, dan mengandung 8 sel telur.
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (21 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
Selain Fucus serratus dalam suku ini termasuk pula Fucus vsiculosus, Sargassum vulgare,
Turbinaria decurrens. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Phaeopyceae bersifat heterotrik.
Phaeopyceae mempunyai perkembangan yang setingkat dengan Chlorophyceae. Melihat adanya
rambut-rambut mengkilat pada salah satu bulu cambuknya yang heterokon itu, rupanya ada
hubungan kekerabatan dengan Chrysomonadales dan Heterochloridales.
Pembelahan reduksi pada umumnya terjadi pada pembentukan spora. Gametofit dan sporofit dapat
bersifat isomorf, dapat juga heteromorf. Beberapa jenis Phaeophyceae menghasilkan yodium. Ada
pula yang mempunyai khasiat obat, misalnya Laminaria cloustoni dan Fucus vesiculosus.
BAB VI
KELAS RHODOPHYCEAE
(Ganggang merah)
Rhodophyceae berwarna merah sampai ungu, kadang-kadang juga lembayung atau pirang kemerahmerahan.
Kromatofor mengandung klorofil-a dan karotenoid, tetapi warna itu tertutup oleh zat warna
merah yang mengandung fluoresensi, yaitu fikoeretin. Sebagai hasil asimilasi terdapat sejenis
karbohidrat yang disebut tepung floride, yang juga merupakan hasil polimerisasi glukosa berbentuk
bulat, tidak larut dalam air, seringkali berlapis-lapis, jika dibubuhi yodium berwarna kemerahmerahan.
Rhodophyceae selalu bersifat autotrof dan heterotrik, hidup dalam air laut, hidupnya
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (22 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
sebagai bentos, melekat pada suatu substrat dengan benang-benang pelekat atau cakram pelekat.
Perkembangbiakan dapat secara aseksual, yaitu dengan pembentukan spora, dapat pula secara
seksual (oogami). Baik spora maupun gametnya tidak mempunyai bulu cambuk, jadi tidak dapat
bergerak aktif.
Rhodophyceae dibagi dalam dua anak kelas, yaitu Bangieae dan Florodeae.
6.1. Anak kelas BANGIEAEA (PROTOFLORIDEAE)
Talus berbentuk benang, cakram atau pita dengan tidak ada percabangan yang beraturan.
Pembiakan vegetatif dengan monospora yang dapat memperlihatkan gerakan ameboid. Anteridium
menghasilkangamet jantan yang disebut spermatium.
Dalam golongan ini termasuk suku Bangiaceae, yang membawahi antara lain ganggang tanah
Porpyridium cruentum dan ganggang laut Bangia artropurpurea.
6.2. Anak kelas FLORIDEAE
Talus ada yang masih sederhana, tapi umumnya hampir selalu bercabang-cabang dengan
beraturan dan mempunyai beraneka ragam bentuk, seperti benang, lembaran-lembaran.
percabangannnya menyirip atau menggarpu. Tiap anteridium menghasilkan satu gamet betina yang
oleh karena tidak dapat bergerak tidak dinamakan spermatozoid tetapi spermatium. Gametangium
betina dinamakan karpogonium, terdapat pada ujung-ijung cabang lain daripada cabang talus yang
mempunyai anteridium. Suatu karpogonium terdiri atas satu sel panjang, bagian bawahnya
membesar seperti botol, bagia atasnya berbentuk gada atau benang dan dinamakan trikogen.
Zigot tidak mengalami waktu istirahat, melainkan dari bidang sampingnya lalu membentuk
sel-sel yang merupakan benang-benang sporogen. Dalam sel-sel ujung benang itu terbentuk satu
spora, masing-masing dengan satu inti dan satu plastida dan dinamakan karpospora. Karpospora itu
mula-mula berkecambah menjadi suatu protalium yang akhirnya tumbuh menjadi individu baru
dengan alat-alat generatif. Peristiwa di atas terdapat antara lain pada Batrachospermum moniliforme.
Pada warga Floridaea lainnya terdapat pergiliran antar 3 keturunan dalam daur hidupnya yaitu :
1. Gametofit yang haploid, yang mempunyai anteridium dan karpogonium.
2. Karposporofit yang diploid, mengeluarkan karpospora diploid.
3. Tetrasporofit, yang habitusnya menyerupai gametofit (keturunan pertama), akan tetapi tidak
mempunyai alat-alat seksual, melainkan mempunyai sporangium yang masing-masing
mengeluarkan 4 spora (tetraspora).
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (23 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
Daur hidup yang memperlihatkan 3 keturunan itu antara lain terdapat pada Callithamnion
corymbosum. Gametofit dan tetrasporofit dapat isomorf, tetapi ada pula yang tidak, misalnya
Bonnemaisonia hamifera.
Florideae dibagi dalam sejumlah bangsa, diantaranya yaitu :
l Bangsa Nemalionales, termasuk suku Helminthocladiacae yang antara lain mencakup
Batrachospeermum moniliforme, Bonnemisonia humifera.
l Bangsa Gelidiales, termasuk suku Gelidiaceae, misalnya Gelidium cartilagineum dan
Gelidium lichenoides, terkenal sebagai penghasil agar-agar.
l Bangsa Gigartinales, kebanyakan terdiri atas ganggangang laut. Yang penting ialah suku
Gigartinaceae dengan dua warganya yang menghasilkan bahan yang berguna, ialah Chondrus
crispus dan Gigartina mamillosa, penghasil karagen atau lumut islandia yang berguna sebagai
bahan obat.
l Bangsa Nemastomales, dari bangsa ini perlu disebut suku Rhodophyllidaceae yang salah satu
warganya terknal sebagai penghasil agar-agar, yaitu Euchema spinosum. Suku
Sphaerococaceae, juga mempunyai anggota-anggota yang merupakan penghasil agar-agar
pula, diantaranya Gracilaria lichenoides dan berbagai jenis yang termasuk marga
Sphaerococcus.
l Bangsa Ceramiales, dalam bangsa ini termasuk antara lain suku Ceramiaceae di dalamnya.
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (24 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
Contoh, Callithamnion corymbosum.
Ada yang mencari nenek moyang Rhodophyceae pada Chlorophyceae, mengingat adanya trikogin
pada karpogonium yang mengingatkan oogonium dalam sel-sel tumbuhan pada Coleochaeta. Ada
yang mencari hubungan kekerabatan dengan Cyanophyceae dan menganggap Protoflorideae sebagai
jembatannya.
Bekas ganggang ini telah ditemukan dalam lapisan-lapisan tanah dari zaman silur, dan
mungkin dari kambrium, bahkan sering tidak hanya bekas, melainkan sisa-sisa yang mengandung
kapur.
BAB VII
LICHENES
(Lumut Kerak)
Orgnisme ini sebenarnya kumpulan antara fungi dan algae, tetapi sedemikian rupa, sehingga dari
segi morfologi dan fisiologi merupakan satu kesatuan. Lichenes hidup sebagai epifit pada pohonpohonan,
tetapi dapat juga di atas tananh, terutama di daerah tundra di sekitar kutub utara. Lichenes
dapat kita temukan sampai di atas gunung-gunung yang tinggi. Beberapa jenis dapat masuk pada
bagian bagian pinggir batu-batu, oleh karenanya disebut sebagai endolitik. Algae yang ikut
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (25 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
menyusun tubuh Lichenes disebut gonidium, dapat bersel tunggal atau berupa koloni. Kebanyakan
gonidium adalah ganggang biru (Cyanophyceae) antara lain choococcus dan Nostoc, kadang-kadang
juga ganggang hijau (Cholorophyceae) misalnya Cystococcus dan Trentopohlia. Kebanyakan
cendawan yang ikut menyusun Lichenes tergolong ke dalam Ascomycetes terutama Discomycetales,
hanya kadang-kadang Pyrenomycetales. Mungkin juga basidiomycetes mengambil bagian dalam
membentuk Lichenis.
Dalam kurtur murni, cendawan itu memperlihatkan susunan morfologi menurut jenisnya,
tetapi bentuk talus seperti Lichenes baru terjadi jika bertemu dengan jenis ganggang yang tepat. Lain
ganggang akan menghasilkan lain lichens. Jadi bentuk lichenes bergantung pada macam cara hidup
bersama antara kedua macam organisme yang menyusunnya. Dapat juga hubungan antara kedua
ganggang dari jamur itu dianggap sebagai suatu helotisme. Keuntungan yang timbal balik itu hanya
sementara, yang pada permulaan saja, tetapi akhirnya ganggang diperalat oleh cendawan, dan
hubungan mana menyerupai hubungan seorang majikan dengan budaknya (helot). Dalam hal ini
hidup bersama antara cendawan dan ganggang pada Lichenes dinamakan helotisme.
Menurut habitusnya kita membedakan Lichenes yang talusnya menyerupai lembaranlembaran,
seperti semak. Yang pertama biasanya melekat dengan benang-benang menyerupai rizoid
pada subtratnya dengan seluruh sisi bawah talus, sedang yang kedua mempunyai ujung talus yang
berbeda dalam udara. Pembagian ini sama sekali tidak menunjukkan hubungan filogentik antara
anggota-anggota yang tergolong di dalamnya. Kebanyakan Lichenes berkembang biak
vegetatif. Pada talus lichenes cendawan akhirnya dapat membentuk buah yang menurut jenis
cendawan dapat berupa apotesium atau peritesium. Spora yang dilepaskan, di tempat yang baru akan
berkembang menjadi Lichenes baru jika menjumpai jenis ganggang yang tepat, yang sama dengan
jenis ganggang pada talus induknya. Lichenes diklasifikasikan menurut cendawan yang
menyusunnya.
7.1. Kelas ASCOLICHENES
Jika cendawan yang menyusunya tergolong dalam Pyrenomycetales, maka tubuh buah yang
dihasilkan berupa peritesium, misalnya Dermatocarpon dan Verrucaria. Jika cendawan penyusunnya
tergolong dalam Discomycetales, Lichenes membentuk tubuh buah yang berupa apotesium.
Berlainan dengan Discomycetales yang hidup bebas, yang apotesiumnya hanya berumur pendek,
apotesium pada Lichenes ini berumur panjang , bersifat seperti tulang rawan dan mempunyai askus
yang berdinding tebal. Dalam golongan ini termasuk Usnea (rusuk angina) yang membetuk semak
kecil dan banyak terdapat pada pohon-pohon dalam hutan, lebih-lebih di daerah pegunungan.
Sebagai contoh disebut Usnea barbata dan Usnea dasypoga, yang dalam rakyat Indoneisa dianggap
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (26 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
mempunyai khasiat obat, merupakan salah satu ramuan dalam pembuatan jamu-jamu tradisional.
Usnea menghasilkan suatu anti biotika asam usnin, yang berguna untukmelawan tuberculosis.
Selanjutnya Rocella tinctoria, untuk pembuatan lakmus; Cladonia rangiferina, banyak terdapat di
daerah tundra di sekitar kutub utara dan merupakan makanan utama bagi rusa kutub; Cetraria
islandica, banyak terdapat di daerah pegunungan di Eropa, mampunyai khasiat obat.
7.2. Kelas BASIDIOLICHENES (HYMENOLICHENES)
Kebanyakan mempunyai talus yang berbentuk lembaran-lembaran. Pada tubuh buah
terbentuk lapisan himenium yang mengandung basidium, yang sangat menyerupai tubuh buah
Hymenomycatales. Contoh Cora pavonia. Lichenes dipisahkan dari fungi dan dijadikan suatu
golongan yang beridiri sendiri. Kebanyakan ahli menganggap perlu dipisahkannya Lichenes dari
fungi untuk merupakan gologan tersendiri. Jadi tanpa Algae cendawan itu umumnya tidak lagi dapat
hidup dan tidak akan terbentuk Lichenes. Selanjutnya mengingat munculnya sifat-sifat khusus dan
karakteristik dari adanya simbiosis antara Fungi dan Algae ditambah lagi dengan didapatnya hasillhasil
metabolisme yang merupakan zat-zat yang sampai sekarang tidak dihasilakan oleh Fungi dan
Algae yang hidup terpisah maka sudah semestinya jika Lichenes itu merupakan golongan yang
tersediri.
BAB VIII
DIVISI BRYOPHYTE
(Tumbuhan Lumut)
Semua tumbuhan yang tingkat perkembangannya lebih tinggi daripada Thallophyta pada
umumnya mempunyai warna yang benar-benar hijau, karena mempunyai sel-sel dengan platida yang
mengandung klorofil-a dan b. kebanyakan hidup di darat dan sel-selnya telah mempunyai dinding
yang terdiri atas selulosa. Pada Bryophyta alat-alat kelamin yang berupa anteridium dan arkegonium,
demikian pula sporogoniumnya, selalu terdiri atas banyak sel. Arkegonium adalah gametangium
betina yang bentuknya seperti botol. Bagian yang lebar disebut perut, dan bagian yang sempit leher.
Mikrogametangium (anteredium) adalah gametangium jantan yang berbentuk bulat atau
seperti gada. Dindingnya seperti dinding arkegonium pun terdiri atas selapis sel-sel mandul. Pada
Bryopgita embrio itu tumbuh menjadi suatu badan kecil yang akan menghasilkan spora, yaitu
sporogonium.
Perkembangbiakan lumut berlangsung sebagai berikut.
Spora yang kecil dan haploid, berkecambah menjadi suatu protalium yang pada lumut dinamakan
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (27 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
protonema. Tubuh tumbuhan lumut berupa talus seperti lembaran-lembaran daun (Hepaticae), atau
telah mempunyai habitus seperti pohon kecil dengan batang dan daun-daunya (pada Musci).
Bagian bawah embrio dinamakan kakinya. Kaki masuk ke bagian jaringan mulut yang lebih
dalam dan berfungsi sebagai alat penghisap (haustorium). Embrio itu lalu tumbuh merupakan suatu
badan yang kuat atau jorong dengan tangkai pendek atau panjang dan seperti telah disebut di atas
dinamakan sporogonium. Di dalam bagian yang bulat itu dibentuk spora, oleh sebab itu bagian
tersebut juga disebut kapsul spora. Maka bekas dinding arkegonium itu juga dinamakan kaliptra.
Arkespora membentuk sel induk spora, dan dari satu sel induk spora dan pembelahan induk reduksi
tejadilah empat spora yang berkelompok membentuk tetrade. Dinding spora tediri atas dua lapisan,
yang luar kuat disebut eksoaporium, dan yang dalam lunak disebut endosperium. Jika spora
berkecambah eksosporium pecah.
Selain pembiakan dengan spora, pada lumut tersdapat pula pembiakan vegetatif dengan
kuncup eram, yang terjadi dengan bermacam-macam cara pada protonema, talus atau bagian-bagian
lain pada tubuh lumut. Kuncup eram dapat melepaskan diri dari induknya dan tumbuh menjadi
individu baru.
Selain dari itu, semua bagian tubuh lumut jika dipotong menunjukkan daya regenerasi yang sangat
besar. Daun-daun mempunyai rusuk tengah, terdiri atas satu atau beberapa lapis sel (terutama
dekat rusuk tengah, daun selalu terdiri atas satu atau beberapa lapis sel), tetapi belum
memperlihatkan adanya daging daun (mesofil). Sebagian tumbuhan lumut telah mempunyai
semacam liang udara yang berguna untuk pertukaran gas, jadi mempunyai fungsi seperti stoma pada
tumbuhan tinggi.
Beberpa lumut bersifat kosmopolit, dapat ditemukan dimana-mana. Lain-lain jenis
mempunyai daerah distribusi yang terbatas. Pada bermacam-macam tempat, misalnya tanah dalam
rimba, batu-batu, cadas-cadas, gambut, kulit pohon, dan lain-lain. Lumut-lumut itu merupakan
asosiasi tumbuhan yang karakteristik.
Tumbuhan lumut (Bryophyta) dibedakan dalam dua kelas dengan ciri-ciri yang jelas yaitu:
- Hepaticae (lumut hati)
- Musci (Lumut daun)
Kedua kelas itu berbeda dalam bentuk susunan tubuhnya dan perkembangan gametangium serta
sporongiumnya. Keduanya selalu berwarna hijau, autotrof, dan sebagai hasil asimilasi telah
mendapat zat tepung.
8.1. KELAS HEPATICAE (LUMUT HATI)
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (28 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
Kebanyakan lumut hati hidup di tempat-tempat yang basah, oleh sebab itu tubuhnya
mempunyai struktur yang higromorf. Bentuk lain jarang ditemukan meskipun ada pula yang terdapat
pada tempat-tempat yang amat kering, misalnya pada kulit-kulit pohon, di atas tanah atau cadas,
sehingga tubuhnya perlu mempunyai struktur yang xeromorf. Dan karena hidupnya di atas daun
lumut tadi merupakan satu bentuk ekologi yang khusus yang dinamakan epifil.
8.1.1. Bangsa Anthocerotales (Lumut Tanduk)
Bangsa ini hanya memuat beberapa marga yang biasanya dimauki dalam satu suku kerja,
yaitu suku Anthocerotaceae. Berlainan dengan golongan mulut hati lainnya, sporogonium
Anthocerotales mempunyai susunan dalam yang lebih rumit.
Gametofit mempunya talus bentuk cakram denga tepi bertoreh, biasanya melekat pada tanah
denga perantara rizoid-rizoid. Susunan talusnya masih sederhana. Sel-sel hanya mempunyai satu
kloroplas sel-sel ganggang. Sporogonium tidak bertangkai, mempunya bentuk seperti buah
polongan. Sepanjang poros bujurnya terdapat jaringan yang terdiri atas deretan sel-sel mandul yang
dinamakan kolumela. Kolumela itu diselubungi oleh jaringan yang kemudian akan menghaislkan
spora yang disebut arkespora. Selain spora arkespora juga menghasilkan sel-sel mandul yang
dinamakan elatera. Anthocerotales hanya terdiri atas satu suku, yaitu Anthocerataceae, yang
mencakup antara lain Anthoceros leavis, A.fusiformis, Notothylus valvata.
8.1.2. Bangsa Marchantiales.
Sebagian lumut hati yang tergolong dalam bangsa ini mempunyai susunan talus yang agak
rumit. Sebagai contoh Marchantia polymorpha. Talus seperti pita ± 2 cm, lebarnya, agak tebal
berdaging, bercabang-cabang menggarpu, dan mempunyai satu rusuk tengah yang tidak begitu jelas
menonjol. Pada sisi bawah talus terdapat selapis sel-sel yang menyerupai daun yang dinamakan sisiksisik
perut atau sisik-sisik vertal. Dinding liang itu terdiri atas 4 cincin, masing-masing cincin terdiri
atas empat sel.
8.1.3. Bangsa jungermaniales.
Lumut hati yang kebanyakan kecil hidup di atas tanah atau batang-batang pohon, di daerah tropika
juga sebagai efifit pada daun pohon-pohonan dalam hutan. Bangsa ini meliputi 90 % dari semua
Hepaticae. Bentuk-bentuk tubuh yang masih sederhana sangat menyerupai Marchantia, talus
berbentuk pita, sempit dan bercabang-cabang mennggarpu. Kebanyakan Jungermaniales telah
mempunyai semacam batang yang bercabang-cabang banyak dan tumbuh dorsivental.
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (29 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
Selain dua baris bagian-bagian serupa daun-daun yang kesamping tadi, seingkali terdapat
sederetan bagian-bagina semacam daun lagi yang terletak pada sisi bawah, dan dinamakan daundaun
perut atau amfigastrium.
Perkembangan anteridium dan perkembangan permulaan embrionya sedikit menyimpang dari
cara-cara yang telah kita kenal pada hepaticae. Pada jurgermaniales yang tubuhnya bersifat talus,
arkegoniumnya diliputi oleh periketium yang dikelilingi oleh bagin-bagian yang mempunyai bentuk
yang khusus, seperti pada bunga tumbuhan tinggi (Angiospermae) bagian itu disini juga dinamakan
periantium.
Menurut duduknya sporangium, Jungermniales dibedakan dalam tiga suku:
Suku anacrogynaceae ujung talus tidak ikut mengambil bagian dalam pembetukan arkegonium;
sporogonium terdapat pada sisi punggung, dan pada beberapa jenis diliputi oleh periketium yang
tergolong di sini antara lain:
- Pelia epiphilla, talus menyerupai marchantia, hidup di atas tanah yang basah.
- Metzgeria furcata, talus berbentuk pita sempit , bercabang-cabang menggarpu , hidup pada
batang pohon atau juga batu padas.
- Metzgeria conjugate
- Blasia pusilla, talus lebar, mempunyai rusuk tengah, pada tepi talusnya mulai tampak
terbentuknya alat-alat sepeti daun.
8.2. KELAS MUSCI (LUMUT DAUN)
Lumut daun meliputi kurang lebih 12.000 jenis yang mempunyai daerah agihan yang sangat luas.
Lumut daun dapat tumbuh di atas tanah gundul yang periodik mengalami masa kekeringan, bahkan
di atas pasir yang bergerakpun dapat tumbuh. Selanjutnya lumut ini dapat kita jumpai di antara
rerumputan, di atas batu cadas, pada batang batang dan cabang cabang pohon, di rawa-rawa, jarang
di dalam air.
Mengingat tempat tumbuhnya yang bermacam-macam itu, maka tubuhnya pun memeperlihatkan
struktur yang bermacam-macam pula. Kebanyakan lumut daun suka tempat yang basah, tetapi ada
pula yang tumbuh di tempat yang kering. Beberapa jenis diantaranya dapat sampai berbulan-bulan
menahan kekeringan dengan tidak mengalami kerusakan, bahkan ada yang tahan kekeringan sampai
bertahun-tahun.
Di tempat-tempat yang kering lumut itu membentuk badan berupa bantalan, sedangkan yang hidup di
tanah hutan,membentuk lapisan seperti permadani. Dalam hutan dipegunungan daerah tropika batang
dan cabang-cabang pohon penuh dengan lumut yang menempel, berupa lapisan yang kadang-kadang
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (30 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
sangat tebal dan karena basahnya selalu mengucurkan air. Hutan demikian itulah yang disebut hutan
lumut, yang sering juga disebut hutan kabut, karena hutan itu hampir selalu diselimuti kabut ( elfin
forest ).
Di daerah gambut lumut dapat menutupi areal yang luasnya sampai ribuan km kuadrat, demikian
pula di daerah tundra di sekitar Kutub Utara. Lumut daun yang tenggelam jarang kita temukan.
Lumut yang membentuk bantalan karena tidak berakar hampir-hampir tidak mengisap air dari tanah,
bahkan melindungi tanah itu terhadap penguapan air yang terlalu besar.
Spora lumut daun di tempat yang cocok berkecambah merupakan protonema, yang terdiri atas
benang-benang berwarna hijau, bersifat fototrop positif, banyak bercabang-cabang, dan dengan mata
biasa kelihatan seperti hifa cendawan yang berwarna hijau. Protonema itu mengeluarkan rizoidrizoid
yang tidak berwarna, terdiri atas banyak sel dengan sekat-sekat miring, bersifat fototrop
negatif, masuk ke dalam tanah dan bercabang-cabang. Rizoid telah mulai terbentuk pada pembelahan
spora yang pertama pada sisi yang tidak terkena cahaya.
Jika cukup mendapat cahaya, pada protonema lalu terbentuk kuncup yang akan berkembang menjadi
tumbuhan lumut. Kuncup mula-mula berupa penonjolan- penonjolan ke samping dari sel-sel bawah
pada suatu cabang protonema. Setelah kuncup itu merupakan 1 – 2 sel tangkai, maka dalam sel
ujungnya lalu terjadi sel serupa pyramid, karena terbentuknya sekat – sekat yang miring. Sel-sel
bentuk pyramid itulah yang seterusnya merupakan sel pemula yang meristematik. Sel itu tiap kali
memisahkan suatu segmen sebagai sel-sel anakan baru, dan akhirnya berkembanglah tumbuhan
lumutnya. Jika banyak terbentuk kuncup-kuncup demikian tadi , maka tumbuhan lumut seringkali
tersusun seperti dalam suatu rumpun. Tumbuhan lumut daun selalu dapat dibedakan dalam bagianbagian
berupa batang dengan daun-daun. Di samping itu terdapat rizoid-rizoid untuk melekat pada
substrat.
Pada Musci alat-alat kelamin terkumpul pada ujung batang atau pada ujung cabang-cabangnya, dan
dikelilingi oleh daun-daun yang letaknya paling atas. Daun-daun itu kadang-kadang mempunyai
bentuk dan susunan yang khusus dan seperti pada Jungermaniales juga dinamakan periantium.
Kemudian alat-alat kelamin itu dikatakan bersifat banci atau berumah satu, jika dalam kelompok itu
terdapat baik arkegonium mauoun anteridium, dan dinamakan berumah dua jika kumpulan
arkegonium dan anteridium terpisah tempaynya. Di antara alat-alat kelamin dalam kelompok itu
biasanya terdapat sejumlah rambut-rambut yang terdiri atas banyak sel dan dapat mengeluarkan
suatu cairan. Seperti pada tubuh buah Fungi rambut-rambut steril itu dinamakan parafisis.
Pada Musci tertentu yang berumah dua, tumbuhan jantan hanya kecil saja, dan setelah pembentukan
beberapa daun, segera menghasilkan anteridium. Pada Buxbaumia aphylla tumbuhan jantan hanya
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (31 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
berbentuk satu daun yang tidak berklorofil dan tergulung seperti bola,sedang tumbuhan betina
mempunyai banyak daun. Juga spora yang dihasilkan tumbuhan jantan, serinykali lebih lebih kecil
daripada spora yang dihasilkan oleh tumbuhan tumbuhan. Muncullah dengan ini peristiwa
heterospori yang kita jumpai pada beberapa golongan Pteridophyta.
Musci dibedakan dalam 3 bangsa :
8.2.1. Bangsa Andreaeales
Bangsa ini hanya memuat satu suku, yaitu suku Andreaeaceae, dengan satu marga Andreaea.
Protonema berbentuk pita yang bercabang-cabang. Kapsul spora mula mula diselubungi oleh kaliptra
yang bentuknya seperti kopiyah bayi. Jika sudah masak pecah dengan 4 katup-katup. Kolumela
diselubungi oleh jaringan sporogen. Contoh- contoh : Andreaea petrophila, A. rupestris.
8.2.2. Bangsa Sphagnales ( lumut gambut )
Bangsa ini hanya terdapat satu suku Sphagnaceae dan satu marga Sphagnum. Marga ini meliputi
sejumlah besar jenis lumut yang kebanyakan hidup di tempat-tempat yang berawa-rawa dan
membentuk rumpun atau bantalan, yang dari atas tiap-tiap tahun tampak bertambah luas, sedang
bagian-bagian bawah yang ada dalam air mati dan berubah menjadi gambut. Protonema tidak
berbentuk benang, melainkan merupakan suatu badan berbentuk daun kecil, tepinya bertoreh-toreh
dan hanya terdiri atas selapis sel saja.
Batangnya banyak bercabang-cabang: cabang-cabang muda tumbuh tegak dan memebentuk roset
pada ujungnya. Daun daun yang sudah tua terkulai dan menjadi pembalut bagian bawah batang.
Suatu cabang di bawah puncuk tumbuh sama cepat dengan induk batang, sehingga kelihatan seperti
batang lumut itu bercabang menggarpu. Karena batang dari bawah mati sedikit demi sedikit, maka
cabang-cabang akhirnya merupakan tumbuhan yang terpisah-pisah.
Kulit batang Sphagnum terdiri atas selapis sel-sel yang telah mati dan kosong. Jaringan kulit bersifat
seperti sepon, dapat menghisap banyak air. Dinding yang membujur maupun yang melintang
mempunyai liang-liang yang bulat. Juga dalam daunnya terdapat sel-sel yang menebal bentuk cincin
atau spiral dan merupakan idioblas diantara sel-sel lainnya yang membentuk susunan seperti jala,
terdiri atas sel-sel hidup, berbentuk panjang dan mengandung banyak klorofil. Susunan yang
merupakan aparat kapilar itu berguna untuk memenuhi keperluan akan air dan garam makanan.
Cabang-cabang batang ada yang mempunyai bentuk dan warna khusus, yaitu cabang yang menjadi
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (32 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
pendukung alat-alat kelamin. Cabang-cabang tumbuhan jantan mempunyai anteridium yang bulat
dan bertangkai di ketiak ketiak daunnya. Cabang tumbuhan betina mampunyai arkegonium pada
ujungnya. Cabang pendukung arkegonium itu tidak mempunyai sel pemula yang berbentuk limas
pada ujungnya, jadi seperti lumut hati, dan berbeda dengan lumut daun umumnya.
Sporangium hanya berbentuk tangkai pendek dengan kaki yang membesar, dan sampai lama
diselubingi oleh dinding arkegonium. Akhirnya dinding arkegonium itu pecah pada kaki
sporangium. Kapsul spora berbentuk bulat, di dalamnya terdapat kolumela berbentuk setengah bola
yang diselubungi oleh jaringan sporogen. Arkespora pada Sphagnum tidak berasal dari endotesium,
tetapi berasal dari lapisan terdalam amfitesium.
Kapsul spora mempunyai tutup yang akan membuka, jika spora sudah masak. Sporangium dengan
kakinya yang melebar dan merupakan haustorium terdapat dalam suatu perpanjangan ujung batang.
Sehabis pembuahan, kaki lalu memanjang seperti tangkai dan dinamakn pseudopodium.Contohcontoh
lumut gambut ialah Sphagnum fimbriatum, S. squarrosum, S. acutifolium.
8.2.3. Bangsa Bryales
Sebagian besar lumut daun tergolong dalam bangsa ini. Pada bangsa ini kapsul sporanyatelah
mencapai diferensiasi yang palimg mendalam. Sporangiumnya mempunyai suatu tangkai yang
elastis, yang dinamakn seta. Tangkai dengan kaki sporangiumnya tertanam dalam jaringan tumbuhan
gametofitnya. Pada ujung tangkai terdapat kapsul sporanya yang bersifat radial atau dorsiventral dan
mula-mula diselubungi oleh kaliptra.
Kaliptra ini berasal dari bagian atas dinding arkegonium. Dengan bentangnya sporangium, dinding
arkegonium akhirnya terpisah pada bagian perut arkegonium tadi, dan sebagai tudung ikut terangkat
oleh sporangium yang memanjang itu. Leher dindimg arkegonium segera menjadi kering dan
merupakan puncak kaliptra. Jadi sel-sel yang emnyusun kaliptra tidak merupakan sel-sel diploid
akan tetapi terdiri atas sel-sel gametofit yang haploid.
Sel-sel kaliptra yang masih memperoleh zat-zat makanan dari sporangium, dapat berkembang terus
dan menghasilkan rambut-rambut yang menyerupai benang-benang protonema dengan pertumbuhan
yang terbatas. Pada jenis lumut-lumut tertentu ( antara lain pada warga Funaria ) kaliptra melebar
seperti perut dan berguna sperti penimbun air bagi sporangium yang amsih muda. Bagian atas seta
dinamakan apofisis. Pada jenis-jenis lumut tertentu apofisis mempunyai bentuk dan warna yang
khusus. Menurut poros bujurnya kapsul spora itu mempunyai jaringan kolumela. Ruang spora
berbentuk tabung mengelilingi jaringan kolumela itu. Kolumela dan ruang spora dikelilingi oleh
ruang antar sel yang terdapat di dalam jaringan dinding kapsul spora.
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (33 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
Bagian atas dinding kapsul dikelilingi kapsul spora tersusun merupakan tutup (operculum). Di bawah
tepi operculum itu terdapat suatu mintakat berbentuk lingkaran sempit dan dinamakan cincin. Sel –
selnya mengandung lender yang dapat mengembang dan menyebabkan terbukanya operculum.
Khusus pada kebanyakan warga Bryales di bawah operculum terdapat suatu organ berupa gigi yang
menutupi lubang kapsul spora. Gigi ini yang dinamakan peristom. Seringkali di bawah operculum
kapsul spora terdapat dua peristom , misalnya pada Mnium hornum. Peristom luar terdiri dari 16 gigi
yang melekat pada dinding kapsul spora.
Pada warga Musci terdapat perbedaan bentuk dan susunan peristomnya. Pada beberapa jenis lumut
yang tergolong marga Archidium, Phascus, Ephemerum, susunan sporangiumnya sangat sederhana.
Padanya tidak terdapat operculum, cincin maupun peritom. Dinding kapsul spora membuka tidak
beraturan karena adanya bagian – bagian dinding yang menjadi busuk.
Untuk rumah tangga airnya, jaringan pengankutan yang masih amat sederhana memainkan perana
yang sangat penting dalam tangkai sporangium saja. Bagi lumut yang belum mempunya akar – akar
yang sungguh itu, pengangkutan air ke atas berlangsung melalui sistem kapiler yang yang etrdiri atas
batang dan daun – daun yang telah terkulai. Sistem kapilar itu dapat menghisap banyak air, bahkan
dapat mempergunakan lengas dalam udara.
Menurut cara pertumbuhannya Bryales dapat dibedakan dalam dua golongan , yaitu :
a. yang tumbuh ortotrop,
b. yang tunbuh plagiotrop.
Pada yang tumbuh ortotrop pertumbuhannya diakhiri dengan pembentukan arkegonium, dan
sporangium yang etrjadi dari arkegonium itu berdiri pada ujung batang lumut , oleh sebab itu lumut
itu dinamakn lumut akrokarp.
Pada yang tumbuh plagiotrop, batang pokoknya mempunyai pertumbuhan yang tidak terbatas, dan
arkegonium serta sporongiumnya terdapat pada cabang – cabang pendek.
Dalam mengklasifikasikan Bryales lebih lanjut, bentuk kapsul spora, peristom operculum , dan
kaliptra , merupakan tanda – tanda pengenal yang penting.
Dalam taksonomi Bryales lazimnya dibedakan atas dasar sifat-sifat peristomnya sebagai berikut.
I. Arthodontea
Gigi peristom tipis seperti selapur, berasal dari satu lapis sel sporangium. Gigi – gigi mempunyai
garis – garis melintang dan bersendi. Arthrodontea dibedakan lagi dalam dua kelompok, yaitu:
Eubryales acrocarpi dan Eubryales pleurocarpi.
Eubryales acrocarpi termasuk antara lain suku Rhizogoniaceae, termasuk jenis lumut yang
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (34 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
heterogen, seringkali haanya mempunyai satu peristom, daun seringkali asimetrik, kapsul spora tegak
dan simetrik, contoh marga Rhizogonium. Suku Funariaceae : Funaria hygrometrica. Eubryales
pleurocarpi, suku Hypnodendraceae, habitatnya seperti pohon kecil, batang primer merayap seperti
rimpang, batang-batang sekunder berkayu. Kapsul spora agak besar, contoh-contohnya
Hypnodendron reinwardtii, Hypnodendron junghuhnii, Mniodendron divaricatum.
II. Nematodonteae
Gigi-gigi peristom terdiri atas sel-sel utuh, tidak bergaris-garis. Didalamnya tergolong suku
Polytrichaceae, lumut yang umurnya lebih dari setahun, daun-daun sempit, pada sisi perut tulang
daun seringkali terdapat lamella yang membujur. Kapsul spora tegak atau mendatar. Protonema
Georgia pellucida bersama dengan suatu ganggang hijau Coccomyxa dapat membentuk suatu
organisme yang menyerupai Lichenes dan dinamakan Botrydina.
Jika kita membuat tinjauan mengenai seluruhnya, maka yang pantas kita perhatikan ialah
adanya pergiliran keturunan yang spesifik. Gametofit yang haploid, yang menghasilkan anteridium
dan archegonium menjadi inang sporofit yang diploid. Sporofit mempunyai habitat yang sama sekali
berbeda dengan gametofitnya.
Susunan tubuhnya dalam beberapa hal telah memperlihatkan suatu penyesuaian terhadap
kehidupan di darat, tetapi karena belum mempunyai jaringan-jaringan pengangkut yang sempurna,
belum dapat tumbuh sampai jauh dari permukaan tanah. Dugaan bahwa Bryophyta secara filogenetik
berasal dari algae menjumpai banyak kesulitan-kesulitan. Antara Chlorophyceae/Characeae pada
pihak Algae dan Bryophyta tidak ditemukan bentuk-bentuk peralihan. Tetapi untuk menganggap
Bryophyta yang mempunyai klorofil itu sebagai keturunan Phaeophyceae rasanya pun janggal.
Mungkin Bryophyta itu berasal dari ganggang hijau dari zaman purbakala yang telah mempunyai
susunan gametangium seperti Phaeophyceae, tetapi bukti-bukti untuk memperkuat dugaan itu sama
sekali tidak ada.
Pandangan lain yang tidak banyak mempunyai penganut beranggapan bahwa kelompok
lumut daun (musci) yang lebih tua dan karena reduksi daun-daunnya serta memipihnya batang
sampai berbentuk seperti lembaran-lembaran lahirlah Hepaticeae. Anggapan ini disesuaikan dengan
kenyataan yang terdapat pada Pteridophyta dan Spermatophyta, yaitu bahwa semakin tinggi tingkat
perkembangan tumbuhan gametofitnya semakin tereduksi.
Lumut-lumut yang fosil hanya terdapat dalam lapisan-lapisan tanah dari zaman karbon
tengah dan yang lebih muda. Kebanyakan fosil lumut terdapat dalam lapisan-lapisan tanah dari
zaman tersier. Fosil-fosil lumut itu memperlihatkan persamaan yang besar dengan jenis-jenis lumut
yang sekarang masih ada.
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (35 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
BAB IX
PTERIDOPHYTA
(Tumbuhan Paku)
Tumbuhan paku merupakan suatu divisi yang warganya telah jelas mempunyai kormus, artinya
tubuhnya dengan nyata dapat dibedakan dalam tiga bagian pokoknya, yaitu akar, batang dan daun.
Namun demikian, pada tumbuhan paku belum dihasilkan biji. Seperti warga divisi – divisi yang telah
dibicarakan sebelumnya, alat perkembang – biakan tumbuhan paku yang utama adalah spora. Oleh
sebab itu, sementara ahli taksonomi membagi dunia tumbuhan dalam dua kelompok saja yng diberi
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (36 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
nama Cryptogamae dan phanerogamae. Cryptogamae ( tumbuhan spora ) meliputi yang sekarang
kita sebut dibawah nama Schizophyta, Thallophyta, Bryophyta, dan Pteridophyta. Nama
Cryptogamae diberikan atas dasar cara perkawinan (Alat – alat perkawinannya) yang tersembunyi
(Cryptos – tersembunyi, gamos – kawin ), berbeda dengan Phanerogamae ( Tumbuhan biji ) yang
cara perkawinannya tampak jelas (yang dimaksud disini sebenarnya adalah penyerbukan yang lebih
dulu diketahui daripada peristiwa – peristiwa seksual yang terjadi pada golongan tumbuhan yang
tidak berbiji).
Warga tumbuhan paku amat heterogen, baik ditinjau dari segi habitus maupun cara hidupnya,
lebih – lebih bila diperhitungkan pula jenis paku yang telah punah. Ada jenis – jenis paku yang
sangat kecil dengan daun – daun yang kecil – kecil pula dengan struktur yang masih sederhana, ada
pula yang besar dengan daun – daun yang mencapai ukuran panjang sampai 2 m atau lebih dengan
struktur yang rumit. Tumbuhan paku purba ada yang mencapai tinggi sampai 30 m dengan garis
tengah batang sampai 2 m, dari segi cara hidupnya ada jenis – jenis paku yang hidup teresterial (paku
tanah), ada paku epifit, dan ada paku air. Dimasa yang silam (jutaan tahun yang lalu), hutan – hutan
di bumi kita terutama tersusun atas warga tumbuhan paku yang berupa pohon – pohon yang tinggi
besar, dan kita kenal sisa – sisanya sekarang sebagai batu bara. Jenis – jenis yang sekarang ada
jumlahnya relative kecil (lebih kecil bila dibandingkan dengan jumlah warga divisi lainnya) dapat
dianggap sebagai relic (peninggalan) suatu kelompok tumbuhanyang dimasa jayanya pernah pula
merajai bumi kita ini, yaitu dalam zaman paku (Palaeozoicum). Jenis – jenis yang sekarang masih
ada sebagian sebagian besar bersifat higrofit. Mereka lebih menyukai tempat – tempat yang teduh
dengan derajat kelembaban yang tinggi, paling besar mencapai ukuran tinggi beberapa meter saja,
seperti terdapat pada marga Cyathea dan Alsophila, yang warganya masih berhabitus pohon dan kita
kenal antara lain di Indonesia sebagai paku tiang.
Seperti pada Bryophyta, pada Pteridophyta pun terdapat daur kehidupan yang menunjukkan
adanya dua keturunan yang bergiliran. Gametofitnya mempunyai beberapa perbedaan dengan
gametofit lumut, walaupun sama – sama terdiri atas sel – sel yang haploid. Gametofit pada tumbuhan
paku dinamakan protalium, dan protalium ini hanya berumur beberapa minggu saja. Besarnya paling
banyak hanya beberapa cm saja, bentuknya menyerupai thallus hepaticae. Umumnya protalium itu
berbentuk jantung, berwarna hijau dan melekat pada substratnya dengan rhizoid – rhizoid. Padanya
terdapat anteridium (biasanya pada bagian yang sempit) dan arkegonium (dekat dengan lekukan
bagian yang melebar). Pembuahan hanya dapat berlangsung jika ada air. Baik anteridium maupun
arkegonium terdapat pada sisi bawah protalium di antara rhizoid – rhizoidnya.
Sehabis pembuahan, dari zigot tumbuh keturunan yang diploid, yaitu sporofitnya. Pada
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (37 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
tumbuhan paku sporofit ini sama sekali berbeda dengan sporofit lumut. Pada tumbuhan paku
biasanya protalium lalu binasa, akan tetapi jika tidak terjadi pembuahan, protalium itu dapat bertahan
sampai lama. Sporofit itulah yang pada Pteridophyta menjadi tumbuhan paku yang tubuhnya telah
dapat dibedakan dalam akar, batang dan daun. Hal ini disebabkan, karena zigot tumbuhan paku yang
sekarang masih hidup itu, segera pada permulaan perkembangannya selain haustorium lalu
memisahkan sel – sel calon akar, batang dan daun.
Adanya akar merupakan sifat yang karakteristik bagi Pteridophyta dan Spermatophyta, oleh
sebab itu dunia tumbuhan sering juga dibedakan dalam dua golongan yaitu :
- Rhizophyta ( tumbuhan akar ) yang terdiri atas Pteridophyta dan Spermatophyta, dan
- Arhizophyta ( tumbuhan tak berakar ) yang terdiri atas Scizophyta, Thallophyta dan
Bryophyta.
Menurut poros bujurnya, pada embrio tumbuhan paku telah dapat dibedakan dua kutub, atas
dan bawah. Kutub atas akan berkembang membentuk tunas ( Batang beserta daun – daunnya ).
Kutub bawah, yang letaknya berlawanan dengan ujung tunas dapat juga kita namakan kutub
akar. Tetapi hanya pada spermatophyte saja yang akarnya merupakan perkembangan lanjutan
kutub akarnya. Pada Pteridophyta kutub akar tidak terus berkembang membentuk akar. Akar
tumbuhan paku bersifat endogen dan tumbuh ke samping dari batang. Jadi embrio Pteridophyta
tidak bipolar seperti pada spermatophyte, tetapi unipolar, karena hanya satu kutub saja yang
berkembang, akar yang keluar pertama – tama itu tidak dominant, melainkan segera disusul
oleh akar – akar lain yang semuanya muncul dari batang. Peristiwa pembentukan akar – akar
dari batang yang semua tumbuh ke samping itu dinamakan homorizi, sedang pembentukan
akar – akar yang benar – benar dari kutub akar seperti terdapat pada Spermatophyta itu
dinamakan alorizi. Ketiga bagian utama tubuh Pteridophyta itu mempunyai titik tumbuh yang
hanya terdiri atas satu sel inisial yang terletak di ujung.
Batang Pteridophyta bercabang – cabang menggarpu ( dikotom ) atau jika membentuk cabang –
cabang ke samping, cabang – cabang baru itu tidak pernah keluar dari ketiak daun. Pada batang
Pteridophyta terdapat banyak daun, yang dapat tumbuh terus sampai lama. Akar mempunyai
kaliptra. Epidermis bagian – bagian yang ada diatas tanah mempunyai lapisan kutikula dan mulut –
mulut kulit. Daun – daunnya, lebih – lebih pada yang tinggi tingkat perkembangannya, mempunyai
sifat – sifat yang sesuai dengan daun – daun Spermatophyta. Dalam akar, batang dan daun telah
terdapat jaringan pengangkut yang tersusun atas bagian floem dan xylem, yang belum terdapat pada
tumbuhan lain yang lebih rendah tingkat perkembangannya, sebagai jalan pengangkut air telah
terdapat trakea (kecuali pada Pteridium), Berkas – berkas pengangkut itu umumnya tersusun
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (38 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
konsentris amfikribal (xylem di tengah dikelilingi oleh floem), dan dalam batang sering kali terdapat
lebih dari satu berkas pengangkut. Berkas pengangkut dengan susunan lain pun dapat kita jumpai.
Adanya trakeida, dan berkayunya dinding – dinding trakeida, menambah kekuatan untuk mendukung
tunas – tunas, sehingga tmbuhan paku, berlainan dengan lumut, telah berkembang menjadi tumbuhan
darat dengan batang yang telah bercabang – cabang dan seringkali telah terbentuk pohon seperti kita
lihat pada paku tiang. Pertumbuhan menebal sekunder karena kegiatan cambium pada tumbuhan
yang masih hidup belum ada, dan bila ada hal itu merupakan perkecualian yang besar, dan
kegiatannya masih sangat lemah. Anehnya, pada tumbuhan paku yang telah punah (isoetes), telah
ditemukan adanya kegiatan cambium. Sporofit tumbuhan paku telah mempunyai kormus yang
sungguh, oleh sebab itu bersama dengan spermatophyte, Pteridophyta telah tergolong dalam
Cormophyta sejati.
Sporangium dan sporanya terbentuk pada daun, kadang – kadang dalam ketiak, dan hanya pada
yang rendah tingkatnya saja (Psilophytinae) sporangium langsung terbentuk pada ujung tunas. Daun
– daun yang mempunyai sporangium dinamakan sporofil. Kadang – kadang daun – daun paku yang
fertile ( sporofil ) itu mempunyai bentuk yang berlainan dengan daun – daun yang steril yang melulu
untuk asimilasi. Sebagai lawan sporofil, daun – daun steril itu dinamakan tropofil. Seringkali sporofil
terkumpul merupakan suatu organ dengan struktur khusus yang homolog dan analog dengan bunga.
Tetapi nama bunga bagi suatu alat yang homolog dengan kumpulan sporofil dan terdapat pada
spermatophyte belum digunakan. Untuk kepentingan penyebaran spora, sporofil terdapat agak jauh
dari permukaan tanah. Sporangium tumbuhan paku mempunyai lapisan – lapisan dinding yang
menyelubungi jaringan sporogen. Sel – sel sporogen itu membulat, memisahkan diri satu sama lain
menjadi sel – sel induk spora yang haploid dan seringkali tetap bergandengan merupakan suatu
tetraeder.
Pada hampir semua Pteridophyta, di sekeliling jaringan sporogen terdapat lapisan sel – sel
yang mengandung banyak plasma, dan sel – sel tersebut berguna untuk memberi makanan kepada sel
– sel sporogen. Sel – sel itu seringkali membentuk lebih dari satu lapisan dan dinamakan tapetum.
Tapetum menumpahkan isi selnya ke dalam ruang jaringan sporogen atau dindingnya terlarut
sehingga plasma melumuri sel – sel induk spora; plasma ini dinamakan periplasmodium. Inti
periplasmodium dapat bertambah banyak dengan pembelahan amitosis. Periplasmodium masuk
diantara spora – spora muda yang mulai membebaskan diri dari hubungannya sebagai tetrade,
memberi makan kepada spora itu, dan ikut mengambil bagian pada pembentukan dinding spora
sampai habis terpakai.
Spora yang muda pertama – tama mempunyai dinding tebal dan kuat yang disebut dengan
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (39 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
eksosporium. Menempel di sebelah dalamnya terdapat suatu dinding tipis dari selulosa yang sering
dinamakan endosporium. Seringkali pada endosporium itu oleh periplasmodium ditambahkan lapisan
luar yang sering di sebut dengan perisporium, yang bermacam – macam bentuknya. Dengan
demikian spora itu mempunyai tiga lapisan dinding, yaitu berturut – turut dari luar ke dalam
perisporium, eksosporium dan endosporium. Spora hampir selalu tidak mengandung klorofil, tetapi
seringkali berwarna agak pirang karena mengandung korotenoid.
Pada kebanyakan tumbuhan paku ( filicinae ), sporanya mempunyai sifat – sifat yang sama,
dan setelah berkecambah akan menghasilkan suatu protalium yang mempunyai anteridium maupun
arkegonium. Jenis – jenis paku yang menghasilkan spora yang berumah satu dan sama besar itu
dinamakan paku homospor atau isospor. Pada golongan tumbuhan paku lainnya ( selaginellales,
Hydropteridales ) protaliumnya tidak sama besar dan berumah dua. Pemisahan jenis kelamin telah
terjadi pada pembentukan spora, yang selain berbeda jenis kelaminnya pun berbeda ukurannya.
- Yang besar, mengandung banyak makanan cadangan dinamakan makrospora atau
megaspora, dan terbentuk dalam makro atau megasporangium, dan pada waktu perkecambahan
tumbuh menjadi protalium yang agak besar yang mempunyai arkegonium. Protalium ini
dinamakan Makroprotalium atau protalium betina.
- Yang kecil dinamakan mikrospora dan dihasilkan dalam microsporangium. Mikrospora
akan tumbuh menjadi mikroprotalium atau protalium jantan. Padanya terdapat anteridium
Selain jenis – jenis paku homospor dan heterospor, ada pula jenis – jenis paku yang
sporangiumnya menghasilkan spora yang sama besar, tetapi berbeda jenis kelaminnya.
Tumbuhan paku dengan sifat demikian itu dianggap sebagai bentuk peralihan antara yang
isospor dan yang heterospor.
Berdasarkan sifat sporanya, Pteridophyta dapat dibedakan dalam yang isospor, yang heterospor,
dan yang berbentuk peralihan, akan tetapi pembagian ini tidak mencerminkan jauh dekatnya
hubungan ke-kerabatan.
Dalam taksonomi, Pteridophyta termasuk juga yang telah punah, dibedakan dalam beberapa kelas
yaitu:
1. Kelas : Psilophytinae (Paku Purba
2. Kelas : Lycopodiinae (Paku rambat atau paku kawat)
3. Kelas : Equisetinae (Paku ekor kuda)
4. Kelas : Filicinae (Paku sejati)
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (40 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
BAB X
KELAS PSILOPHYTINAE
(Paku Purba)
Paku purba meliputi jenis – jenis tumbuhan paku yang sebagian besar telah punah. Jenis – jenis
yang sekarang masih ada hanya sedikit saja, dan lajimnya dianggap sebagai relic suatu golongan
tumbuhan paku yang semula meliputi jenis – jenis yang lebih banyak. Warga paku purba merupakan
paku telanjang (tidak berdaun) atau mempunyai daun – daun kecil (mikropil) yang belum
terdifrensiasi. Ada diantaranya yang belum mempunyai akar. Paku purba bersifat homospor.
10.1. Bangsa Psilophytales (Paku Telanjang)
Tumbuhan yang tergolong bangsa ini termasukl tumbhan darat yang tuah. Sekitar 350 juta tahun
yang lalu, yaitu dalam jaman silur akir dan devon telah terdapat sebagai8 semak – semak. Jadi
tumbuhan ini telah ditemukan dalam lapisan bumi yang amat tua, yang belum ditemukan sisa – sisa
lumut. Dalam jaman karbon tumbuhan ini telah punah. Paku telanjang merupakan tumbuhan paku
yang paling rendah tingkat perkembangannya. Yang paling sederhana masih belum berdaun dan
belum berakar. Batang telah mempunyai berkas pengangkut, bercabang – cabang menggarpu dengan
sporangium pada ujung cabang – cabang tadi.
Didalamnya termasuk antara lain :
1. Suku Rhyniaseae : tumbuhan ini mencapai tinggi lebih kurang setengah meter. Batang
dalam tanah, tumbuhan horizontal, tidak mempunyai akar melainkan hanya rizoid. Organ ini
homolog dengan rimpang tumbuhan tinggi. Batang dalam tanah membentuk cabang – cabang
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (41 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
yang tumbuh tegak lurus keatas, bercabang – cabang menggarpu, tidak berdaun, tetapi
mempunyai mulut kulit, jadi cabang – cabangnya itu rupa- rupanya juga memp[unyai fungsi
sebagai alat asimilasi. Berkas pengangkut terdiri antara lain atas terakeida yang mempounyai
penebalan berbentuk cincin atau spiral dan tersusun merupakan protostele. Bulu – bulu tapis
belum ada, demikian pula cambium, jadi tumbuhan ini belum memperlihatkan pertumbuhan
menebal sekunder. Sporangium relativ besar terdapat pada ujung – ujung cabang dan
mempunyai didnding yang terdiri atas beberapa lapis sel. Dalamnya penuh terisi dengan
isospora yang tersusun sebagai teterade. Diantara jenis – jenis yang tergolong dalam suku ini
ada yang mempuyai semacam kolumela dalam sporangiumnya.
2. Suku Asteroxylaceae, dapat mencapai tinggi 1 m. batangnya mempunyai (garis tengah ) 1
cm, mempunyai penonjolan – penonjolan yang panjangnya hanya beberapa mm dan disebut
mikrofil. Beberapan jenis telah menunjukkan percabangan berkas pengangkut sampai pada
pangkal mikrofil, bahkan adayang sampai masuk didalamnya, tetapi ada pula yang sama sekali
tanpa hubungan dengan berkas pengangkut. Mungkin sekali mikrofil yang tidak bersambungan
dengan berkas pengangkut itu tidak ada fungsi dalam asimilasi, dan dapat kita samakan dengan
rambut – rambut (trikoma ) atau emergensia tumbuhan tinggi. Pada penampang lintang, stele di
dalam batang berbentuk bintang. Pada beberapa jenis telah terdapat empelur, jadi stelenya
bukan protostele lagi melainkan telah berupa sifonostele. Ada yang di dalam dinding
trakeidanya telah terdapat noktah halaman
3. Suku Pseudosporochnaceae, pada golongan ini dari ujung sumbu pokoknya yang tidak
beruas muncullah sejumlah dahan – dahan yang hanya sedikit bercabang menggarpu, tetapi
akhirnya menjadi ranting – ranting kecil yang menggarpu, dan kadang – kadang melebar pada
akhir percabangan itu. Pada ujungnya terdapat sporangium yang menebal berbentuk gada.
Begian – bagian ini yang melebar yang tidak fertile berguna untuk asimilasi, jadi dapat
dianggap sebagai bentuk purbakala daun atau makrofil.warga Psilophytales yang kebanyakan
tidak lebih tinggi dari 1 m itu, dengan tipe – tipe daun yang berbeda – beda merupakan
kelompok induk tumbuhan paku yang kemudian melahirkan golongan – golongan Pteridophyta
lainnya. Pada Psilophytales belum diketahui gametofitnya.Dalam zaman purba rupa – rupanya
warga psilophytales masih terbatas pada tempat yang dekat air saja.
10.2. Bangsa Psilotales
Dari bangsa ini ada di antara warganya yang sekarang masih hidup ialah marga psilotum , yang
berupa terna kecil rendah, dan bercabang – cabang menggarpu. Tumbuhan ini sama sekali tidak
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (42 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
berakar, hanya mempunyai tunas – tunas tanah dengan rhizoid, dan pada batangnya terdapat mikrofil
atau daun – daun kecil berbentuk sisik, tidak bertulang dan tersusun jarang – jarang dalam garis
spiral. Sporangium itu mempunyai 3 ruangan, dinding yang terdiri atas beberapa lapis sel, tetapi
tidak mempunyai tapetum. Protalium paku ini telah diketahui, besarnya hanya beberapa cm saja,
berbentuk silinder dan bercabang, tidak berwarna, hidup dalam tanah bersimbiosis dengan cendawan
mikoriza, pada permukaan terdapat anteridium yang terdiri atas banyak ruang, dan mengeluarkan
spermatozoid yang mempunyai banyak bulu cambuk.arkegonium kecil dan agak tenggelam. Embrio
tidak mempunyai suspensor dan letaknya eksoskopik ( ujungnya kearah leher arkegonium ).
Protalium besar, ada yang mempunyai berkas pengangkut dengan trakeida cincin yang berkayu, dan
mempunyai pula endodermis, contohnya;
- Psilotum nudum, yang masih terdapat di pulau jawa.
- Psilotum triquetrum,hanya di daerah tropika
- Tmesipteris tannensis, di Australia.
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (43 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
BAB XI
KELAS LYCOPODINAE
( Paku Rambat atau Paku Kawat )
Batang dan akar-akarnya bercabang-cabang dan menggarpu.Daunnya kecil-kecil (mikrofil),
tidak bertangkai,selalu bertulang satu saja,dan ada beberapa bangsa yang daun-daunnya memiliki
lidah-lidah (ligula). Daun-daun tersusun menurut garis spiral, sporofilnya berbeda dengan
tropofilnya. Tiap-tiap sporofil mempunyai satu sporangonium yang besar pada bagian bawah sisi
atas daun. Lycopodinae adalah keturunan dari Psilophytinae, hal ini dibuktikan oleh adanya mikrofil.
Lapisan dalam dinding sporangium disebut dengan tapetum,pada waktu spora menjadi masak dan
tidak terlarut. Embrio oleh suspensor didesak kedalam jaringan protalium kecuali pada Isoetes.
Lycopodinae di dalam zaman Karbon telah berkembang lebiah luas daripada zaman sekarang,
bahkan ada yang telah berkembang menjadi tumbuhan berbiji,yaitu Lepidospermae. Mungkin karena
tidak sempurnanya alat-alat penyerap dan pengangkut air,maka tumbuhan yang telah berupa pohon
itu kemudian punah menjelang akhir zaman Palaeozoikum,karena iklim dibumi ini bertambah
kering. Paku kawat dan paku rane yang berupa terna itulah yang dapat bertahan sampai sekarang.
11.1. Bangsa Lycopodiales
Bangsa ini terdiri kurang lebih atas 200 jenis tumbuhan yang hampir semua tergolong dalam suku
Lycopodiaceae dari marga Lycopodium. Lycopodium itu kebanyakan berupa terna kecil yang sering
sekali dipakai untuk pembuatan buket bersama dengan bunga. Batang mempunyai berkas
pengangkut yang masih sederhana,tumbuh tegak atau berbaring dengan cabang-cabang yang
menjulang ke atas. Daun-daun berambut,berbentuk garis atau jarum,yang dianggap homolog dengan
mikrofil Psilophytinae dan hanya memiliki satu tulang yang tidak bercabang.
Akar biasanya bercabang-cabang mengarpu. Bagian-bagian batang yang berdiri tegak,di
atas bagian yang agak jarang daun-daunnya,mempunyai rangkaian sporofil. Sporofil berbentuk
segitiga sama sisi,mempunyai sporangium yang agak pipih,berbentuk ginjal,menghasilkan isospora.
Letak sporangium pada sisi atas daun dekat dengan pangkalnya. Dinding sporangium terdiri atas
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (44 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
beberapa lapis sel. Sporangium membuka dengan dua katup menurut suatu retak yang telah tampak
dari susunan anatomi sel-selnya. Sesudah 6 atau7 tahun spora itu baru berkecambah,
menghasilkanbadan yang terdiri dari 5 sel, yang semula mendapat makanan dari cadangan di dalam
spora. Sesudah mengalami waktu istirahat,baru badan itu berkembang terus,jika dalam sel-selnya
yang sebelah bawah dimasuki hifa cendawan yang berkelakuan sebagai mikoriza.Jadi untuk
perkembangan prolatalium harus ad simbiosis dengan mikoriza.
Protalium hidup di dalam tanah, berbentuk seperti umbi kecil,keputih-putihan dan bersifat
saprofit. Baru sesudah 12-15 tahun, alat-alat kelaminnya menjadi masak, sehingga umur protalium
itu dapat sampai 20 tahun. Jika protalium muncul di atas tanah,lalu membentuk kloroplas dan
warnanya menjadi hijau. Protalium itu berumah satu,alat-alat kelaminnya terdapat pada bagian
apikal. Anetridium terbenam dalam jaringan protalium dan terdiri atas banyak sel. Tiap sel
anteridium ( selain dindingnya) menghasilkan spermatozoid berbentuk jorong, masing-masing
mempunyai dua bulu cambuk.
Zigot mula-mula dengan suatu dinding dasar yang melintang membelah menjadi dua sel.
Yang bawah mula-mula membagi diri menjadi 4 kuadran kemudian menjadi oktan dan selanjutnya
menjadi enmbrionya,sedang sel-sel yang atas yang menghadapleher arkegonium menjadi pendukung
embrio atau suspensor. Jadi embrio itu tidak menghadap kearah leher arkegonium. Letak embrio
yang demikian itu disebut endoskopik. Di daerah tropika banyak pula terdapat terdapat warga
Lycopodium, di antaranya
Ada yang hidup sebagai epifit, misalnya L. nummularifolium.
Yang banyak dikenal di Indonesia adalah :
- L. cernuum, di Jawa Barat banyak digunakan dalam pembuatan karangan bunga.
- L. clavatum, yang sporanya dikumpulkan sebagi serbuk licopodium (pulvis lycopodii) yang
dipergunakan sebagai pembalut pil agar tidak lengket satu sam, lain,dan juga digunakan dalam
percobaan Kundt untuk mengukur panjang gelombang suara.
Sisa-sisa Lycopodiinae sebagai fosil ditemukan dari zaman Devon tengah, bahkan ada yang dari
zaman Silur. Lycopodiinae yang telah fosil antara lain ialah :
- Drepanophycus spinaeformis, merupakan tumbuhan darat yang tertua bagi Eropa.
- Protolepidodendrom scharyanum, pada ujung cabang-cabangnya terdapat daun-daun yang
menggarpu. Sporangium terdapat pada sisi atas daun.
Pada kedua jenis tersebut sporofil belum terkumpul menjadi rangkaian sporofil (bunga).
Sublepidodendraceae dan Archaeosigillariaceae mempunyai daun-daun yang melekat pada alas
berbentuk belah ketupat atau persegi enam. Tumbuhan ini dianggap sebagai nenek moyang pohonfile:///
D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (45 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
pohon sisik-sisik (Lepidondraceae).
11.2. Bangsa Selaginellales (Paku Rane, Paku Lumut).
Habitus paku rane dalam beberapa hal memperlihatkan persamaan dengan Lycopodinae.
Sebagian mempunyai batang berbaring dan sebagian tegak, bercabang-cabang menggarpu anisotom,
tidak memperlihatkan pertumbuhan menebal sekunder. Ada yang tumbuhnya membentuk rumpun,
ada yang memanjat dan tunasnya dapat mencapai panjang sampai beberapa meter. Pada batang
terdapat beberapa daun-daun kecil yang tersusun dalam 4 baris. Cabang-cabang sering kali
mempunyai susunan dorsiventral. Dari 4 baris daun itu yang dua baris terdiri atas daun-daun yang
lebih besar dan tersusun kesamping, yang dua baris lagi terdiri atas daun-daun yang lebih kecih
terdapat pada sisi atas cabang-cabang yang menghadap kemuka. Akar-akar yang keluar dari bagianbagian
batang yang tidak berdaun yang dinamakan pendukung akar. Pada bagian bawah sisi atas
daun terdapat suatu sisik yang dinamakan lidah-lidah (ligula). Lidah-lidah tersebut merupakan alat
penghisap air (misalnya tetes air hujan), dan sering kali dengan perantaraa suatu trakeida mempunyai
hubungan dengan berkas-berkas pembuluh pengangkutan.
Selaginella bersifat heterospor, protakliumnya sangat kecil, jadi telah mengalami reduksi yang
jauh. Rangkaian sporofil terminal,merupakan suatu bulir tunggal atau bercabang,biasanya radial,
jarang sekali drsiventral. Sporangium itu menghasilkan mikro dan makrospora, akan tetapi keduaduanya
ditemukan dalam satu rangkaian sporofil. Dalam makrosporangium sel-sel induk spora yang
terbentuk semua mati,kecuali satu yang akhirnya dengan pembelahan reduksi menghasilkan 4 spora
yang dindingnya penjol-penjol. Mikrosporangium pipih,di dalamnya banyak terkandung mikrospora.
Dinding sporangium terdiri atas 3 lapis sel,yang paling dalam merupakan tapetum yang
berguna untuk memberi makanan kepada spora. Dinding sel-sel tapetum tidak terlarut. Sporangium
membuka dengan suatu mekanisme kohesi, dan membukanya sporangium spora terlempar keluar.
Spora selagi masih berada dalam sporangium telah memulai perkembangannya untuk membentuk
protalium. Mula-mula spora membelah menjadi suatu sel kecil berbentuk lensa dan satu sel yang
lebih besar. Sel yang lebih besar berturut-turut mengadakan pembelahan,sehingga menghasilkan 8
sel dinding yang steril,dan 2 atau 4 sel yang di pusat. Sel kecil berbentuk lensa bersifat vegetatif dan
dinamakan sel rizoid. Sel-sel yang merupakan dinding anteridium lalu terlarut dindingnya menjadi
suatu lapisan lendir yang di dalamnya terdapat spermatozoid. Seluruh protalim jantan sampai
stadium itu tetap berada dalam kulit mikrospora, tetapi akhirnya kulit itu pecah, sel-sel anteridium
menjadi bebas , dan keluarlah spermatozoid berbentuk gada yang sedikit bengkok.
Inti spora membelah secar bebas menjadi banyak,yang lalu tersebar dal plasma pada bagian
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (46 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
atas spora. Baru kemudian mulai terbentuk dinding-dinding sel yang meluas kebawah, sehingga
akhirnya seluruh spora terisi dengan sel-sel protalium. Akhirnya dinding makrospora pecah,dan
protalium yang terdiri atas sel-sel kecil dan tidak berwarna tersebut keluar dan membentuk 3 rizoid
pad 3 tempat. Setelah satu atau beberapa arkegonium dibuahi,mulailah perkembangan embrio yang
biasanya bersifat endoskopis. Untuk membebaskan diri dari protalium, embroi yang endoskopik itu
membelok seperti pada Lycopodium.
Bangsa ini hanya terdiri atas satu suku Selaginellaceae, dan satu marga Selaginella. Di
Indonesia antara lain kita dapati Selaginella caudata, S. plana, S. wildenowii.
11.3. Bangsa Lepidodendrales
Bangsa ini sekarang telah punah. Tumbuhan ini mencapai puncak perkembangannya dalam
zaman Devon,Karbon,dan Perm. Dalam zaman tersebut warga Lepidodendrales telah berbentuk
pohon-pohon yang mencapai tinggi sampai 30 meter dengan garis tengah batang sampai 2 meter.
Daun-daunnya bangun jarum atau bangun garis, mempunyai lidah-lidah,terdapat berkas pengangkut
yang sederhana dan jarang sekali memperlihatkan percabangan menggarpu. Defrensiasi dalam
jaringan tiang belum nampak. Dari sisa-sisa pohon-pohon itulah sekarang digali batu bara.
Batang tumbuhan itu telah memperlihatkan pertumbuhan menebal sekunder. Pada batang
telah terdapat pula meristem bermacam kambium gabus,yang kearah dalam menghasilkan banyak selsel
gelam. Lepidodendron hampir 90% penampang melintang batang terdiri atas gelam.Pohon yang
miskin akan bagian kayu ini mempunyai alat-alat yang tumbuh mendatar tidak jauh dari permukaan
tanah, bersifat seperti rimpang. Organ ini mengadakan pertumbuhan menebal sekunder dan disebut
pendukung akar, atau stigmarium. Permukaannya penuh dengan berkas-berkas akar,karena akar-akar
yang tumbuh dari stigmarium itu kemudian terputus dari stigmarium tadi.
Bangsa ini dibedakan dalam beberapa suku, yaitu :
- Suku Sigillariaceae, batangnya penuh dengan berkas-berkas daun yang berupa bantalan
berbentuk segi enam dan tersusun berderet-deret menurut poros bujur batang. Daun mencapai
panjang 1 m, lebarnya hanya 1 cm, mempunyai satu tulang daun, tersusun pada ujung batang
yang bercabang-cabang menggarpu atau tidak lagi bercabang-cabang. Pada bagian bawah tajuk
pohon tampak bergantung kumpulan sporofil berbentuk kerucut yang besar-besar.
Contoh :, S Sigillaria elegans. S. micaudi.
- Suku Lepidodendaceae, daun-daun panjangnya sampai beberapa dm, tersusun
Menurut garis spiral dan duduk diatas bantalan-bantalan berbentuk belah ketupat. Batangnya
memperlihatkan lebih banyak percabangan dikotom, pada ujung cabang-cabang terdapat
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (47 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
kerucut-kerucut sporofil. Berkas pengangkut primer masih berupa suatu protostele dan bagi
yang lebih tinggi berupa sifonostele. Pada Sigillariaceae malahan telah terdapat jari-jari
empelur.
Dalam maqkrosporangium sering hanya terdapat satu makrospora yang tebalnya dapat
mencapai 5 mm. Pada Lepidostrobus major spora untuk sebagian berlekatan dengan dinding
sporangium, pembentukkan protalium berlangsung didalam sporangium itu. Protaloiumnya
menyerupai protalium Selaginellales.
Contoh : Lepidodendron vasculare, L. aculeatum, Lepidostobus major.
Lepidospermae merupakan suatu kelompok warga Lepidondrales yang berbeda dengan warga
tumbuhan paku lainnya, karena telah mempunyai biji. Makrosporofil menjadi suatu selubung
( integument ) sporangium, tetapi pada ujungnya terbuka, sehingga dapat menangkap mikrospora
yang berhamburan, dan dengan cara-cara yang belum diketahui akhirnya akan terjadi pembuahan.
Organ tersebut tetap pada tumbuhan induknya dan berkembang menjadi biji. Pada pembentukan kulit
biji tidak hanya dinding sporangium saja ikut mengambil bagian, tetapai juga sporofil (integument).
Karena makrosporofil tersusun dalam badan-badan berbentuk seperti kerucut, terjadilah kerucutkerucut
yang mengandung biji seperti pada Gymnospermae. Dari golongan ini sebagai contoh adalah
Lepidocarpon lomaxi, L. westfalium, Miadesmia membranacea.
11.4. Bangsa Isoetales
Tumbuhan yang tergolong bangsa ini berupa terna, sebagian hidup tenggelam dalam air,
sebagian hidup pada tanah yang basah. Batang seperti umbi dan memperlihatkan pertumbuhan
membesar sekuder biasa. Dari batang keluar suatu rozet, daun pada pangkalnya melebar, mempunyai
mesofil sederhana, dan pada sisi atas memiliki suatu cekungan yang dinamakan foveum. Daun-daun
kebanyakan adalah sporofil dengan satu sporangium dalam foveum.Hanya daun-daun yang letaknya
paling dalam yang steril. Antara sporofil dan daun biasa tidak terdapat perbedaan bentuk. Diatas
foveum terdapat lidah-lidah berupa selaput berbentuk segitiga dengan pangkal yang terbenam. Ligula
berfungsi sebagai alat penghisap air dan zat-zat makanan.
Daun-daun yang tersusun dibagian luar rozet berupa makrisporofil dengan makrosporangium
yang menghasilkan banyak mmakrospora berbentuk bulat atau tetraeder. Daun yang letaknya lebih
dalam merupkan mikrosporofil dengan mikrosporangium yang menghasilkan mikrospora berbentuk
jorong dan agak pipih pada salah satu sisinya. Di dalam sporangium terdapat jaringan-jaringan steril
yang dinamakan trabekula. Dinding sporangium terdiri atas beberapa lapis tapetum.
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (48 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
Protalium yang berumah dua itu sangat kecil dan terbentuk di dalam spora. Protalium
jantan hanya menghasilkan 4 spermatozod berbentuk spiral dan pada ujung muka terdapat suatu
berkas bulu-bulu cambuk. Pada tempat robeknya dinding spora,protalium membentuk arkegonium.
Zigot dengan dua dinding yang tegak lurus satu sama lain membelah menjadi empat kuadran,dua
diantaranya membentuk ujung tunas dan daun beserta ligulanya, dan yang dua lainnya menjadi akar
dan haustorium, suspensor tidak ada. Letak embrio mula-mula endoskopoik, tetapi sedikit demi
sedikit embrio itu berputar, hingga mencapai kedudukan yang eksoskopik.
Isoetales dianggap berasal dari Lycopodiinae yang telah mengalami reduksi. Semula
tumbuh-tumbuhan ini pun lebih besar. Dalam zaman Perm, Pleuromeia telah mencapai tinggi 2 m
dengan batang setebal lengan. Kemungkinan besar Sigillariaceae merupakan nenek moyang
Isoetales, tetapi mungkin juga Lepidodendrales. Isoetales hanya terdiri dari satu suku saja yaitu
Isoetaceae. Contohnya adalah Isoetes lacustris, I. echinasporum, I. duvieri.
BAB XII
KELAS EQUISETINAE
(Paku Ekor Kuda)
Warga kelas ini yang sekarang masih hidup umumnya berupa terna yang menyukai tempat tempat
lembab. Batangnya kebanyakan bercabang-cabang berkarang dan jelas kelihatan berbuku-buku dan
beruas-ruas. Daun-daun kecil, seperti selaput dan tersusun berkarang, sporofil selalu berbeda dari
daun biasa. Sporofil biasanya berbentuk perisai dengan sejumlah sporangium pada sisi bawahnya,
dan semua sporofil tersusun merupakan suatu badan berbentuk gada atau kerucut pada ujung batang
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (49 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
atau cabang. Protalium berwarna hijau dan berkembang di luar spora.
Equisetinae dibedakan dalam beberapa bangsa.
12.1. Bangsa Equisetales
Bangsa ini hanya terdiri dari suku Eqisetaceae dan satu marga Equisetum dengan 25 jenis
saja. Tumbuh sebagian di darat, sebagian di rawa-rawa. Memiliki semacam rimpang yang merayap,
dengan cabang yang berdiri tegak. Pada buku-buku batang terdapat suatu karangan daun serupa
selaput atau sisik, berbentuk runcing, mempunyai satu berkas pengangkut kecil. Karena daun amat
kecil, batang dan cabang-cabangnya yang mempunyai fungsi sebagai asimilator, tampak berwarna
hijau karena mengandung klorofil. Di antara warga Equisetales terdapat beberapa jenis yang
mempunyai semacam umbi untuk menghadapi kala yang buruk, ada pula yang tetap berwarna hijau.
Sporofil tersusun dalam rangkaian yang berseling, dan karena pendeknya ruas-ruas
pendukung sporofil, maka rangkaian sporofil terkumpul menyerupai suatu kerucut pada ujung
batang. Sporofil berbentuk perisai atau meja dengan satu kaki di tengah, dengan beberapa
sporangium (5-10) berbentuk kantung pada sisi bawahnya.
Jaringan sporogen mula-mula diliputi oleh dinding yang terdiri atas beberapa lapis sel.
Seperti biasanya, dinding sel-sel dalam (tupetum) terlarut, plasmanya merupakan periplasmodium
yang masuk di antara spora-spora, dan habis terpakai untuk pembentrukan dinding spora. Jika spora
telah masak, sporangium hanya mempunyai dinding yang terdiri atas selapis sel saja. Sel-selnya
mempunyai penebalan berbentuk spiral atau cincin. Sporangium yang telah masak pecah menurut
suatu retak pada bagian dinding yang menghadap ke dalam. Retak itu terjadi karena pengaruh
kekutan kohesi air yang menguap dan berkerutnya dinding sel yang tipis pada waktu mengering.
Spora mempunyai dinding yang terdiri atas endo- dan eksosporium, dan di samping itu
masih mempunyai perisporium yang berlapis-lapis. Lapisan perisporium yang paling luar terdiri atas
dua pita sejajar yang dalam keadaan basah membalut spora. Pita itu ujungnya agak melebar seperti
lidah . Jika spora menjadi kering, pita itu terlepas dari gulungannya, akan tetepi kurang lebih di
tengah-tengahnya tetap melekat pada eksosporium. Dengan adanya pita yang memperlihatkan
gerakan higroskopik itu, pemencaran spora di permudah, dan itu kemungkinan adanya beberapa
spora yang selalu bergandeng-gandengan amatlah besar, dan bila spora dan jatuh di tempat yang
amatlah besar, dan bila spora • dan • jatuh di tempat yang berdekatan, tentulah dalam perkembangan
selanjutnya protalium • akan berdekatan pula dengan protalium •.
Pada perkecambahan spora, rhizoid keluar dari bagian yang tidak menghadap sinar matahari.
Sel-sel lainnya berkembang terus menjadi bagian protalium yang berwarna hijau. Protalium berupa
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (50 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
talus yang bercabang-cabang, dapat berumah satu, tetapi biasanya berumah dua. Anteridium
terbenam dalam protalium • dan mengeluarkan spermatozoid berbentuk sekrup dengan banyak bulu
cambuk.
Zigot mula-mula membelah menjadi dua sel, tetapi berlainan dengan Lycopodium, pada
Equisetales tidak terbentuk suspensor, melainkan kedua sel itu membelah-belah lagi. Embrio pada
Equisetales letaknya eksokopik, tunas mempunyai sel ujung bentuk piramid. Bakal akar terletak di
bagian samping sumbu panjangnya.
Beberapa jenis tumbuhan ini mempunyai sebagian batang yang tetap steril dan banyak bercabangcabang,
dan cabang-cabang itu tersusun dalam karangan. Sel-sel epidermis batang mengandung zat
kersik pada dinding yang sebelah luar, oleh sebab itu abu batang tumbuhan ini dapat digunakan
sebagai penggosok.
Beberapa contoh jenis paku ekor kuda yang masih hidup dan ditemukan di Indonesia, antara
lain Equisetum aeniie, E. ramosissunum. Di Eropa E. arvense, E. pratense.
spora • spora •
¯ ¯
protalium • protalium •
¯ ¯
antheridium arkegonium
spermatozoid sel telur
¯
zigot
¯
perkecambahan Equisetum
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (51 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
¯
sporofil
¯
sporangium
spora • spora •
Skema pergiliran keturunan Equisetum
Dari bangsa ini ada suatu golongan yang sekarang telah punah yaitu suku Calamitaceae.
Warga suku ini banyak tumbuh dalam zaman Palaezoikum, teristimewa dalam zaman Karbon. Jenis
tumbuhan dari suku ini mempunyai habitus yang sangat menyerupai paku ekor kuda sekarang, tetapi
biasanya berbentuk pohon, jarang sekali berupa terna. Di antara pohon-pohon itu ada yang mencapai
tinggi 30 m, dengan garis tengah batang 1 m dan cabang-cabang yang tersusun berkarang.
Batang bersifat monopodial, sebagian gelam terdiri atas kulit mati (kerak). Pertumbuhan
menebal sekunder berlangsung dengan perantaraan kambium. Dalam bagian kayu terdapat trakeida
jala dan trakeida yang mempunyai noktah-noktah halaman. Dalam bagian kayu terdapat saluran
udara, sehingga batang bersifat sepert pipa.
Adanya saluran udara yang membujur dalam bagian kayu itu menyebabkan batang kurang kuat dan
mudah patah. Akar yang keluar dari buku-buku batang dan dari rimpang juga mempunyai kambium.
Warga suku ini paling tua adalah Asterocalomites, mempunyai daun-daun kecil yang menggarpu.
Biasanya daun-daun warga Asterocalomites berupa daun tunggal, mempunyai satu tulang daun,
berbentuk lanset panjang dan tersusun berkarang. Daun-daun telah mencapai panjang sampai
beberapa cm dan telah mempunyai jaringan tiang sebagai jaringan asimilasinya.
Rangkaian sporofil mempunyai susunan yang sama dengan Equisetum, tetapi pada
Calamitaceae terdapat daun-daun steril dan fertil berselang-selang. Di antara Calamitaceae ada yang
isopor, ada pula yang heterospor, spora tidak mempunyai haptera.
Dari segi filogeni Calamitaceae dipandang lebih tua daripada Equisetaceae yang selalu
isopor, akan tetapi anggapan itu sukar diterima, padahal umumnya orang beranggapan bahwa sifat
heterospor adalah gejala yang lebih maju daripada sifat isopor dan bukan sebaliknya. Contoh-contoh
jenis tumbuhan yang tergolong dalam suku Calamitaceae ialah Eucalamites multiramis,
Calamostachys binneyana, Asterophyllites longifolus.
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (52 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
12.2. Bangsa Sphenophyllales.
Tumbuhan dari bangsa ini hanya dikenal sebagai fosil dari zaman Palaezoikum. Daundaunnya
menggarpu atau berbentuk pasak dengan tulang-tulang yang bercabang menggarpu,
tersusun berkarang, dan tiap karangan biasanya terdiri dari 6 daun. Dari bangsa ini, warga yang
filogenetik merupakan tumbuhan tertua mempunyai daun-daun yang tidak sama (heterofil).
Pada warga Sphenophyllum terdapat daun-daun yang berbentuk pasak dan daun-daun kecil
yang sempit yang menggarpu. Tumbuhan ini banyak tersebar dalam zaman Devon akhir sampai
Perm, berupa terna yang rupa-rupanya dapat memanjat.
Batangnya mencapai tebal sejari, beruas-ruas panjang, bercabang-cabang, mempunyai satu berkas
pengangkut yang tidak berteras dan mempunyai kambium. Dalam bagian kayu terdapat trakeida
noktah halaman dan trakeida jala.
Rangkaian sporofil menyerupai Equisetum, sebagian bersifat isopor sebagian heterospor.
Contoh-contoh Sphenophyllum cuneifolium, S. dawsoni, S.fertile.
12.3. Bangsa Protoarticulatales.
Warga bangsa ini pun telah fosil. Tumbuhan itu telah mulai muncul di atas bumi pada
pertengahan zaman Devon. Di antaranya yang paling terkenal adalah anggota marga Rhynia, berupa
semak-semak kecil yang bercabang-cabang menggarpu, daun-daunnya tersusun berkarang tidak
beraturan. Helaian daun sempit, berbagi menggarpu. Sporofil tersusun dalam suatu bulir, tetapi
sporofil itu belum berbentuk perisai, melainkan masih bercabang-cabang menggarpu tidak beraturan
dengan sporangium yang bergantungan. Bangsa Protoarticulatales mencakup suku Rhyniaceae,
yang anggota-anggotanya dipandang sebagai nenek moyang Sphenphyllaceae dan Calamitaceae.
Contoh Rhynia elegans.
Equisetinae mencapai puncak perkembangannya dalam zaman Palaezoikum, yang hampir
semuanya kemudian punah kecuali marga Equisetum yang masih kita kenal sampai sekarang. Jenisjenis
tumbuhan dari marga Equisetum yang sekarang ada merupakan sisa dari warga Equisetum yang
dahulu lebih banyak dan lebih meluas.
Dalam Mesozoikum dulu hidup jenis-jenis Equisetum yang telah memperlihatkan
pertumbuhan menebal sekunder(mempunyai kambium). Beberapa golongan yang telah punah itu
(Sphenophyllaceae, Calamitaceae), kebanyakan bersifat heterospor, akan tetapi belum pernah ada
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (53 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
warga Equisetinae yang mencapai tingkat perkembangan sampai dapat menghasilkan biji seperti
Lepidospermae. Nenek moyang Equisetinae mungkin sekali tumbuhan yang tergolong dalam
Psilophytinae. Jadi Equisetinae dan Lycopodinae dapat sisamakan dengan dua cabang dengan
perkembangan yang sejajar, keduanya berasal dari Psilophytinae, tetapi berbeda mikrofilnya.
BAB XIII
KELAS FILICINAE
(Paku Sejati)
13.1. Leptosporangiate (Filices)
Golongan ini terdiri dari beraneka ragam paaku-pakuan yang luar biasa banyaknya, meliputi kurang
lebih 90 % dari jumlaah seluruh marga yang tergolong dalam filicinae dan tersebar diseluruh bumi.
Terdapat didaerah tropik, paaku yang berupa pohon, batangnya dapat mencapai besar satu lengan
atau lebih, umumnya tiak bercabang dan paa ujungnya terdapat suatu rozet daun. Daun-daun itu
menyirip ganda sampai beberapa kali, panjangnya dapat bsampai 3 m, dan jika gugur meninggalkaan
bekas-bekas yang jelas pada batang. Batang mengeluarkan banyak akar, tetapi jika tidak dapat masuk
kedalam tanah akar-akar itu tidak bertambah panjang , kambium tidak ada, jadi batang tidak
mengadakan pertumbuhan menebal sekunder, dan tidak mempunyai bagian kayu yang kompak.
Kebanyakan tumbuhan paku berupa herba dengan rimpang yang mendatar, dan biasanya jarang
bercabang. Daun yang masih muda selalu tergulung, dan sifat ini sangat karakteristik bagi warga
filicinae pada umumnya. Disebabkan oleh karena sel-sel pada sisi bawah daun lebih cepat
pertumbuhannya, dan baru ditiadakan dengan terbukanya daun. Pada daun filicinae tulang-tulang
daunnya bercabang-cabang dengan bebe-rapa pola. Pola percabangan tulaang-tulang daun tersebut
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (54 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
merupakan salah satu dasar dalam pengklasifikasian leptosporangiatae.
Pada kebanyakan filicinae, batang, tangkai daun, daan kadang-kadang se-bagian daun, tertutup oleh
suatu lapisan rambut-rambut berbentuk sisik yang dina-makan palea. Sporangium terbentuk dalam
jumlah yang besar pada sisi bawah daun.
Pada warga suku polypodiaceae, sporangium terkumpul menjadi sorus yang bentuknya dapat
bermacam-macam. Dan sebelum masak sorus itu tertutup oleh suatu selaput yang disebut dengan
indusium. Pada dinding sporangium seringkali terdapat suatu cincin yang terdiri dari sel-sel yang
menonjol keluar dengan penebalan dinding radial dan dinding dalam. Bagian sisi perut yang yang selselnya
tidak menebal itu dinamakan stomium. Annulus bekerja sebagai suatu mekanisme kohesi dan
menyebabkan ter-bukanya sporangium, ada atau tidak adanya indusium, merupakan ciri-ciri
pengenal yang sangat penting.
Semua warga filices ( leptosporanngiatae) menghasilkan isospora. Dari spora itu tumbuh protalium,
pada jenis-jenis tertentu protonema telah menghasilkan anteridium pada cabang-cabangnya, dan
arkegonium pada cabang-cabang yang terdiri dari beberapa sel.
Pembelahan sel-sel yamg terus-menerus akhirnya menghasilkan suatu pro-talium yang melekat pada
substratnya. Pada pembentukan protalium sel pemula di-ujung lalu diganti oleh beberapa sel pemula,
dan akhirnya terjadilah suatu badan ya-ng bersifat seperti talus. Anteridium dan arkegonium terdapat
pada satu protalium, biasanya pada sisi yang tidak menghadap matahari. Anteridium pada
leptosporangiatae berupa suatu tonjolan jaringan berbentuk bulatyang duduk tanpa tangkai pada
ssuatu sel protalium. Arkegonium terdapat pada baagian protalium yang berlekuk dan mulai muncul
dari suatu ssel permukaan pada protalium yang sudah agak tua. Sporofit untuk sementara hidup
sebagaai parasit pada protalium dan menyerap makanan dari protaliumnya dengan perantaraan
haustorium sebagai protalium itu sudah mati. Akar yang pertama terbentuk lalu diganti oleh akarakar
berikutnya.
Pada daun-daun seringkali terbentuk tunas-tunas adventif ( tunas liar) yang dapat terlepas dan
berguna sebagai alat berkembang biak vegetatif. Dapat pula tunas atau daun berubah menjadi
geragih (stolon) yang dapat dipergunakan untuk tujuan yang sama. Selain itu dari protalium dapa
pula terbentuk tumbuhan paku baru tanpa pembuahan, jadi secara apogam atau apospor.
Leptosporangiatae dibedakan dalam 3 golongan yaitu :
1. Simplices; sporangium didalam sorus terjadi secara serempak
2. Gradate; sporangium di dalam timbulnya dari atas ke bawah (basipetal)
3. Mixtae; pembentukan sporangium didalam sorus tidak beraturan.
Selanjutnya masih harus diperhatikan letak sporangium pada sporofil, sehingga masing-masing
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (55 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
golongan tadi dapat dibedakan lagi dalam yang sporangiumnya pada tepi sporofil (Marginales) dan
yang sporangiumnya pada permukaan (bawah) sporofil (superficiales).
Berdasarkan sifat sifat diatas, maka skema klasifikasi Fillices menjadi sebagai berikut :
Golongan Marginales Superficiales
Simplices Schizacacae Gleichenieaceae
Gradatae
Laxsomaceae
Hymenophyelaceae
Dicksoniaceae
Thyrsopteridaceae
Cyatheaceae *)
Woodsiae*)
Onocleinae *)
Metae Davalleaeae
Oleandeeae
Aspidicea *)
Blechninae *)
Asplenieae *)
Pterideae *)
Golongan-golongan dengan tanda *) merupakan anak suku kelompok yang besar, yaitu suku
Polypodiaceae. Rupa-rupanya sekarang suku Polypodiaceae yang sangat heterogen ini dianggap
terlalu besar, dan anak suku yang termasuk di dalamnya seyogyanya ditingkatkan kedudukannya
menjadi suku.
Dalam skema itu tidak termasuk suatu golongan, yang mengenai sifat-sifat tersebut diatas
(urutan pembentukan sporangium dan letaknya pada daun ) masih belum diperoleh kepastian yaitu
suku Osmundaceae. Sporangium tidak tersusun berkelompok, tidak bertangkai atau hampir tidak
bertangkai, tanpa anulus, tetapi mempunyai sekelompok sel berdinding tebal, jika telah masak
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (56 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
membuka dengan retak disamping sebelah bawah ujung. Sporangium tersebar, kadang-kadang
menutupi sebagian besar permukaan daun indusium tidak ada, tidak terdapat sisik-sisik, tetapi pada
daun-daun yang muda seringkali terdapat rambut-rambut yag menghasilkan lendir.
Warga suku ini meunjukkan adanya hubungan antara Eusporangiatea yang terlihat dari :
- Cara cara pembentukan sporangium, yang tidak hanya berasal dari satu sel epidermis saja,
- Tidak adanya anulus
- Protalium yang berumur panjang
Di indonesia hanya terdapat satu wakil, yaitu Osmunda javancia.
Suku Schizaeaceae. Sporangium tidak bertangkai atau hampir tidak bertangkai, terpisah-pisah,
waktu masak membuka dengan suatu celah membujur. Anulus pendek, tetapi terang, letaknya
melintang dekat ujung sporangium. Bagian daun yang fertil mempunyai bentuk yang berlianan
dengan bagian yang steril. Pada paku ini terdapat rambut-rambut atau sisik-sisik.
Dalam suku ini antara lain termasuk marga :
- Scizeae. Daun-daun tegak ketas, pada ujungnya terdapat bagian fertil yang berbagi
menyirip. Di Indonesia terdapat S. diditata, S.diachotoma.
- Lygodium. Batangnya membelit. Daun seringkali amat panjang, dengan taju-taju daun
yang tersusun menyirip. Sporangium terdapat pada bagian-bagian daun yang tersendiri atau
seringkali hanya taju-taju saja yang bersifat fertil, misalnya Lygodium circinnatum.
Fosil Shizaeaceae telah ditemukan di zaman karbon akhir. Sporangiumnya mempunyai beberapa
baris anulus dan paku itu telah mempunyai daun yang besar. Lygodium telah dikenal dari zaman
tersier
Suku Gleicheniaceae. Sorus hanya mengandung sedikit sporangium tanpa tangkai dan membuka
dengan suatu celah membujur. Anulus melintang. Paku ini mempunyai sisik-sisik. Sorus tidak
tertutup oleh indusium. Dari suku ini yang paling terkenal ialah marga :
- Gelichenia; daun panjang yang bagian-bagian yang menyirip, ujungnya sering sampai lama
dalam keadaan kuncup. Beberapa diantaranya bersifat sebagai xerofit atau Kremnofit, misalnya G.
linearis, G.Leavigata (paku andam, paku resam), seringkali dipakai untuk pelindung sementara pada
pesemaian-pesemaian. Pernah ditemukan Fosil Gleicheniaceae dari zaman Trias.
Suku Matoniaceae. Daun-daun menjari, panjang, kadang-kadang untuk memanjat. Sporangium
terdapat di keliling tiang sorus, dan ditutupi oleh indusium berbentuk perisai. Anulus serong, celah
jalan keluar sporapun demikian. Proteliumnya belum dikenal, suku ini meliputi marga Matonia,
antara lain Matonia pectinata, dan phanerosorus yang anggota-anggotanya tumbuh di Kalimantan
dan didaerah di dekatnya. Telah ditemukan Fosil Matoniaceae dari zaman Kapur.
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (57 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
Suku Loxsomeceae. Susunan sorus menyerupai sorus pada wara suku hymenophyllaceae.
Sporangium membuka celah membujur, antara lain pada loxsoma cunninghami yang tumbuh dio
Selandia Baru, dan pada Loxsomopsis di Amerika Selatan.
Suku Hymenophyllaceae. Kebanyakan berupa tumbuhan paku yang kecil, dan seing kali
hanya terdiri dari satu lapis sel aja. Soru pada tepi daun, mempunyai indusium berbentuk piala atau
bibir. Sporangium tanpa bingkai dengan cincin yang sempurna dengan letak serong atau melintang.
Protalium berbentuk pita atau benang.
Paku ini sangat banyak terdapat didaerah tropik, hidup sebagai epifit, dan sangat suka akan
tempat-tempat yang lembab, tetapi ada pula beberapa jenis yang menyukai habitat yang kering
(xerofil).
- Trichomanes. Indusium berbentuk buluh atau piala, tiang pendukung sporangium akhirnya
muncul diatas indusium. Dinding sporangium terdiri dari sejumlah kecil sel-sel yang tidak sama.
Daun tunggal atau majemuk, biasanya tipis lemas, kadang-kadang juga kaku. Pada tanah atau epifit
dengan rimpang yang merayap atau bangkit, misalnya pada Tr. Teysmannii,Tr. Javanicum,, Tr
Palma tifidium.
- Hymenophyllum. Indusium sampai ± 1/3 panjangnya berkatub dua, tiang pendukung
sporangium sedikit atau muncul sampai jauh diluar indusium. Dinding sporangium terdari dari
banyak sel-sel kecil yang semua sama besar. Daun majemuk dengan taju-taju yang sempit, tipis.
Rimpang merayap. Hymnenophyllum berupa paku tanah atau epifit, contoh H.junghuhnii, H.
australe.
Beberapa jenis hymenophyllaceae yang terdapat diluar daerah tropik dianggap sebagao relik. Yang
fosil belum diketahui dengan pasti, mungkin telah hidup dalam jaman karbon akhir.
Suku Dicksoiniceae. Sorus pada tepi daun dengan indusium yang terdiri dari dua bagian.
Sporangium dengan anulus yang serong. Dalam suku ini termasuk antara lain :
- Dicksonia, sorus bulat atau agak memanjang, dekat tepi daun pada ujung suatu urat,
dengan indusium yang berkatub dua. Paku berbentuk pohon dengan daun majemuk dan uraturat
yang bebas.
D. blumei ; D. antarctica di Australia
- Cibotium, Sorus ± bulat, pada tepi taju-taju daun dengan indusium berkatup dua. Batang
berdiri tegak, kadang-kadang sampai beberapa meter, pada ujung dengan rambut-rambut
berwarna pirang atau kuning keemas-emasan. Daun besar, menyirip ganda 3 sampai 4 atau
berbagai menyirip
- Thyrsopteris Elegans yang terdapat di kepulauan Juan Fernandes.
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (58 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
Suku Cyatheaeae. Sorus mengandung banyak sporangium tidak pada tepi daun melainkan pada
permukaan bawah, bentuk bola. Indusium tidak ada atau jika ada berbentuk bola, piala atau
mangkuk, seringkali amat kecil. Daun tersusun sebagai rozet batang, menyirip ganda. Yang masih
muda tegak atau serong, akhirnya mendatar dan yang telah kering bergantung. Paku tiang, batang
dengan bekas daun yang jelas. Bagian tengah terisi teras dikelilingi oleh bagian yang berkayu.
Bagian yang berkayu mempunyai berkas-berkas pengangkut yang dikelilingi oleh lapisan-lapisan
sklerenkim. Dari suku ini yang terkenal adalah marga :
a. Cyathea (laku tiang). Sorus agak jauh dari tepi daun, yang muda diliputi
indusium berbentuk bola, indusium akhirnya robek, hingga bentuknya menjadi
seperti piala atau cawan. Daun menyirip ganda dua atau tiga.
b. Alsophila, sorus agak jauh dari tepi daun. Indusium tidak ada atau amat
kecil, hingga tak terlihat.
Suku Polypodiaceae. Sorus bentuknya bermacam-macam. Letak sorus pada tepi atau dekat tepi
daun, dapat pula pada urat-urat, berbentuk garis, memanjang, bulat. Sporangium kadang-kadang
sampai menutupi seluruh permukaan bawah daun yang fertil. Sporangium bertangkai dengan anulus
vertikal, tidak sempurna; jika masak, pecah dengan celah melintang. Indusium ada atau tidak,
melekat pada satu sisi saja, kadang-kadang berbentuk ginjal atau perisai dengan tepi rata atau
bertoreh. Rimpang merayap atau berdiri, mempunyai ruas-ruas yang panjang, jarang memperlihatkan
batang yang nyata. Daun bermacam-macam, tunggal atau majemuk, dengan urat-urat yang bebas
atau saling berdekatan. Akar dan daun seringkali bersisik.
Suku ini tidak memberikan kesan adanya keseragaman diantara anggota-anggotanya, dan
mungkin sekali berasal dari bermacam-macam bentuk. Dari sebab itu ada yang menganggap perlu
untuk mengadakan beberapa suku. Wettstein membedakan suku ini dalam beberapa anak suku yaitu:
Anak suku Woodsieae; Contoh Cystopteris, sorus bulat, terketak pada gigir urat-urat daun. Indusium
bulat, melengkung. Daun menyirip ganda dua atau lebih, dengan urat-urat yang bebas. Rimpang
tumbuh tegak denan ruas-ruas pendek.
Anak suku Onocleae; daun fertil berbeda dari yang steril. Contoh : O.Sensibilis di Asia Timur dan
Amerika Utara.
Anak suku Davilleae; sorus dengan indusium berbentuk piala atau sisik pada tepi daun. Dalam anak
suku ini termasuk :
- Davallia; terdapat didaerah Palaeotropis. Sorus bulat atau memanjang, terdapat pada sisi
bawah daun, sepanjang tepi atau dekat dengan tepi daun, terpisah-pisah. Indusium pada
pangkal bentuknya kurang lebih seperti piala dan terbuka pada arah ketepi daun. Daun
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (59 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
menyirip ganda dua atau lebih, urat-urat bebas. Contoh D. Trichomanoides
- Lindsaya; sorus bulat, memanjang atau bangun garis, sepanjang tepi pada sisi bawah daun.
Indusium mempunyai bentuk sorusya, terbuka pada bagian yang menghadap tepi daun. Daun
yang mati tak terlepas dari rimpang, menyirip atau menyirip ganda, gundul. Anak daun
asimetrik. Paku tanah atau epifit.
- Nephrolepis; sorus bulat atau bangun garis, pada sisi bawah daun, sepanjang tepi atau agak
jauh sejajar dengan tapi itu. Indusium sesuai dengan bentuk sorus. Daun yang mati tidak
terlepas dari rimpang, panjang, relatif sempit, menyirip dan sampai lama tetap tumbuh
memanjang, mempunyai hidatoda pada sisi atas daun. Rimpang terdiri tegak dan sering
ditunjang oleh akar-akar, kadang-kadang mengeluarkan cabang-cabang, kadang-kadang
dengan umbi.
Anak suku Oleandreae; Seperti Davalliae, tetapi daun tidak berbagi. Kebanyakan tumbuh di daerah
tropik.
Contoh-contoh :
Oleandra, sorus bulat, terdapat di kanan kiri ibu tulang dekat dengan tulang itu, berderet membujur.
Indusium bentuk ginjal atau memanjang. Rimpang setebal tangkai daun yang tumbuh dari rimpang
itu. Daun tunggal, sempit, bentu lanset, tidak bertoreh, urat-urat berdekatan satu sama lain, bebas.
Rimpang tegak, memanjat atau merayap.
Anak suku Aspidieae; sorus agak bulat dengan indusium yang keluar dari tengah-tengah sorus itu.
Dari anak suku ini yang terpenting ialah marga :
Dryopteris (Aspidium), sorus bulat atau jorong, pada urat-urat sebelah bawah daun, kebanyakan ±
ditengah-tengah urat tadi. Sorus yang muda mempunyai indusium bentuk ginjal, lekas gugur, tidak
sempurna atau sama sekali tidak ada.
Anak suku Asplenieae; sorus di samping pada taju-taju daun, memamjang, mempunyai indusium.
Dari anak suku ini yang terkenal adalah :
q Asplenium; sorus bangun garis atau sempit memanjang, terletak disamping tulang
cabang, serong atau hampir tegak pada ibu tulang. Indusium sesuai dengan sorusnya. Daun
tidak dapat lepas dari rimpang, menyirip, atau menyirip ganda. Urat-urat daun bebas atau
bersambungan dengan tulang tepi. Paku tanah atau epifit. Yang paling umum di Indonesia
ialah A. Nidus (paku sarang) .
q Blechnum; sorus bebentuk garis pada sisi bawah daun, kadang-kadang sepanjang tepi
daun yang fertil, tetapi dapat pula menutupi seluruh sisi bawah kecuali ibu tulang. Ada
indusium, dan jika letak sorus ditepi daun, indusium berasal dari tepi daun itu. Dan tidak
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (60 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
terlepas dari rimpang, berbagai menyirip atau menyirip, jarangu tunggal dan tidak terbagi .
Anak suku Pterideae; sorus sejajar denga tepi daun atau dekat dengan tepi daun atau dekat dengan
tepi daun, ditutup oleh tepi daun itu. Anak suku ini terdiri dari beberap marga diantaranya :
1. Pteridium; sorus pada tepi taju-taju daun, pada suatu urat yang menghubungkan ujungujung
2 urat daun, ditutup oleh tepi daun yang menggulung ke bawah, indusium tidak sempurna
2. Pteris; sorus pada urat tapi, tertutup oleh tepi daun. Daun membagi menyirip oleh tepi
daun. Daun membagi menyirip sampai menyirip ganda, kadang-kadang bercabang menjari atau
berbentuk kaki, tidak terlepas dari rimpang. Kebanyakan paku tanah, misalnya Pteris
ensiformis.
3. Adiantum; sorus bangun ginjal, jorong atau bangun garis, terletak pada tepi daun yang
terlipat kebawah dan berfungsi sebagai indusium menutup sporangium, tetapi kemudian
terdesak ke samping.
Daun majemuk dengan bermacam-macam cara, kerap kali menyirip atau menyirip ganda
sampai beberapa kali dengan urat-urat yang bebas. Rimpang merayap-rayap bangkit atau
tegak. Paku tanah banyak ditanam sebagai tanaman hias, banyak sekali jenisnya.
13.2. Anak Kelas Hydropterides (Paku Air)
Tumbuhan yang tergolong Hydropterides hampir selalu berupa tumbuhan air atau tumbuhan
rawa. Hydropterides memiliki sifat-sifat yang menyimpang dari Filicinae, akan tetapi tidak sukar
untuk menunjukkan adanya hubungan dengan Filicinae.
Ciri-ciri Hydropterides:
Bersifat
heterospora.
Makrosporangium
dan mikrosporangium berdinding tipis.
Tidak
memiliki anulus.
Terdapat
dalam suatu pangkal daun.
Memiliki
sporokarpium yang berdinding tebal dan mula-mula selalu tertutup.
Makrosporangium
menghasilkan makrospora yang akan tumbuh menjadi
makrosporotalium dengan arkegonium.
Mikrosporangium
menghasilkan mikrospora yang tumbuh menjadi
mikrosporotalium dengan anteridium.
Spora
terdiri dari perisporium dengan bentuk susunan yang aneh.
Hydropteridesmemiliki 2 suku, yaitu:
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (61 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
1. Suku Salviniaceae
Mengapung bebas pada permukaan air.
Percabangan sedikit.
Daun berkarang.
Pada tiap buku terdapat 3 daun yang terdiri dari 2 di sebelah atas dan berhadapan
berfungsi sebagai alat pengapung, yang 3 lainnya terdapat di dalam air terbagi-bagi yang
merupakan badan-badan yang bentuk dan fungsinya menyerupai akar-akar.
Sporangium terkumpul pada pangkal daun yang berada dalam air, memiliki 1 sorus
yang berdinding homolog dengan indusium.
Sporokarpium hanya mengandung mikro atau makrospotangium.
Mikrosporangium bulat, tangkai panjang, berisi 64 mikrospora, dibungkus oleh
substansi yang berasal dari periplasmodium, mikrospora yang berkecambah merupakan
suatu mikroprotalium berbentuk buluh pendek, punya dua anteriudium. Protalium
berkembang dalam sporangium, dinding tidak terbuka dan dapat ditembus oleh
mikroprotalium, sehingga spermatozoid bergerak bebas.
Makrosporangium lebih besar, bertangkai pendek, dari 32 sel tetrade hanya 1 yang
menjadi makrospora sempurna, makrospora mengandung butir-butir zat putih telur, tetestetes
minyak dan butir-butir amilum, pada ujungnya terdapat inti plasma yang lebih
kental, dinding makrospora berwarna pirang, tebal, punya selubuing perisporium.
Salviniaceae terdiri atas dua marga (Genus) yaitu:
a). Salvinia
disebut
paku air yang mengapung.
Penyebaran
di Eropa, Asia, Afrika, Amerika Selatan.
Contoh: Salvinia natans
Salvinia minima
Salvinia molesta
Salvinia cucullata
b). Azolla
v Umumnya terdapat di daerah tropika.
v Bentuk kecil, lunak, bercabang-cabang.
v Terapung pada permukaan air.
v Daun di sebelah atas berseling, tersusun dalam dua baris, dan terbelah dua, terapung
dan berguna untuk asimilasi.
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (62 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
v Memiliki Anabaena (termasuk dalam Cyanophyceae) yang berfungsi untuk
mengasimilasi N2 dari udara. Hubungan Anabaena dan Azolla analog dengan hubungan
Leguminosae dan Rhizobium.
v Memiliki akar pada sisi bawah.
v Ada daun yang tenggelam sebagai penyerapan air.
v Ada taju-taju daun yang tenggelam yang berubah menjadi sporokarpium.
v Sporokarpium mengandung satu sorus yang hanya berisi mikro atau
makrosporangiumsaja.
v Punya usaha untuk menjamin terjadinya pembuahan.
v Memiliki masula (gumpalan yang dapat berenang) yang ada kaitnya (glokidium)
dan periplasmodium. Glikodium berfungsi untuk mengait pada makrospora.
Contoh: Azolla pinnata
Sering menutupi sawah-sawah di Asia dan Indonesia.
Azolla caroliniana.
2. Suku Marsiliaceae
Ciri-cirinya:
Ø Hidup di paya-paya atau air dangkal.
Ø Berakar dalam tanah.
Ø Jarang berupa tumbuhan darat sejati.
Ø Berbentuk umbi jika hidup di darat.
Ø Batang berupa rimpang yang merayap, ke atas membentuk daun-daun, ke bawah
membentuk akar.
Ø Daun pada jenis tertentu bersifat polimorf.
Ø Helaian daun berjumlah 4 atau 2, daun muda menggulung.
Ø Sporangium pada pangkal tangkai daun, ada yang bertangkai dan tidak bertangkai,
bentuk ginjal dengan dinding yang kuat dan terkandung makro dan mikrosporangium.
Berdasarkan sifat sporokarpiumnya, Marsiliaceae dibedakan dalam beberapa marga, antara
lain:
a). Marsilea
Ciri-cirinya:
Batang merayap.
Daun bertangkai panjang dengan helaian berbelah 4.
Memiliki sporokarpium berbentuk ginjal pada atas pangkal tangkai daun.
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (63 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
Di dalam sporokarpium terdapat sorus yang terdiri indusium dan mikro dan
makrosporangium.
Sporokarpium yang masuk pecah dengan 2 katup. Contoh: Marsilea crenata
b). Pilularia
Ciri-cirinya:
m Tiap sporokarpium mempunyai 2 – 4 sorus.
m Daun berbentuk ginjal tanpa helaian daun dengan satu sporokarpium pada pangkalnya.
Contoh: Pilularia globulifera.
c). Regnellidium
Ciri-cirinya:
¨ Mikrosporangium dengan 64 mikrospora.
¨ Makrosporangium dengan 1 makrospora.
¨ Daun berbelah dua. Contoh: Regnellidium diphyllum.
Penggolongan Hydropterides sebagai suatu anak kelas tersendiri kebenarannya banyak
diragukan. Ada yang beranggapan Hydropterides hanya merupakan cabang Leptosporangiatae yang
heterospor, yang karena adanya penyesuaian terhadap hidup di air kemudian terpisah
perkembangannya.
Dari semua warga Filicinae, Eusporangeatae telah muncul pada zaman Devon akhir,
Leptosporangiatae baru dalam zaman Karbon, dan Hydroptorides dalam Trias. Dalam zaman purba
Eusporangiatae lebih banyak terdapat dari pada Leptosporangatae, keadaan sekarang adalah
sebaliknya.
BAB XIV
PRIMOFILICES
Nenek moyang Filicinae adalah Psilophytinae. Antara Psilophytinae dengan Filicinae
terdapat suatu jembatan yang merupakan bentuk peralihan, yaitu Primofilices. Yang digolongkan
Primofilices adalah tumbuhan paku dari zaman Palaeozoikum terutama Caenopteridales, mikrofilnya
belum melebar atau sedikit saja melebar merupakan suatu lamina. Peralihan bentuk mikrofil yang
sederhana ke makrofil Filicinae menimbulkan kesangsian apakah Protopteridium yang cabangcabangnya
masih menggarpu tidak tergolong dalam Psilophytinae.
Primofilices bersifat isopor. Sporangium terminal, mempunyai dinding yang berlapis,
bersifat eusporangiat. Filicinae belum merupakan perkembangan terakhir, tetapi Lycopodinae pun
dapat terus berkembang menjadi tumbuhan paku yang berbiji, yaitu Pteridospermae, yang
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (64 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
merupakan peralihan tumbuhan paku ke tumbuhan biji (Spermatophyta).
BAB XV
FITOGRAFI
15.1. KORMUS DAN BAGIAN-BAGIANNYA
Kormus merupakan tumbuhan yang nyata memperlihatkan diferensiasi dalam tiga bagian pokok
yaitu akar (radiks), batang (caulis) dan daun (folium). Ciri ini hanya dimiliki oleh Pteridophyta
(tumbuhan paku) dan Spermatophyta (tumbuhan biji), sehingga keduanya dimasukkan dalam satu
kelompok Cormophyta (tumbuhan kormus).
Pada tumbuhan terdapat bagian yang dipandang sebagai penjelmaan dari salah satu atau mungkin
dua bagian pokok tadi, ch. :
1. Kuncup (gemma), penjelmaan batang dan daun.
2. Bunga (flos), penjelmaan batang dan daun.
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (65 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
3. Duri (spina), penjelmaan dahan maupun daun.
4. Alat-alat pembelit (cirrhus), dapat berasal dari daun atau dari dahan atau cabang.
5. Umbi (tuber), penjelmaan batang.
6. Rimpang (rhizoma), penjelmaan batang beserta daun-daunnya.
7. Umbi lapis (bulbus), penjelmaan batang dan daun.
Selain itu masih dapat ditemukan alat-alat lain yang biasanya lebih kecil atau lebih halus yang
disebut alat tambahan atau alat pelengkap (organa accesoria), ch.:
l Rambut atau bulu (pilus)
l Sisik (lepis)
Lentisel (lenticulus), dll.
Bagian tumbuhan yang berguna untuk mengambil dan mengolah zat hara disebut alat hara (organum
nutritivum), ch. Akar, daun, umbi, piala atau gelembung bagi tumbuh-tumbuhan tertentu untuk
menangkap serangga, dll. Alat-alat tersebut disebut alat-alat pertumbuhan atau alat-alat vegetatif.
Bagian tumbuhan yang bertugas menghasilkan alat perkembangbiakan, disebut alat
perkembangbiakan (organum reproductivum), ch.: bunga, buah, dan biji.
15.2. AKAR (Radix)
Akar biasanya bersifat sebagai berikut :
a. Terdapat dalam tanah, tumbuh kepusat bumi (geotrop) atau ke air (hidrotrop), meninggalkan
udara atau cahaya.
b. Tidak berbuku, tidak beruas dan tidak mendukung daun–daun atau sisik-sisik maupun bagian
lainnya.
c. Warna tidak hijau, biasanya kekuning-kuningan atau keputih-putihan
d. Ujung tumbuh terus, bentuk meruncing.
Fungsi Akar :
a. Memperkuat berdirinya tumbuhan,
b. Menyerap dan mendistribusikan air dan zat-zat makanan.
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (66 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
c. Kadang-kadang sebagai tempat penimbunan makanan.
Akar umumnya dibedakan atas :
a. Leher akar atau pangkal akar (collum); bersambungan dengan pangkal batang,
b. Ujung akar (apex radicis); bagian akar paling muda
c. Batang akar (corpus radicis); terdapat antara leher akar dan ujungnya
d. Cabang-cabang akar (radix lateralis); tidak bersambungan dengan pangkal batang; keluar
dari akar pokok; dapat mengadakan percabangan lagi.
e. Serabut akar (fibrilla radicalis); cabang-cabang akar yang halus bentuk serabut.
f. Rambut-rambut akar atau bulu-bulu akar (pillus radikalis); merupakan penonjolan sel-sel
kulit luar akar yang panjang.
g. Tudung akar (calyptra); bagian akar paling ujung, berguna untuk melindungi ujung akar
yang masih muda dan lemah.
Calon akar dalam lembaga disebut akar lembaga (radicula)
Berdasarkan perkembangan akar lembaga terdapat dua sistem perakaran :
a. Sistem akar tunggang; akar lembaga tumbuh menjadi akar pokok. Akar tunggang ( radix
primaria) adalah akar pokok yang berasal dari akar lembaga.
b. Sistem akar serabut; akar lembaga mati kemudian muncul akar-akar yang sama besar dari
pangkal batang. Akar serabut (radix adventicia) dinamakan akar liar, bentuknya seperti
serabut.
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (67 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
Gbr 1. a. Akar tunggang b. Akar serabut
Berdasarkan percabangan dan bentuknya, akar tunggang dapat dibedakan atas :
a. Tidak atau sedikit bercabang sebagai tempat penimbunan makanan, bentuknya berupa :
1. Berbentuk seperti tombak (fungiformis), ch. akar lobak (Raphanus sativus L), wortel
(Daucus carota I.). Akar ini dinamakan juga akar tombak atau akar pena.
2. Berbentuk gasing (napiformis), pangkal akar besar membulat, ch. bengkuang
(Pachyrrhizus erosus Urb.), biet (Beta vulgaris L.). Dinamakan juga akar gasing.
3. Berbentuk benang (filiformis), jika akar tunggang kecil panjang seperti akar serabut,
ch. pada kratok (Phaseolus lunatus L).
b. Akar tunggang yang bercabang (ramosus), biasanya terdapat pada pohon-pohon umumnya
yang ditanam dari biji.
Pada sistem akar serabut terdapat beberapa bentuk sebagai berikut :
1. Akar serabut kecil-kecil berbentuk benang, ch. padi (Oryza sativa L. ),
2. Akar serabut keras dan besar seperti tambang, ch. kelapa (Cocos nucifera L.),
3. Akar serabut besar-besar, ch. pandan (Pandanus tectorius Sol.).
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (68 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
Gbr 2. a. Akar tombak b. Akar gasing
Akar yang mempunyai sifat dan tugas khusus :
1. Akar udara atau akar gantung (radix aereus); Akar ini keluar dari bagian-bagian di atas
tanah, menggantung di udara dan tumbuh ke arah tanah, bertugas membantu penyerapan air dan
udara, contohnya akar anggrek kala jengking (Arahnis flosaeris), setelah mencapai tanah
kemudian berkelakuan sepeti akar biasa dan bagian yang di atas tanah berubah menjadi batang,
contohnya pada beringin (Ficus benyamina L.).
2. Akar penggerek atau akar penghisap (haustorium); yaitu akar-akar yang terdapat pada
tumbuhan yang hidup sebagai parasit dan berguna untuk menyerap air maupun zat makanan dari
inangnya, contohnya pada benalu (Loranthus). Dapat juga merupakan akar-akar yang pendek
yang melekat pada tuan rumahnya tetapi juga menghisap air dan zat makanan, contohnya pada
endak-endak cacing (Cuscutha australia L.).
3. Akar pelekat (radix adligans); yaitu akar-akar yang keluar dari buku-buku batang memanjat
dan berguna untuk menempel pada penunjangnya saja, misalnya pada lada (Piper nigrum L.),
sirih (Piper betle L.).
4. Akar pembelit (cirrhus radicalis); juga untuk memanjat tetapi dengan memeluk penopangnya,
misalnya pada vanili (Vanila planifolia Andr.).
5. Akar nafas (pneumatophora); yaitu cabang-cabang akar yang tumbuh tegak lurus ke atas
hingga muncul dari permukaan tanah atau air tempat tumbuhnya. Akar ini mempunyai liangliang
tempat masuknya udara, contohnya pada bogem (Sonneratia) dan kayu api (Avicennia).
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (69 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
6. Akar tunjang atau akar enggrang; yaitu akar-akar yang tumbuh dari bagian bawah batang ke
segala arah dan seakan-akan menunjang batang agar tidak rebah. Akar ini juga berfungsi untuk
mengambil oksigen dari udara. Contohnya pada pandan (Pandanus tectorius Sol.) dan bakau
(Rhizophora conjugata L.).
7. Akar lutut; yaitu akar yang tumbuh ke atas kemudian membengkok lagi masuk ke dalam
tanah sehingga nampak seperti lutut yang dibengkokkan. Akar ini berguna sebagai alat bantu
pernafasan, contohnya pada Bruguiera parvifolia W. et A.).
8. Akar banir; yaitu akar berbentuk seperti papan untuk memperkokoh berdirinya batang pohon
yang tinggi besar, contohnya pada sukun (Artocarpus communis G. Forst.), kenari (Canarium
commune L.).
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (70 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
Gambar 3. Jenis-jenis akar
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
15.3. BATANG (CAULIS)
Sifat-Sifat Batang :
a. Umumnya berbentuk bulat seperti silinder, bersifat aktinomorf
b. Terdiri atas ruas – ruas dibatasi oleh buku- buku dan pada buku ini terdapat daun.
c. Tumbuh keatas menuju cahaya matahari ( bersifat fototrop atau heliotrop).
d. Biasanya pertumbuhannya tidak terbatas.
e. Kebanyakan memiliki percabangan.
Tugas – Tugas Batang
a. Mendukung bagian tumbuhan diatasnya yaitu daun, bunga dan buah.
b. Memperluas bidang asimilasi.
c. Jalan pengangkutan air dan zat- zat makanan dari bawah keatas dan jalan
pengangkutan hasil- hasil asimilasi dari atas kebawah.
d. Tempat penimbunan zat – zat makanan cadangan.
Berdasarkan ada tidaknya batang, tumbuhan dibedakan menjadi:
a. Tumbuhan yang tidak berbatang (planta acaulis).
Tumbuhan tidak mempunyai batang sesungguhnya, karena batang amat pendek, semua daun
tersusun rapat merupakan satu roset, ch. Sawi (Brassica juncea).
b. Tumbuhan Yang Jelas Berbatang dibedakan atas :
¨ Batang basah (herbaceus); batang lunak dan berair, ch. bayam (Amaranthus sp).
¨ Batang berkayu (lignosus) yaitu batang keras dan kuat karena terdiri atas kayu, ch.
pohon (arbores) dan semak (frutices).
¨ Batang Rumput( calmus) yaitu batang tidak keras, mempunyai ruas- ruas yang
nyata dan sering kali berongga. ch. padi (Oryza sativa).
¨ Batang mendong (calamus) seperti batang rumput tetapi mempunyai ruas- ruas
yang lebih panjang ch. tumbuhan sebangsa teki (Cyperaceae).
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (71 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
Morfologi Batang
1. Dilihat dari segi bentuk penampang melintangnya batang dibedakan menjadi: :
a. Bulat (teres), ch. Bambusa sp, Cocos nucifera L.
b. Bersegi (angularis) dibedakan atas :
¨ Bangun segi tiga (Triangularis). ch. rumput teki (Cyperus rotundus)
¨ Segi empat (quadrangularis), ch Markisa (Passiflora quadrangularis).
c. Pipih dan biasanya lalu melebar menyerupai daun dan mengambil alih tugas daun. Dibedakan
menjadi :
¨ Filokladia (phyllocladium), jika amat pipih dan mempunyai pertumbuhan yang
terbatas, ch. jakang (Muehlenbeckia platyklada).
¨ Kladodia (kladodium), jika masih tumbuh terus dan mengadakan percabangan,
ch. kaktus (Opuntia vulgaris Mill).
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (72 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
Gbr 4. a. Filokladia b. Kladodia
2. Permukaan batang dapat dibedakan menjadi :
a. Licin (laevis) ch. Jagung (Zea mays L).
b. Berusuk (costatus ), jika pada permukaanya terdapat rigi- rigi yang membujur. ch. Iler
(Coleus scutellariodes)
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
c. Beralur (sulkatus), biasanya batangnya bersegi tetapi pada sudut – sudutnya terdapat
pelebaran yang tipis. ch. Ubi (Dioscorea alata).
Permukaan batang dapat dibedakan pula menjadi:
a. Berambut (pilosus), ch. Nicotiana tabacum
b. Berduri (spinosus), ch. Mawar (Rosa sp).
c. Memperlihatkan bekas – bekas daun, ch Pepaya (Carica papaya).
d. Memperlihatkan bekas- bekas daun penumpu, ch. Nangka (Arthocarpus integra).
e. Memperlihatkan banyak lentisel, ch. Sengon (Albizzia stipulata).
f. Keadaan- keadaan lain, ch. lepasnya kerak pada Psidium guajava
3. Berdasarkan arah tumbuh batang, maka batang dibedakan menjadi:
a. Tegak lurus (erectus), jika arahnya lurus keatas ch, Carica papaya.
b. Menggantung (dependens, pendulus), jenis- jenis tumbuhan epifit, ch.
anggrek (Orchidaceae).
c. Berbaring (humifisus), jika batang terletak pada permukaan tanah, ch.
semangka Citrullus vulgaris.
e. Menjalar atau merayap (repens), batang berbaring tetapi dari buku- bukunya keluar
akar- akar, ch. ubi jalar (Ipomea batatas).
f. Serong keatas atau condong (ascendens), pangkal batang seperti hendak berbaring
tetapi jalannya membelok keatas, ch. kacang tanah (Arachis hipogea).
g. Mengangguk (nutans); batang tumbuh tegak lurus keatas tetapi ujungnya lalu
membengkok kebawah, ch. Helianthus annus.
h. Memanjat (scandens); batang tumbuh keatas dengan menggunakan penunjang.
i. Membelit (volubillis); batang naik keatas, tetapi tidak menggunakan alat- alat khusus
dan dibedakan menjadi :
- membelit kekiri ch. Clitorian ternatea
- membelit kekanan, ch. Dioscorea hispida Dennst.
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (73 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
Gbr 5. a. Cabang Pembelit
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (74 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
b. Daun Pembelit
c. Tangkai Daun Pembelit
4. Percabangan Batang
Percabangan batang dibedakan atas :
1. Percabangan Monopodial yaitu batang selalu tampak jelas, karena
lebih besar dan lebih panjang, ch. cemara (Casuarina equisetifolia L).
2. Simpodial batang pokok sukar ditentukan, ch. sawo manila (Achras zapota L).
3. Percabangan menggarpu atau dikotom, yaitu setiap kali bercabang terjadi dua cabang yang
sama besarnya.Ch. paku endam (Gleichenia linearis Clarke).
Cabang besar yang biasanya langsung keluar dari batang pokokn disebut dahan (ramus) sedang
cabang – cabang yang kecil dinamakan ranting (ramulus).
Gambar 6. Percabangan batang
5. Cabang dapat dibedakan menjadi :
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
a. Geragih (flagellum, stolo) yaitu cabang – cabang yang tumbuh merayap dan dari buku –
bukunya keatas keluar tunas baru dan kebawah tumbuh akar- akar. Cabang ini dibedakan lagi
menjadi :
- merayap diatas tanah, ch. pada daun kaki kuda (Centella asiatica)
- merayap didalam tanah, ch. teki (Cyperus rotundus).
b. Wiwilan atau tunas air (Virga singularis)yaitu cabang yang biasanya tumbuh cepat dengan
ruas – ruas yang panjang dan seringkali berasal dari kuncup yang tidur atau kuncup-kuncup
liar, ch. kopi (Coffea sp).
c. Sirung panjang (Virga) yaitu cabang – cabang yang biasanya merupakan pendukung daun –
daun dan mempunyai ruas- ruas yang cukup panjang. Cabang ini mandul (steril).
d. Sirung Pendek (virgula atau virgulla sucrescens),cabang- cabang kecil dengan ruas- ruas yang
pendek yang selain pendukung daun juga pendukung bunga dan buah, cabang ini biasanya
subur (fertil).
6. Arah tumbuh cabang dibedakan sebagai berikut:
a. Tegak (fastigiatus) yaitu jika sudut antara batang dengan cabang amat kecil
sehingga arah tumbuh cabang hanya pada pangkalnya saja, ch. Coffea sp.
b. Condong keatas (patens) jika cabang dengan batang pokok membentuk sudut kurang
lebih 450, ch. pohon cemara (Casuarina equasetifolia).
c. Mendatar (horizontalis) cabang dgn batang membentuk sudut 900, ch.Ceiba petandra.
d. Terkulai (declinatus), jika cabang pada pangkalnya mendatar tetapi lalu ujungnya
melengkung kebawah, ch. Coffea robusta.
e. Bergantung (pendulus)yaitu cabang – cabang yang tumbuhnya kebawah ch. cabang –
cabang tertentu pada Salix sp.
7. Berdasarkan Panjang atau pendeknya umur dari suatu tumbuhan maka
tumbuhan dibedakan menjadi:
a. Tumbuhan annual (anuus) yaitu tumbuhan yang umurnya pendek, umurnya
kurang dari satu tahun sudah mati, ch. tumbuhan palawija.
b. Tumbuhan bienial (biennis) yaitu tumbuhan tumbuh sampai menghasilkan biji
(keturunan baru) memerlukan waktu dua tahun, ch. biet (Beta vulgaris L).
c. Tumbuhan menahun atau tumbuhan keras yaitu tumbuhan dapat mencapai umur
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (75 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
sampai puluhan atau ratusan tahun, ch. golongan semak, perdu atau pohon.
Gambar 7. Penggolongan tanaman berdasarkan umur
15.4. DAUN (Folium)
Bagian tempat melekatnya daun, dinamakan buku-buku (nodus) batang. Dan tempat di atas daun
yang merupakan sudut antara batang daun dinamakan ketiak daun (axilla). Daun biasanya tipis
melebar, kaya akan suatu zat warna hijau yang dinamakan klorofil, oleh karena itu, daun biasanya
berwarna hijau.
Fungsi daun bagi tumbuh-tumbuhan, yaitu sebagai alat untuk:
1. Mengambil zat-zat makanan (resorbsi), terutama yang berupa gas (CO2).
2. Mengolah zat-zat makanan (assimilasi)
3. Menguapkan air (transpirasi)
4. Bernafas (respirasi)
Tumbuhan mengambil zat-zat makanan dari lingkungannya. Air beserta garam-garam diambil dari
tanah oleh akar, sedangkan gas CO2 diambil dari udara melalui mulut daun (stoma). Zat-zat tersebut
diolah menjadi zat organik. Pengolahan zat anorganik menjadi zat organic ini dilakukan oleh daun
(sesungguhnya zat hijau daun atau klorofilnya) dengan bantuan sinar matahari. Proses ini disebut
dengan assimilasi
Bagian- bagian Daun
Daun yang lengkap mempunyai bagian-bagian berikut:
1. Upih daun atau pelepah daun (vagina),
2. Tangkai daun (petiolus),
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (76 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
3. Helaian daun (lamina).
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (77 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
GGG
Gambar 8. Daun tunggal Gambar 9. Daun berpelepah
Tumbuhan yang memiliki daun lengkap tidak banyak jenisnya, ch. pisang (Musa paradisiaca L.),
pinang (Areca catechu L.), bambu (Bambusa sp), dll. Kebanyakan tumbuhan memiliki daun yang
kehilangan satu atau dua bagian dari tiga bagian tersebut. Daun yang demikian dinamakan daun
tidak lengkap.
Susunan daun yang tidak lengkap ada beberapa kemungkinan:
1. Hanya terdiri atas tangkai dan helaian saja; disebut daun bertangkai.
Ch.: nangka (Artocarpus integra), mangga (Mangifera indica), dll.
2. Daun terdiri atas upih dan helaian, disebut daun berupih atau daun berpelepah. Ch.:
padi (Oryza sativa), jagung (Zea mays), dll.
3. Daun yang terdiri atas helaian saja, tanpa upih dan tangkai, helaian langsung duduk
atau melekat pada batang. Daun demikian dinamakan daun duduk (sessilis), seperti pada
biduri (Calotropis gigantea). Daun duduk dapat mempunyai pangkal yang demikian lebarnya
seakan-akan melingkari batang atau memeluk batang, oleh sebab itu dinamakan daun
memeluk batang (amplexi caulis) ch. pada tempuyung (Sonchus oleraceus). Bagian daun
yang memeluk batang itu seringkali bangunnya membulat dan disebut telinga daun.
4. Daun hanya terdiri atas tangkai saja, tangkai tadi biasanya lalu menjadi pipih
menyerupai helaian daun semu atau palsu, dinamakan: filodia, seperti terdapat pada berbagai
jenis pohon Acacia yang berasal dari Australia, ch.: Acacia auriculiformis.
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (78 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
Daun lengkap Daun tidak lengkap Filodia
Gambar 10. Tipe-tipe daun
Alat-alat tambahan atau pelengkap pada daun :
1. Daun penumpu (stipula), berupa dua helai lembaran daun yang kecil, terdapat dekat
pangkal tangkai daun berguna untuk melindungi kuncup yang masih muda. Pada kacang kapri
(Pisum sativum) daun penumpu itu besar dan lebar. Pada pohon nangka (Artocarpus integra)
daun penumpunya mudah gugur, tetapi pada mawar (Rosa sp) tinggal lama dan baru gugur
bersama-sama daunnya.
Menurut letaknya, daun penumpu dapat dibedakan atas:
q Daun penumpu yang bebas (stipulae liberae), terdapat di kanan kiri pangkal tangkai
daun, ch. pada kacang tanah (Arachis hypogaea).
q Daun penumpu yang melekat pada kanan kiri pangkal tangkai daun (stipulae
adnatae) ch. pada mawar (Rosa sp).
q Daun penumpu yang berlekatan menjadi satu dan terdapat di dalam ketiak daun
(stipula axillaries atau stipula intrapetiolaris).
q Daun penumpu yang berlekatan menjadi satu terdapat berhadapan dengan tangkai
daun dan biasanya agak lebar hingga melingkari batang (stipula petiolo opposite atau
stipula antidroma).
q Daun penumpu yang berlekatan dan terdapat diantara dua tangkai daun seperti pada
tumbuhan yang pada buku-buku batangnya mempunyai dua daun yang duduk
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
berhadapan, ch. pada mengkudu (Morinda citrifolia). Daun penumpu yang demikian
dinamakan daun penumpu antar tangkai (stipula interpetiolaris)
2. Selaput bumbung (ochrea atau ocrea), berupa selaput tipis yang menyelubungi pangkal
suatu ruas batang, jadi terdapat di atas suatu tangkai daun. Selaput bumbung dianggap sebagai
daun penumpu yang kedua, sisinya saling berlekatan dan melingkari batang, terdapat pada
Polygonom sp.
3. Lidah-lidah (ligula), suatu selaput kecil yang biasanya terdapat pada batas upih
dan helaian daun pada rumput (Graminae). Alat ini berguna untuk mencegah
mengalirnya air hujan kedalam ketiak antara batang dan upih daun, sehingga
kemungkinan pembusukkan dapat dihindarkan.
Upih Daun atau Pelepah Daun (vagina)
Daun yang berupih umumnya terdapat pada tumbuhan yang tergolong tumbuhan berbiji
tunggal (Monocotyledoneae), antara lain suku rumputan (Graminae), suku empon-empon
(Zingiberaceae), pisang (Musa sapientum), golongan Palma (Palmae), dll. Selain untuk melekat
pada batang dan memeluk batang, upih daun juga berfungsi sebagai:
· Sebagai pelindung kuncup yang masih muda, ch. pada tanaman tebu (Saccharum
officinarum).
· Memberi kekuatan pada batang tanaman. Upih daun semuanya membungkus batang,
sehingga batang tidak tampak, ch. pada pisang (Musa paradisiacal). Batang yang tampak pada
pisang bukanlah batang tanaman yang sebenarnya melainkan batang semu
Tangkai Daun (Petiolus)
Umumnya tangkai daun berbentuk silinder dengan sisi atas agak pipih dan menebal pada
pangkalnya. Berdasarkan penampang melintangnya dapat dijumpai hal-hal berikut:
v Bulat dan berongga, ch. tangkai daun papaya (Carica papaya)
v Pipih dan tepinya melebar (bersayap), ch. pada jeruk (Citrus sp)
v Bersegi, ch. pada Cyperus sp.
v Setengah lingkaran dan seringkali sisi atasnya beralur dangkal atau beralur dalam seperti
pada tangkai daun pisang.
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (79 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
Adapula tangkai daun yang menebal pada pangkal dan ujungnya, ch. pada daun pohon kupu-kupu
(Bauhinia purpurea). Bila dilihat permukaannya, tangkai daun ada yang memperlihatkan kerutankerutan,
sisik-sisik, rambut-rambut, lenti sel, dll.
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (80 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
Gambar 11. a. Stipula adnate pada Rosa sp b. Stipula yang melebar pada Pisum sativum c. Stipula
axillaris d. Stipula antidroma e. Stipula interpetiolaris
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (81 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
Gbr 12. Selaput bumbung pada Ficus sp Gbr 13. Tangkai daun yang menebal dipangkal
dan di ujung pada Bauhinia purpurea
Helaian Daun (lamina)
Sifat-sifat daun yang perlu diperhatikan yaitu:
1. bangun helaiannya (circumscriptio)
2. ujungnya (apeks)
3. pangkalnya (basis)
4. susunan tulang-tulangnya (nervatio atau venatio)
5. tepinya (margo)
6. daging daunnya (intervenium), dan sifat-sifat lain lagi, ch. keadaan permukaan atas
maupun bawahnya (gundul, berambut atau lainnya), warna dll.
Bentuk (helai) daun (circumscripto).
1. Bulat atau bundar (orbicularis); panjang : lebar = 1 : 1, contohnya pada teratai besar
(Nelumbium nelumbo Druce).
2. Perisai (peltatus); contohnya pada daun jarak (Ricinus communis).
3. Jorong (ovalis atau ellipticus); panjang : lebar = 1 ½ – 2 : 1, contohnya daun nangka
(Artocarpus integra Merr.) dan nyamplung (Calophyllum inophyllum L.).
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
4. Memanjang (oblongus); panjang : lebar = 2 ½ – 3 : 1, contohnya daun srikaya (Annona
squamosa L.) dan sirsak (Annona muricata L.).
5. Lanset (lanceolatus); panjang : lebar = 3 – 5 : 1, contohnya daun kamboja (Plumiera
acuminata Ait.). oleander (Nerium oleander L.).
6. Bulat telur (ovatus); contohnya daun kembang sepatu (Hibiscus rosa-sinensis L.).
7. Segitiga (triangularis); segitiga sama kaki, ch. bunga pukul empat (Mirabilis jalapa L.).
8. Delta (deltoides); segitiga sama sisi, contohnya daun air mata pengantin (Antigonon leptopus
Hook. Et Arn).
9. Belah ketupat (rhomboideus); contohnya anak daun bengkuwang.
10. Jantung (cordatus); contohnya daun waru (Hibiscus tiliaceus L.).
11. Ginjal (reniformis); contohnya daun pegagan (Centella asiatica Urb.).
12. Anak panah (sagittatus); contohnya daun eceng (Sagittaria sagittifolia L.).tombak (hastatus);
contohnya daun wewehan (Monochoria hastata Solms).
13. Bertelinga (auriculatus); contohnya daun tempuyung (Sonchus asper Vill.).
14. Bulat telur sungsang (obovatus); contohnya daun sawo kecik (Manilkara kauki Dub.).
15. Jantung sungsang (obcordatus); misalnya daun sidaguri (Sida retusa L.).
16. Segitiga terbalik atau pasak (cuneatus); ch. anak daun semanggi (Marsilea crenata).
17. Garis (linearis); contohnya daun-daun rumput gramineae.
18. Pita (ligulatus); contohnya daun jagung (Zea mays L.).
19. Pedang (ensiformis); contohnya daun nenas seberang (Agave sisalana Per.).
20. Paku atau dabus (subulatus); contohnya daun Araucaaria cunninghamii Ait.).
21. Jarum (acerosus); contohnya daun pinus (Pinus merkusii Jungh. & De Vr.).
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (82 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
Gambar 14. Bentuk-bentuk daun
Ujung Daun (Apex Folii)
1. Runcing (acutus); kedua tepi kanan dan kiri ibu tulang daun bertemu dengan membentuk
sudut lancip, contohnya pada daun olenader (Nerium olender L.)
2. Meruncing (acuminatus); seperti pada ujung runcing tetapi titik pertemuan lebih ke depan
lagi, contohnya daun sirsak (Annona muricata L.)
3. Tumpul (obtusus); contohnya pada sawo kecik (Manilkara kauki Dub.)
4. Membulat (rotundatus); ujung daun membentuk semacam busur, contohnya daun kaki kuda
(Centella asiatica Urb.), daun teratai besar (Nelumbium nelumbo Druce).
5. Rompang (truncatus); ujung daun membentuk garis rata, contohnya anak daun se manggi
(Marsilea crenata Presl.), daun jambu monyet (Anacardium occidentale L.).
6. Terbelah (retusus); ujung daun membentuk lekukan, ch. daun sidaguri (Sida retusa L.)
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (83 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
7. Berduri (mucronatus); ujung daun merupakan suatu duri, contohnya daun nenas seberang
(Agave sp).
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (84 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
Gambar 15. a. Runcing b. Meruncing c. Tumpul d. Membulat e. Rompang
f. Terbelah g. Berduri
Pangkal Daun (Basis Folii)
1. Runcing (acutus); biasanya terdapat pada daun memanjang, lanset, dll.
2. Meruncing (acuminatus); biasanya pada daun bulat telur sungsang atau bentuk sudip.
3. Tumpul (obtusus); biasanya pada daun bentuk bulat telur, jorong.
4. Membulat (rotundatus); pada daun bangun bulat telur, jorong.
5. Rompang (truncatus); terdapat pada daun bangun segitiga, delta, dan tombak.
6. Berlekuk (emarginatus); terdapat pada daun bangun jantung, ginjal, dan anak panah.
Gambar 16. Basal daun a. Runcing b. Meruncing c. Tumpul d. Membulat
e. Rompang/Rata f. Berlekuk
Berdasarkan susunan tulangnya daun dapat dibedakan atas :
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
1. Daun bertulang menyirip (penninervis), umum terdapat pada golongan Dicotyledon.
2. Daun bertulang menjari (palminervis), contohnya daun pepaya (Carica papaya L.), jarak
(Ricinus communis L.), kapas (Gossypium sp).
3. Daun bertulang melengkung (cervinervis), umumnya terdapat pada tumbuhan golongan
Monocotyledoneae contohnya genjer (Limnocharis flava Buch.), gadung (Dioscorea hispida
Dennst.).
4. Daun bertulang sejajar atau lurus (rectinervis), umumnya terdapat pada golongan rumput
(Gramineae), teki (Cyperaceae).
Gbr 17. Pertulangan daun
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (85 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
Gbr 18. Tipe-tipe pertulangan daun
Tepi Daun (Margo Folii)
Secara garis besar tepi daun dapat di bagi menjadi dua macam, yaitu:
1. Integer (rata), ch. pada daun Nangka (Artocarpus integra Merr.)
2. Divisus (bertoreh), dapat dibedakan menjadi dua golongan:
a. Toreh-toreh yang tidak mempengaruhi atau mengubah bagun asli daun
Toreh biasanya tak seberapa dalam, letaknya tidak bergantung pada jalannya tulang-tulang daun,
disebut toreh yang merdeka. Torehnya sendiri dinamai “sinus” untuk dan “angulus” untuk bagian
tepi daun yang menonjol keluar.
Tepi Daun Dengan Toreh Yang Merdeka
Toreh amat dangkal dan kurang jelas, sehingga sukar untuk dikenal, terbagi atas :
1. Serratus (bergerigi), jika sinus dan angulus sama lancipnya, ch. Lantana camara L.
2. Biserratus ( bergerigi ganda atau rangkap), angulus cukup besar, dan tepinya bergerigi lagi.
3. Dentatus (bergigi), sinus tumpul dan angulus lancip, ch. daun beluntas (Pluchea indica ).
4. Crenatus (beringgit), sinus tajam angulus tumpul, ch. cocor bebek (Kalanchoe pinnata ).
5. Repandus (berombak), jika sinus dan angulusnya sama-sama tumpul, ch. daun air mata
pengantin (Antigonon leptopus Hook et Arn.).
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (86 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
Gambar 19. Tepi daun
b. Tepi Daun Dengan Toreh-Toreh Yang Mempengaruhi Bentuknya
Berdasarkan dalamnya toreh dibedakan atas :
1. Lobatus (berlekuk), yaitu jika dalamnya toreh kurang daripada setengah panjangnya tulangBAHAN
AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
tulang yang terdapat dikanan kirinya.
2. Fissus (bercangap), jika dalamnya toreh kurang lebih sampai ditengah panjang tulang-tulang
daun di kanan-kirinya.
3. Partitus (berbagi), jika dalamnya toreh melebihi setengah penjangnya tulang-tulang daun di
kanan kirinya.
Sebutan untuk mencandra tepi daun yang bertoreh dalam dan besar ini merupakan kombinasi
antara sifat toreh dengan susunan tulang daunnya, sehingga diberi istilah sbb :
1. Pinnatilobus (berlekuki menyirip), tepi berlekuk mengikuti susunan tulang daun yang
menyirip, ch. pada daun terong (Solanum melongena L.).
2. Pinnatifidus (bercanggap menyirip), tepi bercangap, sedang daunnya mempunyai susunan
tulang yang menyirip, ch. daun keluwih (Artocarpus communis Forst.)
3. Pinnatipartitus (berbagi menyirip), tepi berbagi dengan susunan tulang yang menyirip, ch.
daun kenikir (Cosmos caudatus M. B. K. ) dan sukun (Artocarpus communis Forst.)
4. Palmatilobus (berlekuk menjari), tepi berlekuk , susunan tulang daun menjari, ch. daun jarak
pagar (Jatropa curcas L.), kapas (Gossypium sp.).
5. Palmatifidus (bercangap menjari), jika tepinya bercanggap, sedang susunan tulangnya menjari,
ch. daun jarak (Ricinus communis L.).
6. Palmatipartitus (berbagi menjari), jika tepi berbagi, sedang daunnya mempunyai susunan
tulang yang menjari, ch. daun ketela pohon (Manihot utilissima Pohl.).
Permukaan Daun.
a. Licin (laevis), permukaan daun dapat terlihat :
- mengkilat (nitidus), ch. sisi atas daun kopi (Coffea robusta Lindl.), beringin (Ficus
benjamina L.),
- suram (opacus), ch. daun ketela rambat (Ipomoea batatas Poir.),
- berselaput lilin (pruinosus), ch. sisi bawah daun pisang (Musa paradisiaca L.), daun tasbih
(Canna hybrida Hort.),
b. Gundul (glaber), ch. daun jambu air (Eugenia aquea Burm.).
c. Kasap (scaber), ch. daun jati (Tectona grandis L.)
d. Berkerut (rugosus), ch. daun jarong (Stachytarpheta jamaicensis Vahl.), jambu biji (Psidium
guajava L.).
e. Berbingkul-bingkul (bullatus), seperti berkerut , tetapi kerutannya lebih besar ch. daun air
mata pengantin (Antigonon leptopus Hook et Arn.)
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (87 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
f. Berbulu (pilosus), jika bulu halus dan jarang-jarang , ch. daun tembakau (Nicotiana tobacum
G. Don.)
g. Berbulu halus dan rapat (villosus), berbulu sedemikian rupa, sehingga jika diraba terasa seperti
laken atau beludru.
h. Berbulu kasar (hispidus), jika rambut kaku dan jika diraba terasa kasar, ch. daun gadung
(Dioscorea hispida Dennst.)
i. Bersisik (lepidus), seperti ch. sisi bawah daun durian (Durio zibethinus Murr.).
Daun majemuk (Folium compositum)
- Jika pada tangkai daunnya hanya terdapat satu helaian daun saja dinamakan daun tunggal
(folium complex)
- Jika tangkainya bercabang-cabang, dan pada tangkai cabang ini terdapat helaian daun, disebut
daun majemuk (Folium compositum)
Suatu daun majemuk dapat dipandang berasal dari satu daun tunggal, yang torehnya
sedemikian dalamnya, sehinnga bagian daun diantara toreh-toreh itu terpisah satu sama lain, dan
masing-masing merupakan satu helaian tersendiri.
Pada suatu daun majemuk dapat kita bedakan bagian-bagian berikut:
a. ibu tangkai daun (petiolus communis), bagian daun majemuk yang menjadi tempat duduknya
helaian-helaian daun, yang masing-masing dinamakan anak daun (foliolum). Ibu tangkai
daun ini dapat dipandang merupakan penjelmaan tangkai daun tunggal ditambah dengan ibu
tulangnya. Oleh sebab itu kuncup ketiak pada daun majemuk, letaknya diatas pangkal ibu
tangkai pada batang.
b. Tangkai anak daun (petiololus), yaitu cabang-cabang ibu tangkai yang mendukung anak
daun. Bagian ini dapat dianggap sebagai penjelmaan pangkal suatu tulang cabang pada daun
tunggal, oleh sebab itu didalam ketiaknya tidak pernah terdapat suatu kuncup
c. Anak daun (Foliolum). Bagian ini sesungguhnya adalah bagian-bagian helaian daun yang
karena dalam dan besarnya toreh menjadi terpisah-pisah.
d. upih daun (vagina), yaitu bagian dibawah ibu tangkai yang lebar dan biasanya
memeluk batang, seperti dapat kita lihat pada daun pinang (Areca catecu L).
¨ Pada daun majemuk semua anak daun terjadi bersama dan runtuh bersama pula.
¨ Pada daun majemuk terdapat pertumbuhan yang terbatas, artinya tidak bertambah panjang
lagi dan ujungnya tidak mempunyai kuncup.
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (88 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
¨ Pada daun majemuk tak akan terdapat kuncup dalam ketiak anak daun.
Ada hal-hal yang jika kurang seksama pemeriksaanya dapat menyesatkan. ch.:
a. Pada pohon cerme (Phyllanthus acidus Skeels) dan belimbing wuluh (Averhoa belimbi L).
Kedua pohon ini mempunyai daun majemuk, tetapi daun majemuk ini sampai agak lama masih
memperlihatkan pertumbuhan memanjang, sehinnga anak daunnya mempunyai umur yang
berbeda, oleh karena itu juga tidak luruh berbarengan. Kita sering melihat anak daun pada
pangkal ibu tangkai sudah runtuh,sedang pada ujungnya masih ada anak daun yang kelihatan
segar.
b. Pada tumbuhan meniran (Phyllanthus niruri L) dan katu (Sauropus androgynus Merr)
terdapat cabang-cabang dengan daun tunggal yang berseling yang tumbuh mendatar dari batang
pokok dan terbatas pertumbuhannya (tidak bertambah panjang lagi) . Cabang-cabang berdaun ini
bukan daun majemuk karena dari ketiak-ketiaknya pada waktu-waktu tertentu akan tampak
keluar bunga yang kemudian jadi buah pula.
Menurut susunan anak daun pada ibu tangkainya, daun majemuk dapat dibedakan
dalam dua golongan, yaitu:
1. Daun majemuk menyirip (pinnatus)
2. Daun majemuk menjari (palmatus)
3. Daun majemuk bangun kaki (pedatus)
4. Daun majemuk campuran (digitato pinnatus)
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (89 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
Gambar 20. Tipe-tipe daun majemuk Gambar 21. Daun majemuk
beranak daun satu pada Citrus sp
Daun majemuk menyirip
Daun majemuk menyirip dapat dibedakan dalam beberapa macam:
a. Daun majemuk menyirip beranak daun satu (unifoliolatus). Daun ini terlihat sebagai
daun tunggal, tetapi tangkai daun memperlihatkan suatu persendian (articulatio), jadi helaian
daun tidak langsung terdapat pada ibu tangkai. Sesungguhnya pada daun ini juga terdapat lebih
dari satu helaian daun, hanya saja yang lain-lainya telah tereduksi, sehingga tinggal satu anak
daun saja. Daun demikian ini biasanya kita dapati pada berbagai jenis pohon jeruk, ch. jeruk bali
(Citrus maxima Merr), jeruk nipis (Citrus aurantifolia Sw), dll.
b. Daun majemuk menyirip genap (abrupte pinnatus). Disini terdapat sejumlah anak daun
yang berpasang-pasangan di kanan kiri ibu tulang, oleh karena itu jumlah anak daunnya biasanya
genap. Untuk menentukan apakah suatu daun majemuk menyirip genap atau tidak, yaitu jika
pada ujung ibu tangkai tidak terdapat suatu anak daun, berarti daun tersebut menyirip genap.
Jadi bias saja satu daun majemuk menyirip genap mempunyai jumlah anak daun yang gasal.
Daun majemuk menyirip genap a.l. pada pohon asam (Tamarindus indica L) yang jumlah anak
daun benar genap. Yang jumlah anak daunnya gasal ch. pohon leci (Litchi chinensis Sonn.) dan
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (90 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
kepulasan (Nephelium mutabile B).
c. Daun majemuk menyirip gasal (imparipinnatus). Diujung ibu tangkai terdapat anak daun
yang tersendiri (biasanya anak daun ini lebih besar dari pada yang lainnya), ch. daun pacar cina
(Aglaia odorata Lour) dan mawar (Rosa sp).
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (91 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
Gambar 22. a. Majemuk menyirip genap b. Majemuk menyirip ganjil
Daun majemuk menyirip dapat dibedakan lagi menurut duduknya anak-anak daun pada ibu tangkai
dan menurut besar kecilnya anak-anak daun :
a. daun majemuk menyirip dengan anak daun yang berpasang-pasangan, yaitu jika duduknya
anak daun pada ibu tangkai berhadap-hadapan.
b. menyirip berseling, jika anak daun pada ibu tangkai duduknya berseling.
c. menyirip berselang-seling (interrupe pinnatus), yaitu jika anak-anak daun pada ibu tangkai
berselang-seling pasangan anak daun yang lebar dengan pasangan anak daun yang sempit, ch.
pada anak daun tomat (Solanum lycopersicum L).
Pada suatu daun majemuk dapat terjadi anak daun tidak langsung duduk pada ibu tangkainya,
melainkan pada cabang ibu tangkai tadi. Daun majemuk ini dinamakan daun majemuk rangkap atau
daun majemuk ganda. Sifat ini hanya terdapat pada daun majemuk menyirip.
Daun majemuk menyirip ganda dapat dibedakan atas :
1. majemuk menyirip ganda dua (bipinnatus), jika anak daun duduk pada cabang tingkat satu
dari ibu tangkai.
2. majemuk menyirip ganda tiga (tripinnatusi), jika anak-anak daun duduk pada cabang tingkat
dua dari ibu tangakai.
3. majemuk menyirip ganda empat, dst.
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
Daun menyirip ganda dibedakan lagi atas :
a. menyirip ganda dengan sempurna, yaitu jika tidak ada satu anak daunpun yang duduk
pada ibu tangkai (biasanya yang menyirip genap).
b. menyirip ganda tidak sempurna, jika masih ada anak daun yang duduk langsung pada ibu
tangkainya (biasanya yang menyirip gasal).
Contoh-contoh :
a. Daun majemuk menyirip genap ganda dua dengan sempurna, ch. daun kembang merak
(Caesalpinia pucherima Sw) dan daun lamtoro (Leucaena glauca Benth)
b. Daun majemuk menyirip gasal dua tidak sempurna, ch. daun kirinyu (Sambucus
javanica Bl).
c. Daun majemuk menyirip gasal rangkap tiga tidak sempurna, ch. daun kelor (Moringa
oleifera Lamk).
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (92 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
Gambar 23. a. Majemuk menyirip ganda 2
b. Majemuk menyirip ganda 3
c. Majemuk menyirip ganda 4
Daun Majemuk Menjari (Palmatus atau Diginatus)
Daun majemuk menjari yaitu semua anak daunnya tersusun memencar pada ujung ibu
tangkai seperti letaknya jari-jari pada tangan. Berdasarkan jumlah anak daunnya dibedakan sebagai
berikut :
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
a. beranak daun dua (bifoliolatus), pada ujung ibu tangkai terdapat dua anak daun, ch. daun
nam-nam (Cynometra cauliflora L)
b. beranak daun tiga (trifoliolatus), pada ujung ibu tangkai terdapat tiga anak daun, ch. pada
pohon para (Hevea brasiliensis Muell).
c. beranak daun lima (quinquefoliolatus), pada ujung ibu tangkai terdapat lima anak daun,
ch. daun maman (Gynandropis pentaphilla D.).
d. beranak daun tujuh (septemfoliolatus), jika ada tujuh anak daun pada ujung ibu
tangkainya, ch. daun randu (Ceiba pentandra Gaertn).
Jika daun majemuk menjari mempunyai tujuh anak daun atau lebih, maka dikatakan beranak
daun banyak (polyfoliolatus). pada daun randu (Ceiba pentandra Garenthn). Daun majemuk
menjari yang bersifat ganda, ch. : majemuk menjari beranak daun tiga ganda dua (biternatus).sebagai
contoh Aegopodium sp.
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (93 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
Gambar 24. Daun majemuk menjari
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
Daun Majemuk Bangun Kaki (pedatus)
Daun ini mempunyai susunan seperti daun majemuk menjari,tetapi dua anak daun yang
paling pinggir tidak duduk pada ibu tangkai, melainkan pada tangkai anak daun yang disampingnya.
Daun Majemuk Campuran (Digitatopinnatus)
Daun majemuk campuran adalah daun majemuk ganda yang mempunyai cabang-cabang ibu
tangkai memencar seperti jari dan terdapat pada ujung ibu tangkai daun, tetapi pada cabang-cabang
ibu tangkai ini terdapat anak-anak daun yang tersusun menyirip. Jadi daun majemuk campuran
adalah campuran susunan yang menjari dan menyirip, ch. daun sikejut (Mimosa pudica L). Daun
sikejut bukanlah merupakan daun majemuk campuran sejati, tetapi adalah daun majemuk menyirip
genap ganda dua yang sempurna. Hanya saja pada daun ini letak kedua pasang ibu tangkainya tadi
sedemikian dekat satu sama lain, hingga seakan-akan terdapat empat cabang tangkai pada ujung ibu
tangkai daunnya.
Tata Letak Daun Pada Batang (Phyllotaxis atau Dispositio Foliorum)
Bagian batang atau cabang tempat duduknya daun disebut buku-buku batang (nodus). Dan
bagian ini seringkali tampak sebagai bagian batang yang sedikit membesar dan melingkar batang
sebagai suatu cincin, seperti pada bambu (Bambusa sp.), tebu (Saccharum officinarum L.) dan semua
rumput pada umumnya. Duduknya daun pada batang memiliki aturan yang disebut tata letak daun.
a. Untuk mengetahui bagaimana tata letak daun pada batang, harus ditentukan terlebih dahulu
berapa jumlah daun yang terdapat pada suatu buku-buku batang.
1. Pada tiap-tiap buku-buku batang hanya terdapat satu daun
Tata letak daunnya dinamakan : Tersebar (Folia sparsa).
Jika untuk mencapai daun yang tegak lurus dengan daun pertama tadi mengelilingi batang a kali,
dan jumlah daun yang dilewati selama itu adalah b, maka perbandingan kedua bilangan tadi akan
merupakan pecahan a/b, yang dinamakan juga : Rumus daun atau Divergensi.
Garis-garis tegak lurus (Garis vertikal) yang menghubungkan antara 2 daun pada batang
dinamakan : Ortostik. Garis piral melingkari batang yang menghubungkan daun-daun berturut-turut
dari bawah ke atas menurut urutan tua mudanya dinamakan : Spiral genetik.
Pecahan a/b menunjukkan jarak sudut antara dua daun berturut-turut, jika diproyeksikan pada
bidang datar. Jarak sudut antara dua daun berturut-turut pun tetap dan besarnya adalah a/b x 3600,
yang disebut : sudut divergensi.
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (94 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
Tumbuhan dengan tata letak daun tersebar, ternyata pecahan a/bnya, dapat terdiri atas
pecahan-pecahan : ½, 1/3, 2/5, 3/8, 5/13, 8/21 dst. yang disebut deret Fibonacci.
Angka-angka diatas memperlihatkan sifat berikut :
- Tiap suku dibelakang suku kedua (jadi suku ketiga dst.) merupakan suatu pecahan, yang
pembilangnya dapat diperoleh dengan menjumlah kedua pembilang dua suku yang ada di
depannya, dan penyebutnya merupakan hasil penjumlahan kedua penyebu dua suku yang di
depannya, atau
- Tiap suku dalam deretan itu merupakan suatu pecahan yang pembilangnya merupakan
selisih antara penyebut dan pembilang suku yang di depannya, dan penyebutnya adalah jumlah
penyebut suku di depanya dengan pembilang suku itu sendiri.
Pada tumbuhan dengan tata letak daun tersebar, kadang-kadang duduk daun rapat berjejal-jejal
karena ruas-ruas batang amat pendek, sehingga duduk daun pada batang tampak hampir sama tinggi,
dan sangat sukar untuk menentukan urut-urutan tua mudanya. Daun-daun yang mempuyai susunan
demikian disebut suatu : roset (rosula).
Roset ada 2 macam :
a. roset akar, yaitu jika batang amat pendek, sehingga semua daun berjejal-jejal diatas tanah,
ch. pada lobak (Raphanus sativus L.) dan tapak liman (Elephantopus scaber L.).
b. roset batang, jika daun yang rapat berjejal-jejal itu terdapat pada ujung batang, ch. pada
pohon kelapa (Cocos nucifera L.) dan bermacam –macam palma lainnya.
Pada cabang-cabang yang mendatar atau serong keatas, daun-daun dengan tata letak tersebar dapat
teratur sedemikian rupa pada suatu bidang datar, dan membentuk suatu pola seperti mosaik (pola
karpet). Susuna daun yang demikian itu disebut mosaik daun.
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (95 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (96 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
Gambar 25. Roset akar dan batang Gambar 26. Mosaik daun
2. Pada tiap buku-buku batang terdapat dua daun
Pada setiap buku-buku terdapat 2 daun yang berhadapan (terpisah oleh jarak sebesar 1800).
Pada buku-buku batang berikutnya biasanya kedua daunnya membentuk suatu silang dengan dua
daun yang dibawahnya tadi. Tata letak daun yang demikian ini dinamakan : berhadapan-bersilang
(folia opposita atau folia decussata), ch. pada mengkudu (Morinda citrifolia L.), soka (Ixora
poludosa Kurz.), dll.
3. Pada tiap bulu-buku batang terdapat lebih dari dua daun
Tata letak daun yang demikian ini dinamakan : berkarang (Folia verticillata),dapat a.l.
ditemukan pada pohon pulai (Alstonia scholaris R.Br.), alamanda (Allamanda cathartica L.),
oleander (Nerium oleander L.).
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (97 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
Gambar 27. a. Berhadapan bersilang b. Berkarang
Bagan (Skema) dan diagram tata letak daun
a. Bagan tata letak daun
Batang tumbuhan digambarkan sebagai silinder dan padanya digambar membujur ortostikortostiknya
demikian pula buku-buku batangnya. Daun-daun digambar sebagai penampang
melintang helaian daun yang kecil. Pada bagan akan terlihat misalnya pada daun dengan rumus 2/5
maka daun-daun nomor 1, 6, 11, dst atau daun-daun nomor 2, 7, 12, dst akan terletak pada ortostik
yang sama.
b. Diagram tata letak daun atau disingkat diagram daun
Untuk membuat diagramnya batang tumbuhan harus dipandang sebagai kerucut yang
memanjang, dengan buku-buku batangnya sebagai lingkaran-lingkaran yang sempurna. Pada setiap
lingkaran berturut-turut dari luar kedalam digambarkan daunnya, seperti pada pembuatan bagan tadi
dan di beri nomor urut. Dalam hal ini perlu diperhatikan, bahwa jarak antara dua daun adalah 2/5
lingkaran, jadi setiap kali harus meloncati satu ortostik. Spiral genetikya dalam diagram daun akan
merupakan suatu garis spiral yang putarannya semakin keatas digambar semakin sempit.
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (98 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
Gambar 28. Bagan duduk daun dengan rumus 2/5
Gambar 29.
Diagram daun dengan rumus 2/5
Spirostik dan Parastik
Garis-garis ortostik yang biasanya lurus ke atas, dapat mengalami perubahan-perubahan arah
karena pengaruh bermacam faktor. Garis-garis ortostik dapat menjadi garis spiral yang tampak
melingkari batang pula. Dalam keadaan yang demikian spiral genetik sukar untuk ditentukan, dan
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
letak daun pada batang mengikuti ortostik yang telah berubah menjadi garis spiral tadi, keadaan ini
dinamai : Spirostik. Spirostik terjadi karena pertumbuhan batang tidak lurus tetapi memutar.
Akibatnya ortostiknya ikut memutar dan berubah menjadi spirostik, ch. :
- Pacing (Costus speciosus Smith), mempunyai satu spirostik.
- Bupleurum falcatum, mempunyai dua spirostik.
- Pandan (Pandanus tectorius Sol.), memperlihatkan tiga spirostik.
Pada tumbuhan yang letak daunnya cukup rapat ch. kelapa sawit (Elaeis guinensis), duduk daun
seakan-akan menurut garis-garis spiral ke kiri atau kekanan. Tampaknya lalu ada dua spiral ke kiri
dan kekanan. Garis-garis spiral ini disebut : Parastik. Juga garis-garis spiral yang tampak pada
buah nenas yang menunjukkan aturan letak mata-mata pada buah nenas tadi adalah parastik-parastik.
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (99 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
Gambar 30. Tumbuhan dengan 2 dan 3 spirostik
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
15.5. BAGIAN-BAGIAN LAIN PADA TUMBUHAN, METAMORFOSIS AKAR,
BATANG, DAN DAUN
a. Kuncup (gemma)
Kuncup adalah calon tunas, jadi terdiri atas calon batang dan calon daun-daunnya. Tidak semua
kuncup dapat berkembang menjadi bagian tumbuhan yang baru. Ada yang bertahun-tahun tetap
berupa kuncup saja. Kuncup ini dinamakan kuncup tidur atau kuncup laten. .
Menurut tempatnya kuncup dibedakan dalam 3 macam :
1. Kuncup ujung (gemma terminalis), terdapat pada ujung-ujung batang, cabang-cabang
dan ranting-ranting.
2. Kuncup ketiak (gemma axillaris), terdapat didalam ketiak daun.
3. Kuncup liar (gemma adventicius), tidak terdapat pada ujung atau ketiak daun. Menurut
tempatnya kuncup liar dapat dibedakan seperti berikut :
- Disembarang tempat pada batang, biasanya menghasilkan wiwilan atau tunas air, ch.
pada pohon coklat (Theobroma cacao L.)
- Pada tepi daun, dapat menghasilkan tumbuhan baru, ch. pada cocor bebek (Kalanchoe
pinnata Pers.).
- Pada akar, juga dapat menjadi tumbuhan baru, ch. pada sukun (Artocarpus communis
Forst.)
Berdasarkan tujuannya maka kuncup dapat pula dibedakan seperti berikut :
1. Kuncup daun (gemma foliifera), kuncup berkembang menjadi tunas yang mendukung
daun-daun.
2. Kuncup bunga (gemma florifera), kuncup berkembang menjadi bunga.
3. Kuncup campuran (gemma mixtra), yaitu kuncup yang berkembang menghasilkan tunas
dengan daun-daun dan bunga.
Melihat ada atau tidaknya perlindungan bagi kuncup, dapat pula dibedakan :
1. Kuncup telanjang (gemma nudus), yaitu kuncup tidak mempunyai alat-alat pelindung.
2. Kuncup tertutup (gemma cllausus), yaitu kuncup yang mempunyai perlindungan yang
menyelubungi kuncup tadi.
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (100 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
b. Rimpang (rhizoma), umbi (tuber), dan umbi lapis (bulbus)
1. Rimpang (rhizoma), sesungguhnya adalah batang beserta daunnya yang terdapat di dalam
tanah, bercabang-cabang dan tumbuh mendatar, dan dari ujungnya dapat tumbuh tunas yang
muncul di atas tanah dan merupakan satu tumbuhan baru.
2. Umbi (tuber), merupakan suatu badan yang membengkak, bangun bulat, seperti kerucut
atau tidak beraturan, merupakan tempat penimbunan makanan pula seperti rimpang, dapat
merupakan penjelmaan batang, dan akar. Oleh sebab itu umbi dibedakan dalam :
- Umbi batang (tuber caulogenum), merupakn penjelmaan batang.
- Umbi akar (tuber rhizogenum), merupakan metamorfosis akar.
3. Umbi lapis (bulbus) adalah penjelmaan batang beserta daunnya. Dinamakan umbi lapis
karena memperlihatkan susunan yang berlapis-lapis, yang terdiri atas daun-daun yang telah
menjadi tebal, lunak dan berdaging.
c. Alat pembelit atau sulur (cirrhus)
Menurut asalnya alat-alat pembelit dapat dibedakan atas :
1. Cabang pembelit (sulur dahan atau sulur cabang), yaitu alat pembelit yang terjadi dari
cabang atau tunas, ch. air mata pengantin (antigonon leptopus).
2. Daun pembelit (sulur daun), yaitu alat pembelit yang biasanya merupakan penjelmaan suatu
begian daun, jadi bukan berasal dari daun seluruhnya.
3. Akar pembelit, yaitu akar yang berubah menjadi suatu alat pembelit ch., pada panili (Vanilla
planifolia).
d. Piala (ascidium) dan gelembung (utriculus)
Alat-alat tersebut merupakan metamorfosis daun atau sebagian daun dan lazimnya digunakan
untuk menangkap serangga (insectivora) :
- Piala (ascidium), biasanya merupakan ujung daun yang di ubah menjadi badan
menyerupai piala yang lengkap dengan tutupnya. Ch. Nepenthes ampullaria.
- Gelembung (utriculus), terdapat pada tumbuhan pemakan serangga yang hidup di air, ch.
rumput gelembung (Utricularia flexuosa).
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (101 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
e. Duri (spina)
Menurut asalnya duri dapat dibedakan dalam :
a. Duri dahan (spina caulogenum), penjelmaan cabang atau dahan ch. pada (Bougainvillea
spectabilis).
b. Duri daun (spina phyllogenum), metamorfosis daun, seperti terdapat pada kaktus (Cactus
opuntia)
c. Duri akar (Spina rhizogenum), yaitu akar yang menjadi keras dan mempunyai ujungujung
yang tajam, seperti ch. terdapat pada gembili (Dioscorea aculeata).
d. Duri daun penumpu (spina stipulogenum), berasal dari daun penumpu. Ch. pada susura
(Euphorbia trigona).
f. Alat-alat tambahan (organa accessoria)
Bergantung pada susunan dalamnya, alat-alat ini dibedakan dalam 3 golongan :
1. Papila (papillae), yaitu benjolan pada permukaan suatu alat, yang merupakan peninggian
dinding sel yang sebelah luar. Ch. pada bunga lelang (Clitoria ternatea).
2. Rambut-rambut atau trikoma (trichoma), yaitu alat-alat tumbuhan yang berupa rambut atau
sisik yang pada pembentukannya hanya kulit luar tubuh tumbuhan saja. Trikoma pada
tumbuhan dapat berupa :
- Sisik bulu (ramentum), ialah bulu-bulu yang pipih yang menutupi batang atau bagianbagian
tumbuhan yang lain. Ch. pada pakis haji (Cycas rumphii).
- Sisik (lepis), bagian-bagian yang pipih menempel rapat pada alat-alat tumbuhan, ch.
tangkai daun, terdapat pada sisi bawah daun durian (Durio ziberthinus).
- Bulu-bulu atau rambut halus (pilus). Bulu-bulu atau rambut ini bermacam-macam
bentuk dan susunanya, ada yang bercabang dan ada yang seperti bintang. Ch. pada daun
waru (Hibiscus tiliaceus).
- Rambut kelenjar (pilus capitatus), bentuknya seperti bulu-bulu umumnya, tetaapi dari
bagian ujungnya dapat dikeluarkan suatu zat, ch. semacam resin, terdapat pada daun
tembakau (Nicotiana tabacum).
4. Emergensia (emergentia), yaitu alat-alat tambahan yang tidak hanya tersusun atas bagianbagian
kulit luar, akan tetapi bagian yang lebih dalam daripada kulit luar ikut pula mengambil
bagian dalam pembentuknnya. Yang digolongkan dalam emergensia yaitu :
a. Rambut-rambut gatal atau perangsang (stimulus), yaitu rambut-rambut yang
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (102 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
ujungnya mudah patah dan jika sudah patah ujungnya menjadi alat semacam jarum
penyuntik yang tajam, mudah menusuk kulit dan memasukkan zat-zat yang memberikan
rasa gatal dan panas pada kulit, terdapat pada daun kemaduh (Laportea stimulans).
b. Duri tempel (aculeus), duri yang mudah ditanggalkan dari pendukungnya, terdapat pada
bunga mawar (Rosa sp).
15.6. ALAT PERKEMBANGBIAKAN
(Organum Reproductivum)
Alat perkembangbiakan tumbuhan dapat dibedakan dalam dua golongan, yaitu :
1. Alat perkembangbiakan vegetatif atau aseksual, yaitu bagian tubuh tumbuhan yang tidak
didahului oleh peristiwa perkawinan (peleburan sel kelamin jantan dan betina)
2. Alat perkembangbiakan generatif atau seksual, yaitu alat perkembangbiakan yang terjadi
melalui peristiwa perkawinan.
15.6.1. BUNGA (FLOS)
Jumlah Bunga dan Tata Letaknya pada Suatu Tumbuhan
Tumbuhan yang hanya menghasilkan satu bunga saja dinamakan tumbuhan berbunga
tunggal (planta uniflora), sedangkan lainnya tumbuhan berbunga banyak (planta multiflora).
Tempat bunga pada tumbuhan :
a. Pada ujung batang (flos terminalis), ch. bunga coklat, kembang merak (Caesalpinia
pulcherrima swartz)
b. Di ketiak daun (flos lateralis)
Jumlah Bunga Dan Tata Letaknya Pada Suatu Tumbuhan
Tumbuhan yang hanya menghasilkan satu bunga saja dinamakan tumbuhan berbunga tunggal
(planta uniflora) ch. bunga coklat (Zephyranthus rosea Lindl) biasanya terdapat pada ujung batang,
sedangkan lainnya tumbuhan berbunga banyak (planta multiflora).
Menurut tempatnya, bunga dibedakan atas :
a. Bunga pada ujung batang (flos terminalis), ch. bunga coklat, kembang merak (Caesalpinia
pulcherrima Swartz)
b. Bunga di ketiak daun (flos lateralis atau flos axillaris), ch. kembang sepatu (Hibiscus rosasinensis
L.), kembang telang (Clitoria ternatea L.)
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (103 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
Gambar 31. Jumlah dan letak bunga
Susunan bunga yang banyak jumlahnya :
- Terpencar atau terpisah-pisah (flores sparsi), misalnya pada kembang sepatu.
- Berkumpul membentuk suatu rangkaian dinamakan bunga majemuk (anthotaxis atau
inflorescentia), ch. pada kembang merak.
Bunga Majemuk (Anthoraxis, Inflorescentia)
Bagian-bagian bunga majemuk :
A. Bagian-bagian yang bersifat seperti batang atau cabang, yaitu :
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (104 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
1. Ibu tangkai bunga (pedunculus, pedunculus communis atau rhachis), merupakan terusan
batang atau cabang.
2. Tangkai bunga (pedicellus), yaitu cabang ibu tangkai yang mendukung bunga.
3. Dasar bunga (receptaculum), yaitu tangkai bunga yang mendukung bagian-bagian bunga
bainnya.
B. Bagian-bagian yang bersifat seperti daun, a.l.:
1. Daun-daun pelindung (bractea) yaitu daun yang dari ketiaknya muncul cabang-cabang ibu
tangkai atau tangkai bunga,
2. Daun tangkai (bracteola), yaitu satu atau dua daun kecil yang terdapat pada tangkai bunga.
Pada Dicotypedoneae biasanya terdapat dua daun tangkai, sedang pada Monocotiledoneae
hanya terdapat satu daun tangkai yang letaknya di dalam bidang median, di bagian atas tangkai
bunga.
3. Seludang bunga (spatha), yaitu daun pelindung yang besar, seringkali menyelubungi seluruh
bunga majemuk waktu belum mekar, ch. pada pohon kelapa (Cocos nucifera L.), iles-iles
(Amorphophallus variabilis BI ).
4. Daun-daun pembalut (bractea involuclaris, involucrum), yaitu sejumlah daun- daun pelindung
yang tersusun dalam suatu lingkaran, ch. bunga matahari (Helianthus annuus L.),
5. Kelopak tambahan (epicalix), yaitu bagian-bagian serupa daun yang berwarna hijau, tersusun
dalam suatu lingkaran dan terdapat di bawah kelopak, ch. pada bunga kembang sepatui
(Hibiscusrosa-sinensis L.), kapas (Gossypium sp.)
6. Daun-daun kelopak (sepalae).
7. Daun-daun mahkota atau daun tajuk (petalae).
8. Daun-daun tenda bunga (tepalae), jika kelopak dan mahkota sama bentuk dan warnanya ,
9. Benang – benang sari (stamina),
10. Daun-daun buah (carpella).
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (105 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
Bunga majemuk dan bagian – bagiannya
Bunga majemuk dibedakan atas :
a. Bunga majemuk tak berbatas (inflorescentia racemosa, inflorescentia botryoldes atau
inflorescentia centripetala), yaitu ibu tangkainya dapat tumbuh terus, dengan cabang-cabang
dapat bercabang lagi atau tidak, dan mempunyai susunan “acropetal” (semakin muda semakin
dekat dengan ujung ibu tangkai), dan bunga mekar berturut-turut dari bawah ke atas. Jika dilihat
dari atas, nampak bunga mulai mekar dari pinggir menuju ke pusat, maka bunga dinamakan
inflorescentia centripetala, ch. kembang merak (caesalpinia pulcherrima swartz), mangga
(Mangifera indica L.).
b. Bunga majemuk berbatas (inflorescentia cymosa atau infloescentia centrifuga, inflorescentia
definita), yaitu ujung ibu tangkainya selalu ditutup dengan suatu bunga, jadi pertumbuhannya
terbatas. Ibu tangkai dapat bercabang-cabang, dan tiap cabang juga selalu mendukung suatu
bunga pada ujungnya. Bunga yang mekar dulu ialah bunga yang terdapat di sumbu pokok atau ibu
tangkainya, jadi dari tengah ke pinggir (jika dilihat dari atas), oleh sebab itu dinamakan :
inflorescentia centrifuga.
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (106 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
a. Majemuk tak berbatas b. Majemuk berbatas
Melihat jumlah cabang pada ibu tangkai, bunga majemuk berbatas dibedakan lagi dalam tiga
macam :
- Bersifat : “monochasial”, jika ibu tangkai hanya mempunyai satu cabang, ada kalanya
lebih (dua cabang), tetapi tidak pernah berhadapan, dan yang satu lebih besar daripada yang
lainnya. Cabang yang besar selanjutnya mengeluarkan satu cabang saja. Bunga majemuk
semacam ini ditemukan pada berbagai jenis tumbuhan yang berbiji tunggal
(monocotyledoneae), kapas (cossypium sp).
- Bersifat “dichasial”, jika dari ibu tangkai keluar dua cabang yang berhadapan, terdapat
pada tumbuhan dengan bunga berbibir (Labiate), dll.
11. Bersifat “pleiochasial”, jika dari ibu tangkai keluar lebih dari dua cabang pada suatu tempat
yang sama tingginya pada ibu tangkai tadi, ch. pada bunga oleander (Nerium oleander L).
c. Bunga majemuk campuran (inflorescentia mixta), yaitu bunga mejemuk yang
memperlihatkan baik sifat-sifat bunga majemuk berbatas maupun bunga majemuk tak berbatas.
Bunga majemuk tak berbatas memiliki beberapa bentuk yang disebut dengan :
A. Ibu tangkai tidak bercabang-cabang.
1. Bunga tandan (racemus atau botrys); bunga bertangkai nyata, duduk pada ibu tangkainya.
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (107 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
Contohnya kembang merak.
2. Bunga bulir (spica); sepeti tandan tetapi tidak bertangkai contohnya bunga jarong
(Stachytarpheta jamaicensis Vahl.).
3. Bunga untai atau bunga lada (amentum), seperti bulir tetapi ibu tangkai hanya mendukung
bunga-bunga yang berkelamin tunggal dan runtuh seluruhnya (bunga jantan), yang betina
menjadi buah contohnya pada sirih (Piper betle L.)
4. Bunga tongkol (spadix), seperti bulir tetapi ibu tangkai besar, tebal dan sering kali berdaging,
contohnya iles-iles (Amorphophalus variabilis Bl.), jagung (Zea mays L.).
5. Bunga payung (umbella); dari ujung ibu tangkai mengeluarkan cabang-cabang yang sama
panjangnya. Terdapat pada suku Umbelliferae.
6. Bunga cawan (corymbus); ujung ibu tangkai melebar dan merata seperti cawan.
7. Bunga bongkol (capitulum); menyerupai bunga cawan tetapi tanpa daun-daun pembalut dan
ujung ibu tangkai biasanya membengkak sehingga seluruhnya berbentuk seperti bola.
8. Bunga periuk (hypanthodium); dibedakan atas :
- ujung ibu tangkai menebal, berdaging, bentuk seperti gada, bunga-bunganya meliputi
seluruh bagian yng menebal tadi sehingga bentuknya bulat atau silinder. Daun-daun pembalut
tidak ada, contohnya pada keluwih (Artocarpus communis Forst.), nangka (Artocarpus integra
Merr.).
- ujung ibu tangkai menebal, berdaging, bentuk sepeti periuk, bunga-bunganya terdapat di
dalam periuk tadi contohnya pada anggota marga lo (Ficus sp).
B. Ibu tangkai bercabang-cabang dan cabangnya bercabang lagi.
9. Bunga malai (panicula); ibu tangkai bercabang secara monopodial, juga cabang-cabangnya
(tandan majemuk). Contohnya bunga mangga (Mangifera indica L.).
10. Bunga malai rata (corymbus ramosus); ibu tangkai dan percabangannya membentuk suatu
bidang datar atau agak melengkung, contohnya bunga asoka (Ixora grandiflora Zoll. Et Mor.),
kirinyu (Sambucus javanica Bl.).
11. Bunga payung majemuk (umbella composita); bunga payung yang bagian-bagiannya berupa
suatu payung kecil (umbellula). Contohnya pada adas (Foeniculum vulgare Mill.) dan wortel
(Daucus carota L.).
12. Bunga tongkol majemuk yaitu bunga tongkol yang ibu tangkainya bercabang-cabang dan
masing-masing cabang tersusun seperti tongkol pula, contohnya pada kelapa (Cocos nucifera L.)
dan palmae umumnya.
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (108 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
13. Bunga bulir majemuk; ibu tangkai bunga bercabang-cabang dan masing-masing cabang
mendukung bunga-bunga yang tersusun bulir pula, contohnya bunga jagung (Zea mays L.) yang
jantan dan bunga jenis rumput umumnya.
Bunga majemuk berbatas dapat dibedakan atas beberapa bentuk yang disebut dengan :
1. Anak payung menggarpu (dichasium); pada ujung ibu tangkai daun terdapat satu bunga,
kemudian di bawahnya terdapat dua cabang yan sama panjangnya dan masing-masing mendukung
satu bunga pada ujungnya. Bunga yang mekar lebih dulu adalah bunga yang terdapat pada ujung
ibu tangkainya, contohnya bunga melati (Jasminum sambac Ait.).
2. Bunga tangga atau bunga bercabang seling (cinccinnus); ibu tangkainya bercabang dan
cabangnya bercabang-cabang lagi, tetapi tiap kali bercabang hanya terbentuk satu cabang saja
yang arahnya berganti kiri dan kanan, contohnya pada buntut tikus (Heliotropium indicum L.).
3. Bunga sekerup (bostryx); ibu tangkai bercabang-cabang dan tiap kali bercabang terbentuk
satu cabang ke kiri atau ke kanan saja dengan sudut 90o terhadap yang sebelumnya sehingga
seperti arah sekerup atau spiral, contohnya bunga kenari (Canarium commune L.).
4. Bunga sabit (drepanium), seperti bunga sekerup tetapi semua percabangan terletak pada satu
bidang, contohnya pada tumbuhan suku Juncaceae.
5. Bunga kipas (rhipidium), seperti bunga bercabang seling, semua bunga terletak pada satu
bidang dan semua bunga memiliki tinggi yang sama, contohnya paada suku Iridaceae.
15.6.2. Bagian-bagian Bunga
Bunga pada umumnya mempunyai bagian-bagian berikut:
a. Tangkai bunga (pedicellus) yaitu bagian bunga yang masih jelas bersifat batang
b. Dasar bunga (receptaculum) yaitu ujung tangkai yang melebar dengan ruas-ruas yang amat
pendek.
c. Hiasan bunga (perianthium) yaitu bagian bunga yang merupakan penjelmaan dari daun.
Dibedakan menjadi:
- kelopak (calyx) yaitu bagian hiasan bunga yang merupakan lingkaran luar, biasanya
berwarna hijau dimana daun-daun kelopak satu sama lain dapat berlekatan dapat pula terpisahpisah
- tajuk bunga atau mahkota bunga (corolla) yaitu bagian hiasan bunga yang terdapat pada
lingkaran dalam biasanya tidak berwarna hijau lagi.
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (109 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
d. Alat-alat kelamin jantan, metamorfosis daun yang menghasilkan serbuk sari.
e. Alat-alat kelamin betina biasanya disebut putik.
Berdasarkan bagian-bagian yang terdapat pada bunga, dapat dibedakan menjadi:
i. Bunga lengkap atau bunga sempurna yang dapat terdiri atas 1 lingkaran daun kelopak, 1
lingkaran daun mahkota, 1 lingkaran benang sari dan satu lingkaran benang sari dan 1
lingkaran daun buah.
ii. Bunga tidak lengkap atau bunga tidak sempurnayaitu jika salah satu alat kelaminnya
tidak ada.
Kelamin Bunga
Berdasarkan alat kelaminnya bunga terbagi atas :
1. Bunga banci atau berkelamin dua (hermaphroditus); yaitu bunga yang padanya terdapat
benang sari maupun putik.
2. Bunga berkelamin tunggal (unisexualis), jika pada bunga hanya terdapat salah satu dari kedua
alat kelamin terssbut.
3. Bunga mandul atau tidak berkelamin.
Tumbuhan berdasarkan kelamin bunganya dibedakan atas :
1. Berumah satu (monoceus); tumbuhan yang mempunyai bunga jantan dan bunga betina pada
satu individu.
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (110 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
2. Berumah dua (dioceus); bunga jantan dan bunga betina terpisah tempatnya artinya ada
individu yang hanya memiliki bunga jantan saja atau bunga betina saja, contohnya salak (Zalacca
edulis Reinw.).
3. Poligami (polygamus); jka pada satu tumbuhan terdapat bunga jantan, bunga betina dan
bunga banci bersama-sama, misalnya pepaya (Carica papaya L.).
Simetri Pada Bunga
Berdasarkan bidang simetrinya, bunga terbagi atas :
1. Asimetris; bunga tidak memiliki bidang simetri, contohnya bunga tasbih (Canna hybrida
Hort.).
2. Setangkup tunggal (monosimetris atau zygomorphus); bunga hanya memiliki satu bidang
simetri yang membagi bunga menjadi dua bagian yang setangkup. Sifat ini ditunjukkan dengan
lambang ­ (anak panah). Contohnya bunga telang (Clitoria ternatea L.) (setangkup tegak),
bunga Corydalis (setangkup mendatar), bunga kecubung (Datura metel L.) (setangkup miring).
3. Setangkup menurut dua bidang atau ganda (bilateral simetris atau disimetris), bidang bunga
dapat dibuat dua bagian yang setangkup menurut dua bidang simetris yang tegak lurus satu sama
lain, contonya bunga lobak (Raphanus sativus L.) dan bunga suku Crucifera.
4. Beraturan atau simetri banyak (polysimetris atau actinomorphus); bunga memiliki banyak
bidang simetris, contohnya bunga lilia gereja (Lilium longifolium Thumb.). Sifat ini ditunjukkan
dengan tanda * (bintang).
Kelopak (Calyx)
Kelopak tersusun atas bagian-bagian yang dinamakan daun kelopak atau sepala. Daun-daun kelopak
ini memiliki sifat :
1. Berlekatan (gamosepalus); bagian bawah kelopak berlekatan satu sama lain.
2. Lepas atau bebas (polysepalus); daun-daun kelopak satu sama lain benar-benar terpisah, tidak
berlekatan.
Tajuk Bunga atau Mahkota Bunga (Corolla)
Tajuk bunga tersusun atas daun-daun tajuk atau petala dengan sifat-sifat :
1. Berlekatan (sympetalus, gamopetalus atau monopetalus).
2. Lepas atau bebas (choripetalus, dialypetalus atau polypetalus).
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (111 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
3. Daun-daun tajuk tidak ada atau kecil sekali. Bunga tanpa tajuk (apetalus) ini dinamakan
bunga telanjang (flos nudus).
Benang Sari (Stamen)
Benang sari merupakan metamorfosis daun yang bentuk dan fungsinya telah disesuaikan sebagai alat
kelamin jantan. Benang sari memiliki 3 bagian, yaitu :
1. Tangkai sari (filamentum)
2. Kepala sari (anthera); di dalamnya biasanya memiliki 2 ruang sari (theca) dan masingmasing
ruang sari memiliki 2 ruangan kecil (loculus) dan di dalam loculus inilah terdapat serbuk
sari atau tepung sari (pollen).
3. Penghubung ruang sari (connectivum); merupakan bagian penghubung tangkai sari dengan
kepala sari.
Berdasarkan jumlahnya pada bunga, benang sari dibedakan atas :
1. Benang sari banyak; dalam satu bunga terdapat lebih dari 20 benang sari, contohnya anggota
suku Myrtaceae.
2. Jumlah benang sari 2x jumlah daun tajuknya; benang sari biasanya tersusun 2 lingkaran,
lingkaran luar dan dalam. Berdasarkan duduknya terhadap daun tajuk dibagi lagi atas :
- diplostemon; benang-benang sari pada lingkaran luar duduk berseling dengan daun-daun
tajuk, contoh kembang merak (Caesalpinia pulcherrima Swartz.).
- obdiplostemon; benang-benang sari pada lingkaran dalam duduknya berseling dengan
daun-daun tajuknya., contohnya bunga geranium (Pelargonium odoratissimum Hort.).
3. Benang sari sama banyak dengan daun tajuk atau kurang. Terbagi atas :
- episepal; benang sari berhadapan dengan daun – daun kelopak.
- epipetal; benangg sari berhadapan dengan daun – daun tajuk.
Putik (Pistillum)
Putik juga merupakan metamorfosis daun yang berfungsi sebagai alat kelamin betina tumbuhan.
Putik tersusun atas daun-daun buah atau carpellum, daun-daun buah sebagai keseluruhan dinamakan
gynaecium. Daun-daun buah inilah nantinya yang akan menjadi bagian buah yang paling pinggir
atau kulit buah. Bagian – bagian putik adalah :
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (112 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
1. Bakal buah (ovarium); bagian putik yang membesar dan duduk pada dasar bunga.
2. Tangkai kepala putik (stylus); bagian putik berbentuk benang di atas bakal buah.
3. Kepala putik (stigma); bagian putik paling atas.
Sel telur terdapat di dalam bakal biji (ovulum) dan bakal biji terdapat dalam bakal buah. Bakal biji
akan menjadi biji (semen) dan bakal buah akan menjadi buah (fructus).
Bakal Buah (ovarium)
Berdasarkan letaknya terhadap dasar bunga, bakal buah dibedakan atas :
1. Bakal buah menumpang (superus); yaitu bakal buah duduk di atas dasar bunga sehingga
letaknya lebih tinggi, sama tinggi atau mungkin lebih rendah dari tepi dasar bunga tetapi bagian
samping bakal buah tidak pernah berlekatan dengan dasar bunga.
2. Bakal buah setengah tenggelam (hemi inferus); yaitu bakal buah duduk pada dasar bunga
yang cekung, tempat duduk bakal buah selalu lebih rendah dari tepi dasar bunga dan sebagian
dinding bakal buah berlekatan dengan dasar bunga.
3. Bakal buah tenggelam (inferus); seluruh bagian samping bakal buah berlekatan dengan dasar
bunga.
Tembuni (Placenta)
Tembuni adalah bagian bakal buah yang menjadi tempat duduknya bakal-bakal biji. Berdasarkan
letaknya tembuni dibedakan atas :
1. Parietal; tembuni terletak pada dinding-dinding bakal buah.
2. Sentral; tembuni terletak pada poros atau pusat bakal buah.
3. Aksilar; tembuni terletak di sudut tengah pada bakal buah yang beruang lebih dari dua dan
tembuninya terdapat pada sudut-sudut pertemuan daun-daun buah yang melipat ke dalam.
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (113 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
Rumus Bunga
Rumus bunga ditunjukkan oleh 4 bagian pokok yaitu :
1. Kelopak; dinyatakan dengan huruf K singkatan Kalix.
2. Tajuk atau mahkota; dinyatakan dengan huruf C singkatan corolla.
3. Benang sari; dinyatakan dengan huruf A singkatan androecium.
4. Putik; dinyatakan dengan huruf G singkatan gynaecium.
Jika kelopak dan mahkota sama bentuk maupun warnanya maka untuk menyatakan bagian tersebut
kita gunakan huruf P singkatan perigonium. Jika bunga mempunyai 5 daun kelopak, 5 daun
mahkota, 10 benang sari, dan putik yang tersusun oleh 1 daun buah serta bersifat simetri 1 maka
rumus bunganya adalah :
­ K 5, C 5, A 10, G 1.
Jika bunga memiliki 6 daun tenda bunga, 6 benang sari dan sebuah putik yang tersusun dari 3 daun
buah serta bersifat simetri banyak maka rumus bunganya adalah :
* P 6, A 6, G 3.
15.7. BUAH (Fructus)
Buah pada tumbuhan umumnya dapat dibedakan dalam dua golongan, yaitu :
a. buah semu atau buah tertutup, yaitu buah terbentuk dari bakal buah beserta bagian-bagian
lain bunga, yang malahan menjadi bagian utama buah ini (lebih besar, lebih menarik
perhatian, dan seringkali merupakan bagian buah yang bermanfaat, dapat dimakan), sedang
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (114 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
buah yang sesungguhnya kadang-kadang tersembunyi.
b. buah sungguh atau buah telanjang, yang melulu terjadi dari bakal buah, dan jika ada bagian
bunga lainnya yang masih tinggal bagian ini tidak merupakan bagian buah yang berarti.
Penggolongan Buah Semu.
Buah semu dapat dibedakan atas :
a. buah semu tunggal, yaitu buah terjadi dari satu bunga dengan satu bakal buah. Pada buah ini
selain bakal buah ada bagian lain bunga yang ikut membentuk buah, misalnya : tangkai bunga,
pada buah jambu monyet dan kelopak bunga pada buah ciplukan.
b. buah semu ganda, jika pada satu bunga terdapat lebih dari satu bakal buah yang bebas satu
sama lain, dan kemudian masing-masing dapat tumbuh menjadi buah, tetapi di samping itu
ada bagian lain pada bunga itu yang ikut tumbuh, dan merupakan bagian buah yang mencolok
(dan seringkali yang berguna), misalnya pada buah arbe (Fragraria vesca L.)
c. buah semu majemuk, ialah buah semu yang terjadi dari bunga majemuk, tetapi seluruhnya
dari luar tampak seperti satu buah saja, misalnya buah nangka (Artocarpus integra Merr.), dan
keluwih (Artocarpus communis Forst.), yang terjadi dari ibu tangkai bunga yang tebal dan
berdaging, beserta daun-daun tenda bunga yang pada ujungnya berlekatan satu sama lain,
hingga merupakan kulit buah semu ini.
Penggolongan Buah Sejati (Buah Sungguh).
Buah sejati pertama-tama dibedakan terlebih dahulu dalam 3 golongan, yaitu :
1. buah sejati tunggal, ialah buah sejati yang terjadi dari satu bunga dengan satu bakal buah
saja. Buah ini dapat berisi satu biji atau lebih, dapat pula tersusun dari satu atau banyak daun
buah dengan satu atau banyak ruangan, misalnya :
- buah mangga (Mangifera indica L.), mempunyai satu ruang dengan satu biji,
- buah pepaya (Carica papaya L.), terjadi dari beberapa daun buah dengan satu ruang dan
banyak biji,
- buah durian (Durio zibethinus Murr.), yang terdiri atas beberapa daun buah, mempunyai
beberapa ruang, dalam tiap ruangnya terdapat beberapa biji.
2. buah sejati ganda, terjadi dari satu bunga dengan beberapa bakal buah yang bebas satu
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (115 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
sama lain, dan masing-masing bakal buah menjadi satu buah, misalnya pada cempaka
(Michelia champaka Bail.).
3. buah sejati majemuk, yaitu buah yang berasal dari suatu bunga majemuk, yang masingmasing
bunganya mendukung satu bakal buah, tetapi setelah menjadi buah tetap berkumpul,
sehingga seluruhnya tampak seperti buah saja, misalnya pada pandan (Pandanus tectorius
Sol.).
Buah Sejati Tunggal.
Buah sejati tunggal dapat dibedakan lagi dalam dua golongan, yaitu :
a. buah sejati tunggal yang kering (siccus), yaitu buah sejati tunggal yang bagian luarnya keras
dan mengayu seperti kulit yang kering, misalnya buah kacang tanah (Arachis hypogoea L.),
padi (Oryza sativa L.), dll.
b. buah sejati tunggal yang berdaging (carnosus), ialah jika dinding buahnya menjadi tebal
berdaging. Dinding buah seringkali dengan jelas dapat dibedakan dalam tiga lapisan yaitu :
- kulit luar (exocarpium atau epicarpium), lapisan tipis, tetapi kuat atau kaku seperti
kulit dengan permukaan yang licin.
- kulit tengah (mesocarpium) biasanya tebal berdaging atau berserabut, dan jika
lapisan ini dapat dimakan, maka lapisan inilah yang dinamakan daging buah
(sarcocarpium), misalnya pada mangga (Mangifera indica).
- kulit dalam (endocarpium), yang berbatasan dengan ruang yang mengandung
bijinya, cukup tebal dan keras misalnya pada kenari (Canarium commune L.), kelapa
(Cococ nucifera L.).
Buah Sejati Ganda.
Buah sejati ganda adalah buah yang terjadi dari satu bunga dengan banyak bakal buah yang masingmasing
bebas, dan kemudian tumbuh menjadi buah sejati, tetapi kesemuanya tetap berkumpul pada
satu tangkai.
Menurut sifat masing-masing buah yang berkumpul tadi, buah sejati ganda dapat dibedakan dalam :
a. buah kurung ganda, misalnya pada mawar (Rosa hybrida Hort.), dalam badan yang berasal
dari dasar bunganya yang berbentuk periuk terdapat banyak buah-buah kurung.
b. buah batu ganda. Pada jenis-jenis rubus (Rubus fraxinifolius Poir.).bunganya mempunyai
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (116 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
banyak bakal buah, yang kemudian masing-masing tumbuh menjadi buah batu.
c. buah bumbung ganda, berasal dari bunga dengan beberapa bakal buah yang masing-masing
tumbuh menjadi buah bumbung, terdapat a.l. pada pohon cempaka (Michelia champaka L.).
d. buah buni ganda, seperti di atas, tetapi bakal buah berubah menjadi buah buni, misalnya
srikaya (Annona squamosa L.).
Buah Sejati Majemuk.
Sama halnya dengan buah sejati ganda, buah sejati majemuk dapat dibedakan atas :
a. buah buni majemuk, jika bakal buah masing-masing bunga dalam bunga majemuk
membentuk suatu buah buni, misalnya pada nenas (Ananas comosus Merr.). Pada buah nenas
pada pembentukan buah ikut pula mengambil bagian daun-daun pelindung dan daun-daun
tenda bunga sehingga keseluruhannya nampak sebagai satu buah saja.
b. buah batu majemuk, misalnya terdapat pada pandan (Pandanus tectorius Sol.). Pada pandan
rangkaian bunga betinanya setelah mengalami penyerbukan, berubah menjadi buah batu
majemuk, yang masih kelihatan sebelah luarnya. Bahwa kelompokan buah itu adalah
kumpulan banyak buah.
c. buah kurung majemuk, misalnya pada bunga matahari (Helianthus annus L.). Bunga
tumbuhan ini terdiri atas bunga-bunga mandul di tepi dan bunga yang subur di tengah. Dan
karena tiap bunga yang subur itu setelah penyerbukan pembuahan berubah menjadi sebuah
buah kurung, maka seluruh bunga akan berubah menjadi suatu buah kurung majemuk.
15.8. BIJI (Semen)
Pada awalnya biji duduk pada suatu tangkai yang keluar dari papan biji atau tembuni (placenta).
Tangkai pendukung biji itu disebut talu pusat (funiculus). Bagian biji tempat pelekatan tali pusat
dinamakan pusar biji (hilus). Jika biji sudah masak biasanya tali pusarnya putus, sehingga biji
terlepas dari tembuninya. Bekas tali pusat umumnya nampak jelas pada biji.
Pada biji ada kalanya tali pusar ikut tumbuh, berubah sifatnya menjadi salut atau selaput biji
(arillus). Bagian ini ada yang merupakan selubung biji yang sempurna, ada yang hanya
menyelubung sebagai biji saja.
Salut biji ada yang :
- Berdaging atau berair, dan seringkali dapat dimakan, misalnya pada biji durian (Durio
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (117 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
zibethinus Murr), biji rambutan (Nephelium lappaceum L.). dll.
- Menyerupai kulit dan hanya menutupi sebagian biji, misalnya pada biji pala (Myristica
fragrans Houtt). Salut biji pala dinamakan marcis, yang seperti bijinya sendiri digunakan pula
sebagai bumbu masak dan berbagai macam keperluan lainnya, antara lain sebagai bahan obat.
Bagian-bagian biji dapat dibedakan sebagai berikut :
a. Kulit Biji (spermodermis)
b. Kulit pusar (funiculus)
c. Inti biji atai isi biji (nucleus seminis)
Pada dasarnya biji mempunyai susunan yang tidak berbeda dengan bakal biji, tetapi dipergunakan
nama-nama yang berlainan untuk bagian-bagian yang sama asalnya, misalnya : Integumentum pada
bakal biji, kalau sudah menjadi biji merupakan kulit biji (spermodermis).
KULIT BIJI (Spermodermis)
Kulit biji berasal dari selaput bakal biji (integumentum). Oleh sebab itu biasanya kulit biji (dari
tumbuhan biji tertutup (Angiospermae) terdiri aras dua lapisan, yaitu :
Lapisan Kulit Luar (testa), ada yang tipis, ada yang kaku seperti kulit, ada yang keras seperti kayu
atau batu. Bagian ini merupakan pelindung utama bagian biji yang di dalam. Lapisan luar ini dapat
memperlihatkan warna dan gambaran yang berbeda-beda: merah, biru, perang, kehijau-hijauan, ada
yang licin rata, mempunyai permukaan keriput.
a. Lapisan Kulit Dalam (tegmen), tipis seperti selaput, dinamakan juga kulit ari.
Pada pembentukan kulit biji dapat pula ikut serta bagian bakal biji yang lebih dalam daripada
integumentumnya, misalnya lain bagian jaringan nuselus yang terluar.
Biji yang kulitnya terdiri atas dua lapisan itu umumnya adalah biji tumbuhan biji tertutup
(Angiospermae). Pada tumbuhan biji talanjang (Gymnospermae), biji malahan mempunyai tiga
lapisan seperti pada biji belinjo (Gnetum gnemon K), padahal bakal biji tumbuhan biji telanjang
umumnya hanya mempunyai satu integementum saja.
Ketiga lapisan kulit biji seperti pada melinjo itu masing-masing dinamakan :
a. Kulit luar (sarcotesta), biasanya tebal berdaging, pada waktu masih muda berwarna hijau,
kemudian berubah menjadi kuning, dan akhirnya merah.
b. Kulit tengah (sclerotesta), suatu lapisan yang kuat dan keras, berkayu, menyerupai kulit
dalam (endocarpium) pada buah batu.
c. Kulit dalam (endotesta), biasanya tipis seperti selaput, serigkali melekat erat pada inti biji
Pada kulit luar biji itu masih dapat ditemukan bagian-bagian lain, misalnya :
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (118 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
1. Sayap (ala), alat tambahan berupa sayap pada kulit luar biji, dan dengan demikian biji mudah
dipencarkan oleh angin, ch. pada spatodea (Spathodea campanulata P.B.), kelor (Moringa
oleifera Lamk).
2. Bulu (coma), yaitu penonjolan sel-sel kulit luar biji yang berupa rambut-rambut yang halus,
memudahkan biji ditiup oleh angin, ch. pada kapas (Gossypium), biduri (Calotropis gigantea
Dryand).
3. Salut biji (arillus), yang biasanya berasal dari pertumbuhan tali pusar, misalnya pada biji
durian (Durio zibethinus Murr), dll.
4. Salut Biji semu (arillodium), seperti salu biji, tetapi tidak berasal dari tali pusar. Melainkan
tumbuh dari bagian sekitar liang bakal biji (micropyle). Macis pada biji pala sebenarnya adalah
suatu salut biji semu.
5. Pusar biji (hilus), yaitu bagian kulit luar biji bekas perlekatan dengan tali pusar, biasanya
kelihatan kasar dan mempunyai warna yang berlainan dengan bagian lain kulit biji. Pusar biji jelas
kelihatan pada biji tumbuhan berbuah polong, misalnya ; Kacang panjang (Vigna Sinensis Edl),
kacang merah (Phaseolus vulgaris L). Dll.
6. Liang biji (micropyle), ialah liang kecil bekas jalan masuknya buluh serbuk sari ke dalam
bakal biji pada peristiwa pembuahan. Tepi liang inii seringkali tumbuh menjadi badan berwarna
keputih-putihan, lunak, yang disebut karunkula (caruncula). Jika badan yang berasal dari tepi
liang ini sampai merupakan salut biji, maka disebut salut biji semu (arillodium).
7. Bekas-bekas pembuluh pengangkutan (chalaza), yaitu tempat pertemuan integumen dengan
nuselus, masih kelihatan pada biji anggur (Vitis vinifera.L).
8. Tulang biji (raphe), yaitu tali pusar pada biji, biasanya hanya kelihatan pada biji yang berasal
dari bakal biji yang mengangguk (anatropus), dan pada biji biasanya tak begitu jelas lagi, masih
kelihatan misalnya pada biji jarak (Ricinus communis L).
Tali Pusar (Funiculus)
Tali pusar merupakan bagian yang menghubungkan biji dengan tembuni, jadi merupakan tangkainya
biji. Jika biji masak, biasanya bijii terlepas dari tali pusarnya (tangkai biji), dan pada biji hanya
tampak bekasnya yang dikenal sebagai pusar biji (lihat perihal kulit biji).
Inti Biji (Nucleus Seminis)
Inti biji ialah semua bagian biji yang terdapat di dalam kulitnya, oleh sebab itu inti biji juga dapat
dinamakan isi biji.
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (119 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
a. Lembaga (embryo), yang merupakan calon individu baru,
b. Putih Lembaga (albumen), jaringan berisi cadangan makanan untuk masa permulaan
kehidupan tumbuhan baru (kecambah) sebelum dapat mencari makanan sendiri.
15.9. Lembaga (Embryo)
Lembaga adalah calon tumbuhan baru, yang nantinya akan tumbuh menjadi tumbuhan baru.
Lembaga telah memperlihatkan ketiga bagian utama tumbuhan, yaitu :
a. Akar lembaga atau calon akar (radicula), yang biasanya kemudian akan tumbuh tersu
merupakan akar tunggang (untuk tumbuhan yang tergolong dalam Dicotyedoneae).
b. Daun Lembaga (cotyledon), merupakan daun pertama suatu tumbuhan. Daun lembaga dapat
mempunyai fungsi yang berbeda-beda.
- Sebagai tempat penimbunan makanan, jumlahnya biasanya dua, dan duduk berhadapan
pada sisi yang rata tadi.
- Sebagai alat untuk melakukan asimilas
- Sebagai alat pengisap makanan untuk lembaga dari putih lembaga. Dalam hal ini daun
lembaga itu merupakan suatu alat yang tipis, merupakan bagian yang memisahkan putih
lembaga dari lembaganya. Karena bentuknya yang seperti perisai kecil, alat itu dinamakan
skutelum (scutellum). Biji tampak utuh, dan bagian ini (daun lembaga tadi) tidak tampak dari
luar.
c. Batang Lembaga (cauliculus), dapat dibedakan dalam dua bagian, yaitu :
- Ruas batang di atas daun lembaga (interodium epicotylum),
- Ruas batang di bawah daun lembaga (internodium hypocotylum).
Putih Lembaga (Albumen)
Putih lembaga adalah bagian biji, yang terdiri atas suatu jaringan yang menjadi tempat cadangan
makanan bagi lembaga. Tidak setiap biji mempunyai putih lembaga. Seperti misalnya pada biji
tumbuhan berbuah polong (Leguminosae), cadangan makanan tidak tersimpan dalam putih lembaga,
melainkan dalam daun lembaga, oleh sebab itu daun lembaganya menjadi tebal.
Melihat asalnya jaringan yang menjadi tempat penimbunan zat makanan cadangan tadi kita dapat
membedakan putih lembaga dalam :
a. Putih lembaga dalam (endospermium), jika jaringan penimbun makanan itu terdiri atas selsel
yang berasal dari inti kandung lembaga sekunder yang kemudian setelah dibuahi oleh salah
satu inti sperma lalu membelah-belah menjadi jaringan penimbun makanan ini. Hanya dapat
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (120 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
ditemukan pada tumbuhan biji tertutup (Angiospermae).
b. Putih lembaga luar (perispremium), jika bagian ini berasal dari bagian biji di luar kandung
lembaga, entah dari nuselus entah dari selaput bakal biji.
Biji yang sebagian besar terdiri atas putih lembaga dalam, misalnya biji jagung (Zea mays L.) dan
biji rumput (Gramineae) umumnya, sedang biji yang untuk sebagian besar hanya terdiri atas putih
lembaga luar ialah biji lada (Piper nigrum L.). Ada pula biji yang cadangan makanannya tersimpan
baik dalam putih lembaga luar maupun dalam, jadi kedua-duanya ada pada biji tadi, seperti misalnya
pada biji pala (Myristica fragrans Houtt.).
BAB XVI
DESKRIPSI
16.1. DEFENISI DAN KEPENTINGAN
Deskripsi disebut juga pertelaan, yaitu penggambaran dengan kata-kata mengenai batasan
suatu takson. Dalam penerbitan yang memuat hasil penelitian botani sistematika maka deskripsi
merupakan bagian yang terpenting karena memuat data-data baku penelitian, jadi menyimpan
kumpulan pengetahuan tentang takson-takson itu. Deskripsi umumnya berisi sifat-sifat beserta
cirinya, yang untuk sebagian besar bersumber pada sifat-sifat morfologi tumbuhan. Deskripsi
mengenai tumbuhan dapat dilihat di buku-buku botani dan flora, misalnya: Blumea, Kew Bulletin,
Flora Malesiana dan lain-lain.
16.2. BENTUK DAN ISI DESKRIPSI
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (121 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
Deskripsi tumbuhan harus singkat, tepat, terperinci lengkap dan menyeluruh dan dapat
dibandingkan sesamanya. Penyusunan deskripsi umumnya mengikuti suatu pola tertentu yang
urutan-urutannya konsisten, yaitu mulai dari yang umum ke khusus, dari dasar ke ujung. Secara
garis besar, urutan yang umum diikuti dalam mendeskripsi suatu takson tumbuhan tinggi adalah:
h. habit
i. akar
j. batang
k. cabang dan ranting
l. daun
m. kuncup
n. perbungaan dan bunga
o. perbuahan dan buah
p. biji
q. kecambah dan semai
Dalam botani sistematik, dikenal dua macam deskripsi yaitu deskripsi analisis dan diagnosis.
Deskripsi analisis berisi penggambaran secara lengkap dan terperinci dengan kata-kata tentang
batasan takson, sedangkan diagnosis merupakan uraian singkat yang hanya memuat ciri utama
terpenting yang khas untuk suatu takson sehingga memungkinkan orang membedakannya dengan
segera dari kerabat-kerabat dekatnya.
BAB XVII
PENCIRIAN
17.1. DEFENISI
Hampir semua kegiatan botani sistematik melibatkan sifat dan ciri tumbuhan beserta
variasinya. Sifat dan ciri inilah yang memungkinkan orang menggambarkan konsep dan mengenal
sesuatu takson. Sifat secara umum dapat diartikan sebagai petanda yang mengacu pada bentuk,
susunan atau kelakuan tumbuhan yang dapat digunakan untuk membandingkan, mendeterminasi,
menginterpretasi atau memisahkan suatu tumbuhan dari yang lainnya. Pernyataan atau keadaan
variasi sifat disebut ciri suatu sifat. Contoh sifat: tinggi pohon, pinggir daun. Tinggi pohon 5m,
pinggir daun rata, beringgit, merupakan ciri daripada sifat tinggi pohon dan pinggir daun itu.
17.2. MACAM SIFAT TAKSONOMI
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (122 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
1. Sifat kuantitatif
2. Sifat kualitatif
Sifat taksonomi kuantitatif adalah sifat yang cirinya yang dapat dinilai secara langsung dengan cara
menghitung atau mengukur, dan dinyatakan dalam angka. Contohnya: lebar daun, panjang
perbungaan yang dinyatakan dalam cm atau jumlah benang sari, jumlah lembar mahkota bunga yang
dinyatakan dalam angka. Sifat kualitatif digambarkan dengan bentuk dan dideskripsikan bukan
dalam angka. Contohnya: duduk daun berhadapan, berseling, buah buni atau buah kotak.Sifat
kualitatif mempunyai nilai yang lebih penting daripada sifat kuantitatif, sebab sifat kuantitatif
kadang-kadang mempunyai kisaran yang luas terutama pada sifat yang berasal dari bagian vegetatif
yang seringkali dipengaruhi faktor-faktor lingkungan.
Sifat taksonomi juga dapat digolongkan atas sifat yang baik dan sifat yang jelek. Sifat yang
baik untuk keperluan botani sistematik adalah tidak mudah terpengaruh faktor lingkungan, variasinya
konsisten atau relatif stabil dalam populasi taksa itu.
BAB XVIII
SUMBER BUKTI TAKSONOMI
18.1. PERANAN SUMBER BUKTI TAKSONOMI
Sifat dan ciri taksonomi sangat penting sebagai sumber bukti taksonomi untuk memecahkan berbagai
permasalahan taksonomi. Sifat-sifat yang dipakai sebagai bukti taksonomi dalam mendeterminasi,
mencirikan dan menggolongkan jenis-jenis tumbuhan dapat berasal dari seluruh bagian dan dari
semua fase serta proses pertumbuhan tumbuhan itu.
18.2. BEBERAPA SUMBER BUKTI TAKSONOMI
Berikut ini akan diungkapkan beberapa cabang biologi yang dapat dijadikan sebagai sumber bukti
taksonomi:
1. Morfologi
Data morfologi hingga sekarang masih tetap dipakai karena mudah diamati dan praktis digunakan
untuk kunci determinasi. Sifat yang mantap pada data morfologi adalah organ generatifÕ bunga dan
buah. Data morfologi berupa organ vegetatif yang sering dipakai antara lain: habit, akar banir,
penyebaran bulu pada bagian-bagian tumbuhan. Data morfologi sering menunjukkan cara-cara
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (123 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
tumbuhan tersebut mengadaptasikan diri dengan lingkungannya dan evolusinya.
Penggunaan: Melastomataceae ditentukan berdasarkan bentuk morfologi daunnya
Cucurbitaceae ditentukan berdasarkan sulurnya.
2. Embriologi
Banyak macam data embriologi yang digunakan untuk memecahkan masalah taksonomi. Data
tersebut berasal dari beberapa sumber baik yang berkaitan dengan struktur maupun proses,
seperti: kepala sari, gametofit jantan, gametofit betina, bakal biji, pembuahan, endosperma, kulit
biji, apomiksis dan poliembrio. Pembagian utama Dikotil dan Monokotil didasarkan pada satu
sifat embrio (lembaga), tapi untuk taksa rendah masih jarang digunakan.
3. Anatomi
Dalam mendeterminasi, menunjukkan kecondongan evolusi atau kekerabatan secara filogeni.
Data anatomi ini banyak digunakan untuk mendeterminasi kayu-kayu ekonomis.
Beberapa contoh pemakaian data anatomi dalam taksonomi:
- Orang menyimpulkan keprimitifan suku-suku Ranales diperkuat dengan tidak adanya
pembuluh tapis; sifat ini juga dimiliki Gymnospermae dan Pteridophyta.
- Susunan sel pelindung stomata berbeda-beda dan mantap untuk marga atau di atasnya.
- Kerapatan stomata bisa membantu sampai jenis
- Anatomi bunga; adanya bekas-bekas ikatan pembuluh meski bunga tereduksi, sehingga
orang dapat membuktikan adanya bekas-bekas mahkota pada Fagaceae, sehingga memperkuat
dugaan bahwa suku tersebut dan sebangsanya mempunyai bunga yang tidak primitif.
4. Palinologi
Palinologi adalah studi tentang serbuk sari dan spora. Serbuk sari menjadi sumberr taksonomi
yang penting. Variasi yang diperlihatkan serbuk sari antara lain adalah jumlah dan letak alur dan
lubang di permukaannya, bentuk ukiran eksin (lapisan luar serbuk sari) serta bentuk umum dan
ukurannya. Serbuk sari bisa khas untuk jenis, marga atau suku.
5. Sitologi
Sitologi adalah ilmu tentang seluk beluk sel. Meskipun istilah sitologi menyangkut semua aspek
sel, namun bila dikaitkan dengan taksonomi, pembahasan difokuskan pada kromosom dan
berbagai atributnya. Berbagai data kromosom yang digunakan untuk tujuan taksonomi, yaitu:
jumlah, ukuran dan bentuk, perilaku pada waktu meiosis: diambil kariotipe (keadaan kromosom
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (124 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
pada tingkat metaphase dalam proses mitosis), meliputi ukuran panjang kromosom, letak
sentromer, ada tidaknya satelit.
- Ukuran kromosom mantap untuk jenis
- Jumlah kromosom semua individu yang tergolong satu jenis itu umumnya sama, kecuali
dalam beberapa jenis tertentu.
Secara garis besar terdapat tiga macam jumlah kromosom:
1. Sama untuk seluruh anggota golongan, misalnya Pinus ® seluruh jenisnya mempunyai n = 12
2. Kelipatan jumlah kromosom sehingga terjadi deret poliploidi pada anggota suatu golongan
tumbuhan, misalnya Taraxacum (Compositae): 2n = 16, 24, 32, 40, 48,. Dalam deret ini 8
merupakan jumlah dasar.
3. Jumlah kromosom tidak beraturan disebut aneuploid, misalnya Brassica: n = 6, 7, 8, 9, atau 10
6. Fisiologi
Data-data fisiologi tidak dipakai secara langsung untuk keperluan bukti-bukti taksonomi. Musim
berbunga, keperluan cahaya, pola perkawinan, penyebaran geografis penting untuk mempertegas
perbedaan jenis-jenis tumbuhan.
7. Fitokimia
- Penggolongan ganggang didasarkan pada pigmen dalam plastidanya serta susunan kimia
senyawa cadangan makanan.
- Adanya kandungan morfin dalam Papaver
- Cadangan pati, bukti penguat anggota Gramineae
- Kristal kalsium oksalat (rapid): membantu dalam penyusunan klasifikasi Rubiaceae,
Liliaceae dan Compositae serta kekerabatan antara cactaceae dengan anggota Centrosperma
8. Penyebaran geografis
- Memegang peranan penting dalam menentukan apakah suatu kelompok populasi perlu
diperlakukan sebagai jenis tersendiri atau cukup sebagai sub spesies, varietas atau forma.
- Erat hubungannya dengan factor ekologi yang menentukan beberapa sifat biologi
- Mempelajari asal usul, sejarah perkembangan dan evolusi takson
- Dengan peta penyebaran, setiap jenis dapat diselidiki daerah paling banyak jumlah jenis
dan paling besar variasi ciri-cirinya yang dianggap sebagai pusat keanekaragaman dan sering
dianggap tempat asal evolusi takson itu.
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (125 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
BAB XIX
KLASIFIKASI
19.1. DEFENISI DAN TUJUAN
Klasifikasi adalah proses pengaturan hewan atau tumbuh-tumbuhan ke dalam takson tertentu
brdasarkan persamaan dan perbedaan. Hasil proses pengaturan ini ialah suatu sistim klasifikasi, yang
sengaja diciptakan untuk menyatakan hubungan kekerabatan jenis-jenis makhluk hidup satu sama
lainnya. Menurut Rideng (1989) bahwa semua klasifikasi bertujuan agar kita mengingat sedikit
mungkin, tetapi dalam ingatan tersebut mengandung informasi sebanyak-banyaknya. Dengan
mengelompokkan jenis-jenis tumbuhan dalam suatu takson maka ciri-ciri masing-masing individu
akan tercermin dalam deskripsi takson tersebut.
19.2. SEJARAH DAN MACAM-MACAM KLASIFIKASI
Davis and Heywood (1963) membagi perkembangan klasifikasi atas dua, yaitu: klasifikasi
sebelum Darwin dan sesudah Darwin. Klasifikasi sebelum Darwin dibedakan lagi atas tiga yaitu:
klasifikasi yang didasarkan atas habitus, seksual dan hubungan bentuk morfologi. Klasifikasi
sesudah Darwin dibedakan atas pendekatan filogenik dan alamiah. Selanjutnya menurut Rifai (1989),
berdasarkan motif, dasar dan cara yang dipakai maka klasifikasi dapat dibagi dua golongan yaitu
klasifikasi empirik dan klasifikasi rasional. Klasifikasi empirik adalah klasifikasi yang tidak
didasarkan pada sifat-sifat yang dimiliki oleh tumbuh-tumbuhan yang diklasifikasi, contohnya adalah
klasifikasi berdasarkan abjad. Klasifikasi rasional adalah suatu klasifikasi yang betul-betul
mempunyai hubungan langsung dengan tumbuha-tumbuhan, dengan menggunakan sifat-sifat yang
dimiliki tumbuhan itu sebagai dasarnya, klasifikasi inilah yang digunakan secara ilmiah. Klasifikasi
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (126 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
rasional dibedakan atas lima yaitu: klasifikasi praktis, buatan, fenetik, filogeni dan alamiah.
1. Klasifikasi praktis (klasifikasi khusus)
Dibuat untuk memenuhi kepentingan–kepentingan tertentu, dimana tumbuh-tumbuhan digolongkan
berdasarkan sifatnya yang berguna untuk manusia. Klasifikasi ini paling banyak digunakan dalam
kehidupan sehari-hari. Contohnya; penggolongan tumbuhan serat, tanaman obat-obatan, tumbuhan
gulma, tumbuhan penghasil getah dan lain-lainn.
2. Klasifikasi buatan
Hampir semua klasifikasi terdahulu bersifat buatan. Tujuan utamanya adalah untuk mempermudah
pengenalan sehingga biasanya hanya didasarkan pada satu atau dua ciri morfologi yang mudah
dilihat. Sekarang klasifikasi ini jarang dipakai karena sudah tidak berimbangan dengan kemajuan dan
keperluan botani modern. Sistim klasifikasi ini diciptakan oleh Theophrastus (370-285 s. T.M) ®
tumbuhan digolongkan berdasarkan habitusnya yaitu kelompok pohon, semak, perdu dan terna.
Klasifikasi ini dipakai hamper selama 2000 tahun.
Linnaeus mengganti sistim habitus ini dengan sistim kelamin ® dikenal 24 kelas tumbuhan
berdasarkan jumlah, posisi dan panjang benang sari. Kelas-kelas ini dibagi-bagi menjadi beberapa
bangsa berdasarkan sifat-sifat putiknya. Sistim ini juga banyak mempunyai kekurangan karena
mengabaikan ciri morfologi lainnya dan tidak menunjukkan hubungan kekerabatan yang sebenarnya.
3. Klasifikasi fenetik
Klasifikasi ini didasarkan pada kekerabatan yang ditentukan oleh banyaknya persamaan bentuk yang
nampak. Pertama sekali disusun oleh Antoine Laurent De Jussieu (1748-1836). Dunia tumbuhan
dibaginya menjadi tiga golongan besar yaitu:
- Acotyledonae (jamur, ganggang, lumut dan paku-pakuan).
- Monocotyledonae
- Dicotyledonae
Sifat-sifat tumbuhan diberinya nilai yang berbeda, misalnya: embrio lebih penting ari benang
sari, benang sari lebih berharga dari nilai mahkota bunga dan seterusnya. Berdasarkan ini
tumbuhan biji digolongkannya menjadi 15 kelas, dipecah menjadi 100 bangsa.Sistim ini diperluas
oleh Agustine Pyramus de Candolle (1778-1841), dalam buku Prodromus® berisi 60.000 jenis
tumbuhan berbiji, 211 suku, urutannya dimulai dari golongan yang mempunyai bagian bunga
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (127 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
yang lepas, banyak dan jelas perbedaannya, misalnya: Magnoliaceae® Annonaceae dan lain-lain,
diikuti golongan dengan bunga tereduksi.
Ø Robert Brown (1773-1858) ® menemukan bahwa biji Gymnospermae terbuka dan
tidak terlindung oleh bakal buah sperti pada Angiospermae.
Ø Holfmeiter (1824-1877) ® memberi landasan pergiliran keturunan pada lumut, paku
dan tumbuhan berbiji, dikenallah takson-takson Thallophyta, Bryophyta, Pteridophyta dan
Spermatophyta.
Ø Kerjasama George Bentham (1800-1844) dan Joseph Dalton Hooker (1817-1911)
menghasilkan klasifikasi yang terkenal dan banyak digunakan, diungkapkan dalam “Genera
Plantarum”. Batasan-batasan yang digunakan cukup alamiah dan dianggap mencerminkan
arah evolusi.
4. Klasifikasi filogeni (filetik)
Sejak terbitnya buku “The Origin of Species” dan diterimanya teori evolusi yang diungkapkan di
dalamnya oleh Charles Darwin (1809-1882) maka sistim klasifikasi bertujuan untuk mencerminkan
evolusi jenis. Jenis yang ada sekarang tidak lagi dianggap sebagai ciptaan khusus yang statis, mantap
dan tidak berubah-ubah, tetapi merupakan populasi yang bervariasi, dinamis dan dianggap sebagai
keturunan jenis-jenis sebelumnya.
Filogeni adalah perkembangan sejarah garis-garis evolusi dalam suatu golongan makhluk hidup, jadi
dapat diartikan sebagai asal dan evolusi suatu takson. Klasifikasi ini menekankan keeratan hubungan
kekerabatan nenek moyang takson satu dengan yang lainnya. Untuk keperluan klasifikasi ini, orang
mencoba menerka arah kecondongan evolusi ciri morfologi yang ada dan menentukan ciri primitif
dan maju, misalnya: pohon lebih primitif dari terna, susunan bunga berfusi lebih maju dan lain-lain.
Dasar-dasar teori evolusi sebenarnya tidak mengakibatkan perubahan klasifikasi luar biasa karena
tidak banyak berbeda denfgan Bentham & Hooker, hanya berbeda dalam istilah-istilah, misalnya
kesamaan diganti dengan kekerabatan.
Ø Eichler (1839-1887), membagi dunia tumbuh-tumbuhan ke dalam dua golongan besar
yaitu:
- Cryptogame; dibagi tiga divisi: Thallophyta (Fungi dan Alga), Bryophyta dan Pteridophyta
- Phanerogame; dibagi ke dalam Gymnospermae dan Angiospermae
Sistim-sistim klasifikasi filogeni dibagi menjadi dua golongan besar yaitu:
1. Aliran Engler ® bunga tumbuhan primitive diserbuki oleh angin, tidak bermahkota dan hanya
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (128 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
bertenda bunga. Turunan tumbuhan primitif yang paling sedikit mengalami perubahan karena
evolusi adalah Casuarinaceae, Fagaceae dan Piperaceae. Wettstein menganggap bahwa
Monokotillebih maju daripada Dikotil. Sistim Engler ini dipakai oleh Lawrence dalam
Taxonomy of Vascular Plants.
2. Aliran Ranales ® bertolak pada hipotesis bahwa tumbuhan biji primitif bunganya menyerupai
runjung seperti bunga tusam.
- Bunga primitif mempunyai bagian-bagian yang banyak, lengkap dan lepas-lepas
- Penyerbukan dilakukan oleh serangga
- Magnoliaceae, Annonaceae, Nymphaceae (bangsa Ranales) termasuk tumbuhan primitif.
Pemuka yang terkenal dalam aliran ini adalah:
a. Charles Edwin Bessey (1845-1915) ® Monokotil lebih maju dari Dikotil
b. John Hutchinson (1884-1972), bukunya Families of Flowering Plants ® suku-suku Dikotil
dikelompokkan dalam golongan yang berkayu, perdu dan herba, dapat kritikan karena
dianggap makin mundur ke sistim habitus. Klasifikasi monokotilnya khususnya Liliaceae
lebih berhasil, misalnya dipakai dalam Flora of Java. Berdasarkan penelitian lebih lanjut
menunjukkan bahwa Ranales memang mempunyai sifat primitif sehingga aliran Ranales
mungkin lebih mendekati kebenaran.
5. Klasifikasi alamiah
Dikatakan bersifat alamiah bila sistim itu mencerminkan keadaan sebenarnya seperti di alam, dan
serbaguna karena banyak pernyataan kekerabatan yang dimiliki kesatuan-kesatuannya sehingga
banyak memiliki sifat-sifat yang dapat diramalkan. Sistim ini pertama sekali dicetuskan oleh Michel
Adamson (1727-1806), dengan jalan mengikutsertakan, memperhitungkan dan memperlakukan
dengan sama semua sifat yang dimiliki tumbuhan. Tumbuhan yang memiliki jumlah kesamaan ciriciri
terbesar dikelompokkan bersama-sama dengan memperhatikan fakta-fakta evolusi yang sesuai
sehingga hasilnya dapat ditafsirkan dengan istilah-istilah filogeni.
Gagasan tersebut baru mendapat pengakuan akhir-akhir ini sebagai akibat pesatnya perkembangan
matematika modern dan teknologi komputer. Baru beberapa golongan saja yang bisa dilaksanakan
dengan sistim ini karena data-data yang ada belum memungkinkan untuk dinamakan pada komputer
secara efisien, sehingga masih perlu penelitian mendalam untuk data lengkap dan menyeluruh.
Pemakaian komputer memberi peluang untuk memperoleh sistim klasifikasi yang akan memenuhi
berbagai keinginan dan memberi kepuasan pada semua pihak.
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (129 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
BAB XX
TEKNIK PEMBUATAN HERBARIUM
20.1. DEFENISI DAN FUNGSI HERBARIUM
Herbarium berasal dari kata “hortus dan botanicus”, artinya kebun botani yang dikeringkan.
Secara sederhana yang dimaksud herbarium adalah koleksi spesimen yang telah dikeringkan,
biasanya disusun berdasarkan sistim klasifikasi. Fungsi herbarium secara umum antara lain:
1. Sebagai pusat referensi; merupakan sumber utama untuk identifikasi tumbuhan bagi para ahli
taksonomi, ekologi, petugas yang menangani jenis tumbuhan langka, pecinta alam, para petugas
yang bergerak dalam konservasi alam.
2. Sebagai lembaga dokumentasi® merupakan koleksi yang mempunyai nilai sejarah, seperti tipe
dari taksa baru, contoh penemuan baru, tumbuhan yang mempunyai nilai ekonomi dan lain-lain.
3. Sebagai pusat penyimpanan data ® ahli kimia memanfaatkannya untuk mempelajari alkaloid,
ahli farmasi menggunakan untuk mencari bahan ramuan untuk obat kanker, dan sebagainya.
20.2. CARA MENGKOLEKSI TUMBUHAN
Persiapan koleksi yang baik di lapangan merupakan aspek penting dalam praktek pembuatan
herbarium. Spesimen herbarium yang baik harus memberikan informasi terbaik mengenai tumbuhan
tersebut kepada para peneliti. Dengan kata lain, suatu koleksi tumbuhan harus mempunyai seluruh
bagian tumbuhan dan harus ada keterangan yang memberikan seluruh informasi yang tidak nampak
pada spesimen herbarium. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam mengkoleksi tumbuhan antara lain:
a. Perlengkapan
Beberapa perlengkapan yang diperlukan untuk mengkoleksi tumbuhan di lapangan antara
lain: gunting tanaman, buku catatan, label, pensil, lensa tangan, Koran bekas, penekan/penghimpit,
tali pengikat, vasculum, kantong plastik, alkohol, kantong kertas (untuk cryptogamae, buah dan biji),
peta, kamera dan sebagainya.
b. Apa yang dikoleksi:
1. Tumbuhan kecil harus dikoleksi seluruh organnya
2. Tumbuhan besar atau pohon, dikoleksi sebagian cabangnya dengan panjang 30-40 cm yang
mempunyai organ lengkap: daun (minimal punya 3 daun untuk melihat phylotaksis), bunga
dan buah, diambil dari satu tumbuhan. Untuk pohon yang sangat tinggi, pengambilan organ
generatifnya bisa dilakukan dengan galah, ketapel atau menggunakan hewan, misalnya beruk.
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (130 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
3. Untuk pohon atau perdu kadang-kadang penting untuk mengkoleksi kuncup (daun baru)
karena kadang-kadang stipulanya mudah gugur dan brakhtea sering ditemukan hanya pada
bagian-bagian yang muda.
4. Tumbuhan herba dikoleksi seluruh organnya kecuali untuk herba besar seperti Araceae.
5. Koleksi tumbuhan hidup; dianjurkan untuk ditanam di kebun botani dan rumah kaca. Contoh:
- Epifit, anggrek® akarnya dibungkus dengan lumut, akar-akar paku, serat kelapa
- Biji-biji tumbuhan air disimpan dalam air
- Biji-biji kapsul kering jangan diambil dari kapsulnya.
c. Catatan lapangan
Catatan lapangan segera dibuat setelah mengkoleksi tumbuhan, berisi keterangan-keterangan tentang
ciri-ciri tumbuhan tersebut yang tidak terlihat setelah spesimen kering. Beberapa keterangan yang
harus dicantumkan antara lain: lokasi, habitat, habit, warna (bunga, buah), bau, eksudat, pollinator
(kalau ada), pemanfaatan secara lokal, nama daerah dan sebagainya.
d. Pengeringan spesimen
Setelah dilabel (etiket gantung) koleksi dimasukkan ke dalam lipatan kertas koran ® dimasukkan ke
kantong plastik ® disiram dengan alkohol 70 % hingga basah® dikeringkan. Pengeringan dapat
dilakukan dengan beberapa cara yaitu: panas matahari, menggunakan kayu bakar, arang dan dengan
listrik.
e. Proses pengeringan:
- 5-10 spesimen diapit dengan penekan atau sasak ukuran 45 x 35 cm. Untuk specimen yang
banyak, bisa digunakan karton atau aluminium berombak/beralur untuk mengapit specimen
sehingga tidak perlu mengganti-ganti kertas Koran, diletakkan vertikal.
- Buah-buah besar dipisah, dimasukkan ke dalam kantong, beri label dan keringkan terpisah.
- Tumbuhan yang sangat lunak dimasukkan ke dalam air mendidih beberapa menit untuk
membunuh jaringan dan mempercepat pengeringan.
- Dibalik-balik secara teratur, kertas diganti beberapa kali terutama hari pertama, kalau
specimen sudah kaku lebih ditekan lagi
- 1,5-2 hari specimen akan kering
f. Pembuatan herbarium
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (131 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
1. Mounting
Spesimen yang sudah kering dijahit atau dilem di atas kertas karton
- Gunakan kertas yang kuat atau tidak cepat rusak dan kaku, ukuran 29 x 43 cm
- Untuk tumbuhan Palmae atau tumbuhan lain yang organnya besar, 1 spesimen dimounting
pada beberapa lembar kertas.
2. Labeling
- Label yang berisi keterangan-keterangan tentang tumbuhan tersebut diletakkan di sudut
kiri bawah atau sudut kanan bawah
- Spesimen dipisahkan sesuai dengan kelompoknya kemudian diidentifikasi
- Dianjurkan membuat lembar label kosong untuk kemungkinan perubahan nama.
3. Pengasapan dan peracunan (Fumigasi)
- Sebelum memasukkan spesimen ke herbarium terlebih dahulu harus diasap dengan carbon
bisulfida dalam ruangan tertentu. Metode lain dapat dilakukan dengan menambahkan kristal
paradiklorobenzen. Umumnya herbarium-herbarium melakukan fumigasi dengan interval 1, 2,
3 tahun.
- Umumnya spesimen disusun ke dalam kotak atau lemari khusus berdasarkan alphabet
BAB XXI
SPERMATOPHYTA
Klasifikasi Spermatophyta menurut Keng (1978):
Divisi Spermatophyta dibagi menjadi dua sub divisi® Gymnospermae dan Angiospermae.
21.1. Subdivisi Gymnospermae
Beberapa jenisnya sudah punah. Jenis-jenis yang masih hidup termasuk ke dalam beberapa
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (132 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
ordo yaitu:
1. Ordo Cycadales
1.1. Cycadaceae
Ciri khas: perawakan seperti palmae, daun besar, pinnatus; strobili uniseksual, letaknya terminal atau
pada kerumunan daun; biji besar seperti drupa. Masih mirip dengan tumbuhan paku, terutama daun
mudanya.
Beberapa contoh jenisnya: Cycas rumphii, C. siamensis (asli di Malaya), beberapa genera yang
lain: Macrozamia, Zamia, Encephalartos.
2. Ordo Coniferales
2.1. Podocarpaceae
Perdu atau pohon. Daun tersebar atau tersusun spiral, bentuknya bervariasi dari bentuk sisik, bentuk
jarum hingga lanset. Strobilus uniseksual, dioesius, terdapat pada bagian atas ketiak daun. Strobilus
jantan terdiri dari banyak mikrosporofil yang tersusun secara spiral, masing-masing berisi sepasang
mikrosporangia, mikrospora bersayap. Strobili betina berisi ovul tunggal (atau jarang terdiri dari
beberapa ovul). Contoh jenis: Podocarpus polystachyus, Dacrydium elatum, Phyllocladus
hypophyllus.
2.2. Araucariaceae
Berupa pohon yang selalu hijau. Daun tersusun spiral atau pada dua alur, bentuknya liniar atau
ovatus. Strobilus jantan besar, terdiri dari banyak mikrosporofil yang tersusun secara spiral, masingmasing
berisi 4 – 9 mikrosporangia. Strobilus betina menghasilkan ovul tunggal. Terdiri dari dua
genera yaitu: Araucaria dan Agathis. Beberapa jenis Araucaria seperti A. bidwillii, A. excelsa sudah
dibudidayakan. Agathis alba (dikenal dengan minyak damar) merupakan jenis asli di Malaya.
2.3. Pinaceae
Berupa pohon, jarang perdu. Daun tunggal, bentuk lilier hingga bentuk jarum, tersebar, dua alur atau
dalam bundle. Stobili uniseksual dan sering monoesius. Strobilus jantan terdiri dari banyak
miksporofil yang tersusun spiral dan masing-masing berisi sepasang mikrosporangia. Strobilus
betina tersusun spiral dengan sejumlah ovuliferus bentuk sisik, masing-masing berisi ovul bentuk
anatropus. Terdiri dari 9 genera, contoh jenisnya: Pinus merkusii (dari Sumatera), P. insularis (dari
Filipina).
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (133 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
3. Ordo Gnetales
2.4. Gnetaceae
Merupakan tumbuhan memanjat dan berkayu, beberapa jenis berupa pohon tegak. Daun tunggal
berhadapan, pertulangan reticulatus. Strobili uniseksual atau biseksual tidak sempurna. Strobilus
jantan berbentuk memanjang, articulatus, terdapat pada ketiak daun (penampakannya seperti bunga
jantan). Strobilus betina juga berbentuk memanjang, articulatus, terdapat pada ketiak daun
(penampakannya seperti bunga betina). Hanya terdiri dari satu genus (monogenerik), terdapat 10
jenis di Malaya. Jenis yang umum dan sudah dibudidayakan adalah Gnetum gnemon (melinjo).
21.2. Subdivisi Angiospermae
Subdivisi ini dibagi ke dalam 2 kelas yaitu; kelas Dikotiledoneae dan kelas
Monokotiledoneae.
A. Dikotiledoneae B. Monokotiledoneae.
1. Subkelas Magnoliideae 1. Subkelas Arecidae
2. Subkelas Dilleniideae 2. Subkelas Commelinidae
3. Subkelas Rosaideae 3. Subkelas Zingiberidae
4. Subkelas Asteridae 4. Subkelas Liliidae
5. Subkelas Alismatidae
1) Bangsa Rhoeadales (Brassicales).
Bangsa ini meliputi tumbuhan yang sebagian besar berupa terna dengan daun-daun yang
duduknya tersebar tanpa dun penumpu. Bunga umumnya banci, aktinomorf, hiasan bunga berupa
kelopak dan mahkota yang berdaun lepas, berbilangan 2 – 4, kadang-kadang 3 – 5 . Benang sari
sama banyaknya dengan daun mahkota atau lebih banyak. Bakal buah biasanya menumpang dengan
2 tembuni atau lebih yang terdapat pada dinding buah, kadang-kadang menjadi beruang banyak
karena adanya pembentukan sekat-sekat.
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (134 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
Dari segi anatomi ada sifat-sifat yang karakteristik yaitu adanya buluh-buluh getah dan sel-sel
yang mengandung mirosin.
Dalam bangsa ini tercakup sejumlah suku, antara lain:
1. Suku Papaveraceae.
Kebanyakan anggotanya berupa terna annual atau perenial, jarang sekali berupa semak atau pohon,
menghasilkan getah seperti susu atau getah yang berwarna. Daun tersebar, di bagian ujung batang
dekat bunga berhadapan atau berkarang, helaian daun sering berbagi. Daun penumpu tidak terdapat.
Bunga terpisah-pisah, banci, aktinomorf. Daun kelopak 2, bebas, daun mahkota 4, jarang lebih atau
tidak ada, biasa mendapat kunjungan serangga yang mengumpulkan serbuk sari. Benang sari banyak,
bebas, kepala sari beruang 2, membuka dengan retak membujur. Bakal buah menumpang, terbentuk
dari 2 daun buah atau lebih yang berlekatan, beruang 1 dengan banyak bakal biji pada 2 – 16
tembuni yang terdapat pada dinding bakal buah, dapat pula hanya 1 bakal biji pada dasarnya. Buah
kebanyakan berupa buah kendaga, jarang berupa buah keras, bila masak membuka dengan katupkatup
atau liang. Biji kecil, kampuh licin atau berigi, kadang-kadang bersalut, lembaga kecil dalam
endosperm yang mengandung minyak atau berdaging.
Suku ini mencakup lebih dari 600 jenis tumbuhan, terbagi dalam sekitar 42 marga,
kebanyakan terdapat di daerah iklim sedang dan daerah-daerah yang lebih panas di belahan bumi
utara.
Contoh-contoh:
Papaver: P. somniferum (apyun), penghasil candu, terutama di Asia kecil (Turki) dan Asia
Tenggara (“golden triangle, Birma, Thailand, Laos).
P. rhoeas, daun-daun mahkota bunganya (“petala rhoeados”) berguna dalam obatobatan,
P. orientale.
Fumaria: F. officinalis, F. capreolata.
Dicentra: D. spectabilis, D. formosa.
Corydalis: C. cova, C. solida, C. lutea.
Sanguinaria: S. canadensis.
Chelidonium: Ch. majus.
2. Suku Capparidaceae.
Terna, semak atau pohon, kadang-kadang memanjat. Daun tunggal atau mejemuk menjari, sering
mempunyai daun penumpu, duduknya tersebar, kadang-kadang berhadapan. Bunga umumnya banci,
aktinomorf atau zigomorf, biasanya tersusun dalam tandan. Sumbu bunga sering membesar
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (135 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
berbentuk cincin, kadang-kadang memanjang menjadi androginofor (pendukung benang sari dan
putik) atau menjadi ginofor (pendukung putik) saja. Daun kelopak 4, daun mahkota kebanyakan juga
4, dapat banyak atau malahan tidak ada. Benang sari banyak atau hanya beberapa saja (4 – 6), sering
kali ada diantaranya yang tidak mempunyai kepala sari. Bakal buah menumpang diatas ginofor,
beruang 1 dengan tembuni pada dinding atau terbagi dalam beberapa ruang oleh sekat-sekat semu.
Bakal biji sedikit sampai banyak. Buahnya buah kendaga atau buah buni, kadang-kadang buah batu.
Biji bangun ginjal atau berigi dengan sedikit atau tanpa endosperm, lembaga bengkok dengan daun
lembaga yang besar.
Suku ini mencakup lebih dari 600 jenis tumbuhan, terbagi dalam 45 marga, terutama terdapat
di daerah-daerah iklim panas.
Contoh-contoh:
Capparis: C. spinosa, C. rupestris.
Cleome: Cl. spinosa, Cl. tetrandra, Cl. violacea, Cl. aspera.
Gynandropsis: G. gynandra (G. pentaphylla), G. speciosa.
Polanisia: P. viscosa, P. chelidonii.
Cadaba: C. capparoides.
Diantara warga Capparidaceae ada beberapa yang dipelihara sebagai tanaman hias, antara lain G.
speciosa, Cleome spinosa.
3. Suku Cruciferae (Brassicaceae)
Kebanyakan berupa terna annual atau perenial, jarang sekali berupa tumbuhan berkayu. Daun
tunggal atau majemuk, duduknya tersebar, tidak mempunyai daun penumpu. Bunga banci, bilateral
simetris atau aktinomorf, biasanya tersusun dalam tandan pada ujung-ujung batang, jarang
mempunyai daun-daun pelindung. Kelopak tediri atas 4 daun kelopak yang tersusun dalam 2
lingkaran, daun mahkota 4, berseling dengan daun-daun mahkota. Benang sari 6 dalam 2 lingkaran,
pada lingkaran luar terdapat 2 dan pada lingkaran dalam terdapat 4 benang sari yang berhadapan
dengan daun-daun mahkota dan lebih panjang daripada benang sari di lingkaran luar. Bakal buah
menumpang terdiri atas 2 daun buah yang berlekatan , beruang 1, bakal biji banyak, pada tepi sekat
semu, anatrop atau kampilotrop, seringkali beruang 2 karena adanya sekat semu yang tipis seperti
membran, atau oleh sekat-sekat melintang terbagi dalam beberapa ruang. Buahnya berupa buah
lobak (”siliqua”) bila masak membuka dengan 2 katup, atau terputus menjadi beberapa bagian,
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (136 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
jarang berupa buah yang tertutup. Biji umumnya tanpa endosperm.
Suku ini termasuk suku yang besar, meliputi sekitar 3.000 jenis yang terbagi dalam ± 350
marga, kosmopolitan tetapi paling banyak terdapat dalam daerah-daerah yang lebih dingin di belahan
bumi utara. Banyak sekali yang bermanfaat, merupakan penghasil bahan pangan, terutama sayuran,
tetapi juga ada yang menghasilkan bumbu masak.
Contoh-contoh:
Brassica: B. nigra (mosterd ”hitam”), B. oleracea (kubis), B. chinensis (sawi putih), B.
juncea (sawi hijau), B. napus, dan B. rapa (umbinya sebagai sayuran).
Nosturtium: N. Officinale (jembak, cenil), N. heterophyllum.
Raphanus: R. sativus (lobak, radys).
Lepidium: L. sativum, L. ruderale.
Cheiranthus: Ch. cheiri.
Sinapis: S. alba (mosterd putih), S. arvensis.
Cochlearia: C. officinalis, dan C. armoracia, berkhasiat obat
Lunaria: L. annua, L. rediviva.
Camelina: C. sativa, C. microcarva.
4. Suku Resedaceae
Terna annual atau perenial, daun tunggal atau majemuk menyirip, duduk tersebar, mempunyai daun
penumpu yang kecil, kadang-kadang seperti kelenjar. Bunga banci, jarang berkelamin tunggal,
biasanya zigomorf, tersusun dalam rangkaian berupa tandan atau bulir, kelopak tidak gugur, terdiri
atas 4 – 8 daun kelopak, daun mahkota kecil, tidak lekas menarik perhatian, jumlahnya 8 atau tidak
ada. Sumbu bunga memanjang membentuk ginofor, pada tempat tertanamnya benang sari melebar
membentuk cakram. Benang sari 3 – 40, tangkai sari bebas atau berlekatan pada pangkalnya, kepala
sari beruang dua, menghadap ke dalam. Bakal buah kebanyakan 1 (kadang-kadang terdapat beberapa
bakal buah yang bebas), dari atas sering terbuka, beruang 1 dengan 1 sampai banyak bakal biji yang
terdapat pada tembuni pada dinding bakal buah. Buahnya buah kendaga atau buah buni, biji banyak,
bangun ginjal atau tapal kuda, tanpa endosperm, lembaga bengkok atau tergulung, daun lembaga
terlipat ke bawah di samping ekornya.
Resedaceae mencakup sekitar 60 jenis yang terbagi dalam 6 marga, terutama di California
dan daerah sekitar laut Tengah.
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (137 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
Contoh-contoh:
Reseda: R. odorata (tanaman hias), R. Arabica, R. luteola (penghasil luteolin).
Oligemeris: O. linifolia.
5. Suku Moringaceae
Pohon dengan daun majemuk menyirip ganda 2 sampai 3, duduknya tersebar, tanpa daun penumpu,
atau daun penumpu telah mengalami metamorfosis menjadi kelenjar-kelenjar pada pangkal tangkai
daun. Bunga banci, zigomorf, tersusun dalam malai yang terdapat dalam ketiak-ketiak daun. Dasar
bunga bangun mangkuk, kelopak terdiri atas 5 daun kelopak, mahkota pun terdiri atas 5 daun
mahkota, benang sari 5 ditambah dengan 5 lagi yang telah mandul (staminodium). Bakal buah
menumpang di atas ginofor pendek, beruang 1 dengan 3 tembuni pada dinding bakal buah, bakal biji
banyak. Buahnya buah kendaga yang membuka dngan 3 katup, biji besar, bersayap, tanpa
endosperm, lembaga lurus.
Warga suku ini dari segi anatomi mempunyai sifat yang khas, yaitu terdapatnya sel-sel
mirosin dan buluh-buluh gom dalam kulit batang dan cabang. Selain dari itu, dalam musim-musim
tertentu dapat menggugurkan daun-daunnya (meranggas).
Suku Moringaceae hanya terdiri atas 1 marga yaitu Moringa dengan beberapa jenis saja,
diantaranya yaitu: M. oleifera, M. arabica, M. pterygosperma, M. peregrina.
2) Bangsa Guttiferales atau Clusiales
Sebagian besar berupa semak, perdu, atau pohon dengan batang berkayu, daun tunggal
berhadapan, dengan atau tanpa daun penumpu. Bunga hampir selalu banci, dengan kelopak dan daundaun
mahkota yang bebas, kebanyakan berbilangan 5. Benag sari sama banyaknya dengan jumlah
daun mahkota, jika lebih berberkas. Putik dengan bakal buah yang menumpang, apokarp atau
sinkarp, jika sinkarp hanya beruang 1 dengan tembuni pada dindingnya, biasanya beruang lebih dari
1 dengan tembuni di pusat dalam sudut-sudut ruangan. Biji dengan endosperm yang tidak
mengandung zat tepung.
Dari segi anatomi terdapat sifat-sifat yang khas, yaitu adanya sel-sel spikula (sel-sel yang
mengandung badan-badan seperti paku atau jarum-jarum kecil) dalam daging daunnya dan
terdapatnya saluran-saluran atau rongga-rongga yang berisi resin terutama dalam kulit batang.
Bangsa ini membawahi sejumlah suku, diantaranya yang penting ialah:
1. Suku Dilleniaceae.
Semak atau pohon, seringkali berupa liana dengan daun tunggal bertepi rata atau bergigi yang
duduknya tersebar atau berhadapan, adakalanya berupa terna dengan daun-daun pada pangkal
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (138 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
batangnya, daun penumpu tidak ada atau seperti sayap menempel pada tangkai daun dan lekas
runtuh. Bunga kecil sampai sedang, banci, aktinomorf atau hampir aktinomorf, kadang-kadang
berkelamin tunggal. Daun kelopak 3 sampai banyak, tidak gugur. Daun mahkota 2 – 5, lekas gugur,
biasanya berwarna putih atau kuning. Benang sari banyak, jarang hanya 10 atau kurang, hipogin.
Tangkai sari bebas atau berlekatan dengan berbagai cara pada pangkalnya dan membentuk berkasberkas.
Putik terdiri atas bakal buah yang apokarp, menumpang, tiap bagian berisi 1 sampai banyak
bakal biji, masing-masing dengan 2 integumen. Buah bila masak membuka menurut sisi punggung,
ada yang berupa buah buni. Biji mempunyai salut, endosperm seperti daging, lembaga kecil.
Suku ini meliputi 300-an jenis, terbagi dalam 11 marga, terutama terdapat di daerah-daerah
beriklim panas.
Contoh-contoh:
Dillenia: D. indica
Hibbertia: H. volubilis, H. ericifolia.
Ouratea: O. coccinea.
Blastemanthus: B. gemmiflorus.
2. Suku Camelliaceae (Theaceae)
Semak, perdu, atau pohon dengan daun tunggal yang tersebar tanpa daun penumpu. Bunga biasanya
terpisah-pisah, jarang tersusun sebagai malai atau rangkaian yang bersifat rasemos, aktinomorf,
banci, jarang berkelamin tunggal. Daun kelopak berjumlah 4 – 7, daun mahkota 4 sampai banyak,
kadang-kadang berlekatan pada pangkalnya. Benang sari banyak, kadang-kadang tersusun
bergerombol-gerombol. Bakal buah menumpang atau setengah tenggelam, beruang 2 – 10,
kebanyakan beruang 3 – 5, bakal biji 1 sampai banyak dengan tembuni si sudut-sudut dan masingmasing
mempeunyai 2 integumen. Buahnya buah buni atau buah kendaga yang pecah dengan
membelah ruang. Biji dengan atau tanpa endosperm, lembaga lurus atau bengkok.
Suku ini meliputi sekitar 400 jenis terbagi dalam lebih dari 20 marga, kebanyakan di daerah
tropika dan subtropika.
Beberapa contoh:
Camellia (Thea): C. sinensis (the Cina), C. assamica (the Asam), penghasil the,
diperkebunan secara besar-besaran di India, Srilangka, Indonesia, dll., C. japonica, tanaman hias.
Schima: S. wallichii (puspa).
Eurya: E. japonica (tanaman hias).
Gordonia: G. exelsa, penghasil kayu, di Asia tenggara.
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (139 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
3. Suku Clusiaceae (Guttiferae)
Kebanyakan berupa pohon, jarang berupa terna, mempunyai saluran resin atau kelenjar-kelenjar
minyak, yang duduknya umumnya berhadapan dengan atau tanpa daun penumpu. Bunga banci atau
berkelamin tunggal, akinomorf. Kelopak dan mahkota dan letak yang amat bervariasi, daun kelopak
2 – 6, daun mahkota sama banyaknya dengan daun kelopak, benang sari banyak, poliadelf (berberkasberkas)
dan sebagian bersifat staminodial (mandul). Bakal buah menumpang, beruang 1 – 15,
kebanykan beruang 3 – 5, bakal biji banyak, masing-masing dengan 2 integumen. Buah dengan
bentuk dan struktur yang bermacam-mcam, bila masak membuka atau tidak, biji tanpa endosperm,
seringkali bersalut, lembaga besar.
Clusiaceae meliputi sekitar 820 jenis, tersebar di daerah tropika sampai ke daerah iklim
sedang. Dalam suku ini termasuk antara lain:
Hypericum: H. perforatum, akarnya berguna dalam obat-obatan, H. hirsutum.
Garcinia: G. dulcis (mundu), G. mangostana (manggistan), G. hamburyi, getahnya berguna
dalam obat-obatan. Calophyllum: C. inophyllum (nyamplung), menghasilkan minyak lemak dan
kayu.
Pentadesma: P. butyraceum, menghasilkan lemak.
Mammea: M. americana (apel mamea).
Mesua: M. ferrea, menghasilkan sejenis kayu besi.
4. Suku Dipterocarpaceae.
Kebanyakan berupa pohon-pohon yang merupakan penyusun utama hutan-hutan tropika basah,
terutama di dataran-dataran rendah di kawasan Asia Tenggara, daun tunggal, tersebar, mempunyai
daun penumpu. Bunga banci, aktinomorf, daun kelopak 5, diantaranya sejumlah 2, 3 atau semuanya
kemudian berubah menjadi alat seperti sayap yang membantu pemencaran buahnya. Daun mahkota
5, bebas atau sedikit belekatan, dalam kuncup seperti terpilin. Benang sari 5 sampai banyak, hampir
selalu bebas semuanya. Bakal buah menumpang atau hampir menumpang, tersusun dari 3 daun buah,
beruang 3 atau 2, dengan 2 bakal biji dalam tiap ruang, masing-masing dengan 2 integumen. Buah
hanya berisi 1 biji, biasanya tidak pecah bila masak. Biji tanpa endosperm, lembaga dengan daun
lembaga terpilin yang menyelubungi akar lembaga.
Suku ini meliputi lebih dari 300 jenis yang terbagi dalam sekitar 20 marga, merupakan
penghasil utama komoditi kayu, disamping itu juga minyak lemak (minyak tengkawang), damar, dan
kamfer.
Beberapa contoh ialah:
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (140 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
Dryobalanops: D. camphora (kamfer borneo), penghasil kamfer dan kayu bangunan
(kayu kamfer); D. oblongifolia.
Hopea: H. odorata, H. globosa, H. micrantha, penghasil damar mata kucing dan kayu
merawan dan kayu rasak.
Shorea: S. stenoptera, S. wiesneri, S. robusta, S. Lepidota. Berbagai jenis Shorea
menghasilkan kayu meranti dan minyak tengkawang.
Vatica: V. papuana, V. bancana, V. sumatrana. Kayu dari jenis vatica dikenal pula
sebagai rasak. Jenis Vatica juga menghasilkan damar.
Dipterocarpus: D. turbinatus, D. gracilis, D. marganata, D. hasselti. Jenis marga ini
menghasilkan balsam dan kayunya terkenal sebagai kayu keruwing.
Isoptera: I. borneensis, I. sumatrana. Jenis-jenis Isoptera merupakan penghasil minyak
tengkawang, damar, dan kayu yang dikenal dengan nama rasak tanduk.
3) Bangsa Malvales atau Columniferae
Warga bangsa Malvales disebut juga Columniferae, mempunyai sebagai ciri khasnya
terdapatnya “columna”, yaitu bagian bunganya yang terdiri atas perlekatan bagian bawah tangkai
sarinya membentuk badan yang menyelubungi putik dan bagian pangkalnya berlekatan dengan
pangkal daun-daun mahkota, sehingga bila mahkota bunga ditarik keseluruhannya akan terlepas dari
bunga bersama-sama dengan benang-benang sari dengan meninggalkan kelopak dan bakal buah saja.
Tumbuhan yang tergolong ke dalam bangsa ini kebanyakan berupa semak atau pohon, ada pula yang
merupakan terna yang annual. Daun tunggal, tersebar, mempunyai daun penumpu. Bunga umumnya
banci, aktinomorf, berbilngan 5, dengan daun-daun kelopak yang berkatup dan daun-daun mahkota
seperti sirap atau genting. Benang sari banyak, tersusun dalam 2 lingkaran, yang di lingkaran luar
seringkali tereduksi, yang di lingkaran dalam membentuk “columna”. Bakal buah menumpang,
beruang 2 sampai banyak, dalam tiap ruang terdapat 1 sampai banyak bakal biji yang tegak, masingmasing
dengan 2 integumen. Pada bagian-bagian tertentu seperti daun dan kulit batang terdapat selsel
atau saluran-saluran lendir, dan di luar sering rambut-rambut berbentuk bintang.
Dalam bangsa ini ada beberapa suku, diantaranya yang penting ialah:
1. Suku Tiliaceae.
Kebanyakan berupa tumbuhan berkayu, jarang berupa terna. Daun tunggal kadang-kadang berlekuk,
mempunyai daun penumpu, duduknya tersebar. Bunga banci, jarang berkelamin tunggal, aktinomorf.
Daun kelopak 4 – 5, bebas atau berlekatan, tersusun seperti katup. Daun mahkota juga 4 – 5,
kebanyakan bebas dengan susunan seperti katup, kadang-kadang tidak terdapat. Benang sari
umumnya banyak atau 2 x jumlah daun mahkota, tidak berlekatan, tetapi sering tersusun dalam 5 –
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (141 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
10 berkas. Bakal buah menumpang, terdiri atas 2 sampai banyak ruang, tiap ruang dengan 1 sampai
banyak bakal biji, jarang beruang 1dengan tembuni pada dinding. Kadang-kadang bunga mempunyai
pendukung putik dan benang sari (androginofor). Buah mempunyai beberapa ruang, menyerupai
buah kendaga, kadang-kadang terbagi dalam beberapa bagian yang kemudian terpisah-pisah, kadangkadang
berupa buah keras dengan 1 biji. Biji mempunyai endosperm, lembaga biasanya lurus.
Suku ini mencakup lebih dari 500 jenis yang terbagi dalam lebih dari 50 marga, kebanyakan
tumbuh di daerah tropika.
Contoh-contoh:
Tilia: T. platyphyllos dan T. cordata (daunnya berkhasiat obat).
Corchorus: C. capsularis dan C. olitorius (jute, guni), menghasilkan serabut kulit yang
digunakan untuk pembuatan karung guni; C. acutangulus.
Triumfetta: T. plasa, T. tomentosa, T. rhomboidea, T. indica.
Spermannia: S. africana.
Grewia: G. tomentosa, G. guazumaefolia, G. columnaris.
2. Suku Elaeocarpaceae
Tumbuhan yang dimasukkan dalam suku ini mempunyai ciri-ciri yang serupa dengan ciri-ciri warga
suku Tiliaceae. Perbedaan hanya terletak pada tidak terdapatnya saluran-saluran lendir dalam
jaringan tubuhnya. Berhubung dengan itu sementara ahli taksonomi tidak memisahkannya sebagai
suku yang berdiri sendiri, tetapi disatukan dengan suku Tiliaceae.
Dalam Elaeocarpaceae termasuk antara lain:
Elaeocarpus: E. ganitrus (jenitri) dan E. grandiflorus, sering digunakan sebagai
tanaman hias. Muntingia: M. calabura (talok).
3. Suku Sterculiaceae
Pohon, semak (kadang-kadang berupa liana) atau terna dengan rambut-rambut bintang atau sisiksisik,
daun tunggal bertepi rata, kadang-kadang berlekuk menjari atau majemuk, yang duduknya
tersebar, mempunyai daun penumpu yang lekas runtuh. Bunga biasanya banci atau berkelamin
tunggal, berumah 1, aktinomorf, jarang dengan kedudukan terminal, sering kali pada batang
(kauliflor). Daun kelopak 3 – 5, sedikit banyak berlekatan, tersusun seperti katup, daun mahkota 5
atau tidak ada, bebas atau pada pangkal berlekatan dengan buluh yang terbentuk dari perlekatan
tangkai-tangkai sari, tersusun seperti genting. Benang sari sering tersusun dalam lebih dari 1
lingkaran, yang sebelah luar mandul, yang sebelah dalam berlekatan membentuk buluh atau sama
sekali bebas, kepala sari beruang 2, membuka dengan celah membujur atau dengan liang di ujung
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (142 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
atasnya. Bakal buah menumpang, tersusun atas 2 – 5 kadang-kadang 10 – 12 daun buah, atau hanya
terdiri atas 1 daun buah saja. Tiap ruang berisi 2 bakal biji atau lebih, jarang sekali hanya 1. Buahnya
buah kering atau buah buni, tidak membuka atau membuka dengan cara yang bermacam-macam. Biji
dengan endosperm bedaging atau tanpa endosperm, kadang-kadang bersalut. Lembaga lurus atau
bengkok.
Warga suku ini meliputi lebih dari 700 jenis terbagi dalam lebih dari 50 marga, yang tersebar
di daerah tropika dan subtropika.
Contoh-contoh:
Sterculia: S. foetida (jangkanga atau kepuh). Basa yang diperoleh dari abu cangkang buahnya
digunakan untuk pembuatan kue-kue cina tertentu.
Theobroma: T. cacao (coklat) dari bijinya dibuat bubuk coklat dan mentega coklat, T. bicolor,
T. angustifolia.
Cola: C. vera dan C. nitida menghasilkan bahan obat.
Dombeya: D. wallichii dan D. acutangula, sebagai tanaman hias.
Firmiana: F. plantanifolia, F. colorata, tanaman hias.
Guazuma: G. ulmifolia (jati blanda).
Brachychiton: B. acerifolius, tanaman hias.
4. Suku Bombacaceae
Warga suku ini hampir selalu pohon-pohon yang dapat menjadi tinggi besar, mempunyai sisik-sisik
atau rambut-rambut bintang, daun tunggal atau majemuk menjari, duduknya tersebar dengan daun
penumpu. Bunga kadang-kadang besar dengan warna yang menarik, banci, aktinomorf. Daun
kelopak 4 – 5, biasanya berlekatan, dalam kuncup tersusun seperti katup. Daun mahkota 5 tersusun
seperti genting, dan dalam kuncup seperti terpilin ke satu arah. Benang sari sama banyaknya dengan
jumlah daun mahkota dan duduk berhadapan dengan daun-daun mahkota, kebanyakan lebih banyak,
dapat sampai banyak sekali. Bila jumlahnya besar seringkali berlekatan membentuk buluh atau
tersusun dalam berkas-berkas. Kepala sari beruang 1 – 2 atau lebih, serbuk sari dengan permukaan
yang licin. Bakal buah menumpang sampai setengah tenggelam, beruang 2 – 5, tiap ruang berisi 2
sampai banyak bakal biji. Buahnya buah kendaga, seringkali pecah dengan membelah ruang, sisi
dalam kulitnya sering berambut. Biji dengan atau tanpa endosperm, sering bersalut.
Suku ini hanya mencakup sekitar 140 jenis yang terbagi dalam 20-an marga, terutama
terdapat di daerah tropika.
Beberapa contoh yang penting ialah:
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (143 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
Bombax (Salmalia): B. malabaricum (S. malabarica) (randu alas, kapok hutan), di jawa
hanya berupa relik di tepi-tepi jalan atau makam-makam.
Ceiba (Eriodendron): C. pentandra (E. anfractuosum), penghasil kapok.
Adansonia: A. digitata.
Durio: D. zibethinus (durian), sejenis buah yang kontroversial, salut bijinya dimakan,
D. kutejensis (durian Kutai).
5. Suku Malvaceae
Terna atau semak-semak, jarang berupa pohon, seringkali dengan batang yang mempunyai serabutserabut
kulit, serta penutup permukaan organ-organ tertentu yang berupa rambut-rambut bintang atau
sisik-sisik. Daun tunggal, bertepi rata atau berlekuk beraneka ragam, kebanyakan bertulang menjari,
duduknya tersebar, mempunyai daun penumpu. Bunga besar, banci, aktinomorf, daun kelopak 4 – 5,
sedikit banyak berlekatan, dengan susunan seperti katup, disamping itu seringkali terdapat kelopak
tambahan, daun mahkota 5, bebas satu sama lain, tetapi pada pangkal sering berlekatan dengan buluh
(“columna”) yang merupakan perlekatan tangkai-tangkai sarinya, letaknya seperti genting. Benang
sari banyak dengan tangkai sari yang berlekatan membentuk suatu kolom yang berongga
menyelubungi putik dan pada bagian atas terbagi-bagi dalam cabang-cabang yang masing-masing
mendukung kepala sari yang hanya beruang 1 dan membuka dengan celah yang membujur, serbuk
sari dengan permukaan berbenjol-benjol. Bakal buah menumpang, beruang 2 atau beruang banyak,
seringkali beruang 5 dengan 1 sampai banyak bakal biji, tangkai putik sama banyaknya dengan
jumlah ruang dalam bakal buah atau 2 x jumlah ruang. Buahnya buah kendaga atau buah berbelah.
Biji kebanyakan mempunyai endosperm dan lembaga yang lurus atau bengkok.
Malvaceae ditaksir meliputi 900 jenis, terbagi dalam sekitar 50 marga, tersebar dari daerah
tropika sampai ke daerah iklim sedang. Banyak diantara warga suku ini yang merupakan tanaman
budidaya yang penting.
Contoh-contoh:
Gossypium: G. herbaceum, G. barbadense, G. arboreum, G. peruvianum, G. hirsutum
(semuanya dinamakan kapas), penghasil bahan sandang yang sangat penting. Hibiscus: H.
sabdariffa, H. cannabinus, penghasil serat untuk pembuatan karung, H. tiliaceus (waru), H.
rosa-sinensis (kembang sepatu), H. schizopetalus.
Thespesia: T. populnea (waru laut).
Urena: U. lobata (pulutan).
Sida: S. retusa, S. rhombifolia (sidaguri).
Althaea: A. Officinalis, akar dan daunnya berkhasiat A. rosea (tanaman hias).
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (144 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
Abutilon: Ab. Indicum, Ab. Hirtum, ab. Striatum.
Malvaviscus: M. arboreus, tanaman hias.
4) Bangsa Cucurbitales
Bangsa ini hanya terdiri atas satu suku saja, yaitu suku Cucurbitaceae, yang mempunyai ciriciri
sebagai berikut :
Kebanyakan berupa terna annual, jarang sekali berupa semak atau perdu, biasanya memanjat dengan
menggunakan sulur-sulur alat-alat pembelit yang merupakan metamorfosis cabang, dahan atau
kadang-kadang daun penumpu. Daun tunggal, berlekuk, berbagi, sampai mejemuk menjari, tanpa
daun penumpu, biasanya duduk tersebar. Bunga aktinomorf, hampir selalu berkelamin tunggal,
berumah satu, tetrasiklik, pentamer. Bagian ujung daun-daun mahkota tersusun seperti katup.
Benang sari berjumlah 5, jarang bebas, kebanyakan sedikit banyak berlekatan satu sama lain, kepala
sari beruang dua, dengan ruang sari terlipat, menghadap ke luar, kelima-limanya bergabung
membentuk sinandrium di pusat, atau empat dari kelima kepala sari itu berpasang-pasangan. Bakal
buah tenggelam, kebanyakan beruang tiga, dalam, dalam masing-masing ruang terdapat dua tembuni
yang membengkok keluar dengan kebanyakan sejumlah besar bakal biji (ada kalanya hanya satu),
masing-masing dengan dua selaput kulit biji. Tangkai kepala putik dengan kepala putik yang berbagi
tiga seperti garpu. Buahnya pada umumnya berupa buah buni, jarang seperti buah kendaga. Biji
tanpa endosperm.
Suku ini mencakup kira-kira 800 jenis yang terbagi dalam ± 100 marga, terutama teragih di
daerah-daerah beriklim panas. Banyak diantara warganya yang buahnya dimakan sebagai buah segar,
digunakan sebagai sayuran, atau digunakan untuk keperluan lain.
Contoh-contoh:
Cucurbita: C. moschata (waluh), buahnya dapat dimakan sebagai kolak atau digunakan
dalam pembuatan makanan lain, C. pepo.
Luffa: L. cylindrica (bestru), L. acutangula (oyong, cemeh), buah yang muda dimakan
sebagai sayur.
Sechium: S. edule (waluh jipang), buah yang muda sebagai sayur.
Legenaria: L. leucantha (labu air), buah untuk sayuran.
Citrullus: C. vulgaris (semangka), buah segar; C. colocynthis.
Momordica: M. charantia (pare ayam), buah muda untuk sayur
Cucumis: C. sativus (mentimun), buah yang muda sebagai sayuran; C. melo (buah melun),
buah segar.
Benincasa: B. hispida (beligo), buah untuk pembuatan manisan (tangkuwah), juga
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (145 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
sebagai sayur. Trichosanthes: T. anguina (pare belut), buah sebagai sayuran.
Bryonia: B. dioica.
Coccinia: C. cordifolia (tapasan).
5. Bangsa Rosidae
Bangsa ini terdiri atas terna, semak, atau pohon dengan daun-daun tunggal atau majemuk yang
duduknya tersebar atau berhadapan, dengan atau tanpa daun penumpu. Bunga merupakan bunga
banci, karena reduksi dapat menjadi berkelamin tunggal, jelas mempunyai hiasan bunga yang dapat
dibedakan antara kelopak dan mahkotanya, mahkota berdaun mahkota bebas, dan kebanyakan
berbilangan 5. Jumlah benang sari sama dengan jumlah daun mahkota, ada yang dua kali lipat atau
banyak, jarang lebih sedikit daripada jumlah daun mahkotanya. Bakal buah sama dengan jumlah
daun mahkota atau kurang, bebas, dapat berupa bakal buah beruang banyak dengan tembuni sentral.
Dasar bunga berbentuk cakram , melebar atau cekung dengan bagian-bagian bunga yaitu mulai dari
kelopak sampai benang-benang sari pada tepinya. Bakal buah seringkali terdapat dalam cekungan
dasar bunga dan diselubungi dasar bunga itu, hingga letak bakal buah menjadi tenggelam.
Ordo Rosidae terdiri dari suku-suku:
1. Crasulaceae
Ciri-ciri: Suku ini merupakan berbentuk terna atau semak dengan daun-daun tunggal atau majemuk
tanpa daun penumpu. Bunga tersusun dalam bunga majemuk yang bersifat simos, aktinomorf,
kebanyakan banci, mempunyai kelopak dan mahkota yang kebnayakan berbilangan 5, tetapi ada juga
yang berbilangan 3-32. Benang sari sama banyaknya dengan daun-daun mahkota atau 2 x lipat.
Bakal buah 3 tau lebih, bebas atau sebagian berlekatan dengan sisik kecil pada pangkalnya. Bakal
biji banyak, tersusun dari 2 baris pada kampuh perut , masing-masing mempunyai 2 integumen.
Buahnya buah bumbung dengan biji-biji yang kecil tanpa endosperm.
Suku ini merupakan suau suku yang cukup besar, meliputi 1.300 jenis yang terbagi sekitar 30 marga,
kebanyakan merupakan tumbuhan daerah beriklim sedang sampai daerah yang lebih panas,
umumnya terdapat di atas tanah-tanah berbatu cadas, yang menunjukkan bentuk-bentuk adaptasi
terhadap keadaan kurang air, olah sebab itu umumnya berupa sukulenta.
Contoh tanaman suku Crasulaceae :
Ø Crasula pyramidalis, C. columnaris, Sedum palustre, S. aizoon, S. koloniense,
Semperpivivum acumunatum, S. soboliferum, S. arachnoideum.
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (146 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
Seperti Kalanchoe crenata, K. piñata dapat berkembang biak dengan kuncup-kuncup daun, yang
terbentuk dalam toreh-toreh pada tepi daunnya.
2. Saxifragaceae
Ciri-ciri: Suku ini merupakan terna, atau tumbuhan berkayu, mempunai daun tunggal atau majemuk
yang duduknya tersebar atau berhadapan dengan atau tanpa daun penumpu yang kecil. Suku ini
mempunyai bunga banci, aktinomorf atau zigomorf, dengan kelopak dan mahkota yang jelas
berbeda, sering dengankelopak saja atau tanpa hiasan bunga, kebyakan berbilangan 5. Benang sari 2
x lipat jumlah daun-daun hiasan bunga atau sama banyak, jarang, banyak sekali. Bakal buah
menumpang, bila berlekatan dengan dasar bunganya yang cekung menjadi tenggelam atau setengah
tenggelam dengan tangkai putik yang bebas. Bakal biji banyak terdapat pada tembuni yang tebal.
Buah merupakan buah kendaga, banyak mengandung biji yang mempunyai endosperm dengan
lembaga yang lurus dan kecil. Warga suku ini sanngat heterogen, mencakup 1.100 jenis, terbagi
dalam ± 80 marga
Penyebaran: terdapat di seluruh permukaan bumi, dan paling sedikit di daerah tropika.
Contoh tanaman suku ini adalah:
Ø Saxifraga flagellaris, S trifulcali, S. sarmentosa, Hydrangea hortensia, H. opuloides, Ribus
rubrum, R. nigrum, R. grossularia, Philadelphus pallidus, Ph. Coronaries, Deutzia scabra, D.
gracilis.
3. Chepalotaceae
Ciri-ciri : merupakan terna perenial dengan rimpang di bawah tanah yang pendek. Daun dua macam,
sebagian tunggal pipih, jorong, tidak bertulang, sebagian berbentuk seperti piala pada Nepenthaceae.
Bunga dalam tandan pada ujung batang, banci, aktinomorf, mempunyai tenda bunga yang
berbilangan 6. benang sari 12, yang 6 lebih panjang daripada yang 6 lainnya, mempunyai tangkai sari
yang bebas, kepala sari dengan 2 ruang sari dan membuka dengan celah yang membujur. Bakal buah
6, bebas, menumpang, masing-masing dengan 1-2 bakal biji. Buahnya buah bumbung, , bertangkai
pendek, berambut, masing-masing dengan satu bji. Biji mempunyai endosperm yang berdaging,
dengan lembaga kecil yang lurus. Sifat suku ini adalah monotipik, hanya terdiri atas 1 jenis.
Penyebaran: Australia barat daya, yaitu : Cephalotus follicularis.
4. Pitosporaceae
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (147 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
Ciri-ciri: merupakan jenis pohon, perdu atau liana dengan saluran-saluran resin di luar floem,
kadang-kadang berduri. Daun berseling, tunggal, berkarang, tanpa daun penumpu. Bunga banci,
jarang berkelamin tunggal, terpisah-pisah atau tersusun dalam malai rata, masing-masing mempunyai
5 daun kelopak, 5 daun mahkota dan 5 benang sari yang duduknya berseling dengan daun-daun
mahkotanya. Kepala sari mempunyai 2 ruang sari, menghadap ke dalam, membuka secara membujur
atau membentuk liang. Bakal buah menumpang, duduk atau bertangkai pendek, , beruang 1 dengan
2®5 tembuni pada dindingnya, kadang-kadang beruang 2®5 dengan sekat-sekat yang sempurna
atau tidak, berisi banyak bakal biji masing-masing dengan 1 integumen. Buahnya buah kendaga atau
buah buni, biji dalam daging buah, jarang berayap, mempunyai endosperm dan lembaga yang sangat
kecil. Suku ini meliputi sekitar 200 jenis yang terbagi dalam 9 marga,
Penyebaran: daerah tropika dan daerah-darah lain yang beriklim panas.
Contoh tanamannya adalah:
5. Pittosporum viridiflorum, P. tobira, P. undulatum, Sollya fresiformis.
Kegunaan: Sebagai tanaman hias
5. Cunoniaceae
Ciri-ciri: pohon atau perdu dengan daun tunggal tau majemuk yang duduknya berhadapan atau
berkarang yang mempunyai daun penumpu. Anak daun sering dengan tepi bergerigi dan berkelenjar.
Daun penumpu kadang-kadang besar, bersatu atau berpasangan dalam ketiak daun. Bunga kecil,
banci atau berkelamin tunggal, dan jika berkelamin tunggal berumah 2., aktinomorf, terpisah-pisah
atau tersusun dalam bunga majemuk berupa bongkol atau malai. Hiasan bnga terdiri dari kelopak dan
mahkota, kedua-duanya berbilangan 4®6, kadang-kadang tidak ada mahkota. Benang sari
kebanyakan 2 x lipat jumlah daun mahkota dan duduk berseling dengan daun-daun mahkota, tangkai
sari bebas, kepala sari dengan 2 ruang sari, membuka dengan celah membujur. Pada dasar bunga
terdapat cakram. Bakal buah menumpang, kadag-kadang tenggelam, bebas atau berlekatan menjadi
satu bakal buah dengan 2®5 ruang, tangkai putik yang bebas, banyak atau sedikit bakal biji.
Buahnya buah kendaga atau keras, biji dengan banyak endosperm dan lembaga yang kecil. Suku ini
meliputi sekitar 250 jenis yang terbagi dalam 26 marga.
Penyebaran: penghuni belahan bumi selatan.
Contoh tanaman suku ini adalah:
6. Cunonia capensis, Ceratopetalum apetalum, C. gummiferum.
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (148 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
6. Suku Rosaceae
Ciri-ciri :
l Terna atau tumbuhan berkayu
l Daun tunggalatau majemuk, duduk tersebar atau berkarang mempunyai sepasang daun
penumpu.
l Bunga banci, aktinomorf hiasan bunga biasanya berbilangan lima.
l Dasar bunga rata berbentuk cawan, du bagian tengah kadang-kadang cembung.
l Hiasan bunga dan benang sari biasanya terdapat pada tepi dasar bunga.
l Tangkai sari bebas, kepala sari beruang dua membuka dengan celah membujur.
l Bakal buah 1-banyak, bebas atau berlekatan satu sama lain, kadang berlekatan dengan sumbu
bunga sehingga merupakan bakal buah tenggelam.
l Dalam tiap bakal buah terdapat dua bakal biji
l Buah bermacam-macam, dapat berupa buah keras, buah kurung, buah bumbung atau buah
apel.
Suku ini tergolong suku yang besar mempunyai sekitar 2000 jenis yang terbagi dalam ± 100 marga
tersebar di seluruh permukaan bumi.
Contoh :
l Rosa gallica, R. damascene, R. canina
l Rubus idaeceus, R. rosifolius, R. fraxinifolius
l Pyrus malus, P. communis
l Prunus armeniaca, Pr. domestica, Pr. cerasus
l Eriobotrya japonica
l Mespilus germanica
l Hagenia abissinyca
l Quillaja saponaria
l Cydonia vulgaris
l Fragaria vesca (arbe)
l Amygdalus communis
Manfaat :
l Penghasil minyak wangi
l Buahnya dapat dimakan
l Berguna dalam obat-obatan
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (149 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
l Penyedap masakan
7. Suku Bromeliaceae
Ciri-ciri :
l Pohon atau perdu seringkali berduri atau berambut
l Daun tunggal atau majemuk beranak daun 3 atau menyirip gasal, duduk berhadapan atau
berkarang mempunyai daun penumpu.
l Bunga kecil terssusun dalam bongkol, tandan atau bulir dalam ketiak daun pada ujung batang.
l Berkelamin tunggal, berumah dua, aktinomorf.
l Hiasan bunga terdiri atas kelopak, dan mahkota yang berbilangan 4-6.
l Benang sari 2 x lipat jumlah daun-daun hiasan bunga.
l Pada bunga betina terdapat rudimen benang-benang sari 2-5 bakal buah yang bebas dengan 2-
5 tangkai putik yang bebas.
l Biji melekat pada kempuh perut.
l Buah bumbung denagn 2-3 biji dengan endosperm berdaging, lembaga dengan daun lembaga
yang pipih.
Suku ini hanya terdiri atas 1 marga dengan 18 jenis yang tumbuh di kepualuanAntillen dan di
pegunungan Andes di Amerika Selatan.
Contoh : Brunellia comocladifolia
8. Suku Connaraceae
Cirri-ciri :
· Pohon, perdu atau tumbuhan memanjat
· Daun majemuk beranak daun 1-3 atau menyirip gasal, duduknya menyeling atau
tersebar, tanpa daun penumpu.
· Bunga banci aktinomorf atau agak zigomorf tersusun dalam rangkaian berbentuk tandan
atau malai.
· Hiasan bunga berupa kelopak dan mahkota berbilanga lima.
· Benang sari 10 atau 5, kepala sari beruang 2membuka dengan celah membujur.
· Bakal buah 1-2, bebas, masing-masing mempunyai bakal buah beruang 1 dengan 2 bakal
biji.
· Kebanyakan hanya 1 bakal buah yang berkembang beruapa buah bumbung berisi 1 biji.
· Buju sering mempunyai salut biji dengan atau tanpa endosperm.
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (150 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
Dalam suku ini tercakup kurang lebih 150 jenis yang terbagi dalam ± 24 marga, terutama tersebar di
daerah tropika.
Contoh : Connarus monocarpus
9. Suku Leguminosae
Ciri-ciri :
l Merupakan saru diantara 3 suku terbesar (Leguminosae, Graminaea, Orchidaceae).
l Termasuk tumbuhan buju tertutup (Angiospermae).
l Ciri khasnya adalah buah polong
l Biji terdapat pada kampuh perut, bila masak kering pecah.
Suku ini meliputi 11.500 jenis yang terbagi dalam lebih dari 500 marga. Karena besarnya suku ini
lagi pula pada bunganya terdapat sifat-sifat yang karakteristik. Maka suku ini ada yang memecah
menjadi 3 suku :
10. Suku Mimosaceae
Ciri-ciri :
l Mencakup terna, semak, perdu dan pohon-pohon kadang berduri.
l Daun majemuk menyirip ganda tanpa daun penumpu.
l Bunga banci yang aktinomorf, mempunyai kelopak berbilangan 4-5 yang berlekatan.
l Benang sari 2 x lipat jumlah daun mahkota atau banyak.
l Tangkai sari bebas atau berlekatan.
l Bunga terangkai dalam bunga majemuk berbentuk bongkol.
l Bakal buah menumpang, beruang 1, bakal biji dalam 2 baris pada dinding bakal buah.
l Buah merupakan polong yang bila masak menjadi kering dan terputus-putus menjadi
beberapa bagian.
l Biji dengan sedikit atau tanpa endosperm.
Suku ini terdiri tidak kurang dari 1.500 jenis yang terbagi dalam ± 40 marga, tersebar di seluruh
bagian bumi yang beriklim panas.
Contoh :
l Mimosa pudica, M. invisa
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (151 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
l Parkia speciosa, P. javanica, P. intermedia
l Leucaena glauca, L. leucucephala, L. glabrata
l Acacia cathecu, A. decurrens, A. senegal, A. villosa
l Pithecellobium lobatum, P. spruceanum, P. saman
l Albizzia falcate, A. sumatrana, A. stipulata
l Calliandra brevipes, C. haematoma, C. stipulate
l Entada phaseoloides
Manfaat :
· Memperbaiki kesuburan tanah dan menekan pertumbuhan alang-alang.
· Penghasil zat penyamak.
· Tanaman hias.
· Program-program penghijauan.
· Makanan.
11. Suku Papilionaceae
Ciri-ciri :
l Terna, semak, perdu, atau pohon.
l Daun tunggal atau majemuk.
l Bunga banci zigomorf, kelopak berbilangan lima, pada pangkal berlekatan.
l Mahkota berbentuk kupu-kupu terdiri atas lima daun mahkota dengan sususnan yang
khas : 1 paling besar disebut bendera (veksilum)
2 di samping sama besar disebut sayap (ala)
2 lagi sempit berlekatan disebut lunas (carina)
l Benang sari biasanya 10 dengan tangkai sari yang berlekatan, kepala sari membuka dengan
celah membujur.
l Buahnya berupa polong yang bila masak menjadi kering dan pecah.
l Biji tanpa atau dengan sedikit endosperm.
l Cadangan makan untuk lembaga terutama tersimpan dalam daun lembaganya.
Contoh :
l Soja max (kedelai)
l Phaseolus radiatus, Ph. mungo, Ph. lunatus, Ph. vulgaris
l Arachis hypogaea(kacang tanah),
l Pisum sativum(kacang kapri)
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (152 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
l Canavalia ensiformis(kara pedang)
l Mucuna pruriens(kara benguk)
l Cajanus cajan(kacang hiris)
l Crotalaria juncea, Cr. usaramoensis, Cr. anagyroides
l Indigofera sumatrana, I. endecaohylla
l Tephrosia maxima
l Sesbania grandiflora (janti)
l Centrosema pubescens
l Calopogonium muconoides
l Psophocarpus tetragonolobus (kacang kecipir)
l Clitoria ternatea (kembang telang)
l Pterocarpus undica (angsana kembang)
l Dalbergia latifolia (angsana keling)
l Myroxylon balsamun
l Erythrina variegate (dadap)
l Vicia faba (kacang babi)
l Voandzeia subterranean (kacang bogor)
Manfaat :
· Bahan pangan dengan nilai gizi yang tinggi karena kandungannya akan protein, lemak
dan vitamin-vitamin dalam bijinya.
· Daun-daun muda jenis tertentu dapat dimakan sebagai sayuran.
· Pupuk hijau
· Ditanam untuk makanan ternak
12. Suku Cesalpiniaceae
Ciri-ciri :
l Hampir semua berupa perdu atau pohon.
l Daun selalu majemuk menyirip.
l Mahkota bunga berbentuk kupu-kupu tetapi tidak ada yang berlekatan.
l Benang sari 10, biasanya bebas atau berlekatan.
l Buahnya polong atau berdaging dan tidak membuka, sering kali bersayap.
l Biji dengan endosperm tipis atau tanpa endosperm, lembaga besar.
Suku ini meliputi sekitar 10.000 jenis yang terbagi dalam ± 800 narga tersebar di seluruh permukaan
bumi daerah iklim sedang maupun daerah-daerah panas.
Contoh :
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (153 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
l Caesalpinia pulcherima, C. sappan
l Cassia siamea, C. javanica, C. alata, C. occodentalis, C. fistula
l Tamarindus indica
l Bauhunia purpurea, B. tomentosa
l Cynometra cauliflora
l Dialium indum
l Inocarpus edulis
l Delonix regia
l Amherstia nobilis
l Saraca indica, S. declinata
Manfaat :
l Tanaman hias
l Makanan
l Bahan bangunan
Bangsa Campanulate (Asterales, Synandrae)
Ciri-ciri:
- Biasanya berupa terna, jarang berupa tumbuhan berkayu
- Sering mempunyai saluran bergetah atau kelenjar-kelenjar minyak
- Daun tunggal, duduk berhadapan atau tersebar
- Biasanya tanpa daun penumpu
- Bunga dalam rangkaian yang bersifat rasemos, dengan kecendrungan untuk pembentukan
bunga cawan atau bongkol
- Bakal buah hampir selalu tenggelam
- Biji endosperm selular
Terdiri dari dua suku yaitu:
· Campanulaceae
· Compositse (Asteracae)
13. Campanulaceae
Ciri-ciri:
- Terna, semak-semak kecil, jarang berupa tumnuhan berkayu
- Memiliki saluran getah yang beruas-ruas
- Daun tunggal kadang-kadang berbagi sangat dalam
- Daun duduk tersebar jarang berhadapan
- Tanpa daun penumpu
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (154 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
- Bunga banci
- Aktinomorf atau zygomorf
- Kelopak terdiri atas 5 daun kelopak
- Daun-daun mahkota berlekatan, adakalanya bebas
- Benang sari sama banyaknya dengan taju-taju daun mahkota atau berjumlah 3-10
- Duduknya berseling dengan daun mahkota
- Bakal buah tenggelam atau setengah tenggelam
Contoh-contoh dari suku ini adalah sbb:
* Genus Campanula
Campanula allionii
C. tracheium
C. patula
* Genus Phyteuma
Phyteuma comosum
*Genus Lobelia
Lobelia inflata berkhasiat obat
L. uranocoma
L. splendens
* Genus Adenophora
A. lilifolia
* genus Platycodon
P. grandiflorum
* Genus Isotama
I. longifolia
14. Compositae (Asteraceae)
Ciri-ciri:
- Terna, semak atau perdu
- Jarang sekali berupa pohon
- Daun tunggal, kadang-kadang berbagi sangat dalam hingga menyerupai daun majemuk
- Duduknya berhadapan, jarang tersebar
- Biasanya tanpa daun penumpu
- Bunga merupakan bunga cawan atau bongkol
- Bunga berkelamin tunggal atau banci
- Aktinomorf atau zigomorf
- Tangkai sari bebas
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (155 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
- Kepala sari berlekatan, berseling dengan taju-taju mahkota
- Bakal buah tenggelam, beruang I dengan satu bakal biji
- Tangkai putik 1, kepala putik 2
- Buahnya buah kurung atau buah batu
Contoh-contoh dari kelas ini adalah sbb:
Aster: A. novae-angliae; A. multiflorus; A. cordifolius
Tanaman hias:
Blumea: Bi. Chinensis; Bi. Lacera
Pluchea: P. indica (beluntas), untuk pagar, daunnya sebagai sayuran
Chrysantenum: Ch. Indicum (bunga krisan); Ch. Leucanthenum
Cosmos: C. caudatus (kenikir); C. sulfureus
Bidens: B. pilosus; B. chinensis
Ageratum: A. conyzoides; A. maxicanum (wedusan)
Helianthus: H. annus (bunga matahari); H. tuberosus (topinambur).
Eupotarium: E. pallescens (kirinyu); E.odoratum; E. triplinerve
Tithonia: T. diversifolia (marygold); T. speciosa
Sonchus: S. crvensis; (tempuyung), obat kencing batu; S. oleraceus; S. javanicus
Lactuca: L. sativa (sladah); L. indica
Gerbera: G. jamesonii, penghasil bunga potong
Dahlia: D. variabilis; D. hybrida (tanaman hias)
Tagetes : T. erecta; T. patula, tanaman hias
Elephanthopus: E. scaber (tapak liman)
Matricaria : M. chamomilla, bunganya berkhasiat obat
Taraxacum: T. officinale, akar dan seluruh tumbuhan berkhasiat obat
Artemisia: A. vulgaris; A. cina; A. absinthium, berkhasiat obat
Cichorium: C. endivia (andewi), sayuran
Vernonia: V. cinerea; V. chinensis
7. Bangsa Ranales (Ranunculales)
Sebagian besar warga bangsa ini terdiri atas tumbuhan dengan batang berkayu, kadang-kadang
dalam kayunya belum terdapat trakea, sebagian kecil berupa terna. Ciri utama bangsa ini ialah
terdapat daun buah yang bebas pada bunganya, sehingga dari satu bunga dapat membentuk banyak
buah. Kedudukan primitifnya terlihat dari, dimilikinya bunga yang bagian-bagiannya selain bebas
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (156 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
satu dengan yang lain juga karena duduknya yang mengikuti spiralnya dan adanya bentuk-bentuk
peralihan antara bagian-bagian utama bunga. Selain itu, bagian-bagian bunga tersebut (terutama
daun-daun buahnya) kadang-kadang masih jelas sifatnya sebagai sporofil dengan bakal biji
(makrosporangium) yang terletak pada tepinya (marginal).
Yang termasuk suku-suku ke dalam bangsa ini adalah:
1. Suku Ranunculaceae atau Ranaceae
Suku ini meliputi terna annual maupun perenial dan tumbuhan berkayu dengan daun-daun tunggal
atau majemuk yang duduknya tersebar atau berhadapan. Bunga dengan tenda bunga atau hiasan
bunga yang telah jelas dibedakan kelopak dan mahkotanya. Bila terdapat tenda bunga, tenda bunga
itu umumnya bersifat seperti mahkota, seringkali dengan daun-daun penghasil madu. Bunganya
aktinomorf atau zigomorf, hampir selalu banci. Benang sari banyak. Bakal buah kebanyakan lebih
dari 1, apokarp, mempunyai banyak bakal biji masing-masing dengan 1-2 integumen. Buahnya buah
kurung, buah keras, atau buah buni. Biji dengan endosperm yang besar dan lembaga yang kecil.
Suku ini meliputi sekitar 1.200 jenis yang terbagi dalam 30 marga. Kebanyakan anggotanya
mengandung alkaloid dan berguna sebagai obat.
Contoh-contohnya:
Ranunculales: R. arvensis, R. scleratus.
Hydrastis:H. canadensis, rimpangnya berkhasiat obat.
Nigella: N. sativa, bijinya sebagai bumbu masak.
Clematis: C. paniculata, C. vitalba (liana, tanaman hias)
Delphinium: D. staphisagria (tananaman hias, biji berkhasiat obat)
Aconitum: A. napellus (umbinya berkhasiat obat)
Anemone: A. pulsatilla (berkhasiat obat)
2. Suku Lardizabalaceae
Tumbuhan berkayu, seringkali berupa liana, daun majemuk menjari atau menyirip. Bunga terpisahpisah
atau majemuk berbentuk tandan, aktinomorf, banci atau berkelamin tunggal. Buahnya buah
buni. Suku ini hanya mencakup + 15 jenis, terbagi kedalam 7 warga.
Contoh:
Akebia: A. quinata, A. lobata (tanaman hias, buah dapat dimakan)
3. Suku Berberidaceae
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (157 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
Terna perenial atau tumbuhan berkayu dengan daun tunggal atau majemuk tanpa daun penumpu.
Bunga terpisah-pisah atau tersusun dalam rangkaian rasemos, hiasan bunga berupa tenda bunga
dapat dibedakan dengan kelopak dan mahkota, bunga banci, aktinomorf. Kepala sari membuka
dengan celah atau katup. Buahny buah buni.
Suku ini meliputi + 150 jenis yang terbagi dalam 10 marga, kebanyakan tumbuh di daerah
iklim sedang, beberapa jenis terdapat di Asia timur dan Tenggara
Contoh:
Berberis: B. vulgaris
Epimedium: E. rubrum, E. alpinum (sebagai tanaman hias)
Podophyllum: P. peltatum, penghasil “rhizoma podophylli” (tanaman berkhasiat obat)
4. Suku Menispermaceae
Kebanyakan berupa liana, daun tunggal, berlekuk atau berbagi menjari, dengan bunga yang kecilkecil.
Pada akar dan batang sering terdapat pertumbuhan menebal sekunder yang abnormal. Bunga
dengan tenda bunga tunggal atau ganda, berbilangan 3 atau 2, berkelamin tunggal, berumah 2,
aktinomorf. Mahkota kecil, tidak menarik perhatian. Bakal buah 3 atau banyak, tidak berlekatan satu
sama lain, masing-masing berisi 1 bakal biji yang mempunyai 2 integumen. Buah berupa buah batu
yang bengkok. Biji tanpa endosperm.
Suku ini meliputi + jenis, terbagi dalam lebih dari 60 marga, kebanyakan tumbuh di daerah
panas. Banyak diantaranya yang beracun.
Contoh:
Menispermium: M. canadense, dipelihara sebagai tanaman hias yang memanjat
Anamirta: A. cocculus, menghasilkan racun ikan
Jatrorrhiza: J. palmata, menghasilkan “radix columbae”, yang berkhasiat sebagai obat.
Chondrodendron: Ch. tomentosum, menghasilkan “radix pereirae brorae”, berguna sebagai obat.
5. Suku Magnoliaceae
Ciri-ciri:
a. Merupakan Tumbuhan berkayu dengan daun-daun tunggal yang duduknya tersebar, tanpa
atau dengan daun penumpu.
b. Memiliki bunga banci atau berkelamin tunggal.
c. Aktinomorf
d. Umumnya memiliki hiasan bunga yang jelas dan dapat dibedakan kelopak dan mahkotanya.
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (158 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
e. Memiliki benang sari yang banyak, tersusun teratur berbentuk spiral
f. Bakal buah banyak dan tersusun spiral pada ujung sumbu bunga
g. Tiap bakal buah hanya mengandung 1 atau beberapa bakal biji yang melekat pada kampuh
perut.
h. Jenis buah: kendaga, buah kurung, atau buah buni.
i. Biji memiliki banyak endosperm dan lembaga yang kecil.
Suku ini mencakup + 100 jenis yang terbagi dalam 12 marga, tumbuh tersebar di Amerika dan Asia.
Kebanyakan di daerah-daerah panas.
Yang termasuk kedalam suku ini adalah:
1. Genus : Magnolia (golongan tanaman hias)
Spesies : M. precia, M. virginiana, M. macrophylla
2. Genus : Liriodendron
Spesies : L. tulipifera (tanaman hias)
3. Genus : Michelia
Spesies : M. alba (cempaka putih), M. champaca (cempaka kuning)
4. Genus : Illicium
Spesies : I. Verum, I. religiosum, I.floridenum, I. anisatum
Manfaat Suku Magnoliaceae:
1. Sebagai tanaman hias contohnya: genus Magnolia, genus Michelia, dan Liriodendron
tulipifera.
2. Penghasil “fructus anisi stellati” yang berguna sebagai obat-obatan dan sebagai penyedap
dalam pembuatan minuman keras, contohnya: Illicium verum.
3. Penghasil racun, contohnya: I. religiosum
6. Suku Annonaceae
Tumbuhan berkayu dengan daun tunggal yang duduknya tersebar atau berseling, tanpa daun
penumpu. Bunga banci jarang berkelamin tunggal, aktinomorf, biasanya berbilangan 3, seringkali
mempunyai 2 lingkaran daun-daun mahkota. Benang sari banyak, bakal buah 1 sampai banyak,
bebas satu sama lain, masing-masing berisi banyak atau 1 bakal biji saja. Letaknya pada kampuh
perut atau basal, tiap bakal biji mempunyai 2 integumen. Buah kebanyakan buah berupabuah buni,
kadang-kadang berupa buah ganda. Biji dengan endosperm berbelah dan lembaga yang kecil.
Suku ini mencakup sekitar 800 jenis, terbagi dalam 80 marga, hampir semuanya penghuni daerah
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (159 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
tropika
Contoh-contoh:
Annona: A. muricata (sirsak), A. squamosa (srikaya), A.reticulata (buah nona), peghasil buahbuahan.
Stelechocarpus: S. burahol (kepel, burahol). Bunga tunggal, berumah 1, kauliflor, buah dengan biji
yang melintang, pantang dimakan bagi wanita yang sedang mengandung.
Cananga: C. odorata (kenanga, ilang-ilang), penghasil bunga tabur dan minyak wangi.
Polyalthia: P. lateriflora
7. Suku Myristicaceae
Suku ini terdiri atas tumbuhan berkayu dengan daun tunggal yang duduknya tersebar dan berseling.
Bunga kecil dengan tenda bunga tunggal yang berbilangan 3, selalu berkelamin tunggal, aktinomorf,
berumah dua. Tenda bunga berlekatan, benang sari banyak (sampai 20), tangkai sari berlekatan
berbentuk buluh, kepala sari menghadap keluar. Bakal buah tunggal dengan1 bakal biji yang anatrop
dan terletak pada dasar bakal buah, mempunyai 2 integumen, buahnya berdaging, bila masak
membuka dengan 2 katup. Biji dengan salut biji yang disebut “macis”, endosperm dan perisperm
yang berbelah, lembaga hanya kecil. Dalam suku ini termasuk 250 jenis, terbagi dalam 15 marga,
kebanyakan penghuni daerah tropika, terutama di Asia, Malaysia, dan Indonesia, ada juga di Afrika.
Contoh:
Myristica: M. fragrans (pala) penghasil rempah-rempah dan bahan obat (bijinya), kulit buah yang
tebal berdaging dapat dimakan (manisan pala atau asinan pala), salut biji (macis) berguna dalam obatobatan.
M. elongata, di Irian, M. setifera, M. argentea
8. Suku Monimiaceae.
Tumbuhan berkayu, kebanyakan dengan daun – daun tunggal yamg duduknya berhadapan tanpa
penumpu. Bunga jelas mempunyai kelopak dan mahkota atau tenda bunga, banci atau berkelamin
tunggal, aktinomorf atau zingomorf. Sumbu bunga berbentuk cakram atau piala, benag sari banyak
atau sedikit, tersusun dalam 2 lingkaran. Bakal buah banyak, bebas satu sama lain, masing-masing
dengan satu bakal biji, yang letaknya basal, dan mempunyai 2 integumen. Buahnya buah kurung,
yang terbungkus oleh dasar bunganya. Biji dengan endosperm, dan lembaga yang kecil.
Suku Monimiaceae mencakup sekitar 340 jenis yang terbagi dalam 30 marga, yang merupakan
penghuni daerah-daerah dengan udara panas.
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (160 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
Contoh-contoh:
Peumus: P. boldus, daunnya (Folia boldo) berguna dalam obat obatan.
Doryphora: D. sassafras, Sassafras australia
9. Suku Lauraceae
Suku Lauraceae meliputi tumbuh-tumbuhan berkayu dengan daun-daun tunggal (yang kadangkadang
bertulang melengkung) yang hidupmya tersebar, kadang-kadang berhadapan, tidak
mempunyai daun penumpu. Bunga banci atau berkelamin tunggal, dengan tenda bunga berbilangan 2
sampai 5. Biasanya berbilangan 3, tertanam pada tepi sumbu bunga yang berbentuk mangkok, atau
piala, dan tersusun dalam 2 lingkaran. Benang sari tersusun dalam 3 sampai 4 lingkaran, tiap
lingkaran terdiri atas sejumlah benang sari yang sama dengan jumlah daun – daun tenda bunga dalam
lingkarannya, yang pada lingkaran dalam, sering bersifat mandul sebagai staminodium. Kepala sari
membuka dengan katub. Bakal buah menumpang atau terdapat dalam lekukan dasar bunganya,
mempunyai satu bakal biji, yang anatrop dengan 2 integumen. Buah untuk sebagian berbalut oleh
sumbu bunganya yang membesar, berupa buah buni, atau menyerupai buah batu. Biji tampak
endosperm, lembaga dengan daun lembaga yang besar. Dalam daun dan kulit batang (gelam)
terdapat sel-sel yang mengandung minyak atsiri.
Warga suku Lauraceae merupaklan penghuni daerah-daerah yang panas, seluruhnya mencakup lebih
dari 1000 jenis, yang terbagi dalam sekitar 50 marga. Banyak diantaranya yang berguna bagi
kehidupan manusia.
Contoh-contoh:
Laurus: L nobilis, daunnya sebagai penyedap makanan. L. camphora, kamfer Jepang.
Cinnamomum: C. zeylanicum. C. burmani. C. cassia, Pengahasil keningar atau kayu manis yang
berguna sebagai penyedap masakan dan dalam obat-obatan.
Persea: P. gratissima (alpokat, apukat), buahnya dapat dimakan, P. americana.
Sassafras: S. officinale, kayunya dapat digunakan dalam obat-obatan.
Eusideroxylon: E. zwageri, penghasil kayu ulin, atau merbau dari S. selatan.
Cassytha: C. filiformis (tali putri), suatu parasit, terutama bagi pohon-pohon di hutan-hutan pantai.
10. Suku Hernandiaceae.
Suku ini terdiri atas tumbuhan berkayu dengan daun tunggal yang duduknya tersebar, tanpa daun
penumpu. Bunga dengan tenda bunga, banci atau berkelamin tunggal, aktinomorf. Daun tenda bunga
berjumlah 4 sampai 10. benang sari 3 sampai 5, duduknya berhadapan dengan daun-daun tenda
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (161 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
bunga dalam lingkaran yang paling luar. Bakal buah tenggelam, beruang satu, berisi 1 bakal biji
anatrop, yang bergantung dan mempunyai 2 integumen. Buahnya buah keras yang bersayap, biji
tanpa endosperm dengan lembaga yang lurus.
Hernandiance merupakan suatu suku yang marganya hidup didaerah tropika, meliputi hanya sekitar
22 jenis yang terbagi dalam 4 marga.
Contoh-contoh:
Hernandia: H. peltata, H. origera.
11. Suku Gomortegaceae.
Anggota-anggotanya terdiri atas pohon-pohon dengan daun tunggal yang duduk berhadapan tanpa
daun penumpu. Kayunya berat, awet. Bunga tersusun dalam tandan, diketiak daun atau pada ujung
cabang, banci, aktinomorf. Hiasan bunga terdiri atas 6 sampai 10 daun kelopak yang tersusun dalam
spiral dan mempunyai bentuk dan warna seperti tenda bunga. Mahkota tidak terdapat. Benang sari
banyak, tetapi hanya 2 sampai 3 yang bersifat fertil, yang dibagian dalam masing-masing
mempunyai 2 kelenjar yang bertangkai pada pangkal tangkai sarinya, kepala sari membuka dengan
katub-katub, menghadap kedalam.
Bakal buah tenggelam, beruang 2 sampai 3 dengan 1 bakal biji dalam tiap ruang. Bakal biji
mempunyai 2 integumen. Buahnya buah batu. Biji dengan banyak endosperm dengan lembaga yang
besar.
Suku ini hanya terdiri atas 1 marga : Gomortega dengan satu jenis yang hidup di Chili yaitu
Gomortega nitida.
12. Suku Calychantaceae
Perdu dengan daun tunggal yang berhadapan, tanpa daun penumpu. Bunga terpisah-pisah
dalan ketiak daun, berbau sedap, mempunyai tenda bunga yang banyak dan tersusun dalam spiral,
dasar bunga yang berbentuk piala, aktinomorf. Daun tenda menyerupai mahkota. Benang sari
berjumlah antara 20 sampai 30. bakal buah kurang lebih 20 terletak pada dasar sumbu bunga, bebas
satu sama lain, masing-masing berisi 2 bakal biji yang anatrop dan mempunyai 2 integumen.
Buahnya buah kurung, berisi satu biji. Biji dengan sedikit atau tanpa endosperm, lembaga dengan
daun lembaga yang tergulung.
Suku ini hanya terdiri atas 1 marga yaitu Calicanthus dengan 5 jenis yang tersebar di
Amerika utara, Asia Timur, dan Australia tropik. Sebagai contoh: Calicanthus occidentalis.
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (162 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
13. Suku Eupomaticeae
Semak atau perdu dengan daun-daun tunggal yang duduknya tersebar atau berseling, tanpa daun
penumpu. Bunga terpisah-pisah, banci, aktinomorf, mempunyai dasar bunga yang berbentuk piala.
Hiasan bunga hanya terdiri atas satu daun pelindung yang mudah gugur pada tepi dasar bunga yang
berbentuk piala tadi. Benang sari banyak, yang dibagian dalam steril dan petaloid. Bakal buah
banyak, bebas satu sama lain, terletak dalam dasar bunga, masing-masing mengandung banyak bakal
biji. Buahnya buah buni, dilingkari oleh sisa hiasan bunganya. Biji dengan endosperm yang berbagi
dan lembaga yang kecil.
Suku ini hanya terdiri atas satu marga yaitu: Eupomatia dengan 2 jenis di Irian dan Australia
Timur. Contoh : Eupomatia laurina.
14. Suku Nymphaeaceae
Hidrofita yang tumbuh dirawa-rawa atau daerah-daerah yang tergenang air, terapung atau
mempunyai akar, yang dapat mencapai dasar air. Daun – daun terapung di air atau tenggelam, tetapi
ada pula yang muncul diatas air. Bunga terpisah-pisah, aktinomorf dengan tenda bunga berbilangan 3
sampai banyak yang berfungsi sebagai daun kelopak, atau hanya 6 daun tenda bunga yang tersusun
dalam 2 lingkaran. Benang sari 3 sampai banyak, sebagian besar bersifat steril dan berubah menjadi
bagian-bagian yang menyerupai daun mahkota. Bakal buah menumpang atau setengah tenggelam,
kadang-kadang sama sekali tenggelam berjumlah 3 sampai banyak, bebas satu sama lain atau
berlekatan, sering kali tenggelam dalam dasar bunganya, masing-masing beruang banyak, tiap ruang
dengan 1 sampai banyak bakal biji yang laminal. Buahnya buah kurung atau menyerupai buah buni.
Biji mempunyai salut biji, kebanyakan dengan endosperm, dan perisperm, lembaga lurus.
Suku ini mencakup sekitar 100 jenis yang terbagi dalam 8 marga dengan daerah distribusi
yang sangat luas, meliputi daerah tropika dan daerah iklim sedang di belahan bumi utara.
Contoh-contoh:
Nymphaea: N. lotus ( teratai), N. stellata ( tunjung), seringkali sebagai tanaman hias dikolam.
Nelumbo: N. nucifera, N. lutea ( bijinya dapat dimakan).
Victoria : V. regia, dengan daun yang bundar dan tepi keatas, tanaman hias.
Nuphar: N. luteum
Cabomba : C.aquatica.
15. Suku Ceratophyllaceae
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (163 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
Tumbuhan air yang submers, dengan daun-daun yang berulang kali berbagi menggarpu,
tanpa tangkai daun, tanpa daun penumpu, duduknya berkarang. Tiap karangan terdiri atas 4 daun.
Bunga terpisah-pisah dalam ketiak daun, mempunyai tenda bunga, berkelamin tunggal. Bunga jantan
dan bunga betina dalam ketiak daun pada buku-buku yang berbeda, berunah satu. Daun tenda bunga
pada bunga jantan 12, sangat kecil, benang sari 10 sampai 12, pada bunga betina daun tenda bunga 9
sampai 10 . bakal buah menumpang dengan 1 bakal biji mempunyai tangkai putik yang panjang.
Buahnya buah keras dengan tangkai putik yang mengeras pada ujungnya, dilingkari daun-daun tenda
bunga yang tidak luruh. Biji dengan endosperm tipis, lembaga yang besar dan lurus. Pucuk lembaga
telah jelas dan dalam biji telah menunjukkan beberapa daun.
Suku ini hanya terdiri atas 1 marga: Ceratophyllum dengan 3 jenis yang cosmopolitik,
diantaranya ialah : Ceratophyllum demersum.
8. Bangsa Liliiflorae (Liliales)
Kebanyakan berupa terna perennial, mempunyai rimpang, umbi sisik atau umbi lapis, kadangkadang
juga berupa semak atau perdu, bahkan berupa pohon, ada pohon, ada pula yang merupakan
tumbuhan memanjat. Daun tersebar pada batang atau merupakan rozet akar. Bunga banci, atau
karena adanya reduksi salah satu alat kelaminnya menjadi berkelamin tunggal, aktinomorf atau
zigomorf, biasanya tersusun dalam rangkaian yang bersifat rasemos. Hiasan bunga berupa tenda
bunga berbilangan 3 yang tersusun dalam 2 lingkaran, menyerupai mahkota, kadang-kadang seperti
kelopak, tetapi jarang dapat dibedakan dalam kelopak dan mahkota. Benang sari bisanya 6, dalam 2
lingkaran, lingkaran yang dalam sering kali tidak ada. Bakal buah menumpang atau tenggelam.
Kebanyakan beruang 3 dengan bakal biji yang anatrop. Buahnya buah kendaga atau buah buni. Biji
dengan endosperm berdaging atau seperti tanduk. Warga bangsa Liliales mempunyai daerah
distribusi yang sangat luas, meliputi semua daerah beriklim sedang dan beriklim tropika, sebagian
kecil di daerah-daerah iklim panas.
1. Suku Liliaceae
Terna dengan rimpang atau umbi lapis, kadang-kadang semak atau perdu berupa tumbuhan
memanjat. Daun tunggal, tersebar pada batang atau terkumpul sebagai rozet akar, adakalanya
tereduksi dan cabang-cabang berubah menjadiklakodium. Bunga kecil sampai sangat besar dan amat
menarik, kebanyakan banci, aktinomorf atau sdikit zigomorf. Hiasan bunga berupa tenda bunga yang
menyerupai mahkota dengan atau tanpa pelekatan berupa buluh, terdiri atas 6 daun tenda bunga,
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (164 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
jaranga hanya 4 atau lebih dari 6, kebanyakan jelas tersusun dalam 2 lingkaran. Benang sari 6, jarang
sampai 12 atau hanya 3, bergadapan dengan daun-daun tenda bunga. Tangkai sari bebas atau
berlekatan dengan berbagai cara. Kepala sari beruang 2, membuka dengan celah membujur, jarang
dengan suatu liang pada ujungnya. Bakal buah menumpang atau setengah tenggelam, kebanyakan
beruang 3, dengan tembuni di sudut-sudut ruang. Buahnya buah kendaga atau buah buni. Biji dengan
banyak sekali endosperm, lembaga lurus atau bengkok.
Suku ini ditaksir meliputi sampai 4000 jenis tumbuhan, terbagi dalam 240 merga yang
dikelompokkan lagi dalam ± 12 anak suku. Daerah distribusinya meliputi seluruh dunia.
Contoh-contoh
Lilium : L. longiflorum (lilia gereja), L. tigrinum, L. anadense, L. candidum, L. speciosum (lilia
jepang), tanaman hias.
Allium: A. ascolonium (brambang, bawang merah), A. cativum(bawang putih), A. fistulosum
(locang). A. porrum (prei), schoenoprasum (kucai).
Asparagus: A. plumosus, A. racemosus, A. falcatua, memanjat, tanaman hias, A. officinalis
(asperge), sayuran.
Aloe {lidah buaya): A. ferox, A. vera, A. arborescens, A. chimperi, tanaman hias, bahan
pembuatan pencuci rambut.
Gloriosa: G. superba (kembang sungsang), memanjat, tanaman hias, mengjasilkan kolkisin; G.
leopoldii, G. rotschildiana, juga tanaman hias.
2. Suku Amaryllidaceae
Terna denga umbi lapis atu umbi sisik, jarang dengan rimpang atau batang diatas tanah yang nyata.
Daun pipih panjang, kadang-kadang dengan jaringan air dan tepi serta ujung berduri, tersusun
sebagai rozet akar araupun rozet batang, kadang-kadang bertunggangan dlam dua baris. Bunga banci,
baik karena warna, bentuk, maupun ukurannya, tersusun sebagai payung atau tandan, kadang-kadang
terpisah pada ujung tangkai yang tidak berdaun dan dibawah hiasan bunga mempunyai daun-daun
pembalutn tipis seperti selaput. Hiasan bunga berupa tenda bunga menyerupai mahkota yang
tersusun dalam 2 lingkaran, aktinomorf atau zigomorf. Benang sari 6, pangkal tangkai sari sering
berlekatan membentuk semacam mahkota tambahan. Bakal buah tenggelam, jarang setengah
tenggelam atau menumpang, kebanyakan beruang 3, dengan tembuni di sudut-sudutnya, tiap ruang
berisi banyak bakal biji. Tangkai putik 1, dengan 3 kepala putik atau 1 kepala putik berlekuk 3.
buahnya buah kendaga atau buah buni. Biji dengan endosperm yang berdaging, lembaga pipih,
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (165 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
kadang-kadang bersayap. Bila dilihat secara sepintas, lebih-lebih bunga yang aktifnomorf, dalam
banyak hal sangat mirip dengan bunga liliaceae, kecuali bahwa pada Amaryllidaceae bakal buahnya
tenggelam. Itulah sebabnya banyak jenis tumbuhan yang tergolong dalam suku ini yang oleh orang
diberi nama pula lilia (misalnya lilia api = bunga amaril).
Suku ini membawahi 100-an marga, seluruhnya meliputi 1.400-an jenis yang tersebar di
seluruh dunia.
Contoh-contoh
Amaryllis : A belladonna, A. reginae.
Crinum : C. asiaticum (bakung), C. giganteum, C. longiflorum, C. zeylanicum, C.
americanum, tanaman hias.
Hippeastrum (lilia api) : H. equestre, H. spelendens, H. sylosum, H. vittatum, tanaman hias,
bunga potong.
Narcissus (narsis) : N. poeticus, H. bicolor, N. jonquilla, N. pseundonarcissus.
Zephyranthes : Z. rosea (bunga coklat), Z. candida, Z. carinata, tanaman hias, untuk
tepi park.
Hymenocallis : H. littoralis, H. speciosa, H. caribaea, H. calathina, tanaman hias.
Galanthus : G. nivalis.
Clivia : C. nobilis, C. miniata, tanaman hias.
Agave : A. cantala (kantala), A. sisalana (sisal), A. Americana, A. angustifolia,
penghasil serat, tanaman hias.
Fourcroya : F. gigantea (hennep Mauritius), penghasil serat.
Monfreda : M. virginica, Stembergia : S. lutea.
Alstroemaria : A. aurantiaca, A. psittacina, tanaman hias.
Urceolina : U. pendula.
Curculigo : C. latifolia, C. capitulate, daun sebagai pembungkus, tanaman hias.
3. Suku Velloziaceae
Terna perenial atau tumbuhan berkayu dengan batang yang tebal, bercabang-cabang menggarpu,
batang tertutup oleh sisa-sisa daun yang telah gugur. Daun sempit memanjang, berujung runcing
tersusun sebagai rozet batang. Bunga terpisah-pisah pada tangkai yang panjang, berwarna putih,
kuning atau biru yang kadang-kadang amat menarik, banci, aktinomorf. Hiasan terdiri atas 6 daundaun
tenda bunga yang berlekatan, tersusun dalam 2 lingkaran. Benang sari 6 atau banyak dan
tersusun dalam 6 berkas, masing-masing terdiri atas 2®6 benang sari. Kepala sari bangun garis,
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (166 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
membuka dengan celah membujur. Bakal buah tenggelam, beruang 3 dengan banyak bakal biji.
Tangkai putik 1 dengan kepala putik bangun bongkol atau bercabang 3. Buahnya buah kendaga yang
kering atau keras, ujung sering rata atau cekung, penuh dengan bekas-bekas hiasan bunga, bergigi 6,
kadang-kadang berduri, membuka dengan membelah ruang. Biji banyak, pipih, mempunyai
endosperm dan lembaga yang kecil.
Suku ini hanya membawahi 2 marga saja, seluruhnya meliputi 170 jenis, sebagian besar di
Amerika Selatan, sebagian kecil di Afrika tropika dan madagaskar.
Contoh-contoh
Vellozia : V. Arabica.
Barbacenia : B. bicolor.
4. Suku Iridaceae
Terna perenial dengan akar-akar yang tumbuh dari rimpang, umbi sisik, atau umbi lapis. Daun-daun
pipih memanjang, tersusun sebagai rozet akar atau bertunggangan pada batang dalam dua baris,
berupih pada pangkalnya. Bunga banci, aktinomorf atau zigomorf, kebanyakan tersusun dalam
rangakaian yang bersifat rasemos, seringkali tampak sangat indah dan menarik. Hiasan bunga terdiri
atas tenda yang menyerupai mahkota, berbilangan 3, tersusun dalam 2 lingkaran dengan daun-daun
tenda bunga yang sama atau berbeda baik dalam bentuk, struktur ukurannya, tidak lekas gugur.
Benang sari 3, berhadapan dengan daun-daun tenda bunga yang di lingkaran luar, kepala sari
beruang 2, membuka pada sisi yang membelakangi putik. Bakal buah tenggelam, beruang 3 atau 1,
dengan banyak bakal biji yang anatrop. Tangkai putik 3, berlekuk 3 pada ujungnya, kadang pipih
melebar seperti daun mahkota atau bersayap. Buahnya buah kendaga yang membuka dengan katupkatup,
pada ujungnya terdapat seperti bekas luka yang berbentuk lingkaran. Biji dengan endosperm
dan lembaga yang kecil.
Iridaceae mencakup sekitar 1.500-an jenis yang terbagi dalam kurang lebih 60 marga,
terutama tersebar di daerah sekitar Laut Tengah , Afrika Selatan dan Amerika.
Contoh-contoh
Iris : I. Germanica, I. Florentina, I. Pallida, menghasilkan rimpang yang berguna
dalam obat-obatan.
Gladiolus : G. variabilis, G. psittacinus, G. cardinalis, tanaman hias, penghasil bunga
potong.
Belamcanda : B. chinensis, tanaman hias.
Crocus : C. sativus, penghasil zat warna kuning (safran) dari kepala putiknya; C.
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (167 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
neapalitanus, C. reticulatus, C. aureus, C. susianus, tanaman hias.
Tigrida : T. pavonia (lilia singa)
Freesia : F. refracta.
Antholyza : A. plicata, A. paniculata.
5. Suku Taccaceae
Terna perenial dengan rimpang yang merayap atau berbentuk umbi. Daun besar, tunggal atau
bergigi, tersusun sebagai rozet akar. Bunga banci, aktinomorf, terangkai dalam bunga majemuk
berbentuk payung yang terdapat pada ujung tangkai bunga yang tidak berdaun. Hiasan bunga serupa
mahkota, terdiri atas 6 daun tenda bunga yang tersusun dalam 2 lingkaran, berlekatan antara yang
satu dengan lain. Benang sari 6, tertanam pada tenda bunganya, tangkai sari melebar, pendek; kepala
sari beruang 2, membuka dengan celah membujur. Bakal buah tenggelam, beruang 1 dengan tembuni
pada dinding yang mendukung banyak bakal biji. Tangkai putik 3, pendek, dengan 3 kepala putik
yang sering kali melebar berbentuk seperti mahkota. Buahnya buah buni atau buah kendaga yang
membuka dengan 3 katup. Biji banyak, dengan endosperm dan lembaga yang kecil.
Suku Taccaceae hanya terdiri atas 2 marga dengan sekitar 30 jenis, tersebar di daerah tropika
dan Asia Timur, terutama Cina.
Contoh-contoh
Tacca : T. cristata, T. pinnatifida, T. palmata, dari umbinya peroleh sejenis tepung yang
dikenal sebagai “Tahiti arrowroot”.
6. Suku Dioscoreaceae
Terna memanjat atau membelit dengan rimpang atau umbi di dalam tanah yang akan zat tepung dan
organ-organ serupa pada bagian di atas tanah, tetapi lebih kecil dari pada yang terdapat di dalam
tanah. Daun tunggal, bertulang menjari sampai melengkung, duduk tersebar, jarang berhadapan.
Bunga berkelamin tunggal, kecil, actinomorf, tersusun dalam rangkaian berupa bulir, tandan atau
malai, hiasan bunga seperti kelopak, terdiri atas 6 segmen yang berlekatan dengan taju-tajunya
tersusun dalam 2 lingkara. Pada bunga jantan melekat pada tenda bunga, jumlahnya 6, semua
sempurna atau 3 diantaranya mandul, atau terdapat 3 benangsari yang sempurna. Tangkai sari bebas
atau perlekatan pendek pada pangkal, kepala sari beruang 2, putik yang rudimenter ada atau tidak
ada. Bunga betina dengan bakal buah yang tenggelam, beruang 3, dengan 2 bakal biji dalam tiap
ruang, tangkai putik 3, bebas atau berlekatan, kadang-kadang terdapat sisa-sisa benang sari. Buahnya
buah kendega yang membuka dengan 3 katup atau buah buni. Biji sering bersayap, mempunyai
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (168 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
endosperm dan lembaga yang kecil.
Suku Dioscoraceae meliputi sekitar 650 jenis tumbuhan yang terbagi dalam 10 marga,
terutama tersebar di daerah tropika.
Contoh-contoh: Dioscorea: D. batatas (yam), D. alata (ubi), kaya akan zat tepung, langsung dapat
dimakan setelah direbus ataudibenam dalam api; D. hispida (gandum), umbi dapat dimakan setelah
racun yang terkandung di dalamnya dihilangkan; D. oppositifolia, D. sativa. D. discolor.
Tasmus ; T. sativa, T. communis.
Testudinaria; T. elephantipes
7. Suku Juncaceae
Terna annual atau perennial, mirip rumput atau mendong, jarang berupa semak, kebanyakan
mempunyai rimpang, jarang mempunyai batang di atas tanah. Daun sempit panjan. Bangun silinder
atau pipih seperti daun rumput, mempunyai upih pada pangkalnya, dudknya kebanyakan sebagai
rozet akar, bunga banci, actinomorf, terangkai dalam berbagai susunan, hisan bunga terdiri atas 6
daun tenda bunga seperti selaput yang tersusun dalam 2 lingkaran, benang sari 3 atau 6, bebas,
berhadapan dengan daun-daun tenda bunga, kepala sariberuang 2, membuka dengan celah
membujur, serbuk sari membentuk tetrade. Bakal buah menumpang,berulang 1-3, tiap ruang berisi 1-
banyak bakal biji. Tangkai putik 1, kepala putik 3, berbentuk benang. Buahnya buah kendaga kering,
membuka dengan membelah ruang. Biji kadang-kadang berekor, mempunyai endosperm, lembaga
kecil, lurus.
Suku Juncaceae meliputi lebih dari 300 jenis, terbagi dalam 8 marga, daerah distribusinya meliputi
daerah-daerah iklim sedang.
Contoh-contoh:
Juncus: J. effuses. J. tenuis, J. capitatus. J. triglumis.
Luzula: L. tiberi.
Prionium: P. sitratum.
Marsippospermum: M. gracile.
8. Suku Burmanniaceae
Terna annual atau perennial, sebagian besar hidup sebagai saprofit dengan atau tanpa daun, kadangkadang
mempunyai rimpang,. Batang dengan daun-daun kecil seperti sisik yang tersebar, jenis yang
bukan safropit mempunyai daun-daun yang tersusun sebagai rozet akar. Bunga banci, actinomorf
atau agak zigomorf, terpisah-pisah atau terangkai sebagai sinsinus. Hiasan bunga bunga bewarna biru
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (169 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
atau putih terdiri dari terdir atas sebagian yang berlekatan membentuk tubuh yang panjang dengan di
bagian atas 6 taju-taju yang tersusun dalam 2 lingkaran, kepala sari mengahadap ke dalam,
penghubung ruang sari, lebar, membuka dengan celah horizontal di samping atau dengan celah
membujur disebelah dalam. Tangkain putik pada ujungnya sering bercabang pendek menjadi 3,
masing-masing dengan kepala putik yang berlekatan. Bakal buah tenggelam, beruang 1 dengan 3
tembuni, pada dindingnya atau beruang 3 dengan tembuni yang aksilar, bakal biji banyak, masingmasing
mempunyai 2 integumen. Buahnya buah kendaga pada ujungnya bermahkota hiasan bunga
yang telah mongering, sering kali bersayap 3, biasanya membuka dengan celah membujur di antara
tembuni, biji kecil, banyak, mempunyai endosperm, lembaga belum jelas terdiferensial.
Contoh-contoh:
Burmannia: B.bicolar, B.longifolia, B.tridentate, B. bifolar.
Gymnosiphon: G. bornensis.
9. Bangsa Zingiberales
Habit berupa terna yang besar, perenial, mempunyai rimpang atau batang dalam tanah. Daun
lebar, jelas dibedakan dalam tiga bagian : helaian, tangkai, dan upih. Helaian daun simetris,
bertulang menyirip. Bunga besar dengan warna yang menarik, banci, zigomorf atau asimetris.
Kelopak dan mahkota bilangan 3, kelopak sering menyerupai mahkota. Benag sari 6, tersusun dalam
2 lingkaran, tangkai sari bebas, sering terdapat reduksi, sehingga kadang-kadang hanya tinggal 1
benang sari yang fertil, yang lain mandul atau tidak terdapat. Bakal buah tenggelam, kebanyakan
beruang 3, tiap ruang dengan 1 sampai banyak bakal biji. Biji tanpa atau dengan sedikit endosperm,
tetapi dengan perisperm yang besar.
Ordo Zingiberales terdiri dari 4 famili yaitu :
1. Zingiberaceae
2. Musaceae
3. Cannaceae
4. Marantaceae
1. Musaceae
Biasanya terna yang besar, sering dengan batang semu yang terdiri atas upih daun yang balut
membalut, dengan daun yang lebar, bangun jorong atau memanjang, ibu tulang tebal, beralur di sisi
atasnya, jelas berbeda dari tulang-tulang cabangnya yang menyirip. Bunga banci atau berkelamin
tunggal, zigomorf, tersusun dalam sinsiunus yang terdapat dalam ketiak daun pelindung yang besar
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (170 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
dan berwarna menarik. Keseluruhan rangkaian bunga merupkan tenda dengan bunga • di bagian
pangkal dan bunga • di bagian ujung perbungaanya. Hiasan bunga jelas dapat dibedakan dalam
kelopak dan mahkotanya. Kelopak berbentuk tabung, memenjang, berbagi 2 dengan tepi bergigi
yang berbeda-beda. Mahkota berbibir 2, seringkali rompang dan bagian atasnya berigi-rigi. Benang
sari 5 dengan 1 lagi yang tereduksi . Tangkai berbentuk benang, kepala sari bangun garis, beruang 2.
Bakal buah tenggelam, beruang 3, tiap ruang berisi banyak bakal biji dengan tembuni di sudutsudtnya.
Tangkai sari berbentuk benang, kepala sari berlekuk. Buah berdaging, tidak membuka,
merupakn buah buni atau buah kendaga. Biji dengan kulit biji keras, kadang-kadang bersalut,
lembaga lurus terdapat dalam endosperm dan perisperm.
Famili ini meliputi sekitar 150 jenis tumnbuhan yang terbagi dalam 6 genus dengan daerah
distribusi yang meliputi daerah tropika.
Contoh :
- Musa : M. paradisiaca (Pisang) penghasil buah-buahan, mencakup berbagai jenis
budidaya; M. textilis (henep Manila) penghasil serat; M. chiliocarpa (pisang seribu), M.
brachycarpa (pisang batu); M. zebrina (pisang lilin).
- Ravenala : R. Madagascariensis (pisang kipas) tanaman hias.
- Stertlizia : S. Reginae tanaman hias.
- Heliconia : H. indica; H. bihai; H. metallica tanaman hias.
2. Zingiberaceae
Terna perenial dengan rimpang yang kadang-kadang berbenrtuk seperti umbi yang biasanya
mengandung minyak menguap hingga berbau aromatik. Batang di atas tanah seringkalai hanya
pendek dan mendukung bunga-bunga saja. Daun tunggal mempunyai sel-sel minyak menguap,
tersusun dalam 2 baris, kadang-kadang jelas mempunyai 3 bagian berupa helaian, tangkai, dan upih,
selain itu juga lidah-lidah. Helaian daun biasanya lebar dengan ibu tulang daun yang tebal dan tulangtulang
cabang yang sejajar dan rapat satu dengan yang lain dengan arah yang serong ke atas. Tangkai
daun pendek atau tidak terdapat, upih terbuka tau tertutup, lidah-lidah pada btas antara helaian
dengan tangkai tau antara helaian dengan upih. Bunga terpisah-pisah tersusun dalam bunga majemuk
tunggal atau berganda, kebanyakan banci, zigomorf atau asimetrik. Hiasan bunga dapat di bedakan
dalam kelopak dengan 3 daun keloipak dan mahkota yang terdiri atas 3 daun mahkota yang
berlekatan pada bagian bawahnya membentuk suatu buluh, dengan bentuk dan warna yang kadangkadang
cukup atraktif. Benang sari 1 denga 3-5 benang sari mandul yang kadang-kadang bersifat
seperti daun mahkota. Bakal buah tenggelam, beruang 3, jarang 2 dengan tenbuni di ketiak, atau
beruang 1 dengan tembuni pada dinding atau pada dasrnya. Tangkai putik di ujubg, tidak terbagi,
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (171 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
bebas atau terdapat dalam suatu alur pada benang sari yang fertil, ada kalanya berbibir atau bergigi 2.
Bakal biji banyak. Buahnya buah kendaga yang berkatup 3, atau berdaging tidak membuka. Biji
bulat atau berusuk, mempunyai salut biji, endosperm banyak.
Famili ini terdiri dari sekitar 40 genus yang seluruhnya meliputi 1400-an jenis, yang sebagian
besar menghuni daerah tropika. Contoh :
- Alpinia : A. galanga (laos) bumbu masak; A. javanica; A. malaccensis
- Amomum : A. cardamomum (kapulaga), untuk jamu; A. maximum (wresah); A.
aculenatum; A. roseum.
- Achasma : A. coccineum; A. foetens; A. megalocheilos (tepus).
- Costus (pacing) : C. Speciosus; C. Globosus; C. Igneus, tanaman hias.
- Curcuma : C. domestica (kunyit); C. xanthoriza (temu lawak); C. heyneana (temu giring);
C. aeroginosa (temu ireng); C. mangga (kunyit putih); C. zeodaria (temu putih).
- Eletteria : E. cardamum I(kapulaga sabrang)
- Kaempferia : K. galanga (kencur); K angustifolia (kunci); K. rotunda (kunci pepet); K.
pandurata.
- Zingiber : Z. officinale (jahe); Z. zerumbet (lempuyang gajah); Z. amaricans (lempuyang
emprit); Z. cassumunar (bengle).
- Hedychium : H. roxburghii; h. flavescens (gandasuli); H. longicornutum.
- Globa : G. marantina; G. ulignosa; G. strobulifera.
- Nicolaia : N. spiciosa (kecombrang); N.gracilis; N. atropurpurea.
- Tapeinochilus : T. ananassae (kasturi), tanaman hias.
3. Cannaceae
Terna besar-besar, perenial, dalam tanah mempunyai rimpang yang tebal seperti umbi. Daun
pada batang di atas tanah, besar, lebar, bertulang menyirip dengan ibu tulang yang nyata, tangkai
daun pada pangkal melebar menjadi upih, lidah-lidah tidak terdapat. Bunga banci, zigomorf atau
lebih sering asimetrik, besar dengan warna yang cerah dan menarik, tersusun dalam rangklaian
berbentuk tandan atau malai. Hiasan bunga terdiri atas kelopak dan mahkota, masing-masing
berbilangan 3, daun-daun kelopak bebas tersusun seperti genting, daun-daun mahkota berlekatan
pada pangkalnya. Benang sari 1-5, kecuali 1 semuanya steril dan berubah menjadi bagian bunga
yang paling menarik, berwarna cerah, lebar, seperti daun mahkota. Benang sari yang fertil juga
masih pipih seperti daun mahkota, tetapi mendukung 1 kepala sari yang beruang 1 pada salah satu di
bagian atasnya. Bakal buah tenggelam, beruang 3, rtiap ruang berisi banyak bakal biji yang tersusun
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (172 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
dalam 2 baris. Tangkai putik tebal menyerupai daun dengan kepala putik yang miring. Buah dengan
kelopak yang tidak gugur di bagian atasnya, berupa buah kendaga yang membuka dengan rusaknya
dinding yang kemudian menjadi kasap berbenjol-benjol. Biji banyak, bulat, endosperm keras,
lembaga kecil.
Famili cannaceae ini merupakan famili yang terdiri dari 1 marga yaitu Canna, dengan
seluruhnya meliputi 50 jenis. Contoh :
- Canna : C. edulis (ganyong), rimpangnyua dimakan, penghasil tepung; C. indica
(puspanyandra, bunga tasbih), tanaman hias.
4. Marantaceae
Terna perenial, dalam tanah membentuk rimpang yang merayap, di atas tanah terdapat batang
yang nyata atau tidak. Daun dalam 2 baris, terdiri atas 3 bagian yang jelas, berupa helaian, tangkai,
dan upih yang terbuka, biasanya tampak sebagai roset akar. Helaian bulat telur memanjang atau
jorong, bertulang menyirip, seringkali dengan 1 sisi lurus dan sisi yang lain melengkung. Tangkai
daun bagun silinder, menebal pada batas dengan helaian, seringkali bersayap. Bunga banci,
asimetrik, tersususn dalam bulir atau malai yang mempunyai daun pelindung dan terdapat pada ujung
batang, adakalanya bunga muncul dari rimpang. Hiasan bunga biasanya di bedakan dalam kelopak
dan mahkota, masing-masing terdiri atas 3 daun mahkota yang tidak sama beasr dan berlekatan,
membentuk suatu bukuh pada bagian bawahnya. Benang sari 4 -5, hanya ada 1 yang fertil, lainnya
mandul dan bersifat petaloid (seperti daun mahkota0, dengan 1 di antaranya berbentuk topi (helm).
Bakal buah tenggelam, beruang 3-1, sering 2 dari ke-3 ruangnya tidak berisi bakal biji. Bakal biji
tegak pada dasr ruang. Tangkai putik bengkok, serimh melebar pada ujungnya. Buahnya buah
kendaga yang pecah dengan membelah ruang atau buah yang berdaging. Biji dengan banyak
endosperm, sering bersalut pada bagian pangkal, lembaga bengkok atau terlipat.
Famili ini terdiri dari sekitar 30 genus dengan ± 350 jenis, terutama tersebar di daerah
tropika, kebanyakan di Amerika dan Afrika. Contoh :
- Maranta : M. arundinaceae (garut, kerut), penghasil tepung; M. bicolor; M. spelendida; M.
virginalis.
- Calanthe : C. grandiflora; C. zebrina; C. ornata, tanaman hias.
- Phrymium : P. Capitatum; P. Pubinerve, daun sebagai bahan pembungkus.
- Stromantha : S. Papillosa; S. Sanguinea, tanaman hias.
- Thalia : T. dealbata; T. geniculata.
- Donax : D. canniformis;D. arundastrum.
- Holopegia : H. blumei.
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (173 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM
BAHAN AJAR TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI
file:///D|/E-Learning/Taksonomi%20Tumbuhan/Textbook/BAHAN%20AJAR%20Taksonomi%20Tumbuhan.htm (174 of 174)5/8/2007 3:37:11 PM

Cita Rasa Bunga Dalam Masakan

Filed under: Taksonomi — perpusonline @ 10:46 pm

Thursday, August 10, 2006

Kelezatan Bunga dalam Seni Kuliner Indonesia

Cita Rasa Bunga Dalam Masakan
Penulis: Budi Sutomo

Seni kuliner Eropa, Timur Tengah, Asia maupun Indonesia banyak menggunakan bunga sebagai bahan pangan. Penggunaannya juga sangat beragam, baik diolah sebagai tumisan, dibuat lalapan, soup maupun bumbu penyedap masakan. Agar tidak salah pilih, kenali jenis-jenisnya.


Bunga Melati (Jasminum sp)
Aroma semerbak melati sering digunakan sebagai campuran teh. Bagian yang digunakan
biasanya bagian kuncup bunga, dilayukan kemudian dikeringkan. Selain memberi aroma wangi dan segar, aroma melati juga memberi efek menenenangkan pada tubuh. Essen melati juga sering digunakan sebagai pengharum kue dan aneka minuman.


Bunga Turi (Sesbania grandiflora)
Selain kacang dan daunnya yang enak di makan, bunga turi juga sering diolah sebagai masakan. Masarakat Jawa mengolah bunga ini untuk campuran urapan, pecel, ditumis atau dibuat sayur. Rasanya hampir mirip dengan bunga pepaya namun tidak pait


Bunga Sawi (Brassica chinensis var)
Sebagian orang menyebutnya sebagai bunga caisim. Bunga ini rasanya segar dan sedikit pahit, cocok diolah sebagai tumisan, di cah, campuran soup atau tumisan. Jangan memasaknya terlalu lama karena warna bunga akan berubah kehitaman dan merusak kandungan vitamin.


Bunga Telang (Clitoria ternatea)
Bunga dari tanaman perdu yang tumbu merambat. Bunga ini banyak digunakan untuk memberi warna biru alami pada minuman atau kue. Cuci dan remas 10 – 15 kuntum bunga dengan 5 sendok air. Remas-remas kemudian disaring, air pun siap digunakan untuk memberi warna makanan.


Artichoke (Cynara Scolymus)
Artichoke merupakan sayuran dari bunga yang sangat popular di Eropa. Dipasaran tersedia dalam kemasan kaleng atau segar. Untuk yang segar, rebus dan ambil hatinya dan Anda tinggal mengolahnya. Cocok dibuat salad, dimasak dengan saus putih, campuran soup atau diisi daging.

Bunga Kecombrang (Phaeomeria speciosa)
Bunga dari tanaman sejenis lengkuas yang asli Indonesia. Bunganya beraroma harum, segar dengan cita rasa yang khas. Masaralat Jawa Barat biasanya memanfaatkan untuk campuran urap, lodeh atau dibuat lalapan. Sedangkan di Jawa Tengah sering diolah sebagai campuran pecel dan di Sumatra untuk campuran gulai merah.

Bunga Pepaya (Carica papaya)
Bunga dari pepaya jantan ini disukai banyak

orang. Rasanya yang pahit justru dapat meningkatkan napsu makan. Jika Anda ingin menghilangkan rasa pahitnya, cuci sambil diremas dengan air garam. Lezat sebagai tumisan, oseng-oseng atau dibuat sayur berkuah santan.

Bunga Bawang (Allium Tuberosum)
Bentuknya yang cantik menjadikan bunga bawang

ini sering digunakan sebagai garnis. Untuk masakan, pilih bagian bunga yang baru kuncup agar tekstur renyah dan cita rasa prima. Sering digunakan sebagai campuran tumisan daging/sea food.

Bunga Pisang (Musa paradisiaca)
Bunga pisang atau yang lazim di sebut jantung pisang juga lezat diolah menjadi beragam hidangan. Pecak jantung pisang adalah salah satunya. Pecak jantung merupakan hidangan khas Jawa. Masaknya sangat mudah, jantung

pisang dikupas kulit luarnya hingga bagian putih yang tersisa. Bakar atau kukus terlebih dahulu untuk menghilangkan getah dan rasa sepet. Buatkan sambal terasi dan pencet bunga pisang di dalam sambal. Hidangkan dengan nasi panas, hm…lezat sekali. Alternatif lain mengolah jantung pisang adalah dengan cara dibuat sayur lodeh. Pilih jantung pisang dari pisang raja atau kepok karena kedua pisang ini mengasilkan bunga yang rasanya tidak pahit seperti jenis pisang lainnya.

posted by Budi Sutomo, S.Pd @ 1:21 AM

3 Comments:

At 9:58 PM, tyka82 said…

Kok daun ganja gag dimasukin juga Mas? Hehehe…Kan di bbrp daerah, daun itu juga sebage bumbu masakan.

Klo gag salah, di Aceh ya?

http://tyka82.blogspot.com/

At 11:03 PM, pepy said…

makasih yahh Mas, berkat blog ini aku tau nama latinnya bunga turi buat nyari bahasa Inggrisnya apa, karena temen ada yg pengen buanga turi tapi gak tau bhs Inggrisnya

At 1:38 PM, Anonymous said…

Tambahan.. bunga kelapa biasa di sayur lodeh, bunga sedap malam untuk campuran masakan cina.

Post a Comment

Links to this post:


posted by @

Create a Link

<

Evaluasi Mutu Soygurt yang dibuat denganPenambahan beberapa Jenis Gula

Filed under: Biokim — perpusonline @ 10:45 pm

104 Jurnal Natur Indonesia 6(2): 104-110 (2004) Yusmarini & Effendi..
Jurnal Natur Indonesia 6(2): 104-110 (2004)
ISSN 1410-9379
Evaluasi Mutu Soygurt yang dibuat dengan
Penambahan beberapa Jenis Gula
Yusmarini, Raswen Efendi
Laboratorium Teknologi Hasil Pertanian, Faperta, Universitas Riau, Pekanbaru 28293
Diterima 16-09-2003 Disetujui 26-02-2004
ABSTRACT
Soygurt is produced by culturing soymilk with Streptococcus thermophilus and Lactobacillus bulgaricus. Stabilizer
such as gelatin is used for improved soygurt texture. The effect of various sugars on quality of soygurt was
evaluated. The studies were cunducted in three steps 1) Soymilk production, 2) Soygurt production, and 3)
Chemical analysis and organoleptic test. Data obtained were treated by the analysis of variance followed by
Duncan’s Multiple Range Test. Research results indicate that addition of various sugars gave significant effect
on pH, protein, taste, and acceptability. However the addition of various sugars did not give significant effect on
total solid, fat, colour, and aroma of soygurt.
Keywords: quality, soybean, soygurt, sugar
PENDAHULUAN
Biji kacang-kacangan merupakan sumber
protein bagi sebagian besar penduduk dunia,
khususnya bagi masyarakat di negara-negara
berkembang seperti Indonesia. Bahkan dewasa ini,
pola konsumsi masyarakat telah bergeser dari bahan
makanan hewani ke bahan makanan nabati. Hal ini
terjadi karena masyarakat berusaha menghindari
makanan dengan kadar kolesterol tinggi setelah
diketahui adanya korelasi yang positif antara penyakit
jantung koroner dengan kadar kolesterol yang tinggi
di dalam serum darah. Bahan makanan hewani
banyak mengandung kolesterol sedangkan bahan
makanan nabati tidak demikian, terutama kacang
kedelai.
Kedelai sebagian besar dikonsumsi dalam
bentuk olahan dan hanya sebagian kecil yang
dikonsumsi secara langsung. Salah satu produk
olahan kedelai adalah susu kedelai. Susu kedelai
mempunyai nilai gizi yang mirip dengan susu sapi
dan sangat baik digunakan sebagai pengganti susu
sapi bagi anak-anak yang menderita intoleransi
laktosa. Dengan sedikit suplementasi khusus, susu
kedelai dapat menggantikan susu sapi secara baik.
Namun demikian, pemanfaatan susu kedelai masih
terbatas karena citarasa yang kurang disenangi
(langu).
Keterbatasan susu kedelai tersebut dapat
dikurangi melalui proses fermentasi susu kedelai
menjadi yogurt yang lebih dikenal dengan istilah
soygurt. Soygurt merupakan produk fermentasi susu
kedelai dengan menggunakan bakteri Streptococcus
thermophillus dan Lactobacillus bulgaricus yang telah
umum dipakai dalam proses pembuatan yogurt
(Koswara 1995). Streptococcus thermophillus dan
Lactobacillus bulgaricus merupakan spesies mikroba
yang esensial dan aktif dalam hubungan simbiotik
(Herastuti 1994). Yogurt merupakan salah satu produk
makanan yang sangat populer saat ini. Selain sebagai
makanan, produk yang dibuat dari susu ini dianggap
sebagai produk yang dapat membantu pencernaan,
mencegah diare, mencegah peningkatan kadar
kolesterol darah yang terlalu tinggi, bahkan dinyatakan
dapat membantu melawan kanker (Chandan &
Shahani 1993). Yogurt dikonsumsi karena
kesegarannya, aroma dan teksturnya yang khas.
Fermentasi dapat menimbulkan citarasa baru dan
membentuk tekstur beberapa makanan sehingga
mampu memperbaiki penerimaan produk kedelai. Dari
hasil penelitian yang dilakukan oleh Yusmarini et al,
(1998), selama fermentasi akan terbentuk asam-asam
organik yang menimbulkan citarasa khas pada
soygurt.
Hal penting yang harus diperhatikan dalam
pembuatan soygurt adalah jenis karbohidrat dalam
susu kedelai sangat berbeda dengan karbohidrat yang
terdapat pada susu sapi. Karbohidrat yang ada pada
susu kedelai terdiri golongan oligosakarida dan
Soygurt dengan penambahan beberapa jenis gula 105
polisakarida, sedangkan karbohidrat pada susu sapi
adalah laktosa (Koswara 1995). Kandungan gula yang
terdapat pada susu kedelai yang dapat dimanfaatkan
oleh mikroorganisme yang berperan dalam proses
pembuatan soygurt sangat terbatas, oleh karena itu
perlu dilakukan penambahan sumber gula yang lain.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa apabila
susu kedelai langsung diinokulasi tanpa penambahan
gula tidak akan menghasilkan soygurt yang
berkualitas baik hal ini ditandai dengan masih
tingginya nilai pH dan tidak terjadi penggumpalan
protein (Yusmarini et al, 1998). Sumber gula yang
dapat ditambahkan adalah sukrosa, laktosa, glukosa
atau fruktosa sebanyak 4–5% (Koswara 1995).
Yusmarini et al, (1998) menambahkan sukrosa
sebanyak 4-12% pada susu kedelai yang akan dibuat
soygurt. Jenis gula yang berbeda akan menghasilkan
asam-asam organik yang berbeda yang pada
akhirnya akan menyebabkan terjadinya perbedaan
kualitas soygurt yang dihasilkan.
Menurut Chandan & Shahani (1993), hasil
metabolisme karbohidrat (gula) berupa asam-asam
organik akan mempengaruhi citarasa dan ikut
menentukan kualitas yogurt. Asam organik yang
dihasilkan selama proses fermentasi susu kedelai
menjadi yogurt dengan menggunakan bakteri
Lactobacillus acidophilus dan Streptococcus
thermophillus adalah asam laktat, asam sitrat dan
asam suksinat (Yusmarini et al, 1998). Menurut Lee
et al, (1990), yogurt dari susu sapi mengandung asam
laktat, asam sitrat, asam piruvat, asam format, asam
urat, asam butirat, dan asam orotat.
penambahan sukrosa, SL = penambahan sukrosa
dan laktosa, L = penambahan laktosa, SG =
penambahan sukrosa dan glukosa, G = penambahan
glukosa, dan LG = penambahan laktosa dan glukosa.
Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 3 kali
sehingga akan diperoleh satuan percobaan sebanyak
18 buah.
Metode yang digunakan dalam pembuatan
susu kedelai adalah Metode Illinois dengan sedikit
modifikasi (Yusmarini et al, 1998). Biji kedelai
direndam dalam larutan NaHCO3 0,5% selama satu
malam (perbandingan kedelai dengan larutan
perendam adalah 1 : 3). Setelah itu, kedelai ditiriskan
dan diblanching dalam larutan NaHCO3 0,5% selama
30 menit (perbandingan kedelai dengan larutan
perendam adalah 1 : 3). Kemudian, kulit kedelai
dibuang dan dicuci dengan air bersih dan ditiriskan.
Selanjutnya, kedelai dihancurkan dengan
menggunakan blender sambil ditambah dengan air
panas (80-1000C) dengan perbandingan kedelai dan
air sebanyak 1 : 6. Penggilingan dilakukan selama 7
menit dan setelah itu dilakukan penyaringan. Susu
kedelai yang telah disaring siap digunakan untuk
pembuatan soygurt.
Proses pembuatan soygurt mengacu pada
metode Kanda et al, (1976). Susu kedelai yang telah
disiapkan sebanyak 2700 ml untuk 1 kali ulangan
dibagi menjadi 6 bagian dan masing-masing bagian
sebanyak 450 ml dimasukkan ke dalam panci yang
berbeda. Pada panci I ditambah sukrosa sebanyak
7% dari volume susu kedelai, panci II ditambah
glukosa sebanyak 7%, panci III ditambah laktosa
sebanyak 7%, panci IV ditambah sukrosa 3,5% dan
laktosa 3,5%, panci V ditambah sukrosa 3,5% dan
glukosa 3,5%, dan panci VI ditambah 3,5% laktosa
dan 3,5% glukosa. Kemudian diaduk hingga gula yang
ditambahkan menjadi larut. Susu yang terdapat pada
masing-masing panci dibagi menjadi tiga bagian dan
dimasukkan ke dalam botol kaca masing-masing 150
ml. Kemudian susu kedelai disterilisasi pada suhu
1150C selama 10 menit. Susu kedelai didinginkan
dengan cepat hingga mencapai suhu 450C. Agar
laminar flow, oven, timbangan analitik, pH meter,
desikator, botol timbang, labu kjeldahl, labu destilasi,
alat titrasi, automatic stirer, dan alat-alat gelas.
Penelitian dilaksanakan menggunakan
Rancangan Acak Lengkap dengan perlakuan S =
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
kualitas soygurt yang dibuat dari susu kedelai
(soygurt) dan mengetahui tingkat penerimaan
konsumen terhadap soygurt yang dibuat dengan
penambahan beberapa jenis gula.
BAHAN DAN METODE
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini
adalah kedelai kuning varietas impor, sukrosa,
glukosa, laktosa, gelatin yang berasal dari sapi,
NaHCO3, bakteri Streptococcus thermophilus dan
Lactobacillus bulgaricus, K2SO4, HgO, H2SO4,
akuades, NaOH-Na2S2O3, H2BO3, indikator metil
merah, HCl, dan hexan. Alat yang digunakan adalah
baskom, panci, kompor, blender, saringan, inkubator,
106 Jurnal Natur Indonesia 6(2): 104-110 (2004) Yusmarini & Effendi..
soygurt stabil dan baik teksturnya maka dilakukan
penambahan larutan gelatin 20% sebanyak 5% dari
volume susu kedelai. Kemudian susu kedelai
diinokulasi dengan starter yang terdiri dari
Streptococcus thermophillus dan Lactobacillus
bulgaricus masing-masing sebanyak 2,5% dari
volume susu kedelai. Sebelum digunakan untuk
pembuatan soygurt kultur Streptococcus
thermophillus dan Lactobacillus bulgaricus dibiakkan
dalam medium susu kedelai. Setelah diinokulasi
dengan starter susu kedelai diinkubasi pada suhu
370C selama 18 jam.
pH susu kedelai dan soygurt diukur dengan
menggunakan pH meter. Susu kedelai dan soygurt
yang telah jadi diaduk/dikocok secara merata,
kemudian diukur pH nya dengan menggunakan pH
meter. Total padatan dari susu kedelai dan soygurt
ditentukan dengan menggunakan metoda AOAC
(Sudarmadji et al, 1984). Kandungan protein
ditentukan dengan menggunakan metoda Kjeldahl
(Sudarmadji et al, 1984) dan kandungan lemak
ditentukan dengan menggunakan metode ekstraksi
(Hadiwiyoto 1994). Penilaian organoleptik (warna,
aroma, rasa, dan tingkat kesukaan) dari soygurt
dilakukan oleh 15 orang panelis yang tidak terlatih.
Sampel diletakkan dalam wadah bersih dan diberi
tanda huruf sesuai dengan banyaknya perlakuan.
Panelis diminta untuk menilai masing-masing sampel
pada lembaran kuesioner yang telah disajikan
mempunyai pH lebih lebih tinggi dibandingkan dengan
perlakuan lainnya. Sukrosa yang merupakan
disakarida akan diurai terlebih dahulu menjadi
monosakarida-monosakarida penyusunnya yaitu
fruktosa dan glukosa, selanjutnya glukosa akan
dimanfaatkan oleh Streptococcus thermophilus dan
Lactobacillus bulgaricus sebagai sumber energi dan
sebagian lagi akan dimetabolisir lebih lanjut menjadi
asam-asam organik terutama asam laktat. Asamasam
organik akan menurunkan pH susu kedelai
6,66a
5,01b
3,97c 3,96c 3,98c 4,01c 3,97c
0
1
2
3
4
5
6
7
pH
susu
kedelai
S G L SG SL LG
Penambahan Beberapa Jenis Gula
Gambar 1. pH Susu kedelai dan soygurt.
(Kartika et al, 1988). Data yang diperoleh dianalisis
secara statistik dengan menggunakan Anova dan
dilanjutkan dengan uji lanjut DNMRT untuk melihat
perbedaan antar perlakuan.
Menurut Tamime & Robinson (1985), fermentasi
karbohidrat oleh Streptococcus dan Lactobacillus
dilakukan melalui konversi karbohidrat ke glukosa dan
kemudian glukosa difermentasi melalui jalur heksosa
difosfat untuk memproduksi asam laktat sebagai
produk utama. Asam-asam organik yang dihasilkan
akan menyebabkan pH susu kedelai menjadi rendah.
Semakin banyak sumber gula yang dapat
dimetabolisir maka semakin banyak pula asam-asam
organik yang dihasilkan sehingga secara otomatis pH
rendahnya nilai pH pada perlakuan penambahan
laktosa 7% (L) dibandingkan dengan perlakuan yang
ditambah sukrosa 7%.
Gambar 1 juga menunjukkan bahwa
penambahan laktosa, glukosa, sukrosa dan laktosa,
sukrosa dan glukosa, serta laktosa dan glukosa
HASIL DAN PEMBAHASAN
pH Susu Kedelai dan Soygurt. Selama
proses fermentasi susu kedelai menjadi soygurt terjadi
perubahan pH. Susu kedelai yang awalnya
mempunyai pH 6,66 setelah difermentasi selama 18
jam dengan menggunakan bakteri Streptococcus
thermophilus dan Lactobacillus bulgaricus mengalami
penurunan pH yakni berkisar antara 3,96-5,01 seperti
terlihat pada Gambar 1.
Gambar 1 menunjukkan bahwa penambahan
beberapa jenis gula memberikan dampak yang
berbeda terhadap penurunan pH pada soygurt. Pada
perlakuan yang ditambah sukrosa sebesar 7% (S)
juga akan semakin rendah. Hal ini sejalan dengan
pendapat Chandan & Shahani (1993) yang
menyatakan bahwa asam laktat yang dihasilkan
dalam proses pembuatan yogurt dapat menurunkan
pH susu. Dari hasil penelitian ini juga terlihat bahwa
laktosa lebih mudah dimanfaatkan oleh S.
thermophilus dan L. Bulgaricus, terbukti dengan
Soygurt dengan penambahan beberapa jenis gula 107
secara statistik berbeda tidak nyata dengan kata lain
penambahan jenis gula tersebut tidak memberikan
pengaruh yang nyata terhadap pH soygurt.
(1976), tujuan penambahan sukrosa dalam
pembuatan soygurt adalah untuk meningkatkan
sumber energi bagi mikrobia.
Berdasarkan hasil analisis statistik diketahui
bahwa penambahan beberapa jenis gula berpengaruh
tidak nyata terhadap total padatan soygurt. Hal ini
disebabkan karena jumlah gula yang ditambahkan
sama yakni 7%. Susu kedelai yang awalnya
mempunyai total padatan 8,16% setelah ditambah
gula sebanyak 7% akan menghasilkan total padatan
sekitar 15%. Selama fermentasi, sebagian dari gula
tersebut akan dimetabolisir oleh S. thermophilus dan
L. bulgaricus sehingga pada akhir fermentasi total
padatan akan berkurang berkisar antara 13,07-13,8%.
Kandungan Protein. Kandungan protein
susu kedelai dan soygurt ditunjukkan Gambar 3. Hasil
8,16 a
13,8 b 13,59 b 13,29 b 13,07 b 13,42 b 13,24 b
4
8
12
16
Total Padatan
(%)
susu
kedelai
S G L SG SL LG
Penambahan Beberapa Jenis Gula
Gambar 2. Total padatan susu kedelai dan soygurt.
Total Padatan Susu Kedelai dan Soygurt.
Total padatan susu kedelai dan soygurt dapat dilihat
pada Gambar 2. Susu kedelai yang digunakan
berwarna agak kekuningan dengan total padatan
8,16%. Total padatan sebesar 8,16% ini diperoleh dari
penambahan air pada kedelai sebanyak 6 : 1 pada
saat penggilingan, dan total padatan ini hampir sama
dengan total padatan yang dilaporkan oleh Yusmarini
(1997) yakni 8,13%.
Dalam pembuatan soygurt diperlukan susu
kedelai dengan total padatan yang lebih tinggi. Jika
total padatan susu kedelai terlalu rendah maka
soygurt yang dihasilkan menjadi kurang sempurna.
Rendahnya total padatan pada susu kedelai
menyebabkan kurangnya sumber energi bagi
mikrobia untuk pertumbuhannya. Menurut Koswara
(1995), karbohidrat yang terdapat pada susu kedelai
sebagian besar terdiri dari golongan oligosakarida dan
polisakarida yang tidak dapat digunakan oleh S.
thermophilus dan L. bulgaricus sebagai sumber
energi. Fermentasi karbohidrat akan menghasilkan
asam-asam organik terutama asam laktat yang
menyebabkan pH susu menjadi rendah sekitar 3,96-
5,01. Pada pH tersebut akan terjadi penggumpalan
protein. Jika sumber karbohidrat tidak mencukupi
maka asam-asam organik yang dihasilkan juga tidak
akan memadai untuk menggumpalkan protein pada
susu. Oleh karena itu, dalam pembuatan soygurt perlu
ditambahkan sumber gula yang lain untuk mencukupi
kebutuhan mikrobia tersebut. Menurut Kanda et al,
15,27c
19,69b
18,26b
22,78a
22,1a 21,94a
21,15ab
10
14
18
22
26
Protein (%)
susu
kedelai
S G L SG SL LG
Penambahan Beberapa Jenis Gula
analisis menunjukkan bahwa kandungan protein pada
susu kedelai adalah 15,27% dan soygurt yang
dihasilkan kandungan proteinnya berkisar antara
18,26-22,78%. Penambahan gula cenderung
meningkatkan kandungan protein soygurt. Terjadinya
peningkatan kandungan protein dari susu kedelai
menjadi soygurt disebabkan karena adanya
penambahan protein dari mikrobia yang digunakan.
Dalam proses pembuatan soygurt
ditambahkan S. thermophilus dan L. bulgaricus
sebanyak 5% dari volume susu kedelai. S.
thermophilus dan L. bulgaricus yang ditambahkan
akan memanfaatkan sumber nitrogen dan karbon
yang terdapat pada susu kedelai untuk hidup dan
berkembang biak (memperbanyak diri). Semakin
banyak jumlah mikrobia yang terdapat di dalam
soygurt maka akan semakin tinggi kandungan
Gambar 3. Kandungan protein pada susu kedelai dan soygurt.
108 Jurnal Natur Indonesia 6(2): 104-110 (2004) Yusmarini & Effendi..
proteinnya karena sebagian besar komponen
penyusun mikrobia adalah protein. Hal ini sejalan
dengan pendapat Herastuti et al, (1994) yang
menyatakan bahwa protein yang terdapat pada yogurt
merupakan jumlah total dari protein bahan yang
digunakan dan protein bakteri asam laktat yang
terdapat di dalamnya. Kandungan protein bakteri
berkisar antara 60-70%. Wood (1985) di dalam
Yusmarini (1997) menyatakan bahwa selama
fermentasi protein akan dihidrolisis menjadi
komponen-komponen terlarut guna keperluan
pembentukan protein sel mikrobia dan selanjutnya
dilaporkan bahwa hanya 20% dari komponen nitrogen
terlarut yang dipakai untuk pertumbuhannya.
Penambahan laktosa merupakan sumber karbon
optimal bagi bakteri asam laktat yang digunakan. Hal
ini terbukti dengan tingginya kandungan protein pada
perlakuan ditambah laktosa. Bakteri S. thermophilus
dan L. bulgaricus merupakan bakteri asam laktat yang
diisolasi dari susu (dairy lactic acid bacteria). Menurut
Koswara (1995), laktosa atau gula susu merupakan
karbohidrat utama dalam susu yang dapat digunakan
oleh S. thermophilus dan L. bulgaricus.
Kandungan Lemak. Kandungan lemak pada
susu kedelai dan soygurt dapat dilihat pada Gambar
4. Susu kedelai mengandung lemak sebesar 9,71%
sedangkan soygurt yang dihasilkan mengandung
lemak berkisar antara 6,34-7,90%.
Dari hasil analisis statistik diketahui bahwa
kandungan lemak pada susu kedelai berbeda nyata
dengan kandungan lemak soygurt. Gambar 4
menunjukkan bahwa terjadi penurunan kandungan
lemak pada soygurt yang dihasilkan. Hal ini
9,71 a
7,95 b
6,97 b
6,34 b 6,57 b 7,03 b 7,19 b
0
2
4
6
8
10
Lemak
(%)
susu
kedelai
S G L SG SL LG
Penambahan Beberapa Jenis Gula
Gambar 4. Kandungan lemak pada susu kedelai dan soygurt.
Perlakuan Warna Aroma Rasa Tingkat
Kesukaan
Penambahan Sukrosa (S )
Penambahan Glukosa (G)
Penambahan Laktosa (L)
Penambahan Sukrosa
dan Glukosa (SG)
Penambahan Sukrosa
dan Laktosa (SL)
Penambahan Laktosa
dan Glukosa (LG)
1,04 a
1,09 a
1,04 a
1,13 a
1,07 a
1,02 a
1,71 a
1,86 a
1,98 a
1,82 a
1,87a
1,80a
2,78 a
1,47 b
1,42 b
1,55 b
1,64 b
1,42b
1,53 c
2,38 ab
2,65 a
2,33 b
2,11 b
2,42ab
Angka-angka yang diikuti oleh huruf kecil yang sama pada kolom yang sama
berbeda tidak nyata pada taraf α 5%.
Tabel 1. Rerata penilaian organoleptik terhadap soygurt.
disebabkan selama fermentasi, lemak akan
dihidrolisis menjadi senyawa yang lebih sederhana.
Menurut Wood (1985) di dalam Yusmarini (1997)
hidrolisis trigliserida oleh enzim lipase akan
menghasilkan asam lemak dan gliserol. Gambar 4
juga menunjukkan bahwa penambahan beberapa
jenis gula berpengaruh tidak nyata terhadap
kandungan lemak soygurt, karena gula yang
ditambahkan hanya akan digunakan untuk memenuhi
kebutuhan mikrobia dan meningkatkan citarasa
soygurt. Menurut Chandan & Shahani (1993),
hidrolisis lemak memberikan kontribusi yang kecil
terhadap produk yogurt.
Penilaian Organoleptik. Hasil penilaian
organoleptik (warna, aroma, rasa, dan tingkat
kesukaan) terhadap soygurt yang dihasilkan beserta
hasil uji lanjutnya disajikan pada Tabel 1.
Berdasarkan hasil analisis statistik diketahui
bahwa penambahan beberapa jenis gula berpengaruh
tidak nyata terhadap warna soygurt. Nilai rata-rata
warna yang diberi oleh panelis berkisar antara 1,02-
1,13 (putih kekuningan). Hal ini disebabkan karena
kedelai yang digunakan untuk membuat susu kedelai
berwarna kuning sehingga susu dan soygurt yang
dihasilkan menjadi putih kekuningan. Selain itu,
kandungan vitamin B2 (riboflavin) juga menyebabkan
warna susu maupun soygurt menjadi kekuningan
seperti dikemukan oleh Winarno (1988) bahwa
riboflavin dapat memberikan warna lemak pada susu
menjadi kekuningan. Penambahan beberapa jenis
gula tidak mempengaruhi warna soygurt karena gula
yang ditambahkan hanya akan dimanfaatkan oleh
mikrobia sebagai sumber energi dan sebagian akan
digunakan untuk menghasilkan asam-asam organik.
Soygurt dengan penambahan beberapa jenis gula 109
Selama fermentasi tidak terjadi perubahan warna
pada susu kedelai.
Berdasarkan hasil analisis statistik diketahui
bahwa penambahan beberapa jenis gula berpengaruh
tidak nyata terhadap aroma soygurt yang dihasilkan.
Nilai rata-rata aroma yang diberi oleh panelis berkisar
antara 1,71-1,98 (beraroma langu). Aroma langu
merupakan bau khas dari kacang-kacangan.
Timbulnya aroma langu disebabkan oleh kerja enzim
lipoksigenase yang terdapat pada biji kedelai. Aroma
langu muncul saat pengolahan yaitu setelah
tercampurnya lipoksigenase dengan lemak kedelai.
Menurut Koswara (1995), aroma langu dapat
dikurangi dengan jalan melakukan penggilingan
dengan air panas karena pada suhu tinggi enzim
lipoksigenase menjadi tidak aktif. Winarno (1993)
menyatakan bahwa rasa dan aroma langu adalah rasa
yang tidak disenangi oleh berbagai golongan
masyarakat dan ini dapat diatasi dengan penambahan
citarasa baru seperti vanila.
Proses fermentasi diharapkan juga dapat
mengurangi aroma langu karena pada proses
fermentasi susu kedelai akan dihasilkan asam-asam
organik yang dapat meningkatkan citarasa. Namun,
dari hasil penelitian ini didapat bahwa fermentasi susu
kedelai dengan penambahan beberapa jenis gula
tidak mampu menutupi aroma langu pada soygurt
yang dihasilkan. Aroma langu lebih dominan
dibandingkan dengan dengan aroma dari asam-asam
organik yang dihasilkan selama fermentasi. Menurut
Yusmarini et al, (1998) asam-asam organik yang
terdapat pada soygurt yang dibuat dengan
penambahan sukrosa adalah asam laktat, asam sitrat,
dan asam suksinat.
Berdasarkan hasil analisis statistik diketahui
bahwa soygurt yang dibuat dengan penambahan
sukrosa sebesar 7% (S) mempunyai rasa yang
berbeda dengan perlakuan lain. Nilai rata-rata yang
diberikan oleh panelis untuk soygurt yang dibuat
dengan penambahan sukrosa 7% adalah 2,78 (tidak
asam/berasa manis), sedangkan perlakuan lain
berkisar antara 1,42-1,64 (kurang asam hingga
asam).
Perbedaan ini disebabkan antara lain karena
sukrosa mempunyai tingkat kemanisan yang lebih
lebih tinggi dibandingkan glukosa dan laktosa
sehingga soygurt yang dihasilkan mempunyai rasa
manis dan tidak terlalu asam. Menurut Meyer (1978),
tingkat kemanisan gula yang tertinggi berturut-turut
adalah fruktosa, sukrosa, glukosa, galaktosa dan
laktosa. Di samping itu, proses fermentasi sukrosa
oleh S. thermophilus dan L. bulgaricus lebih lama
dibandingkan dengan glukosa dan laktosa. Dalam
jangka waktu 18 jam fermentasi, jumlah sukrosa yang
terfermentasi lebih sedikit sehingga jumlah asam yang
dihasilkan juga sangat terbatas, hal ini terbukti dengan
masih tingginya nilai pH soygurt yang dihasilkan yakni
5,01, sedangkan pada perlakuan lain jumlah gula
yang terfermentasi relatif lebih banyak sehingga
asam-asam organik yang dihasilkan juga lebih
banyak. Hal ini ditandai dengan rendahnya pH soygurt
yakni berkisar antara 3,96-4,01.
Berdasarkan hasil analisis statistik diketahui bahwa
soygurt yang dihasilkan dari penambahan beberapa
jenis gula berbeda nyata dalam hal tingkat kesukaan.
Nilai rata-rata tingkat kesukaan yang diberikan oleh
panelis untuk perlakuan yang ditambah sukrosa 7%
adalah 1,53 (antara suka dan kurang suka),
sedangkan pada perlakuan lain berkisar antara 2,11-
2,65 (kurang suka hingga tidak suka) seperti terlihat
pada Tabel 2.
Perlakuan Warna Aroma Rasa Tingkat
Kesukaan
Penambahan Sukrosa (S )
Penambahan Glukosa (G)
Penambahan Laktosa (L)
Penambahan Sukrosa
dan Glukosa (SG)
Penambahan Sukrosa
dan Laktosa (SL)
Penambahan Laktosa
dan Glukosa (LG)
1,04 a
1,09 a
1,04 a
1,13 a
1,07 a
1,02 a
1,71 a
1,86 a
1,98 a
1,82 a
1,87a
1,80a
2,78 a
1,47 b
1,42 b
1,55 b
1,64 b
1,42b
1,53 c
2,38 ab
2,65 a
2,33 b
2,11 b
2,42ab
Angka-angka yang diikuti oleh huruf kecil yang sama pada kolom yang sama
berbeda tidak nyata pada taraf α 5%.
Perbedaan tingkat kesukaan ini erat
kaitannya dengan rasa soygurt. Umumnya panelis
lebih menyukai soygurt yang rasanya tidak terlalu
asam. Seperti dikemukakan di atas bahwa soygurt
yang dibuat dengan penambahan sukrosa 7%
mempunyai rasa yang tidak terlalu asam dan masih
berasa manis, sedangkan soygurt dari perlakuan lain
mempunyai rasa yang asam sehingga kurang disukai
oleh panelis.
Tabel 2. Rerata penilaian organoleptik terhadap soygurt.
110 Jurnal Natur Indonesia 6(2): 104-110 (2004) Yusmarini & Effendi..
Koswara, S. 1995. Teknologi Pengolahan Kedelai. Jakarta:
Pustaka Sinar Harapan.
Lee, S.Y., Morr, C.V. & Seo, A. 1990. Comparison of Milk-Based
and Soymilk-Based Yogurt. J.Food Sci. 55 : 532 – 536.
Meyer, L.H. 1978. Food Chemistry. Connecticut: The AVI Publishing
Company.
Sudarmadji, S., Haryono B. & Suhardi. 1984. Analisa Bahan
Makanan dan Hasil Pertanian. Yogyakarta: Liberty.
Tamime, A.Y. & Robinson, R.K. 1985. Yoghurt Science and
Technology. New York: Pergamon Press.
Winarno, F.G. 1988. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta: Gramedia.
Winarno, F.G. 1993. Pangan, Gizi, Teknologi dan Konsumen.
Jakarta: Gramedia.
Yusmarini. 1997. Perubahan oligosakarida dan fraksi protein
selama proses pembuatan yogurt dari susu kedelai.
Tesis. Yogyakarta: UGM.
Yusmarini, Adnan M. & Hadiwiyoto S.. 1998. Perubahan
Oligosakarida pada Susu Kedelai dalam Proses
Pembuatan Yogurt. Berkala Penelitian Pasca Sarjana
(BPPS). Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.
KESIMPULAN
Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa
penambahan beberapa jenis gula berpengaruh nyata
terhadap pH, kandungan protein, rasa, dan tingkat
kesukaan, namun memberikan pengaruh yang tidak
nyata terhadap total padatan, kandungan lemak,
warna dan aroma soygurt. Perlakuan yang ditambah
sukrosa lebih disukai oleh panelis karena mempunyai
rasa manis dan sedikit asam.
UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis mengucapkan terima kasih kepada
Lembaga Penelitian Universitas Riau yang telah
mendanai penelitian ini melalui DIK-S Universitas Riau
tahun 2001. Terima kasih juga penulis sampaikan
kepada semua pihak yang telah membantu
pelaksanaan penelitian.
DAFTAR PUSTAKA
Chandan, R.C. & Shahani, K.M. 1993. Yoghurt. Di dalam Hui (ed.).
Dairy Science and Technology Handbook-Product
Manufacturing. New York.
Hadiwiyoto, S. 1994. Teori dan Prosedur Pengujian Mutu Susu
dan Hasil Olahannya. Yogyakarta: Liberty.
Herastuti, S.R., Sujiman, R.S. & Ningsih, N. 1994. Pembuatan
pati gude (Cajanus cajan L.) dan pemanfaatan hasil
sampingnya dalam pembuatan yoghurt dan tahu.
Laporan Hasil Penelitian. Purwokerto: Fakultas Pertanian
UNSOED.
Kanda, H., Wang, H.L., Heseltine C.W. & Kramer, K. 1976.
Yoghurt production by Lactobacillus fermentation of
soybean milk. Proc. Bichem. 23-25.

SENYAWA KHITIN DAN KAJIAN AKTIVITAS ENZIM MIKROBIAL PENDEGRADASINYA

Filed under: Biokim — perpusonline @ 10:40 pm

2002 digitized by USU digital library 1
SENYAWA KHITIN DAN KAJIAN AKTIVITAS ENZIM MIKROBIAL
PENDEGRADASINYA
YURNALIZA, S.Si., M.Si.
Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam
Program Studi Biologi
Universitas Sumatera Utara
PENDAHULUAN
Khitin merupakan homopolimer dari β-1,4 N-setil-D-glukosamin dan
merupakan polimer ke dua terbanyak di alam setelah selulosa. Senyawa ini dapat
ditemukan pada cangkang udang kepiting, Molusca, seranggga, Annelida, dan
beberapa dinding sel jamur dan alga. Meskipun sumber khitin di alam bermacammacam,
namun sampai saat ini sumber utama yang praktis dieksplorasi adalah
cangkang udang yang secara ekonomis potensial.
Khitin memiliki bentuk yang padat dan bersifat tidak larut dalam air atau
pelarut organik biasa. Namun khitin dapat dimodifikasi secara kimiawi menjadi
turunan-turunannya yang mempunyai sifat-sifat khas dan kegunaannya sendiri.
Khitin dapat dihidrolisis secara enzimatis oleh enzim khitinase, menghasilkan
monomer β-1,4 N-setil-D-glukosamin. Khitinase dapat dihasilkan oleh beberapa
macam bakteri,, aktinomisetes, jamur dan tumbuhan. Khitinase juga disintesis oleh
protozoa, saluran pencernaan nematoda, polikhaeta dan Molusca. Khitinase juga
ditemukan dalam lendir pencernaan burung-burung pemakan seranga, lendir
pencernaan dan pangkreas ikan, amfibia dan reptil pemakan serangga. Meskipun
khitinase tersebar luas di alam ,namun khitinase murni secara komersial diproduksi
dari mikroorganisme.
I. SENYAWA KHITIN
A. Sejarah penemuan Khitin
Pada tahun 1811, seorang ilmuan Prancis Hendri Baraconnot berhasil
mengisolasi khitin untuk pertama kali dari jamur, dan diberi nama fungine.
Kemudian tahun 1823, Odier menemukan senyawa yang sama dari kutikula
serangga dan diberi nama khitin (bahasa Yunani) yang artinya sampul atau baju
(Winterowd & Sanford, 1995). Odier menduga bahwa pada mushroom dan serangga
memiliki komponen struktural yang sama (Richards, 1951). Tahun 1859 Rouget
menemukan modifikasi khitin yang akhirnya oleh Hoppe-Seiler (1894) diberi nama
khitosan. Sejak saat itu penelitian khitin dan khitosan berkembang sampai
pertengahan abad 1900-an. Tahun 1930-an G.W. Rigby, karyawan Dupont
menpatentan khitin dan khitosan beserta cara isolasi dan preparasinya dari kulit
udangg serta pemanfaatannya dalam industri.
B. Struktur dan Sumber–Sumber Khitin di Alam
Khitin dibangun oleh unit-unit monomer N-asetilglukosamin (GlcNAc) yang
tersusun linear dengan ikatan β (1,4) (Gambar 1). Rantai khitin antara satu dengan
yang lainnya berasosiasi dengan ikatan hidrogen yang sangat kuat antara gugus NH
dari satu rantai dan gugus C=O dari rantai yang berdekatan. Ikatan hidrogen
menyebabkan khitin tidak dapat larut dalam air dan membentuk formasi serabut
(fibril). Berdasarkan pola penyusunan rantai polimernya, khitin fibril dibedakan
menjadi tiga jenis yaitu α-khitin, β-khitin dan γ-khitin. Pada α-khitin rantai-rantai
polimer yang berdekatan tersusun secara antiparalel. Bentuk ini banyak ditemukan
pada jamur dan arthropoda. Jenis β-khitin mempunyai rantai polimer yang tersusun
2002 digitized by USU digital library 2
paralel, sedangkan γ-khitin fibrilnya masing-masing tersusun dari tiga rantai, dua
rantainya tersusun paralel dan rantai ketiga antiparalel (Cabib, 1987).
Gambar 1. Unit khitin (Cabib, 1987).
Khitin berbentuk padat, amorf, tidak berwarna, tidak larut dalam air, asam
encer, alkohol dan semua pelarut organik lainnya, tetapi khitin dapat larut dalam
fluoroalkohol dan asam mineral pekat (Richards, 1951). Koloidal khitin adalah khitin
yang banyak digunakan sebagai substrat dalam medium fermentasi. Senyawa ini
diperoleh dengan menghidrolisis secara parsial khitin dengan larutan asam klorida
(HCl) 10 N (Inbar & Chet, 1991 ; Chernin et al., 1995 ; Haran et al., 1995).
Khitin merupakan polisakarida kedua terbanyak di alam setelah selulosa dan
di alam setiap tahunnya dihasilkan sekitar 108 ton khitin (Muzzarelli, 1985). Khitin
dapat ditemukan pada eksoskeleton serangga, molusca, Coelenterata, Nematoda,
Crustaceae dan dinding sel jamur dan alga tertentu.
Khitin pada jamur berbentuk fibril yang memiliki panjang yang berbeda
tergantung pada spesies dan lokasi selnya. Pada Saccharomyces cereviceae,
mikrofibril khitinnya memiliki panjang 60 nm dan terdapat khusus pada sekat primer
(Cabib, 1987). Pada serangga lebih dari 80 % komponen kutikulanya adalah khitin
(Berkeley, 1979) . Pada Crustaceae, khitin melekat pada suatu matriks dari CaCO3
dan fosfat. Pada serangga matriksnya adalah proteinaceous yaitu suatu protein yang
sudah mengalami pentaninnan (Cabib, 1987).Khitin pada alga terutama ditemukan
pada diatomae laut yaitu Thallassiosira fluviatilis dan Cyclotella cryptica dengan
kandungan 10 – 15 % berat kering.
Pada bakteri, aktinomisetes dan jamur klas Oomycetes tidak ditemukan
khitin. Tetapi khitin merupakan komponen utama penyusun dinding sel jamur klas
Basidiomycetes, Phycomycetes, Ascomycetes dan Lichens.
Meskipun sumber khitin bermacam-macam, namun secara komersial khitin
dieksplorasi dari cangkang udang-udangan dan Crstacea. Sebanyak 50 – 60 % dari
limbah udang, dihasilkan 25 % Khitin dari 32 % berat kering limbah tersebut.
Khtin merupakan bahan dasar uuntuk bahan-bahan kimia yang diperlukan
secara luas di berbagai bidang seperti biokimia, obat-obatan, pangan, gizi,
enzimologi, industri kertas, tekstil dan film. Khitin juga sebagai sumber Nasetilglukosamin
yang dipakai sebagai pengawet dan antibiotik. Khitosan sebagai
derivat khitin dipakai dalam pengolahan limbah dan pengikatan logam (Muzarelli,
1985).
C. Biosintesis Khitin pada Jamur
Biosintesis khitin pada jamur terjadi karena pertumbuhan hifa yang meliputi
pemanjangan dinding primer dan kemudian dilanjutkan dengan biosintesis
2002 digitized by USU digital library 3
komponen dinding sel. Langkah-langkah biosintesis khitin diawali dengan perubahan
glukosa-6-fosfat menjadi uridin difosfat N-asetilglukosamin (UDP-GlcNAc) sebagai
prekursor khitin (Gambar 2). Enzim yang berperan dalam mengubah UDP-GlcNAc
menjadi molekul khitin adalah khitin sintetase yang terdapat dalam vesikel
sitoplasmik (sitosom) (Carlile dan Watkinson, 1994).
Pada jamur sebagaimana organisme eukariotik lain, vesikel sitoplasmiknya
berperan dalam pembentukan dinding sel. Vesikel ini membawa material permukaan
berupa prekursor, produk atau enzim yang dibutuhkan untuk pembentukan dinding.
Ada dua vesikel yang berperan pada pembentukan dinding sel jamur yaitu 1).
Makrovesikel disebut juga vesikel dinding atau vesikel sekretori. Vesikel ini berperan
dalam sintesis polimer polisakarida nonfibrilar. 2). Mikrovesikel atau disebut juga
sitosom, berperan dalam sintesis polisakarida mikrofibrl (khitin).
Khitin dibuat in-situ yaitu pebentukannya terjadi di luar sitoplasma oleh enzim
yang dibawa oleh sitosom. Khitin sintetase yang ada dalam sitosom adalah enzim
yang tidak aktiv (zimogen) dan protease yang ada di permukaan sel (periplasma)
akan mengaktivkan zimogen ini dan dimulai lagi pembentukan mikrofibril khitin
(Bartnicki-Garcia, 1989).
Khitin pada jamur berbentuk mikrofibril yang memiliki panjang yang berbeda
tergantung pada spesies dan lokasi selnya. Mikrofibril merupakan struktur utama
dari struktur dinding sel jamur dan terdiri atas jalinan rantai-rantai polisakarida
yang saling bersilangan membentuk anyaman. Jalinan ini kuat berikatan pada
matriks. Kandungan khitin pada jamur bervariasi dari 4 – 9 % berat kering sel,
tergantung spesies atau strain jamurnya (Rajarathnam et al., 1998). Khitin adalah
komponen utama penyusun dinding sel jamur kelas Ascomycetes, Basidiomycetes,
dan Deuteromycetes. Pada dinding sel jamur Fusarium dari kelas Deuteromycetes
dijumpai sebanyak 39 % khitin dari berat kering sel (Griffin, 1981). Khitin pada
dinding sel jamur Fusarium sukar didegradasi karena dinding selnya dilapisi oleh
protein dan lipid, yang menghalangi aktivitas enzim hidrolitik (Sivan & Chet, 1989).
2002 digitized by USU digital library 4
Gambar 2. Jalur sintesis khitin ( ) dan teori siklus N-asetilglukosamin (–>)
1) Enzim fosfo-gluko-isomerase; 2) glutamine-fruktose-6-fosfat – aminotransferase;
3) glukosamine-fosfate-asetil-transferase;
4) asetil-glucosamine fosfomutase; 5) UDP-asetil-glukosamine
pirofosforilase 6) khitin sintetase ; 7) khitinase; 8) N-asetilglukosamine
kinase (Carlile & Watkinson, 1994).
2002 digitized by USU digital library 5
II. ENZIM KHITINASE
Khitinase [Poli {1,4-β (2 asetamido–2–deoksi–D-glukosaminide)} glikano
hidrolase] adalah enzim yang menghidrolisis ikatan β-1,4-asetamido–2-deoksi-Dglikosida
dari khitin dan khitodekstrin (Bielka et al., 1984).
A. Tata nama enzim khitinase.
Sistim tata nama enzim khitinase masih banyak menimbulkan kerancuan.
Harman et al. (1993) serta Sahai dan Manocha (1993) membagi khitinase dalam
tiga tipe yaitu :
a. Endokhitinase (EC. 3.2.1.14) yaitu : enzim yang memotong secara acak
ikatan β- 1,4 bagian internal mikrofibril khitin (Gambar 3). Produk akhir yang
terbentuk berupa oligomer pendek N-asetilglukosamin (GlcNAc) yang mempunyai
berat molekul rendah seperti khitotetraose, khitotriose dengan didominasi oleh diasetilkhitobiose.
Produk yang dihasilkan bersifat mudah larut.
b. Eksokhitinase (belum memiliki nomor entry dalam Enzyme Nomenclature)
dinamakan juga khitobiosidase atau khitin–1,4-β-khitobiosidase, yaitu enzim yang
mengkatalisis secara aktiv pembebasan unit-unit diasetilkhitobiose tanpa ada unitunit
monosakarida atau oligosakarida yang dibentuk (Gambar 3). Pemotongan hanya
terjadi pada ujung non reduksi mikrofibril khitin dan tidak secara acak.
Aktivitas enzim
Gambar 3. Mekanisme kerja enzim eksokhitinase dan endokhitinase (Sahai &
Manocha, 1993)
c. β-1,4–N asetilglukosamidase (EC. 3.2.1.30) adalah suatu enzim khitinolitik
yang bekerja pada pemutusan diasetilkhitobiose, khitotriose dan khitotetraose
dengan menghasilkan monomer-monomer GlcNAc.
B. Metode pemekatan cairan enzim dan pengukuran aktivitas khitinase
Enzim yang berada pada cairan kultur belum 100 % terdiri atas protein enzim
yang diinginkan, sehingga perlu pemurnian untuk memisahkannya dari senyawasenyawa
lain. Tahap awal dalam pemurnian enzim adalah pemekatan medium
2002 digitized by USU digital library 6
kultivasi. Pemekatan dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu : ultrafiltrasi,
liofiliasi dan mengendapkan protein dengan ammonium sulfat, aseton, etanol, atau
polietilen glikol (PEG) (Scopes, 1994).
Pemekatan enzim khitinase dari Streptomyces dengan ammonium sulfat pada
kejenuhan 70 % dan etanol dingin, dapat meningkatkan kemurnian enzim
berturut-turut 5 dan 3,5 kali dibanding enzim kasarnya (Lloyd et al., 1965).
Singh et al. (1999) menyatakan bahwa protein khitinase dari Streptomyces sp. 385
yang dipekatkan dengan polietilen glikol (PEG), kemurniannya meningkat sebanyak
11,9 kali dibanding enzim kasarnya.
Pengendapan protein dengan ammonium sulfat adalah cara yang paling
banyak digunakan. Hal ini disebabkan karena ammonium sulfat mudah didapatkan,
harganya relatif murah, bersifat menstabilkan enzim serta dapat mencegah aktivitas
enzim proteolitik. Garam ammonium sulfat konsentrasi 2 – 3 M dapat menstabilkan
enzim selama beberapa tahun. Kelemahannya adalah tidak dapat mengendapkan
seluruh protein yang telah larut dan bila mengandung logam maka akan dapat
merusak enzim (Scopes, 1994).
Pengukuran aktivitas khitinase dalam memecah khitin dapat dilakukan dengan
beberapa cara seperti yang disebutkan dalam Jeaniaux (1966) dan Cabib (1987)
yaitu :
a. Berdasarkan pengurangan substrat.
1). Metode viskosimetri yaitu aktivitas khitinase terhadap khitosan, glikol
khitin atau karboksimetilkhitin yang ditunjukkan oleh terjadinya
pengurangan viskositas substrat.
2). Metode turbidimetri (nephelometri) yaitu mengukur variasi turbiditas
suspensi koloidal khitin selama khitinolisis. Pengukuran ini bersifat cepat
dan akurat tapi tidak cocok untuk enzim dengan aktivitas rendah.
Contoh pada pengukuran aktivitas enzin endokhitinase. Unit aktivitas
enzim endokhitinase diukur sebagai persen pengurangan kerapatan atau
turbiditas relatif dari suspensi yang sama antara yang berisi enzim
dengan akuades. Satu unit endokhitinase didefinisikan sebagai jumlah
enzim yang dibutuhkan untuk mereduksi turbiditas suspensi khitin 5 %
(Harman et al., 1993 ; Chernin et al., 1995).
b. Berdasarkan pembentukan produk akhir yaitu GlcNAc (Metode Reissig, 1955).
GlcNAc yang dibebaskan dari khitin ditentukan secara kolorimetrik dengan
p-dimetilaminobenzaldehida. Satu unit aktivitas khitinase dinyatakan sebagai
μmol GlcNAc yang dibebaskan selama 1 jam dalam kondisi yang ditetapkan.
c. Spectrometer Assay yaitu menggunakan kromogen 3,4, dinitrophenil tetra
N-asetilkhitotetraose.
d. Radiometer Assay.
III. MIKROORGANISME PENGHASIL KHITINASE
Sebagian besar mikroorganisme tanah dan air adalah pendegradsai khitin
yang baik. Di dalam tanah setiap gramnya mengandung 106 mikroorganisme yang
mampu mengolah khitin. Sebanyak 90-99 % dari organisme tersebut adalah
aktinomisetes dan selebihnya bakteri dan jamur. Genus aktinomisetes yang dapat
memanfaatkan khitin sebagai sumber karbon dan nitrogennya yaitu : Streptomyces,
Nocardia, Streptosporangium, Micromonospora dan Actinoplanes (Alexander, 1977).
Di antara ke lima genus aktinomisetes khitinolitik tersebut, kemampuan
khitinolitik genus Streptomyces banyak mendapat perhatian peneliti. Hal ini karena
Streptomyces adalah genus aktinomisetes dengan jumlah terbanyak di tanah.
Hampir semua anggota genus Streptomyces menghasilkan khitinase. Jenis-jenis
Streptomyces yang telah diketahui mampu menghasilkan khitinase yaitu S.
2002 digitized by USU digital library 7
antibioticus (Jeaniaux, 1966), S. alboflavus, S. albus, S. rubrireticuli, S. griseus, S.
scabies (Waksman, 1967), S. orientalis (Tominanga & Tsujisaka, 1976), S. lividans
(Miyashita et al., 1991), S. olivaceoviridis (Schrempf, 1995) dan S. tendae
(Bormann, 1999).
Jenis bakteri dan jamur penghasil khitinase dapat dilihat pada Tabel 1 .
Tabel 1. Mikroorganisme penghasil khitinase
Bakteri Jamur
Vibrio parahaemaluticus
Vibrio alginolyticus
Flavobacterium indolthecium
Serratia marcencens
Enterobacter liquefaciens
Bacillus cereus
Klebsiella sp
Micrococcus colpogenes
Bacillus cereus
Clostridium sp
Pseudomonas sp
Aeromonas sp
Mortierella sp
Mucor subtillisimum
Aspergillus fumigtus
Trichoderma viridae
Pada jamur berfilamen dan kamir, khitinase merupakan bagian integral dalam
proses morfogenesis dinding sel. Selain itu khitinase juga mengawali peristiwa
interaksi inang-parasit dari mikoparasit biotrop dan nekrtotrop, jamur
entomopatogen dan jamur Vesikular Arbuskular Mikorhiza (VAM).
Khitinase yang dihasilkan mikroorganismememiliki berat molekull yang
berkisar antara 20.000 – 120.000. Pada bakteri berat molekulnya antara 60.000 –
110.000, sedangkan aktinomisetes yaitu 30.000 atau lebih rendah. Pada jamur berat
molekulnya lebih tinggi dari 30.000.
A. Biosintesis Enzim Khitinase Pada Mikroorganisme
Pengaturan biosintesis enzim khitinase melalui sistem represor-induser. Khitin
dan produk hasil degradasinya (oligomer/monomer) berperan sebagai induser
sedangkan substrat seperti selulosa, xilan, pektin, lignin dan sebagainya tidak dapat
menginduksi khitinase (Sahai & Manocha, 1993). Glukosamin dapat menginduksi
khitinase karena pada khitosan (khitin yang mengalami deasetilasi) masih terdapat
sekitar 10 – 20 % residu asetil (Sahai & Manocha, 1993).
Pengaturan sintesis khitinase dipengaruhi juga oleh produk akhir (katabolit)
berupa GlcNAc dan glukosa. Kedua jenis gula sederhana ini merupakan represor
katabolit bagi spesies Trichoderma harzianum (Ulhoa & Peberdy, 1993) dan
Stachybotrys elegans (Tweddell et al., 1994). Pada Streptomyces lividans kehadiran
glukosa dalam medium menghambat sintesis enzim khitinase (Saito et al., 1998).
Khitin yang dipreparasi dengan hidrolisis parsial dengan HCl 10 N akan
menghasilkan koloidal khitin yang mampu menginduksi khitinase kompleks seperti
N-asetilglukosaminidase, endokhitinase dan khitobiosidase pada Aeromonas caviae
(Inbar & Chet, 1991), Enterobacter agglomerans (Chernin et al., 1995) dan
Trichoderma harzianum (Haran et al., 1995).
Faktor lain yang menginduksi sintesis khitinase adalah kemampuan sel
mikroorganisme untuk mengenal struktur fisik khitin seperti susunan rantai, contoh
mekanisme sintesis khitinase pada Streptomyces olivaceoviridis. Mikroorganisme ini
memproduksi protein seperti lektin (lectin-like protein) yang mengikat secara khusus
pada kristal α-khitin. Sel juga dapat mengenal derajat deasetilasi dari jumlah
2002 digitized by USU digital library 8
glukosamin dan GlcNAc relatif yang dibebaskan selama degradasi khitin. Kehadiran
komponen lain seperti protein yang berikatan kovalen dengan partikular khitin dapat
dikenal secara langsung oleh sensor protein membran paling luar. Untuk
memisahkan enzim proteolitik ini, S. olivaceoviridis menghasilkan khitinase dengan
domain enzimatik tambahan seperti protease. S. olivaceoviridis menghasilkan 59
kDa protein dan terdiri atas 47 kDa khitinase dan 12 kDa proteinase. Jadi efisiensi
penggunaan khitin juga membutuhkan beberapa enzim selain khitinase (Schrempf,
1995).
B. Sistim Khitinolitik Aktinomisetes
Sistim khitinolitik aktinomisetes terutama pada Streptomyces terdiri atas
beberapa enzim yang memiliki sifat yang berbeda. Pada S. lividans telah
diidentifikasi sebanyak 4 macam khitinase (khitinase A, B, C dan D) dengan berat
molekul masing-masing 36, 46, 65 dan 41 kDa. Produksi keempat enzim ini diinduksi
oleh adanya khitin dan dihambat oleh adanya glukosa dan gliserol (Miyashita et al.,
1991). Khitinase A, B, C dan D masing masing memiliki pH optimal pada pH 3 ; 5 ;
6,5 dan 6,5.
Jeaniaux (1966) menyatakan bahwa khitinase pada Streptomyces aktiv pada
suasana asam, yaitu pada pH antara 5 – 6, sedangkan suhu optimal untuk aktivitas
khitinase berada pada suhu 40 0C (Kamel et al.,1993).
Dalam sistim khitinolitik Streptomyces dihasilkan protein lain yang bukan
enzim yaitu protein pengikat khitin (chitin-binding protein) yang mampu berikatan
kuat dengan struktur α-khitin, khitosan dan dinding sel jamur (Bormann et al.,
1999). Protein ini telah diisolasi dari Streptomyces yaitu CHB1 dan CHB2
(Schnellmann et al., 1994) dan AFP1 (Bormann et al., 1999). CHB dihasilkan oleh
Streptomyces. olivaceoviridis, berat molekulnya 12 kDa dan tidak bersifat
antijamur. Sedangkan AFP1 yang dihasilkan S. tendae bersifat antijamur, dengan
berat molekul 9,8 kDa.
C. Sistim Khitinolitik Pada Jamur
Khitinase jamur terdapat ekstraseluler dalam ruang periplamik dan membran
plasma. Enzim ini ditemukan mendegradasi khitin yang baru terbentuk secepat
pembentukan khitin itu sendiri oleh enzim khitin sintetase. Aktivitas khitinase
distimulasi dengan memberikan protease tripsin pada mikrosom dan inaktivasi
terjadi setelah perlakuan dengan phospolipid. Hal ini menunjukkan bahwa enzim
berinteraksi dengan phospolipid komersialuntuk aktivitasnya.
Aktivitas khitinase jamur ditemukan pada fraksi subselular yang berbeda
dibandingkan dengan pembentukan mikrosom. Pada Neurrospora crassa aktivitas
khitinase terjadi pada fraksi membran tapi kebanyakan aktivitas didistribusikan ke
dinding sel atau fraksi sitosool lainnya sebanyak 30 % dan 50 % dan sebaliknya.
Khitinase juga terdapat pada dinding sel Aspergillus nidulans, dalam sitosol dan
fraksi membran dari C. cucurbitarum dan P. articulosus, dalam fraksi membran,
sitosol dan dinding sel dari M. rouxii dan periplasmik dan vakuola serta dinding sel
dari S. cereviceae.
Khitinase jamur bersifat aktiv pada pH asam, memiliki temperatur optimal
yang tinggi, tingkat kestabilan yang tinggi, dan mempunyai aktivitas endokhitinase
dan eksokhitinase. Aktivitas enzim ini dihambat oleh tembaga dan garam merkuri,
tidak memiliki kofaktor ionik dan secara kompetitif dihambat oleh allosamin.
Penghambatan kompetitif dari seluruh khitinase disebabkan oleh chitobionolactone
oxime.
Morfogenesis dinding sel jamur merupakan hasil dari keseimbangan aktivitas
sintesis dari khitin sintetase dan lisis dari khitinase. Pada beberapa hal, aktivitas
2002 digitized by USU digital library 9
khitinase maksimal terjadi pada saat konyugasi dengan aktivitas khitin sintetase
maksimal selama pertumbuhan.
Aktivitas khitinolitik dari beberapa entomopatogen penting untuk
pertumbuhan dan secara potensial dibutuhkan untuk penetrasi. Pada tiga jenis
entomopatogen Beauveria bassiana, Metarhizium anisopliae dan Vertillissin lecanii
yang tumbuh pada kutikula belalang sebagai sumber karbon memberikan aktivitas
endokhitinase, ß-1,4 N-Asetilglukosaminidase dan enzim hidrolitik lain.
Khitinase dan enzim litik lainnya dilibatkan dalam kolonisasi antara tumbuhan
inang dengan jamur mikorhiza vesikular arbuskular (VAM), ordo Endogonales klas
Zygomycetes. Walaupun jamur VAM bersifat simbion obligat, jamur ini menghasilkan
peroksidase dan khitinase pada akar mikorhizal dari Allium porrum.
Mikoparasit daei beberapa strain Trichoderma spp. berkorelasi dengan
kehadiran enzim litik seperti khitinase dan ß-1,3 glukanase. Kedua enzim ini
diinduksi oleh strain yang berbeda dari Trichoderma harzianum pada media
pertumbuhan yang diberikan dinding sel Rhizoctonia solani dan Sclerotium rolfsii
sebagai sumber karbon tunggal. Penghambatan perkecambahan spora dan
pemanjangan kecambah dari 9 jenis jamur yang memiliki khitin disebabkan oleh
aktivitas endokhitinase dan eksokhitinase dari T. harzianum strain P1. Peningkatan
secara sinergis dari aktivitas antijamur dihasilkan jika dua enzim dikombinasikan.
Endokhitinase lainnya dipurifikasi dari Gliocladium virens yang memiliki aktivitas
antijamur terhadap B. cinerea walaupun dengan kemampuan yang rendah.
Aktivitas litik dari Trichoderma-Rhizoctonia dan Trichoderma-Sclerotium
berkorelasi dengan tingkat pengendaliannya secara invivo. Sivan dan Chet (1989)
mendemonstrasikan bahwa ß-1,3-glukanase dan khitinase dihasilkan oleh
T. Harzianum. Khitinase ekstraseluler dari Trichoderma sp. membebaskan oligomer
dari N-asetilglukosamin dari F. oxysporum f. sp. radicis-lycopersici ke dalam
medium, sejak 48 jam setelah inokulasi.
Ekspresi gen khitinase pada jamur dan mikroorganisme lainnya dikontrol oleh
sistim represor-induser. Khitin dan produk hasil degradasi (oligomer) berperan
sebagai induser. Glukosa merupakan represor pada A. album, B.bassiana dan
M. anisoplae. Aktivitas khitinase yang tinggi hanya ditemukan pada kultur yang
diberi khitin sebagai sumber karbon, tetapi bukan selulosa, khitosan atau khitobiose.
Sebaliknya ditemukan bahwa GlcNAc tidak meningkatkan produksi enzimm pada
T.harzianumm, GlcNAc dan glukosa menghambat sintesis khitinase dan ß-1,4 Nasetilglukosaminidase.
IV. PENUTUP
Khitin sebagai polimer yang terdapat melimpah di tanah, memiliki struktur
dan karakteristik yang unik. Banyak hewan dan mikroorganisme (seperti jamur, dan
alga) menjadi penyumbang ketersedian khitin di dalam tanah. Keberadaan senyawa
ini di tanah merupakan sesuatu hal yang menarik. Dalam industri khitin memiliki
banyak kegunaan yang dapat dimanfaatkan oleh manusia.
Polimer khitin bersifat tidak mudah larut dalam pelarut biasa dan di alam
terdapat bermacam-macam mikroorganisme, tumbuhan dan hewan yang memilki
kemampuan untuk mendegradasi senyawa ini. Enzim khitinase yang dihasilkan
mikroorganisme, tumbuhan dan hewan tersebut merupakan enzim yang mampu
merombak polimer khitin menjadi unit monomer N-asetil glukosamin.
Mikroorganisme pendegradasi khitin terbanyak adalah aktinomisetes, kemampuan
khitinolitik genus Streptomyces banyak mendapat perhatian peneliti, hal ini karena
Streptomyces adalah genus aktinomisetes dengan jumlah terbanyak di tanah. Genus
aktinomisetes dapat memanfaatkan khitin sebagai sumber karbon dan nitrogennya
sedangkan aktivitas khitinase pada tumbuhan lebih ditujukan pada kemampuan
organisme ini melindungi dirinya dari serangan jamur atau serangga patogen.
2002 digitized by USU digital library 10
DAFTAR PUSTAKA
Alexander, M. 1977. Introduction to Soil Microbiology. Second edition. John Willey
and Sons, New York.
Bartnicki-Garcia, S. 1989. The Biocheical Cytology of Chitin and Chitosan Synthesis
in Fungi, Dalam G. Skjak, B. T. Anthonsen and P.A. Sanford (Eds). Procedings
of the 4th International Conferenceon Chitin and Chitosan. Elsevier. Applied
Science, Barking-UK.
Berkeley, R. C. W. 1979. Chitin, Chitosan and Their Degradative Enzymes. Dalam R.
C. W. Berkeley, G. W. Gooday and D.C. Ellwood (Eds.) Microbial
Polysaccharides and Polysaccharases pp. 205 – 236. Academic Press, London.
Bielka, H., H. B. F. Dixon, P. Karlson, C. Liebeeg, N. Sharon, F. J. Van Lenten, S. F.
Velix, J. F. G. Vliegenhart and E. C. Webb. 1984. Enzyme Nomenclature.
Academic Press, Inc. Newyork.
Bormann, C., D. Baier, I. Horr, C. Raps, J. Berger, G. Jung and H. Schwarz. 1999.
Characterization of a Novel, Antifungal, Chitin-binding Protein from
Streptomyces tendae TU 901 that Interferes with Growth Polarity.
J. Bacteriol. 181 : 7421 – 7429.
Cabib, E. 1987. The Synthesis and Degradation of Chitin. Dalam A. Meister (Ed)
Advances in Enzymology. Vol. 59, pp. 59 – 101. An Interscience Publication
John Willey and Sons Inc., New York.
Carlile, M. J. and S.C. Watkinson. 1994. The Fungi. Academis Press, Harcourt Brace
and Company Publishers, London.
Chernin, L., Z. Ismailo, S. Haran and I. Chet. 1995. Chitinolytic Enterobacter
agglomerans Antagonistic to Fungal Plant Pathogens. Appl. Environ. Microbiol.
61 : 1720 – 1726.
Griffin, D. H. 1981. Fungal Physiology. John Wiley and Sons, New York.
Haran, S., H. Schickler, A. Oppenheim and I. Chet. 1995. New Components of
Chitinolitic System of Trichoderma harzianum. Mycol. Res. 94 : 441-446.
Harman, G. E., C.K. Hayes, M. Lorito, R. M. Broadway, A. Di Pietro, C. Peterbauer
and A. Tronsmo. 1993. Chitinolytic Enzymes of Trichoderma harzianum :
Purification of Chitobiosidase and Endochitinase. Phytopathology 83: 313-318.
Inbar J. and Chet I. 1991. Evidence That Chitinase Produced By Aeromonas caviae Is
Involved In The Biological Control Of Soil-Borne Plant Pathogens By This
Bacterium. Soil. Biol. Biochem. 23 : 973-978.
Jeaniaux, C. 1966. Chitinases, Dalam E, F. Neufeld and V. Ginburg (Eds.) Complex
Carbohydrates, Methods in Enzymology. Vol. VII, pp. 644 – 650. Academic
Press, New York.
Kamel, Z., N. Heikel and F. Fahmy. 1993. Extracellular Chitinase from Streptomyces
Species and Its Antifungal Activity. Acta Pharmaceutica Turcica 35 : 135-143.
2002 digitized by USU digital library 11
Lloyd, A. B., R. L. Noveroske and J. L. Lockwood. 1965. Lysis of Fungal Mycelium by
Streptomyces spp. and Their Chitinase Systems. Phytopathology 55 : 871–
875.
Miyashita, K., T. Fujii and Y. Sawada. 1991. Molecular Cloning and Characterization
of Chitinase Genes from Streptomyces lividans 66. J. Gen. Microbiol. 137 :
2065 – 2072.
Muzzarelli, R. A. A. 1985. Chitin, Dalam G. O. Aspinal (Ed.) The Polysaccharides. Vol.
3, pp. 417 – 450. Academic Press Inc., New York.
Rajarathanam, S., M. N. J. Shashirekha and Z. Bano. 1998. Biodegradative and
Biosinthetic Capacities of Mushrooms : Present and Future Strategies. Crit.
Rev. in Biotechnol. 18 : 91 – 236.
Richards, A. G. 1951. The Integument of Arthropods. The Chemical Components and
Their Properties : The Anatomy and Development and Permeability. University
of Minnesota Press, Minneapolis.
Sahai , A. S. and M. S. Manocha. 1993. Chitinases of Fungi and Plants : Their
Involvement in Morphogenesis and Host-Parasite Interaction. FEMS Microbiol.
Rev. 11 : 317 – 338.
Saito, A., T. Fujii, T, Yoneyama and K. Miyashita. 1998. glkA is Involved in Glucose
Repression of Chitinase Production in Streptomyces lividanns. J.
Bacteriol. 180: 2911-2914.
Schrempf, H. 1995. The Chitinolytic System of Streptomyces olivaceoviridis. Dalam
S. B Petersen., B. Svenson and S. Pedersen (Eds.). Progress In
Biotechnology. Carbohydrate Bioenginering. Vol. 10, pp. 71 – 75. Elsevier
Science. B. V. Amsterdam.
Schnellmann, J., A. Zeltins, H. Blaak and H. Schrempf. 1994. The Novel Lectin-like
CHB 1 is Encoded by a Chitin-inducible Streptomyces olivaceoviridis gene and
Binds Specifically to Crystalline a-Chitin of Fungi and Other Organism. Mol.
Microbiol. 13 : 807 – 819.
Scopes, R. K. 1994. Protein Purification, Principles and Practice. Third edition.
Springer-Verlag, New York.
Singh, P.P., Y. C. Shin, C. S. Park and Y. R. Chung. 1999. Biological Control of
Fusarium Wilt of Cucumber by Chitinolytic Bacteria. Phytopathology 89: 92-
99.
Sivan, A and I. Chet. 1989. Degradation of Fungal Cell Walls by Lytic Enzymes of
Trichoderma harzianum. J. Gen. Microbiol. 135 : 675 – 682.
Tweddel, R. J., S. H. Jabaji-Hare and P. M. Charest. 1994. Production of Chitinases
and Glucanases by Stachybotrys elegans, a Mycoparasite of Rhizoctonia
solani. Appl. Environ. Microbiol. 60: 489-495.
2002 digitized by USU digital library 12
Waksman, S. A. 1967. The Actinomycetes, A Summary of Current Knowledge. The
Ronald Press Company, New York.
Winterowd, J. G. and P. A. Sandford. 1995. Chitin and Chitosan, Dalam A. M.
Stephen (Ed.) Food Polysaccharides and Their Applications. pp. 441 – 456.
Marcel Dekker Inc., New York.

Kimia Lingkungan

Filed under: Biokim — perpusonline @ 10:39 pm

DEFINISI
Bagian dari ilmu kimia yang mempelajari pengaruh dari bahan kimia terhadap lingkungan.

KETENTUAN
Kimia lingkungan mempelajari zat-zat kimia yang penggunaannya dapat menguntungkan dibidang kemajuan teknologi tetapi hasil-hasil sampingannya merugikan, serta cara pencegahannya.

MACAMNYA
1. Pencemaran udara
2. Pencemaran air
3. Pencemaran tanah

1. Pencemaran udara
a.

Karbon monoksida (CO)
- tidak berwarna dan tidak barbau
- bersifat racun karena dapat berikatan dengan hemoglobin CO
+ Hb ®
COHb
- kemampuan Hb untuk mengikat CO jauh lebih besar dan O2,
akibatnya darah kurang berfungsi sebagai pengangkut 02

b.

Belerangdioksida (SO2)
-
berasal dari: gunung api, industri pulp dengan proses sulfit dan
hasil pembakaran bahan bakar yang mengandung belerang (S)
- warna gas : coklat
- bersifat racun bagi pernafasan karena dapat mengeringkan
udara

c.

Oksida nitrogen (NO dan NO2)
- pada pembakaran nitrogen, pembakaran bahan industri dan
kendaraan bermotor
- di lingkungan yang lembab, oksida nitrogen dapat membentuk
asam nitrat yang bersifat korosif

d. Senyawa karbon
- dengan adanya penggunaan dari beberapa senyawa karbon di
bidang pertanian, kesehatan dan peternakan, misalnya
kelompok organoklor
- organoklor tersebut: insektisida, fungisida dan herbisida
2. Pencemaran air
a. Menurunnya pH air memperbesar sifat korosi air pada Fe dan dapat mengakibatkan terganggunya
kehidupan organisme air.
b. Kenaikan suhu air mengakibatkan kelarutan O2 berkurang.
c. Adanya pembusukan zat-zat organik yang mengubah warna, bau dan rasa air.
Syarat air sehat:
- tidak berbau dan berasa
- harga DO tinggi dan BOD rendah
3. Pencemaran tanah
- Adanya bahan-bahan sintetik yang tidak dapat dihancurkan oleh
mikroorganisme seperti plastik.
- Adanya buangan kimia yang dapat merusak tanah.
4. Dampak polusi
JENIS POLUTAN D A M P A K
CO Racun sebab afinitasnya terhadap Hb besar
NO Peningkatan radiasi ultra violet sebab NO menurunkan kadar O3 (filter ultra violet)
Freon s d a
NO2 Racun paru
Minyak Ikan mati sebab BOD naik
Limbah industri Ikan mati sebab BOD naik
Pestisida Racun sebab pestisida adalah organoklor
Pupuk Tumbuhan mati kering sebab terjadi plasmolisis cairan sel

Agustus 9, 2008

avast! uninstall utility

Filed under: anti virus — perpusonline @ 9:20 pm

Sometimes it´s not possible to uninstall avast! the standard way – using the ADD/REMOVE PROGRAMS in control panel. In this case, you can use our uninstallation utility aswClear.

How to uninstall our software using aswClear.exe:

  1. Download aswClear.exe on to your desktop
  2. Start Windows in Safe Mode
  3. Open (execute) the uninstall utility
  4. If you installed avast! in a different folder than the default, browse for it. (Note: Be careful! The content of any folder you choose will be deleted!)
  5. Click REMOVE
  6. Restart your computer

« Newer PostsOlder Posts »

The Silver is the New Black Theme Blog pada WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 39 pengikut lainnya.